Memasuki 2020, Berapa Kenaikan Harga Wuling Cortez?

Memasuki 2020, Berapa Kenaikan Harga Wuling Cortez?

Jakarta – Sejak diluncurkan pada 2028 silam, kemunculan Wuling Cortez di jalanan bisa dibilang tidak cukup ramai. Banyak pihak yang menyebut kalau Wuling Cortez memang lebih laku di daerah. Bodinya yang lumayan gambot, diakui sangat cocok untuk jalanan kota yang tidak terlalu padat. Wuling Cortez memang dianggap jadi MPV yang cukup fenomenal lantaran diluncurkan dengan harga miring namun dibekali banyak fitur mumpuni.

Memasuki awal 2020 ini, rupanya Wuling terpantau telah menaikkan harga Cortez terbaru. Kuat dugaan, kenaikan harga Wuling Cortez terbaru terjadi karena perubahan skema pajak.

Tipe Wuiling Cortez

Tipe Wuiling Cortez

Kenaikan Wuling Cortez dialami semua tipenya. Mulai mesin 1.5, 1.8, dan 1.5 CT yang dilengkapi turbo.

Sebelum mengetahui berapa kenaikannya, kita review dulu spesifikasinya. Apakah masih layak?

Langsung menuju kabin sebagai sektor unggulan mobil keluarga, Wuling Cortez menawarkan ruang paling besar dan lapang di setiap barisnya. Apalagi jok baris keduanya yang memiliki konfigurasi captain seat. Selain menambah kelapangan, kesan mewah dan aksesibilitas jadi lebih baik. Total, Wuling Cortez memiliki daya angkut 7 penumpang dengan formasi 2-2-3.

Soal fitur, Wuling Cortez terbaru patut jumawa lantaran dibekali deretan fitur menggiurkan di kelasnya. Sebut saja misalnya sunroof, pengaturan jok elektrik, pengatur AC digital, ABS, ESC, kamera dan sensor parkir, hingga yang teranyar yaitu smart key serta tombol start/stop engine.

Tapi yang membuat Wuling Cortez sangat value for money bukan hanya karena fiturnya saja, melainkan juga mesinnya. Seperti disebut sebelumnya, Wuling Cortez juga dibekali mesin turbo di salah satu variannya. Spesifikasi teknis inilah yang membuatnya jadi lebih bertenaga dan lebih ekonomis dalam konsumsi bahan bakar. Di atas kertas, Wuling Cortez bermesin turbo terbaru memiliki tenaga 140 Hp dan torsi 250 Nm. Performa tingginya didukung kaki-kaki independen yang juga mumpuni.

Untuk perbandingan, harga Wuling Cortez Desember 2019, tipe 1.5 dibanderol mulai Rp 202,8 jutaan, tipe 1.8 dijual dari harga Rp 225 juta dan varian tertingginya CT dibanderol Rp 232 juta (OTR Jakarta).

Seperti disinggung sebelumnya, regulasi kenaikan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN KB) di wilayah Jakarta, harga Wuling Cortez terbaru pun mengalami kenaikan sekira Rp 4 jutaan sampai Rp11 jutaan.

Dari pantauan di laman situs Wuling Indonesia, harga Cortez Januari 2020 mengalami kenaikkan mulai dari Rp4,5 juta, Rp6 juta hingga Rp 11 juta.

Wuiling Cortez

Wuiling Cortez

Daftar Harga Wuling Cortez terbaru Semua Tipe OTR Januari 2020 (OTR Jakarta):

Tipe 1.5

  • Cortez 1.5 S Rp207.300.000

  • Cortez 1.5 C Rp217.800.000

Tipe 1.8

  • Cortez 1.8 C Rp229.500.000

  • Cortez 1.8 C i-AMT  Rp239.500.000

  • Cortez 1.8 C Lux + i-AMT  Rp244.500.000

  • Cortez 1.8 L Lux + 6MT  Rp267.000.000

  • Cortez 1.8 L Lux i-AMT  Rp277.000.000

Tipe 1.5 CT

  • Cortez 1.5 CT (4×2) Rp236.500.000

  • Cortez 1.5 CT Lux + CVT (4×2) A/T     Rp253.500.000

  • Cortez 1.5 LT Lux + CVT (4×2) A/T     Rp288.000.000

 

Napak Tilas Lintas Generasi Nusantara di Jogjakarta

Napak Tilas Lintas Generasi Nusantara di Jogjakarta

Jogja seolah punya daya magis yang membuat kami rindu untuk kembali. Ia menjadi salah satu tempat untuk pulang dari kepenatan mengejar deadline dan menghadapi segala problematika hidup. Ia menyajikan ketenangan sekaligus pengeling darimana kita berasal.

Jogja menjadi salah satu tempat terbaik untuk menengok kilas balik sejarah. Gagahnya suku Jawa yang tersirat di batuan andesit candi-candi, wibawanya kerajaan Mataram Islam di sepanjang Malioboro, perseteruan Belanda dan Mataram Islam terekam di balik menjulangnya peninggalan Kolonial yang ‘mengganggu’ tata kota Malioboro, Benteng Vedenburg.

Prambanan dan Mitos yang Melingkupinya

Siluet pasukan pilih tanding berkelindan di pelupuk mata ketika kaki menjejak lorong menuju Prambanan. Suara Bapak saat mendongeng masih kuingat dengan jelas, “Raja awujud buta mau mati kena panahe Bandung Bandawasa.”. Aku mempercepat langkah menyusul si K dan abahnya. Siluet senja semakin menambah moleknya Prambanan. O, Candi yang dikenal sebagai prasyarat nikah putri molek bernama Roro Jonggrang.

Napak Tilas Candi Prambanan

Napak Tilas Candi Prambanan

” Sira bhakti ta bhaktita weh ksunika samapta dening angutus inatus magawai sagupura parhyangan aganitanggana
ta pacalan … “

Aku menemukan selarik keterangan ketika berusaha mencari sejarah Prambanan, yang ternyata jauh dari mitos yang melegenda. Kutipan dari salah satu bait prasasti Siwagraha merupakan sebuah narasi tentang pembuatan candi dan gapura yang dikerjakan oleh beratus-ratus pekerja pada masa Rakai Pikatan, 850 Masehi. Menyimpan perjuangan lintas generasi Raja, sempat terlantar ketika Mpu Sindok memindahkan Ibu Kota Mataram ke Kediri, Jawa Timur.

O Candi nan indah lengkungnya manakala di sapa siluet senja. Aku mengitari candi bersama si K yang tidak henti bertanya. Mengagumi betapa tingginya selera nenk moyang hingga menghasilkan mahakarya tanpa tanding. Pahatan-pahatannya, lengkung simetrisnya ….

Meneladani Toleransi Keraton Ratu Boko

Aku mengagumi selera Rakai Panangkaran dalam memilih tempat untuk menyepi. Ratu Boko berada di puncak bukit. Sepanjang mata memandang, hamparan hijau membentang. Aku menyusuri jalan setapak dengan senyum yang terus mengembang. Si K digendong abahnya di pundak.

Napak Tilas Keraton Ratu Boko

Napak Tilas Keraton Ratu Boko

Di bawah pohon besar, aku berhenti sejenak. Menikmati Gerbang Keraton Boko dari kejauhan. Alangkah indahnya, alangkah anggunnya, seolah berkata kepada sesiapa yang datang mengunjunginya, “Sugeng rawuh. Selamat datang. Selamat menikmati kedamaian.”

Didirikan oleh Rakai Panangkaran yang merupakan Budha taat, di komples Keraton Ratu Boko terdapat unsur Dewa Siwa yang merupakan Dewa agama Hindu. Keberadaan Lingga dan Yoni, Arca Ganesha dan sebuah lempengan emas yang bertuliskan “om Rudra ya namah swaha” yang merupakan pemujaan terhadap Dewa Rudra–Dewa Siwa–, membuktikan bahwa toleransi sudah mengakar kuat di bumi pertiwi sejak masa Hindu-Budha.

Kami datang menjelang dhuhur saat itu, matahari tepat di atas kepala. Silau. Meskipun udara sejuk, rasa-rasanya tetap lebih nyaman menikmati Keraton Ratu Boko kala menjelang Senja atau saat matahari baru saja terbit.

Kawasan Malioboro dan Canggihnya Tata Kota Mataram Islam

Aku menikmati jalan-jalan di Malioboro kala matahari sudah sembunyi di peraduannya. Malam menjadi lebih ramai dengan hingar bingar Malioboro, dari angklung hingga tawar-menawar di sepanjang jalan. Kami menikmati ronde dan naik delman di sepanjang kompleks.

Jika kita perhatikan, di kawasan Malioboro – Alun-alun – Kraton, bangunan terbagi menjadi dua gaya. Gaya Kerajaan Mataram Islam yang sederhana dan membumi dan gaya Belanda yang menjulang tinggi. Tata Kota Mataram Islam penuh filosofi budaya.

Jalinan 4 ikon kota Yogya, dari Keraton-Masjid Gedhe-Pasar Gede dan Alun-alun menggambarkan Catur Gotro Tunggal yang dalam konsep Jawa adalah penyatuan makro kosmos dengan mikro kosmos, pola kepemimpinan keraton yang mengacu pada religi (masjid), ekonomi (pasar gedhe), dan budaya (alun-alun).

Benteng Vredeburg dan Masuknya Pengaruh Hindia-Belanda

Vredburg awalnya dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I atas permintaan Gubernur wilayah Pantai Utara Hindia Belanda, Nicolas Harting.Benteng Vredeburg awalnya dibangun dengan sangat sederhana, hingga kemudian pada masa Gubernur Van Ossenberg, benteng dibangun dengan lebih gagah dan permanen dengan alasan agar lebih aman. Padahal itu bertujuan agar lebih mudah mengawasi kawasan Kraton.

Hingga tahun 1942, Benteng Vredeburg meskipun tanahnya milik kraton, namun penggunaannya secara penuh digunakan oleh Hindia-Belanda. Hindia-Belanda pada masa itu sedang gencar-gencarnya menampakkan daerah kekuasaan, makanya di dekat benteng cukup banyak bangunan menjulang tinggi bergaya Belanda.

Awalnya kawasan Kraton dibangun dengan konsep sumbu imajiner yang menghubungkan pantai Selatan-Panggung Krapyak-Kraton-Tugu Jogja- dan Gunung Merapi, namun Belanda mengobrak-abrik semuanya dengan membanngun bangunan yang membelakangi kraton. Bahkan Belanda sengaja membangun lintasan kereta api yang memotong sumbu imajiner tersebut.

***

Hmm, seru ya kalau jalan-jalan ke Jogja sambil belajar sejarahnya. Kita bisa belajar banyak dan mengambil hikmahnya. Belajar ketelatenan Rakai Pikatan dalam membangun Prambanan, belajar toleransi yang membumi dari Rakai Panangkaran di Keraton Ratu Boko, belajar bijaknya Sri Sultan memimpin Jogja dengan menyatukan religi, ekonomi dan budaya…. juga, belajar kewaspadaan atas kelicikan Belanda. Maksudku jangan meniru kelicikan Belanda. Hahaha.

Keempat tempat itu, apa mau dikebut dalam sehari? Please, jangan. Jarak Prambanan dan Keraton Boko yang berada di Sleman dengan Malioboro memakan waktu nyaris 1 jam. Capek kalau diturutin. Mending mencari penginapan di dekat kawasan Malioboro. Kalau datang rombongan, banyak kok villa murah yang bisa kita pilih di Traveloka.

Emak K kalau liburan gini enaknya pakai Traveloka. All in one, dari moda transportasi, hotel hingga tiket masuk. Pada tahu kan Traveloka Experience yang bisa kita gunakan untuk berburu tiket masuk di Prambanan, Keraton Ratu Boko, Kidszonaa Hartono Mall dan tempat-tempat yang lain.

Kabar baiknya, Traveloka sekarang menyediakan fitur Paylater, yang bisa kita gunakan untuk booking dengan pembayaran dicicil belakangan. Fitur Paylater Traveloka didukung oleh Danamas dalam pengawasan OJK, jadi penagihannya enggak seserem pinjol tanpa pengawasan OJK.

Ada juga Pay@hotel yang memungkinkan kita membayar langsung ketika sudah sampai di hotel. Biasanya emak k memanfaatkan fitur ini ketika hanya membawa uang cash atau ragu dengan lokasi hotel dan berniat untuk melihat-lihat dulu.

Selamat berlibur, selamat menikmati Jogja dengan segala keramahannya. 💞

 

Adrisijanti, Inajati (ed). 2009. MEMBANGUN KEMBALI PRAMBANAN. Yogyakarta: Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta

Wisata Bandung Kampung Jepang

Wisata Bandung Kampung Jepang

Belakangan ini destinasi wisata ke Jepang menjadi populer untuk menjadi tempat berlibur orang Indonesia. Tapi tidak perlu khawatir, jika budget untuk berlibur ke Jepang tidak mencukupi. Di Indonesia juga bisa menikmati suasana seperti di Jepang. Tepatnya di wisata Bandung Kampung Kyoto yang terletak di Floating Market Lembang.

Kampung Kyoto ini sendiri baru diresmikan pada 17 Desember 2016 lalu dan langsung menjadi salah satu daya tarik baru Floating Market itu sendiri. Berikut informasi dan hal unik tentang Kampung Kyoto

Lokasi dan Rute Menuju Kampung Jepang

Wisata Bandung yang satu ini berada di dalam Floating Market, Lembang. Tepatnya di Jl. Grand Hotel No. 33 E Lembang. Akses yang bisa ditempuh untuk mencapai Kampung Kyoto cukup mudah. Jika berangkat dari Bandung, Anda bisa melalui Jalan Setia Budi menuju Ledeng, kemudian ke Lembang. Dari Lembang, Anda akan melalui Pasar Lembang dan memasuki Jalan Grand Hotel Lembang.

Untuk transportasi yang ideal Anda bisa menggunakan jasa Dirgantara Car Rental. Berpengalaman selama 30 tahun, perusahaan ini menyediakan berbagai tipe mobil berkondisi prima dengan harga terjangkau. Anda bisa menyewanya dengan atau tanpa sopir.

Harga Tiket Masuk dan Jam Buka Kampung Kyoto

Harga untuk memasuki Kampung Kyoto ini termasuk murah. Cukup membayar tiket masuk sebesar Rp. 20.000,- dengan biaya parkir mobil 10.000 untuk 3 jam pertama dan parkir motor 5000 untuk 3 jam pertama. Biaya ini tidak termasuk untuk menyewa kimono maupun hanbok.

Kampung Kyoto ini sendiri mulai beroperasi setiap hari. Dengan jam buka dimulai dari pukul 09.00 sampai dengan 20.00 WIB.

Fasilitas yang Ada di Kampung Kyoto

Tidak perlu khawatir tentang fasilitas yang disediakan. Karena fasilitas yang ada di Kampung Kyoto cukup lengkap. Beberapa fasilitas itu antara lain:

Sarana Ibadah atau Mushollah

Jika Anda seorang muslim dan sedang berkunjung ke wisata Bandung Kampung Kyoto, tidak perlu khawatir tertinggal waktu sholat. Ini karena Kampung Jepang memiliki fasilitas mushollah yang cukup memadai dan bersih. Yang bagus adalah musholla ini memiliki bagian terpisah antara laki-laki dan perempuan.

Area Berfoto di Kampung Kyoto

Seperti tempat wisata Bandung lain, area Kampung Kyoto juga memiliki sarana berfoto yang cantik. Di sini, Anda bisa melakukan selfie ataupun wefie dengan nuansa Jepang yang kental. Ini karena kampung ini memang memiliki desain dan detail yang dibuat semirip mungkin dengan suasana di Jepang.

Sewa Kimono atau Hanbok

Jika ingin total dan benar-benar serupa dengan berlibur ke Jepang, Anda bisa menyewa kimono di Kampung Kyoto. Selain Kimono, pihak penyelenggara juga menyediakan Hanbok. Terserah Anda ingin menyewa yang mana. Hanya saja, aksesoris yang bisa dipakai kala menyewa Kimono jauh lebih lengkap daripada menyewa Hanbok. 

Untuk menyewa hanbok atau kimono, Anda harus merogoh kocek sebanyak Rp. 75.000 per jam. Ada pula paket sewa kostum seharga Rp. 175.000 per jam ditambah fasilitas cetak foto  berukuran 10R. Harga ini relatif mahal, tetapi sepadan dengan suasana Jepang yang Anda dapatkan di tempat wisata Bandung satu ini.

Mengikuti Upacara Minum Teh

Upacara minum teh yang dilakukan di Kampung Kyoto ini dilakukan penyaji yang telah dibekali secara khusus tentang budaya dan tradisi Jepang, sehingga Anda bisa merasakan suasana minum teh seperti di Jepang!

Dekat dengan Area Bermain untuk Anak-Anak

Jika Anda membawa anak-anak ke Kampung Kyoto, maka tidak perlu khawatir. Ini karena pihak pengelola Floating Market juga menyediakan area bermain untuk anak. Sarana bermain anak yang tersedia di wisata Bandung mencakup Taman Miniatur Kereta api, Pancing Magnet, Kereta Api mini, kampung leuit, tempat fauna dan lain-lain.

Toilet dan WC Umum

Seperti tempat wisata Bandung lainnya, Kampung Kyoto juga menyediakan fasilitas toilet umum yang cukup bersih. Hanya saja, jumlah toilet yang tersedia termasuk kurang. Jika pengunjung ramai, maka Anda harus mengantri untuk sekedar buang air kecil saja.

Nah, bagaimana? Tertarik untuk merasakan sensasi berlibur ke Jepang di daerah wisata Bandung?

Pencarian Terkait:

  • kampung jepang bandung
Serunya Motoran Semarang-Jogja Bareng si K

Serunya Motoran Semarang-Jogja Bareng si K

Akhir Maret lalu, pak Boss mengajak abah K meeting di Jogja,. Beliau menyuruh abah K untuk mengajak anak istri, sekalian liburan, katanya. Daku seneng, dong. Langsung menyiapkan printilan untuk travelling. Sembari menyiapkan printilan, kami berdiskusi transportasi apa yang paling tepat untuk ke Jogja. Pengalaman buruk saat travelling ke Jogja menggunakan angkutan umum, membuat kami repot jalan kaki kesana-kemari untuk ganti angkutan umum. Capek, apalagi plus menggendong si K. Akhirnya kami memutuskan untuk ke Jogja menggunakan sepeda motor!

Nekat ya? Apalagi perkiraan cuaca bakal hujan dari siang-sore hari. Kami mengambil jalur Semarang-Salatiga-Magelang-Jogja. Berangkat jam 1 siang setelah Jum’atan, sampai Jogja jam 4 sore lebih, langsung istirahat sampai maghrib tiba.

Semarang-Jogja motoran trus? Enggak lah, kami masih sempat mampir untuk makan dan istirahat. Sempat berhenti di SPBU untuk mengisi Pertamax dan merenggangkan badan. Banyak alasan kenapa kami memilih untuk menggunakan sepeda motor dibandingkan angkutan umum. Karena moda transportasi yang kami punya baru sepeda motor, jangan tanya kenapa bukan sepeda motor vs mobil, ya. Hahaha

Alasan Memilih Moda Transportasi Sepeda Motor

Mudah mencari makan. Sebagai pelaku food combining, kami harus memilih tempat makan yang sesuai dengan kaidah food combining. Apalagi abah K sedang dalam masa penyembuhan GERD, pantang telat makan, pantang makan sembarangan. Kalau naik travel, paling yang disediakan roti saja, kami sedang meminimalkan konsumsi terigu. Kalau naik bis, tahu sendiri kan jajanan di bis? Serba gorengan. Duh, daku pengen abah K sehat, masa travelling malah membuatnya kambuh.

Dengan menggunakan sepeda motor, kami bisa blusukan mencari makan di perjalanan ketika waktu makan telah tiba. Kami blusukan mencari warung makan dengan bantuan Google Maps. Rata-rata warung makan yang menyediakan banyak menu pilihan sayur harus masuk ke gang-gang, jarang banget yang di pinggir jalan besar.

Leluasa Menikmati Pemandangan. Jalur Salatiga-Selo-Magelang-Jogja, dan jalur Salatiga-Magelang adalah jalur yang harus kamu coba jika kamu pecinta pemandangan alam. Langitnya biru, bersih. Hamparan hijau bak permadani. Pohon-pohon pinus yang menjulang. Udaranya segar. Bahkan kata abah K, sering terdengar suara burung yang bersahut-sahutan.

Saking menikmatinya, kami sengaja memelankan laju sepeda motor. Sesekali berhenti untuk menikmati pemandangan Ciptaan yang Maha Elok. Ndremimil menyebut nama-Nya nan Agung, betapa Indonesia sangat indah. Menikmati ciptaan-Nya, mengagumi-Nya, berbuncah rasa syukur karena bisa menikmati pemandangan sedemikian indah dengan keadaan yang damai.

Jalur Salatiga-Magelang via Selo menyuguhkan pemandangan Merapi-Merbabu, jalurnya lumayan menanjak dan banyak tikungan tajam. Kita harus waspada, keasikan mengagumi ciptaan-Nya bisa mengurangi kewaspadaan kita di jalur-jalur rawan. Emak K sarankan untuk berhenti dulu di kantong-kantong pemberhentian jika ingin menikmati pemandangan jalur Selo.

Indahnya Jalur Selo

Indahnya Jalur Selo

Lain halnya jalur Salatiga-Magelang via Kopeng, Getasan, meski menanjak, namun masih jauh lebih landai dibandingkan dengan jalur Salatiga-Magelang via Selo. Tikungannya pun tidak terlalu tajam. Jika di jalur Salatiga-Magelang via Selo kita disuguhi gugusan bukit dan gunung Merapi-Merbabu, jalur Salatiga-Magelang visa Getasan kita bisa melihat gunung Telomoyo-Ungaran, sesekali Merapi tampak dari kejauhan.

Gampang Mampir-mampir. Poin plus yang kami suka sebagai tukang ngebolang, memakai sepeda motor membuat kami leluasa untuk mampir-mampir. Saat pulang dari Jogja kemaren, kami masih menyempatkan untuk mampir Magelang dan menginap semalam. Lumayan, kami bisa menikmati Punthuk Setumbu, Candi Pawon, Candi Mendhut, Candi Borobudur. Jika tidak ingat dengan deretan deadline, mungkin kami masih menjelajah deretan air terjun yang banyak terdapat di jalur Magelang-Salatiga.

Agar Perjalanan bareng Bocah dengan Sepeda Motor Menyenangkan

Kekuatan bocah lain dengan orang dewasa. Emosinya belum stabil, tubuhnya belum sekuat orang dewasa. Kita harus mengamati dulu dalam perjalanan pendek, apakah anak kita kuat dengan angin saat diajak ngebolang dengan sepeda motor. Si K Alhamdulillah kuat, enggak menunjukkan tanda-tanda masuk angin atau flu setelah melakukan perjalanan dengan sepeda motor.

Pastikan Anak Memakai Helm, Jaket dan Sepatu

Kemanan anak sama pentingnya dengan orang dewasa. Latih anak untuk menggunakan helm sejak dini. Si K sudah mulai kulatih meskipun masih copat-copot. Pelan-pelan saja, lama-lama ia akan terbiasa menggunakan helm. Gunakan helm SNI, ya. Pakaian jaket tebal untuk melindungi tubuh anak dari terpaan angin yang dingin.

Bawa Bekal Makanan dan Minuman yang Cukup, Tempatkan di Tas yang Mudah Diambil

Aku memisahkan pakaian dengan bekal makanan. Bekal makanan-minuman sengaja kutaruh di tas yang kubawa sendiri, kusampirkan di punggung sehingga kalau si K haus atau lapar tinggal mengambhil, enggak perlu ribet berhenti dari motor.

Anak pantang lapar dan haus. Lapar dan haus menjadi salah satu sumber kerewelan anak yang cukup merepotkan. Iya kalau kita sedang menempuh jalur dengan banyak warung bertebaran, lha kalau saat anak lapar sedang menempuh jalur hutan lak yo ngenes. Heuheuu.

Istirahat Berkala, Beri Anak Kesempatan untuk Bermain

Kami biasa istirahat setiap dua jam sekali atau jika si K meminta untuk istirahat sejenak. Bahkan kami akan memilih untuk mencari penginapan jika hari sudah mulai senja dibandingkan mengorbankan kesehatan si K. Bagaimanapun angin malam kurang baik untuk kesehatan.

Banyak penginapan di Jogja yang bisa kita pilih. Bisa juga sewa villa di Jogja jika kita memiliki budget yang cukup. Itung-itung sekalian honey moon entah yang keberapa. Jika memungkinkan, pilih villa atau penginapan yang menyediakan kolam renang dan play ground untuk anak.

Villa yang memiliki konsep alam bisa jadi pilihan jika kita sedang mengajarkan anak tentang alam semesta. Si K sangat menikmati istirahat di penginapan yang menyediakan kolam ikan, play ground dan taman bunga lengkap dengan serangga-serangganya.

Salah Satu Villa di Jogja dengan Konsep Alam

Salah Satu Villa di Jogja dengan Konsep Alam

Setiap istirahat di perjalanan, si K selalu kuberi kesempatan untuk bermain. Aku sengaja membawa beberapa mainan kesayangannya untuk dimainkan saat istirahat di perjalanan. Saat perjalanan via jalur Selo, sembari kami menikmati pemandangan yang keren, si K bermain gelembung sabun dan tertawa riang ketika melihat gelembung-gelembung sabun yang ia tiup pecah menyentuh tanaman.

Si K sedang Bermain Gelembung Sabun

Si K sedang Bermain Gelembung Sabun

Hindari Perjalanan di Siang Terik

Hawa panas dan terik bisa membuat anak rewel. Kami bisanya menghitung perkiraan perjalanan dan akan istirahat agak lama jika sudah terik. Sekitar jam 11.30-13.00 biasanya kami akan istirahat dulu di masjid, sekalian sholat dzuhur dan menghindari teriknya matahari.

Mulai perjalanan di pagi hari sebelum matahari terbit memberikan kita kesempatan untuk menghirup udara segar sebelum dicemari dengan asap-asap kendaraan bermotor lainnya. Selain itu juga menghindari macet di jam-jam orang berangkat kantor/sekolah. Hihihi

Jika tidak memungkinkan berangkat sebelum matahari terbit, emak K menyarankan untuk berangkat setelah dzuhur sekitar jam 14.00, saat matahari mulai condong ke barat dan enggak terlalu panas. Agar perjalanan menyenangkan, meminimalisir bete karena kepanasan. Hihihi

Yuhuuu, siap motoran bareng bocah kemana, Mak? Emak K pengen mencoba ngebolang ke arah utara, daerah Rembang dan sekitarnya, tetapi mungkin baru bisa memulai lagi setelah lebaran. Yuk siapa yang rumahnya mau ‘diobrak-abrik’ si K? :p

 

Lebaran Sebentar Lagi, Liburan Kemana Lagi?

Lebaran Sebentar Lagi, Liburan Kemana Lagi?

Allahumma Baariklanaa. Fii rajabaa wa sya’bana. Wa Balighna Ramadhana. Duhai Gusti, berkahilah kami di bulan rajab dan sya’ban, sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan….

Jika doa ini mulai mengudara, dirapal setiap ba’da adzan Maghrib, bahkan di pengajian rutinan, itu tandanya Ramadhan enggak ada 100 hari lagi, emak K langsung teringat satu hal; Lebaran sebentar lagi!

Haiyo, Mak, masa yang lain siap-siap Ramadhan, berdoa sepenuh hati agar disampaikan pada bulan yang mulia. Bulan dimana tidur pun berlimpah pahala, di otakmu malah menari-nari lebaran mau liburan kemana lagi? Dikau waras, Mak?

Ehm, kadang memang harus dimotivasi dengan hal yang duniawi agar mempersiapkan Ramadhan dengan matang. Kamu sudah menyiapkan baju-baju agar Ramadhan tidak perlu kalang-kabut di mall? Sudah mengumpulkan voucher agar kelak tinggal tukar biskuit lebaran? Sudah membuat planning agar khatam Qur’an tiga kali sebelum jadwal mudik?

Sudahkah menyiapkan tiket pesawat agar kelak saat Ramadhan khusuk ibadah dan enggak lembur bagai kuda demi tiket yang melonjak jelang lebaran?

Krik-krik-krik.

Menyiapkan Libur Lebaran sebelum Ramadhan

Lebaran tahun ini datang di awal Juni. Mungkin 4-5 Juni, jadwal pastinya kita menunggu sidang isbat. Abah K sudah bukan freelancer. Sekarang terikat dengan kantor dan sudah enggak kayak dulu yang bisa lebaran di kampung sampai ngoyot, itupun masih dilanjut liburan sampai ATM jebol. Enggak ada yang protes, paling yang protes adalah ATM yang minta diisi lagi. Hahaha

Lebaran tahun lalu kami ke Jogja seminggu setelah di kampung 2 minggu, total libur kerja 3 minggu. Tahun ini kayaknya enggak bakal tega ninggalin kantor sampai 3 minggu. Jika tahun lalu kami hanya perlu ke kampung, tahun ini kami harus membagi liburan lebaran ke dua tempat, Salatiga dan kampung abah K.

Keluarga si K
Keluarga si K. Foto terbaru saat kami ke Parangtritis Lebaran 2018

Enggak kebayang capeknya badan jika libur 2 minggu harus wira-wiri 2 kota yang berjauhan. Baru membayangkan saja badan hamba sudah terasa pegal. Tetapi… ketika emak K membayangkan setelah lebaran di kampung terus liburan ke Lombok, pegal-pegal langsung hilang. Mimpi boleh, kan? Wkwkwkwk

Gili Trawangan, credit: Pixabay

Pesona Gili Trawangan membuatku ingin snorkeling, menyegarkan pikiran dari rutinitas, mengajak si K bermain pasir dan syukur-syukur bertemu dengan penyu untuk menuntaskan rasa ingin tahu si K, “Kuya-kuya dan Penyu, sama yo, Buk?”

Setelah menikmati deburan Gili Trawangan, menikmati ademnya Sembalun menjadi pilihan paling tepat. Emak K kalau disuruh memilih antara pantai dan gunung, enggak bakal bisa milih. Ke pantai ayo, ke gunung pun siapa takut. Masing-masing punya aura cinta sendiri yang enggak bisa saling mengganti.

Desa Sembalun
Desa Sembalun, credit: Detik Travel

Melihat foto-foto Sembalun aku langsung membayangkan abah K dan si K yang menghadap perapian milik rumah penduduk untuk menghalau rasa dingin. Belum foto-foto di Bukit Marese, Pantai Tanjung Aan, Pantai Sire. Hmm, bisa kebawa mimpi beneran ini, mah.

Lalu, ke Lombok naik apa, ya? Masa mau naik kapal dari Banyuwangi dalam waktu libur lebaran yang sempit itu? Hyuhhh…. Aku langsung membuka website pegipegi. Nyari tahu tiket pesawat yang lebih rasional untuk liburan ke Lombok daripada perjalanan via darat dan laut.

Tiket Pesawat Surabaya-Lombok
Tiket Pesawat Surabaya-Lombok

Tiket Garuda, seorang 1 jutaan. PP butuh 6 jutaan. Kali ntar dapet proyek delapan digit sebelum Ramadhan tiba. Kalau Ramadhan ini belum bisa, mungkin sebelum Ramadhan tahun depan, yang penting saat Ramadhan enggak banting tulang bagai kuda. Wkwkwkwk

Bisa juga kita memanfaatkan promo yang bertebaran di pegipegi untuk menghemat pengeluaran libur lebaran kita. Enggak cuma diskon moda transportasi, pegipegi juga memanjakan kita dengan diskon berbagai hotel. Yap, kita hanya perlu menginstall pegipegi untuk semua keperluan travelling kita, dari pesan tiket kereta api, pesawat, hingga pesan hotel.

Jangan khawatir, pegipegi menawarkan hotel dari yang murah dan promo sampai dengan hotel berbintang tetapi enggak terlalu mencekik kantong. enggak main-main, diskon yang ditawarkan sampai 68%. Kita tinggal memilih yang sesuai dengan budget dan kebutuhan.

promo Hotel pegipegi

Sebagai bentuk apresiasi atas loyalitas pelanggan, pegipegi memberikan PepePoin pada setiap transakasi yang kita lakukan di pegipegi. PepePoin ini bisa kita gunakan sebagai potongan harga di transaksi berikutnya. Makin ngirit kan? Bertebaran diskon, masih dipotong dari PepePoin. Hmmm, tetiba emak K pengen nyolek abah K untuk segera pesan tiket ke Lombok.

Lebaran sebentar lagi, liburan kemana lagi? Yuk direncanakan, agar Ramadhan khusuk ibadah. Kalau kelak maqbul liburan setelah lebaran yang direncanakan sebelum Ramadhan tiba, colek-colek emak K, ya!

Ke Surabaya Aku kan Kembali

Ke Surabaya Aku kan Kembali

September lalu, kami sekeluarga ngebolang ke Surabaya. Sudah lama aku ingin berkunjung ke Surabaya, menapaktilas tempat bersejarah abah K. Pengen tahu lebih jauh tentang kota dimana abah K menghabiskan hari-harinya sebelum bertemu denganku.

Sayang, kala itu kami menginap di Krian, Sidoarjo. Di rumah mbak Ipar. Kami ke Surabaya untuk refresh sejenak dari urusan administrasi rumah sakit yang memusingkan. Mengistirahatkan badan sejenak dari udara dan suasana rumah sakit yang membosankan.

Kami berangkat ke Surabaya saat matahari mulai seujung tombak. Kukira hanya 30 menit kayak perjalanan Salatiga ke Boyolali. Ternyata jauh… Itu pun masih berseteru dengan kemacetan karena berpapasan dengan karnaval. Kami hanya sempat menikmati Kebun Binatang Surabaya, mengitari kampus UNESA dan mengunjungi Masjid Al Akbar. Keinginan untuk mencicipi kota Surabaya termasuk bis Surabaya yang nge-hits bubar sudah.

Salah seorang sahabat mengirimkan foto keadaan Surabaya yang bersih, rapi dan indah. Dipercantik dengan bunga Tabebuya yang bermekaran. Aku berbisik kepada abah K, “Bah, kita harus ke Surabaya lagi, masih ada yang belum kita kunjungi.”

“Beres.”

“Tapi, nginap di Surabaya, ya? Kalau nginap di Krian, capek di jalan. ”

“Siapin saja rencananya, perkiraan dananya kirim ke aku.” ujar abah K, singkat tanpa menoleh, matanya fokus ke layar laptop.

Aku pun beranjak ke laptop kesayangan, mencari referensi tempat yang ingin kukunjungi selama di Surabaya. Wah, ternyata banyak benar ya. Sampai-sampai ada yang nge-list 52 wisata di Surabaya yangw ajib dikunjungi. Hadeh, gempor kaki, Mak.

Tugu Pahlawan, Mengenang Gelora Perjuangan Arek Suroboyo Pasca Kemerdekaan

Tugu Pahlawan Surabaya

Tugu Pahlawan Surabaya, credit: wikipedia

Perjuangan arek Suroboyo bersama bung Karno yang diceritakan oeh Bapak melekat kuat dalam ingatanku. Aku ingin mengajak si K mengenang kembali tentang perjuangan pendahulunya dengan mengunjungi monumen sejarahnya. Setiap mengunjungi sebuah kota, kami tidak lupa mengunjungi monumen sejarahnya. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.

Taman Bungkul, Ziarah ke Sunan Bungkul dan Menikmati Hijaunya Taman

Mengenang tokoh pendahulu selalu membuat dadaku membuncah haru dan merapalkan doa-doa, apalagi tokoh yang menyebarkan agama Islam yang rahmatan lil’alamin. Sunan Bungkul adalah salah satu ulama yang menyebarkan agama Islam di Surabaya.

Taman Bungkul

Taman Bungkul, credit:tempat wisatamu

Setelah ziarah, aku ingin memberikan si K kesempatan untuk mengeksplor Taman Bungkul. Menikmati hijaunya taman dan segarnya udara di sekitar taman. Mengenal aneka flora yang ada di dalam taman. Proyek sains si K boleh dikerjakan disini nih, tapi mana enak wisata bawa-bawa proyek?

Pantai Ria Kenjeran Park

Wosh, enggak afdol kalau ngebolang ke daerah pesisir tapi enggak menghabiskan hari di Pantai Ria Kenjeran Park. Aku berencana ingin mengeksplor pantai dari sore hari dan baru keluar saat matahari sudah seujung tombak di keesokan harinya agar bisa menikmati sunrise dan sunshet-nya. Hmm, mungkin nyewa hotelnya di dekat Pantai Ria Kenjeran Park saja, ya?

Pantai-Ria-Kenjeran-Park

Pantai-Ria-Kenjeran-Park

Aku pun mencari informasi Hotel Traveloka di sekitaran Pantai Ria Kenjeran Park. Setelah mencari dan membandingkan berbagai situs penyedia tiket. Aku jatuh hati dengan Traveloka yang menyediakan pilihan hotel lengkap dengan berbagai harga, jadi kita bisa memilih sesuai dengan kantong kita.

Pesan Hotel di Traveloka

Pesan Hotel di Traveloka

Aku mengetik Pantai Kenjeran dalam pencarian Hotel di Traveloka. Eureka, ada Rumah Kost  yang hanya membanderol 185k/ malam. Jaraknya ke Pantai Kenjeran pun cuma 2,7 km. Lumayan, sekalian olahraga kalau niat, kalau enggak niat ya ngojek aja. Heuheuu

Setelah melihat reviewnya, aku pun beranjak untuk pesan tiket dan langsung gagal fokus ke Traveloka Fee yang GRATIS. Ya, kita enggak dikenakan biaya fee untuk Traveloka. Pemesanannya simpel. Setelah mengisi data, invoice tagihan akan dikirimkan ke email kita.

Traveloka menyediakan berbagai macam pembayaran. Kita tinggal memilih pembayaran mana yang palng mudah dalam keadaan kita saat ini. Melalui Kartu Kredit, Kartu Debit, ATM atau transfer, Alfamart & Indomart, juga bisa dibayar pakai saldo Uangku. Cakep, kalau emak K milih pakai Direct Debit.

So, mau liburan kemana, Mak? Enggak mau ngerasain mudahnya pesan hotel di Traveloka?