Me and Hubby, Ngebolang Bareng Bocah, Travelling

Yogya dan Kenanganku Tentangnya

Yogya dan segala keeksotisannya menjadi magnet bagi banyak orang untuk bertandang. Pun aku, selalu ada magnet untuk kembali bercumbu dengan Provinsi yang terletak di Selatan Pulau Jawa ini. Jogja dengan daerahnya yang istimewa. Jogja dengan nuansa jawanya yang sangat kental. Jogja dengan pantai-pantainya yang khas.

Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu daerah istimewa di Indonesia yang merupakan peleburan Negara Kesultanan Yogyakarta dan Negara Kadipaten Paku Alaman. Provinsi yang selalu mengingatkanku akan kedigdayaan Kerajaan Islam Indonesia.

Rekreasi Crowded yang Tidak Ingin Kuulangi

Seminggu setelah menikah, kami sekeluarga merencanakan trip ke Yogyakarta. Tidak banyak yang ingin kami kunjungi, hanya Prambanan, Pantai Parangtritis dan Malioboro. Namun, waktu berangkat yang terlampau siang menjadi kesalahan fatal yang membuat kami tidak bisa menikmati dengan maksimal.

Kala itu kami menunggu mas ipar yang menjadi sopir pulang dari acara pernikahan, jam 11 siang kami baru berangkat dari Salatiga. Melewati Jalur Karanggede-Sragen untuk menuju Prambanan. Namun apes, kami terjebak macet saat sampai di Sragen. Baru masuk ke Prambanan saat jam menunjukkan pukul 2 siang.

Menikmati Prambanan dengan terburu-buru karena ingin menikmati sunshet di Parangtritis. Rasa-rasanya, hih, ngeselin banget. Abah K malah memilih untuk menunggu di masjid dan tidak ikut masuk ke dalam lokasi candi. Dih, nganten anyar macam apa ini mah.

Pukul 3.30 sore, kami baru kembali ke mobil untuk menuju ke Prambanan. Kala itu hari Minggu, macet dimana-mana. Maghrib tiba, kami berhenti sejenak untuk sholat maghrib di masjid. Setelah sholat maghrib, aku sudah hopeless, karuan langsung ke Malioboro saja dan gagalkan rencana ke Parangtritis.

Namun, kebanyakan anggota rombongan memutuskan untuk tetap ke pantai. Yaelah… Mau lihat apa ke pantai malam-malam. Sampai di pantai, cuma ada tukang ronde dan jagung bakar doang. Kami turun, menikmati ronde dan jagung bakar. Menikmati angin pantai yang kencang, getaran ombak yang terasa di telapak kaki.

Segalanya gelap. Segelap hatiku yang kecewa. Wakakaka. Setengah jam kemudian, kami kembali ke mobil dan menuju Malioboro. MACET BOSSS! Macet poll, sampai di Malioboro jam 9 malam lebih, tukang dodolan hampir tutup. Nyari oleh-oleh serba buru-buru. Sungguh rekreasi yang crowded sekali. MHUAHAHAHA.

Kami pulang, pulang dengan badan yang pegel dan pikiran yang makin bruwet. Itu pun masih disertai insiden berantem kecil karena aku pengen dipijet dan abah K juga ingin dipijet. Wkwkwk.

Baca Juga: Si K Ngebolang Ke Musium Manusia Purba Sangiran

Jika Waktu Membawaku ke Yogya Lagi~

Sudah lama aku dan abah K ingin nyambang Yogya, sekedar sowan seseorang yang dulu menjadi perantara kami untuk saling mengenal di daerah Kaliurang, untuk kemudian rekreasi memanjakan si K. Mumpung si K masih kecil dan belum terikat jadwal sekolah, kami ingin ngebolang selelah yang kami mampu.

Tentu saja aku tidak ingin kejadian yang telah lalu, bukannya rekreasi, malah makin membuat pikiran tambah crowded enggak karuan. Ya, maklum saja, sih, saat itu kami sama sekali tidak kepikiran untuk memakai rental mobil Jogja. Bawaannya kalau ke Jogja, maka harus menyewa mobil dari Salatiga, berangkat pagi buta, sampai rumah dini hari dengan membawa badan yang pegel maksimal.

Beberapa kali diskusi dengan abah K, kami ingin menginap sekedar semalam-dua malam di Yogya. Masalah muncul saat kami memutuskan naik apa untuk menuju Yogya, motor? Tentu saja tidak, uji nyali itu namanya. Apalagi beberapa sopt wisata tidak tersedia transportasi umum. Aku pun browsing dan menemukan Omocars Jogja yang menyediakan jasa rental mobil dengan berbagai pilihan.

Baca juga: Tempat Wisata Ramah Anak Taman Kota Bendosari Salatiga

Persoalan transportasi selesai, kini saatnya menentkan kemana saja kami ingin menikmati hari-hari, membayar hutang bulan madu yang sangat crowded. Aku pun mendata beberapa spot di Yogya yang ingin kukunjungi:

  1. Prambanan. Meskipun sudah berulangkali ke Prambanan, candi ini memiliki magnet yang ingin kukunjungi lagi, kuamati lebih lama, terutama relief-reliefnya yang belum tuntas kubaca. Sungguh, aku masih penasaran.
  2. Sendra Tari Ramayana kala Bulan Purnama. ITS MOST WANTED! WKwkwkwk, dulu aku pernah menikmati sendra tari Ramayana, tetapi di dalam ruangan. AKu penasaran dengan Sendra Tari Ramayana di luar ruangan saat bulan purnama tiba, dengan latar belakang candi Prambanan. Membayangkannya saja daku sudah senang.
  3. Gugusan Pantai Selatan. Aku tidak begitu paham pantai mana yang ingin kukunjungi. Yang paling berkesan adalah Pantai Krakal dan Krukup, tetapi pan ombaknya guedhe… serem kalau bawa si K yang hobinya lari kesana kemari. Any idea, Mak? Pantai mana yang ramah untuk si K?
  4. Taman Pintar, spot-spotnya pasti menjadi tempat menyenangkan untuk si K. Jika di Prambanan dan Sendra Tari Ramayana adalah obsesi emaknya, maka emak juga harus memperhatikan mana yang cocok untuk si K. Hihihi.

Apalagi ya, ada yang punya ide tempat-tempat mana yang harus kami kunjungi agar nge-Yogya-nya semakin berkesan?

 

Salam!

Emak K, professional deaf blogger wannabe

 

 

 

 

2 thoughts on “Yogya dan Kenanganku Tentangnya”

  1. Monumen yogya kembali. Krukup masak gedhe sih? Kayane dulu kesana jaman aku SD, ombakke nggak gedhe kok. Atau sekarang udah gedhe ya, sepertiaku yang menua wkwkwkk

Bagaimana komentar kalian?