Mengenal Bahasa Ekspresi, Bahasa Cinta Keluarga

Mengenal Bahasa Ekspresi, Bahasa Cinta Keluarga

Bahasa ekspresi adalah bahasa yang tumbuh dengan natural, disepakati oleh keluarga dan menjadi bahasa cinta khas.Tumbuhnya bahasa ekspresi ini bermula dari gestur yang berulang-ulang (repetisi) ketika mengekspresikan sesuatu, kemudian orang lain akan menandai (notice) maksudnya. Dalam keluargaku sendiri, bahasa ekspresi dulunya sengaja aku ulang-ulang di hadapan si K karena aku kesulitan membaca mulut si K saat si K masih belajar bicara.

Bahasa ekspresi yang aku terapkan kepada si K, lama-lama disadari oleh abah K dan orang lain yang melihat interaksi kami. Si K terbiasa meminta sesuatu atau berbicara dengan gerakan tubuh totalitas, tangan dan tubunya bergerak-gerak untuk mempertegas maksud yang dia bicarakan agar Ibunya memahami.

Bahasa eskpresi tidak hanya bermanfaat bagi Ibu atau anggota keluarga lain yang memiliki gangguan pendengaran, tetapi bermanfaat bagi semua anggota keluarga sekalipun ia bisa mendengar dengan baik. Bahasa ekspresi yang sudah menjadi budaya dalam sebuah keluarga akan membuat anggota keluarga cepat menyadari jika terjadi sesuatu pada anggota keluarga tersebut. Apalagi kalau ada anggota keluarga yang enggak terbiasa mengutarakan perasaan, bahasa ekspresi is the king.

Bahasa Ekspresi pada Anak Balita

Pada anak balita yang masih belajar berbicara, bahasa ekspresi sangat membantunya untuk mengutarakan apa yang ia inginkan kepada anggota keluarga lain. Tantrum pada anak usia dua dan tiga tahun (terrible two dan threenager) umumnya disebabkan karena ia menginginkan sesuatu tetapi tidak ada yang bisa memahami apa yang ia maksud karena artikulasi bicaranya masih belum jelas.

Dulu jaman si K masih usia dua tahunan, eh sekarang juga masih ding, aku mengandalkan bahasa ekspresi ketika si K lapar, minta minum, minta peluk, atau minta main sesuatu. Ibunya yang memiliki gangguan pendengaran ini masih sering salah mengartikan omongan si K, makanya si K memilih menggunakan bahasa ekspresi daripada keburu laper tetapi Ibunya enggak paham-paham. Hahaha.

Bahasa ekspresi membuat anak lebih mengenali ekspresinya sendiri. Bagaimana mengungkapkan perasaannya ketika sedih, marah, senang, gembira, kecewa. Seorang anak yang gagal memahami ekspresinya akan gagal bagaimana menyalurkan ekspresinya, jika ia gagal menyalurkan ekspresi dengan tepat, ia akan menjadi seorang dewasa yang bertingkah seperti anak kecil.

Bahasa Ekspresi pada Pasangan Dewasa

Sebagian besar laki-laki enggak terbiasa mengutarakan perasaan dengan verbal. Gengsinya gedhe. Alih-alih meminta maaf saat melakukan kesalahan, seorang suami umumnya diam saja sampai membuat istri gondok. Emak K enggak tahu berapa persen suami yang tidak t6erbiasa mengungkapkan perasaan dengan verbal, tetapi curhatan di media sosial umumnya mengeluh tentang suami yang tidak peka. Padahal bukannya tidak peka, tetapi memang enggak terbiasa mengutarakan dengan verbal.

Abah K juga termasuk golongan suami yang tidak terbiasa mengungkapkan perasaan dengan bahasa verbal. Seingatku baru satu kali ia menyatakan rasa cintanya secara verbal. Meski kudesak dengan pertanyaan, “Bah, Sayang AYi ndak?” Enggak bakal dijawab meski sekedar anggukan.

Ngenes, ya?

Hingga kemudian, saat aku sedang membahas perkembangan bahasa ekspresi si K yang semakin pesat–si K sudah berimprovisasi sendiri bagaimana mengungkapkan apa yang ia mau dengan ekspresi, bahasa tersebut digunakan dengan istiqomah—, abah K tiba-tiba berujar, “Kalau aku memeluk, ngusap-usap punggung, itu artinya aku minta maaf. Aku enggak bisa meminta maaf dengan verbal. Embuh ngapa kok angel.”

Kemudian berlanjut membahas beberapa bahasa ekspresi yang digunakan abah K terkait perasaannya. Dari bagaimana ia menyatakan rasa sayang, kangen, memuji, dan rasa-rasa tertentu antara suami kepada istri. Menandai bagaimana pasangan mengungkapkan perasaan dengan bahasa ekspresi ini, aku merasa lebih dihargai perasaannya. Merasa lebih dicintai meskipun enggak pernah mengucapkan rasa cinta dengan kalimat verbal.

Mak-emak yang suaminya enggak terbiasa mengutarakan perasaan dengan kalimat verbal, coba deh buat kesepakatan bahasa ekspresi. Bisa juga menggunakan bahasa ekspresi yang sudah ada, biasanya dilakukan berulang-ulang oleh pasangan setelah menghadapi sesuatu.

Buka mata, buka hati, kenali bagaimana bahasa ekspresi yang digunakan oleh pasangan. Jika masih kesulitan, boleh kok tanya ke pasangan, “Sayang, waktu kamu meluk aku sambil ngusap punggung itu, maksudnya nyuruh aku kuat, minta maaf atau mengungkapkan rasa sayang?”

 

 

 

 

 

Merenung Konsep Kerja yang Halal dan Thayyib

Merenung Konsep Kerja yang Halal dan Thayyib

Pendidikan finacial tidak melulu tentang menghitung uang. Didalamnya juga termasuk bagaimana cara mencari harta yang halal dan thayyib. Harta yang ditempuh dengan jalan halal dan menyeluruh kebaikannya. Thayyib sendiri adalah kebaikan menyeluruh. Bahkan ada yang mengartikan jika thayyib adalah baik dalam arti seluas-luasnya. Thayyib yang tidak mendhalimi sesama maupun diri sendiri. Thayyib yang tidak mengesampingkan kewajiban diri untuk menunaikan kewajiban kepada Tuhannya. Thayyib yang tidak mengurangi hak istri dan anak-anak atas keberadaan seorang suami dan ayah.

Kita yang sudah yakin akan kehalalan pekerjaan kita, harus senantiasa mengevaluasi apakah pekerjaan kita thayyib juga. Ya Salam, enggak sesimpel asal halal ternyata, ya? Saat ngaji itu aku sampai gedek-gedek. Gusti Allah, sekedar halal saja belum cukup, ternyata.

Beberapa kali aku dan abah K berdiskusi dan saling mengingatkan terkait thayyib enggak-nya pekerjaan kami. Abah K sering mengkritikku jika aku terlalu memikirkan blog dan chat WhatsApp terkait pekerjaan sampai emosian dengan si K, hingga abah K pernah menyuruhku untuk berhenti menerima semua jenis job blogger. Memintaku menulis di blog dengan suka-suka untuk mengembalikan emosiku stabil pada garis edarnya.

Aku pun sering mengingatkan abah K ketika abah K terlalu mementingkan pekerjaannya sampai porsi waktu, kualitas waktu dengan keluarga berkurang jauh. Biasanya setelah lembur berhari-hari, abah K langsung meminta waktu beberapa hari untuk ‘membayar’ waktu yang terutang. Bahasaku kok belibet banget, sih?

Thayyib-nya pekerjaan kita juga harus ditinjau apakah pekerjaan ini mendhalimi diri sendiri atau enggak. Pekerjaan yang lembur terus-terusan sampai mengabaikan hak tubuh untuk istirahat perlu dievaluasi. Bagaimanapun, tubuh kita adalah amanah yang harus kita tunaikan hak-haknya.

Aku belum menjejalkan si K dengan teori halal dan thayyib. Di usianya yang baru menginjak 3.5 tahun, kami fokus memberikan teladajn bagi si K. Anak adalah sebaik-baiknya peniru. Si K melihat bagaimana Abahnya tetap menjaga kesehatannya meskipun pekerjaan sedang banyak-banyaknya, tetap sarapan buah, ngeteh rempah dan pantang minum kopi.

Diam-diam, si K mempelajari betul bagaimana Abah K menyempatkan diri untuk video call di sela-sela marathon jadwal kerja di luar kota. Kemarin ia mengajakku bermain peran dengan menggunakan vespa. Tiba-tiba ia pamit bekerja, dadah-dadah… lalu bergaya di depan laptop layaknya abah K. Di tengah-tengah pekerjaan, si K mengambil mainan kotak dan bersandiwara sedang telpon Ibu.

Uwuuuuu. Emak K jadi ngebayangin kelak kalo bocah ini sudah kerja. Hahaha, so sweet banget sih, Nang…

 

3 Keripik Home Made Favorit saat Lebaran

3 Keripik Home Made Favorit saat Lebaran

Baru masuk bulan Robiul Awal, emak K sudah membahas keripik lebaran. Antara kangen nuansa Ramadan dan kangen mudik jadi satu, enaknya nostalgia soal keripik favorit yang kucari-cari saat lebaran tiba. Iya sih, bisa nyari keripiknya di luar lebaran, tetapi percayalah, nikmatnya berbeda. Hahaha, apa karena saat lebaran sudah nahan diri sebulan suntuk sehingga semua-mua rasanya enak dan lezat?

Keripik di Indonesia beragam warna. Rasa-rasanya tiap daerah punya koleksi keripik sendiri. Malang dengan keripik apelnya, Lampung dengan keripik pisang coklatnya, Salatiga dengan keripik usus dan parunya… dan masih banyak lagi. Tetapi, keripik yang kurindukan saat lebaran ini adalah keripik yang khas diproduksi oleh Ibu dan Emak Mertua.

Keripik Tumpi, Keripik Favorit Lebaran dengan Aroma Irisan Daun Jeruk yang Ngangeni

Tumpi, keripik yang lebih mirip rempeyek. Terbuat dari tepung beras, kacang hijau dan irisan daun jeruk ini belum bisa dipastikan khas dari daerah mana. Banyak ditemukan di daerah Salatiga dan sekitarnya, namun beberapakali aku juga menemukan di daerah lain sekitar Jawa Tengah, terutama di Semarang.

Keripik Tumpi, Keripik Favorit Lebaran dengan Aroma Irisan Daun Jeruk yang Ngangeni

Keripik Tumpi, Keripik Favorit Lebaran dengan Aroma Irisan Daun Jeruk yang Ngangeni

‘Ditumpi’ adalah menuangkan adonan tepung beras encer dan kacang hijau yang sudah diaduk rata dengan bumbu dan irisan dun jeruk ke pinggiran wajan. Tidak ada rumus pasti apa bumbu dan kacang-kacangan yang bisa disebut sebagai tumpi, namun umumnya tumpi di Salatiga adalah adonan tepung beras, kacang hijau, dan irisan dun jeruk dengan bumbu kencur, bawang putih, ketumbar dan garam.

Tumpi produksi Ibu memiliki ciri khas, putih bersih dengan kriuk yang agak keras karena dicampur dengan sedikit tepung kanji. Aroma daun jeruk menggoda, saat dikunyah, aroma rasa kencur memanjakan lidah. Penumbukan kencur enggak boleh dianggap enteng, harus halus poll karena kencur yang kasar akan membuyarkan rasa saat mengunyahnya. Kayak merica itu, loh, kalau enggak halus saat dikunyah bakal menimbulkan sensasi pedas.

Keripik Kimpul, Si Umbi dari Keluarga Talas yang Semakin Langka

Kimpul, Umbi ini masih satu keluarga dengan umbi talas. Bedanya, jika umbi talas dalam satu batang hanya satu umbi, kimpul dalam satu batang menghasilkan banyak umbi. Umbi talas jika dibuat stick cenderung gatal, lain halnya dengan umbi kimpul, umbi kimpul jika dibuat stick tidak begitu gatal.

Stik Kimpul

Stik Kimpul

Umbi ini lumayan langka dan baperan. Sebab, jika ingin dibuat stick yang kriuk-kriuk sempurna, harus umbi kimpul yang ditanam di tanah Salatiga. Kalau bukan umbi kimpul yang ditanam di tanah Salatiga, sticknya enggak kriuk-kriuk dan banyak kroposnya. Mbak dulu pernah bisnis stick kimpul dan berhenti di tengah jalan karena bahan baku yang semakin langka, sudah mulai jarang yang menanam umbi ini. Saking senengnya anak-anak Bapak dengan stick kimpul, Bapak sampai rela menanam sendirio umbi kimpul di kebun.

Peyek Delai, Peyek Khas Bojonegoro dengan Ulegan Cabe

Pertama kali mencicipi peyek dele di kampung, sekitar 5 tahun yang lalu, aku takjub sekaligus ngeri, peyek ini cetho welo-welo ada kulit cabenya disamping taburan irisan kulit jeruk. Rupanya cabe menjadi trade mark bumbu di daerah Bojonegoro, hingga peyek pun dibumbui cabe keriting.

Ketakjuban sekaligus ngeri itu langsung buyar pada kunyahan pertama. Agak pedes sih, tetapi bukan pedas yang membuat keringat gembrobyos. Pedesnya pas, sekedar bumbu saja. Jika tumpi hanya mengandalkan kencur dan bawang putih, peyek dele ini bumbunya lebih komplit, bawang merah, bawang putih, cabai dan kemiri, plus irisan daun jeruk.

Peyek Dele khas Bojonegoro

Peyek Dele khas Bojonegoro

Ciri khas peyek dele yang dibuat emak mertua adalah ulegan cabenya yang dibuat enggak halus, jadi ada kepingan kulit cabai yang tidak rata, berdiameter sekitar 1 cm dalam peyek dele tersebut. Dulu nyaris tiap hari emak mertua membuat peyek dele, namun sejak abah K pantang makan cabe, peyek dele agak tersisihkan.

Ada perbedaan fundamental antara peyek dele dan tumpi selain pada bumbu dan jenis kacangnya; bentuk peyek delai cenderung memanjang, kalau tumpi cenderung pendek, lebar ginuk-ginuk.Pertamakali menggoreng peyek dele, aku heran karena dalam satu wajan penggorengan paling poll cuma bisa nggoreng 3 peyek dele, saking panjangnya ‘tumpian’ adonan ke pinggiran wajan.

 

Kamu punya keripik favorit yang ditunggu-tunggu saat lebaran, enggak?

 

 

8 Hal yang Ingin Kucapai Sebelum Berusia 40 Tahun

8 Hal yang Ingin Kucapai Sebelum Berusia 40 Tahun

Tema kolaborasi¬† #BloggerKah bulan ini bikin aku mikir lama, hal yang ingin dicapai sebelum usia 40 tahun? Ealah, Rek, ngelingke ae yen awak dhewe wis tuwek. Huhuhu. Sekarang umurku 27 tahun, masih ada waktu sekitar 13 tahun untuk menyelesaikan apa-apa yang ingin kucapai sebelum umur 40 tahun. Gusti, aku tiba-tiba ingat, saat aku SD, aku berkomentar begini ke Ibu yang saat itu berusia 40 tahunan, “Ibu mpun sepuh, ya.” Anak yang dulu menganggap usia 40 tahun sudah tua, sekarang sudah berusia 27 tahun. Time flies so fast, Darl!

Pengennya sih dana darurat aman, punya deposito berlapis-lapis, punya saham, punya panti jompo yang membahagiakan mbah-mbah, punya rumah luas dengan seabrek kegiatan, sholikhah lahir bathin, hidup selonjoran gemah ripah loh jinawi. Hahahaha, belum usai mimpiku, mbak Ran langsung mencubit agar aku bangun dari mimpi di siang bolong; keinginannya harus realistis, dong. Bukan sekedar mimpi. Keinginan yang bisa dicapai. Ya, meski keinginan tadi sangat mungkin bagi Nia Ramadani, tetapi bagi emak K yang di umur 27 tahun masih ngontrak di rumah sepetak, mari berpikir logis dan pastikan kakinya menginjak bumi lagi.

Jadi Inisiator dan Professional Expert Bahasa Ekspresi

Sekarang aku sedang mendalami bahasa ekspresi, bahasa yang sudah menjadi keseharian di keluargaku, tetapi ampun, menguras emosi, pikiran dan fisikku ketika aku mencoba untuk merintis sosialisasi ke publik. Memperdalam literaturnya lumayan menghabiskan waktu dan melelahkan pikiran. Bayang-bayang ketakuatn, ketidakpercayaan diri terus saja menggerogoti psikis. Takut kalau-kalau tidak pantas, takut kalau-kalau kelak menghadapi cibiran. Hoalah, Mak, bukannya kamu sudah terlalu biasa menerima cibiran dan harusnya sudah kebal? Hahahaha.

Standar professional expertku disini adalah pijakanku sudah jelas, punya buku tentang bahasa ekspresi, punya website yang bisa jadi rujukan komplit dengan printilan permainan untuk mengenalkan bahasa ekspresi kepada anak. Kalau bisa, meski sekarang belum ada jurusan yang khusus tentang bahasa ekspresi, aku ingin memperkuat dengan pendidikan formal, dan bahasa ekspresi sudah membumi di bumi parenting Indonesia.

Ini aku harus belajar apa saja ya? Psikologi anak, atau malah perlu belajar bahasa juga? Hahaha.

Haji bareng Abah K

Melihat antrian haji yang puluhan tahun, aku agak ragu juga ingin memetakan mimpi haji bareng abah K sebelum 40 tahun. Tetapi, karena abah K berprinsip bahwa yang wjaib didahulukan terlebih dahulu, kami enggak ada bayangan untuk umroh sebelum haji. Maksudnya pergi ke Makkah-Madinah khusus umroh lho, ya, bukan umroh yang didahulukan sebelum haji yang berangkatnya barengan sekaligus untuk haji. Pengen banget ibadah full power di usia 30 tahunan. Di saat anak-anak sudah mandiri dan bisa ditinggal ibadah. Di saat urusan financial sudah cukup untuk biaya keluarga selama kami menunaikan ibadah haji.

Makkah, credit: medina wisata

Ya siapa tahu ada rejeki haji berdua tanpa harus menunggu antrian super panjang, siapa tahu slot haji Indonesia ditambah hingga antriannya semakin pendek, siapa tahu ada rejeki tinggal di negara yang hajinya enggak perlu antri dan bisa start haji dari sana. Siapa tahu… Robbuna yang Punya Rumah, Robbuna pula yang Mengundang tamu-tamu-Nya dengan cara yang seringkali di luar nalar seorang manusia.

Punya 3-5 Anak

Ada yang nyengir saat membaca poin ini? Hahahaha, aku pun nyengir saat menulis ini. Di usiaku yang ke 27 dan si K yang berusia 3 tahun, aku masih berusaha menghilangkan trauma melahirkan dan pasca melahirkan, kok mentholo pengen punya anak 3-5, yang artinya paling enggak nambah 2-4 anak lagi. Bhahaha. Sik, iki masih ada 13 tahun, bisa jeda 2 tahunan kalo pengen nambah 4 anak, kan? Wkakakka. Ya Allahu Rabbi… Tapi kan pengen haji sebelum 40, yang artinya paling enggak anak bungsu sudah berusia 10 tahun saat haji? Kok ya ora logis blas. Kayaknya lebih logis nambah 2 anak lagi ya? Hihihi. Nanya sendiri, dijawab sendiri. Baiq~

Punya Rumah Kayu dengan Taman Baca dan Kegiatan Bocah

Aku dan abah K sama-sama terobsesi dengan rumah kayu yang berkonsep modern. Rumah tempat pulang dengan ketenangan masa kecil namun enggak meninggalkan gaya modern yang serba ringkas dan mudah. Barisan emak-emak pengagum gaya tradisional tetapi ogah banget nimba air sumur. Hahahaha. Rumah yang ramai dengan bocah-bocah, tempat bermain dan menggali ilmu. Jika boleh bermimpi tinggi, aku ingin memfasilitasi bocah-bocah untuk belajar. Mendatangkan guru-guru kehidupan, termasuk Kyai dan ulama panutan, yang dari beliau bocah-bocah bisa mereguk cahaya hikmah.

Di sekitar rumah ada kolam dan sayur-mayur, pohon rambutan, alpukat, kelengkeng, pepaya, mangga dan juwet. Komplit dengan komposter dan resapan air hujan. Gusti… Indahnya, auto terngiang-ngiang lantunan lagu masa kecil; desaku yang kucinta, pujaan hatiku….

Investasi Tanah yang Ditanami Pohon Jati

Poin ini sebenarnya hampir tercapi, tetapi ada prioritas lain di luar rencana yang menyapa kehidupan kami; merantau. Tahu sendiri, kan, untuk merantau butuh biaya yang enggak sedikit, terutama untuk biaya mengontrak dan menyediakan perlengkapan rumah tangga. Perlengkapan rumah tangga itu terlihat murah, ya, tetapi kalau ditotal, hmmmm, lumayan menggilas dana darurat. Hahaha.

Aku masih menyimpan mimpi ini. Di kampung Bojonegoro tanahnya jenis kapur yang liat, sangat bagus digunakan untuk bertanam jati. Aku berharap keinginan ini bisa terpenuhi 5 tahun lagi.

Wakaf Taman Bermain dan Kantung Parkir

Entah kenapa, aku merasa sekarang darurat taman bermain dan kantung parkir. Ketersediaan masjid dan mushola di sekitar tempat tinggalku sekarang lebih dari cukup, jadi aku ingin wakaf taman bermain yang bisa digunakan bocah-bocah untuk bermain sak kemenge dengkul, tempat dimana bocah-bocah bisa main betengan, petak umpet, gobak sodor, bahkan sepedaan sampe ngglundung tekan kalenan. Minimal wakaf sepetak tanah yang cukup untuk main gobag sodor, 40 meter saja sudah cukup untuk glundang-glundung, kan?\

Kantung parkir yang kumaksud disini adalah kantung parkir untuk tamu-tamu tetangga yang tidak mempunyai halaman yang cukup. Biar enggak ngebak-ngebaki dalan. Pengalaman hampir nabrak mobil karena jalannya dipakai parkir itu mangkeli banget, je. Yen mobil pribadi penghuni rumah sih silakan menyediakan parkir di rumah masing-masing ya, Gais. Durung kelakon wis ngongkon-ngongkon. Heuuu.

Travelling ke Bromo dan Karimunjawa

Dua destinasi yang berbeda tema. Yang satu pegunungan dengan aroma belerang dan pasir berisiknya, yang satu pulau kecil dengan pantai dan gugusan gemintangnya. Yang satu dingin kudu krukupan jaket woll lapis-lapis, yang satu hawane kudu nyewa private villa ben bisa pake baju-baju tipis. Persamaannya cuma satu, honeymoon kesekian ratus kali. Ngahahaha.

Hafal Surat Al-Mulk, Yasin, Juz 30 dan Albaqarah

Surat Almulk, dhawuh gus Baha, adalah pelindung siksa kubur. Abah K menceritakannya pada malam hari saat kami pillow talk, perbincangan mendalam yang membuat tekadku membaca; aku harus hafal surat Tabarak. Gus Baha, dengan gaya khasnya menceritakan hadits riwayat Anas Ibnu Malik, tentang seorang pria yang membuat malaikat dan ‘surat yang dihafalkannya’ berdebat. Malaikat itu ingin menytiksanya, dan ‘surat yang ia hafalkan’ ingin melindunginya. Surat yang ia hafal tak lain dan tak bukan adalah surat al-Mulk atau Tabarak.

Coba, deh, cari riwayat lengkap hadits riwayat Ibnu Malik tentang surat Tabarak, ceritanya cukup panjang dan dramatis.

Yasin, Juz 30 dan Albaqarah sendiri aku enggak memiliki alasan khusus, Yasin aku biasa merapalkannya, Juz 30 dan Albaqarah sendiri melanjutkan hafalan yang sudah kusetor kepada Yai namun belum tuntas.

Wis, ah, wolu wae. Jan-jane pengen nulis akeh, tapi kok terkesan kemaruk. Emak K ini macak sholikhah, kan wong sholikhah kuwi kudu qona’ah lan ora panjang angan-angan. Ealah… aslinya kebanyakan permintaan sampai enggak bisa membedakan mana yang logis dan panjang angan-angan. Jadi tak stop delapan aja, kalau mau nambah tinggal nambah di doa-doa dan sujud panjang. Tak lupa di buku kecil yang berisi coretan mimpi. Memang mimpinya keduniawian, tetapi semoga menjadi perantara bertambahnya pahala dan keberkahan usia. Mohon doanya ya, kawan-kawan semua~

Masih pengen nyari ide hal-hal yang ingin dilakukan sebelum berusia 40 tahun? Cuss ke blog mbak Arin dengan My Before 40 Bucket List-nya dan mbak Ran dengan 10 Before 40!-nya. Mari aminkan doa-doa, dan apa keinginanmu sebelum berumur 40 tahun? Yuk komen, siapa tahu diaminkan oleh para pembaca. Konon doa yang diaminkan oleh 40 orang akan qabul. Apapun itu, semoga keinginan kita semakin mendekatkan pada-Nya, dan menambah keberkahan hidup kita dan anak cucu kita.

 

 

 

 

 

 

Mengenalkan Uang pada Anak Balita

Mengenalkan Uang pada Anak Balita

Emak K beberapa waktu yang lalu takjub. Wow, mengenalkan uang pada anak di bawah lima tahun ternyata menjadi polemik yang cukup alot di kalangan emak-emak. Ada kalangan emak-emak yang menganggap bahwa anak baru boleh dikenalkan dengan jajan dan nominal uang saat anak sudah berusia pre aqil baligh (Sekitar 7 tahunan). Ada pula yang menganggap bahwa konsep uang harus dikenalkan sejak anak masih batita, bawah tiga tahun, lho.

Emak yang memilih untuk tidak mengenalkan anak balita pada konsep uang berpegang anak usia balita harus dikuatkan konsep rejeki dari Robbuna terlebih dahulu sebelum mengenal uang dan jajan. Bagi emak-emak ini, pendidikan financial bagi anak balita tidak melulu tentang uang. Masih ada konsep keinginan dan kebutuhan, menabung, dan bersedekah.

Sementara, emak yang mengenalkan konsep uang sejak dini meyakini bahwa anak sudah harus dikenalkan jika uang adalah alat tukar barang, jika uang kedua orang tuanya terbatas dan harus menahan diri jika membeli suatu barang. Bagi kelompok ini, pendidikan financial pada anak usia balita bisa dilakukan dengan beriringan antara menguatkan konsep rejeki dari Robbuna, mengenal uang dan pernak-pernik financial lainnya.

Lika-liku Lucu Pendidikan Financial pada si K

Saat si K berusia 2 tahun, si K belum kukenalkan dengan uang. Usia 2 tahun belum mengenal angka, jadi aku belum mengenalkan uang, bahkan belum mengenalkan jajan. Hingga suatu hari saat kami bepergian, kami mampir ke warung. Si K tiba-tiba mengambil jajan dan melesat keluar seolah-olah jajan itu miliknya sendiri. Aku kaget dan mengejar si K untuk meminta kembali jajan yang sudah ia ambil.

Saat itu juga, aku berpikir bahwa sudah tiba saatnya si K dikenalkan dengan konsep uang sebagai alat bayar. Dudu warunge mbahe, Rek… Uisin banget aku saat cerita ke yang punya warung kalau tadi mengejar si K yang melesat keluar sambil membawa jajan. Hahaha.

Masalah datang kembali beberapa bulan kemudian saat si K merengek minta uang untuk jajan, sementara invoice belum cair.

“Ibuk, tumbassss…”

“Tumbas apa?”

“Es kyim.”

“Wah, uangnya tinggal empatribu, enggak cukup untuk beli es krim.”

FYI, es krim kesukaan si K adalah es krim cup yang harganya 5k.

“Ambil uang yooo. Ambil uang di ATM.”

Baiklah… sudah tiba masanya untuk mengenalkan kepada si K bahwa enggak bisa semena-mena mengambil uang di ATM. “Kartu ini buat nyimpen uang Ibu, kalau uang di kartu ini habis, kita enggak bisa ambil uang di ATM. Buat ngisi kartu ini, Abah harus kerja, dan Kevin, Ibu, Abah harus berdoa biar rejeki kita lancar.”

Si K paham? Entah, tetapi lumayan sejak saat itu dia tanya dulu kartu Ibu ada uangnya enggak. Hahahaha.

Berkaca dari kejadian-kejadian lucu tadi, aku berada di barisan mak-emak yang mengenalkan konsep uang dan financial sejak anak masih kecil, seiring dengan menguatkan konsep rejeki dari Robbuna.

Mengenalkan Nilai Uang pada Anak Usia 3 Tahun

Si K sudah bisa membaca angka ketika berusia 3 tahun-an. Di usianya yang ke 3.5 tahun ini, aku mulai mengenalkan nilai uang pada si K agar dia tahu bahwa setiap barang harganya berbeda-beda. Bahwa dia bisa membeli permen dengan uang duaribu, tetapi harus menabung cukup lama untuk membeli ekcavator remote. Bahwa es krim tidak bisa dibawa pulang dengan uang koin 500 rupiah yang dibawanya. Bahwa Ibunya cukup cerewet jika ia merusakkan excavator remote, tetapi super selow saat balonnya meletus. Hahaha. Harganya 1000 kali lipat dari harga balon je….

Aku mencari desain uang mainan yang berbentuk file pdf dan mengeprintnya. Saat itu ada empat jenis nilai uang yang ku-print, 10k, 5k, 2k dan 1k. Selain uang, aku juga mengeprint 4 buah gambar Babi.

Bermain Mengelompokkan Nilai Mata Uang

Aku membuat amplop dari kertas bekas sebanyak 4 buah dan menempelkan gambar babi di depannya, lalu menulis nominal uang pada keempat amplop tersebut.

Setelah semuanya siap, aku meminta si K untuk memasukkan uang sesuai nominal yang tertera pada amplop. Aku meminta si K menghitung jumlah nolnya dan memastikan bahwa dia mengelompokkan uang dengan membaca angkanya, bukan mengelompokkan berdasarkan warna dan gambar uang.

Si K cukup antusias, bermain dengan riang meskipun tidak sampai habis semua helai uang. Kami bermain sekitar 15 menit, setelah itu bubar jalan. Namun, 15 menit yang singkat ini membuat si K semakin menghargai uang. Ia tidak lagi melempar-lempar uang kemana-mana, tidak lagi merengek meminta sesuatu ketika aku berkata jika harganya cukup mahal, tidak lagi mengambil Kinderjoy saat jajan karena tahu jika harga Kinderjoy bisa dibelikan 3 buah es krim coklat. Hahahaha.