Cara Asik Mengenalkan Strategi Menyelesaikan Masalah kepada Anak

Matematika enggak melulu tentang angka dan simbol. Salah satu konsep matematika yang harus dilatih sejak awal adalah strategi menyelesaikan masalah, problem solving. Biasanya kalau di usia sekolah guru menggunakan soal cerita untuk menguji problem solving siswa.

Problem Solving ini menyajikan masalah kepada anak dan menyerahkan sepenuhnya kepada anak bagaimana cara dia menyelesaikan sebuah masalah yang ada di hadapannya.

Hari ke dua tantangan Matematika, emak K mengajak si K untuk menembak bola kecil ke arah yang telah ditentukan. Kebetulan di rumah ada Game Shot untuk menembak bola, aku tinggal menambahkan kotak dan meminta si K mengisi penuh kotak tersebut dengan bola-bolanya menggunakan Game Shot.

Problem Solving dengan Bahan Sekitar

Problem Solving dengan Bahan Sekitar

Tantangannya, si K harus menembak sesuai dengan urutannya dari saf terdekat hingga saf terjauh. Masing-masing saf diisi dua bola, tidak boleh lebih.

Terlihat sepele, kan?

Padahal dengan kegiatan sepele seperti ini, kita sedang mengajari anak berpikir kompleks: bagaimana mengarahkan game shot agar bola tepat berada di saf yang telah ditentukan, seberapa banyak tekanan yang harus dikeluarkan agar bola tepat berada di saf yang telah ditentukan.

Di sela-sela permainan, kami saling menebak berapa banyak bola yang ada di saf, berapa banyak bola yang belum mendapatkan tempatnya, berapa banyak saf yang berisi bola dengan jumlah yang sama. Secara tidak langsung, si K sudah belajar konsep menambah, mengurangi dan perkalian sederhana-penjumlahan berulang.

Si K menikmati permainan dengan bahagia. Berteriak girang sambil mengangkat kedua tangannya manakala ia sudah menuntaskan tugasnya, “Horeee, Kevin bisa! Bola sudah habis.”

Matematika, kalau ditekuni memang seasik ini. Hehehehe. Seringkali di tengah-tengah permainan, kita bisa berimprovisasi sesuai dengan apa yang ada di depan.

“Eh Kevin, ini bentuk bola sama enggak dengan roda?”

“Oya, oya sama kayo yoda.”

Gitu doang, belum kukenalkan dengan bentuk silinder. Khawatir doi mumet. Wong bentuk bangun datar aja masih banyak yang belum kukenalkan, yang penting si K paham dulu kalau bentuk bola berbeda dengan bentuk roda. 😆

Enggak jarang juga si K yang nanya duluan, hingga Ibunya takjub dan bertanya-tanya, apa ini sudah waktunya untuk mengenalkan konsep matematika yang lain?

“Ibuk, mbak Piska sama Kepin mau bola yang sama. Beyapa? Kepin beyapa? Mbak Piska beyapa?”

Emaknya bingung kok bocah sudah merambah ke pembagian. Akhirnya cuma kulatih membagi bolanya satu-satu, “Nah, jadi Kevin berapa? Mbak Viska berapa?”

“Kepin tiga, mbak Piska tiga. Sama, yo. ”

“Iya, berapa tadi bola semuanya?”

“Enam.”

“Iya, enam bola, dibagi mbak Viska dan Kevin, masing-masing dapat tiga. Dah, yok, main lagi, ditembak lagi. Kevin tiga, mbak Viska tiga. Gantian.”

Kegiatan matematika apalagi yang kira-kira mengasikkan untuk anak usia tiga tahun, ya? Ada yang punya ide lain? Hihi.

Stimulasi Matematika Balita Kinestetik-Visual

Stimulasi Matematika Balita Kinestetik-Visual

Matematika bagi sebagian orang menyeramkan. Enggak jarang tanpa sadar menularkan rasa seram ini ke anak, “Hiii, mati-mati-ka.” Seolah matematika adalah ilmu antara hidup dan mati. Padahal, matematika sangat mengasyikkan jika tahu bagaimana cara belajar yang tepat.

Matematika bisa diajarkan kepada anak sejak kecil, dengan hal-hal sederhana yang terlihat sangat sepele padahal merupakan pijakan penting bagi anak. Aku pernah menulis hal-hal yang harus dikuasai anak usia balita sebelum belajar berhitung, Kemampuan yang Harus Dikuasai Anak Balita sebelum Belajar Berhitung.

Sebelum mengajarkan anak berhitung, ada baiknya kita memastikan bahwa anak sudah bisa mengelompokkan bentuk, mengelompokkan warna, dari bentuk yang sederhana hingga bentuk yang sulit, mengerti konsep penuh dan kosong. Jangan langsung mengajak anak menghafal angka-angka karena itu akan menyebabkan anak kebingungan, lha wong bentuk saja belum bisa menyortir kok mau dikenalkan dengan simbol yang jauh lebih rumit?

Anak Kinestetik yang Penuh Tenaga

Umumnya anak balita adalah anak kinestetik, usil, enggak bisa diam, maunya geraaaaak terus. Ada balita yang kinestetiknya sedengan, ada balita yang kinestetiknya bikin simbok gembrobyos keringetan. Si K masuk ke anak balita yang kinestetiknya bikin gembrobyos. Enggak heran emaknya auto langsing meski porsi makannya 2 kali porsi makan abah K. 😆

Anak kinestetik ditandai dengan gerakan anggota tubuh yang seolah enggak bisa diam, meskipun itu sedang melakukan aktivitas di atas kursi atau tempat tidur. Si K kalau sedang nonton atau sedang baca buku, tangan dan kakinya tetap kemana-mana. Jika seharian dikurung di dalam rumah, ia bakal tantrum dan sangat sensitif.

Sebaliknya, jika ia dibiarkan mengeksplor lingkungan, manjat sana-sini, naik-turun selokan, lari mengejar bola, glenderan vespa, ia akan menjadi anak yang manis, yang dikit-dikit meluk Ibunya.

Mengajarkan matematika ke anak kinestetik dengan duduk anteng di atas meja enggak akan bertahan lama. Paling cuma lima menit habis itu kakinya gatel pengen lari. Maka, Ibu harus menyesuaikan gaya belajar anak untuk stimulasi matematika ini.

Stimulasi Matematika Anak Kinestetik-Visual

Matematika bisa diselipkan dalam kegiatan anak, apapun itu. Tinggal kitanya yang harus kreatif dan memastikan bahwa anak sudah lulus tugas pra matematikanya. Si K sudah bisa sortir warna, sortir bentuk, sortir warna dan bentuk, dan sudah memahami konsep kosong dan penuh, jadi aku sudah mulai mengenalkan angka-angka.

Menghitung Jumlah Kursi Kereta Kelinci

Matematika anak KinestetikSi K menamakan kereta kelinci ini dengan odong-odong. Hahahaha. Tadi pagi kami ke Taman Tirtoagung, ada rombongan anak TK yang sedang studi lingkungan ke Taman dengan menggunakan kereta kelinci.

Keretanya parkir di dalam taman, si K penasaran dan minta ijin untuk masuk ke dalam kereta saat anak-anak TK sedang beraktivitas ke dalam Taman. Ia begitu excited, naik-turun, menunjuk, bertanya banyak hal.

“Wow, odong-odongnya ada enam!” Seru si K. Aku yang sedang mengikutinya dari belakang penasaran, menghitung berapa gerangan jumlah odong-odongnya, bener, dong, enam. Emak spikles dan langsung pengen stimulasi matematika lebih banyak. 😆

“Kursinya ada berapa, Nang?”

Dasar anak kinestetik, bukannya cukup menghitung dengan jari, ia menghitung dengan lompat dari kursi satu ke kursi lain. Setelah satu gerbong selesai dihitung, lanjut ngitung ke gerbong selanjutnya. Setelah satu kereta usai, lanjut ke kereta selanjutnya.

Ibunya yang cuma mengawasi dari luar kereta saha gembrobyos, si K masih hepi lompat antar kursi berulang kali. Menghitung dengan bahagia, tertawa saat mendapati bahwa jumlah kursi antar gerbong berbeda-beda.

“Ini lima, yang itu enam. Yang hijau tujuh. Beda yo, Ibuk? Beda yo?”

Berburu Angka di Taman

“Nang, nyari angka, yuk.”

Si K mengangguk riang.

“Coba cari angka 4.” Aku menantangnya. Si K baru mengenal angka 1-10, angka selanjutnya belum aku kenalkan.

Si K menyusuri Taman, melihat plat demi plat nomer motor yang ada di Taman. Berteriak ‘hore!’ saat ia berhasil menemukan angka yang kumaksud.

Mencari Berbagai Bentuk di Taman

“Ibuk, ini bentuk lingkaran yo?” si K menunjuk roda kereta kelinci.

“Iya. Coba ada yang bentuknya segitiga?”

Ia turun dari kereta. Mencari bentuk segitiga, girang bukan main ketika menemukan penghubung gerbong berbentuk segitiga.

Aku masih meyakini, jika anak akan menikmati belajarnya jika kita sebagai orang tua tahu bagaimana mencari cara yang tepat sesuai dengan kesukaannya, termasuk Matematika.

Emak K sampai sekarang masih menjadi barisan emak-emak yang menggunakan media belajar sesuai dengan kesukaan anak, yang terdekat dan mudah dicari. Menyelipkan belajar ke aktivitas anak memang menyenangkan, apalagi jika menjumpai mata anak berbinar-binar, membuatku lupa jika aku menghadapi aneka deadline setelah bocah tidur. Hahahaha.

Pencarian Terkait:

  • https://widiutami com/stimulasi-matematika-balita-kinestetik-visual html
Mengenalkan Penjumlahan Bilangan Bulat pada Siswa SD Menggunakan Gaya Kodok

Mengenalkan Penjumlahan Bilangan Bulat pada Siswa SD Menggunakan Gaya Kodok

Pada siswa SD, terutama kelas awal, mengenalkan penjumlahan bilangan bulat membutuhkan Teknik tersendiri. Kita sebagai pendamping siswa dianjurkan untuk menggunakan media peraga yang mudah didapatkan dalam keseharian. 

Hal mendasar yang menyulitkan operasi penjumlahan bilangan bulat pada siswa SD adalah memahami bagaimana mengoperasikan bilangan negatif dan positif. Emak K mencoba sebuah cara untuk mengenalkan konsep sifat bilangan negatif dan positif dalam penjumlahan dengan gaya kodok.

Mengenalkan Penjumlahan Bilangan Bulat Menggunakan Gaya Kodok

Kodok sangat akrab dalam keseharian anak-anak di kampung. Dulu emak k belajar penjumlahan bilangan bulat juga dengan menggunakan gaya kodok. Saat mengerjakan soal penjumlahan bilangan bulat, emak K membayangkan kodok melompat-lompat dari satu angka ke angka lain. Lucu ya? Hahaha

Peraturan Penjumlahan Bilangan Bulat Menggunakan Gaya Kodok

Sebelum praktik, tekankan pada siswa tentang aturan baku ‘permainan’ penjumlahan bilangan bulat gaya kodok ini:

Tambah: Kodok Melompat Maju

Jika bilangan yang berhadapan dengan notasi penjumlahan positif: Kodok menghadap ke bilangan positif

Jika bilangan yang berhadapan dengan notasi penjumlahan negative: Kodok menghadap ke bilangan negative

Menjumlahkan Bilangan Bulat Menggunakan Gaya Kodok

Contoh Soal:

Hasil dari penjumlahan bilangan berikut:

-2+(-4) adalah….

Jawab:

Langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk menjumlahkan bilangan tersebut adalah:

  1. Buat garis bilangan antara -10 sampai 10.
  2. Letakkan kodok pada titik -2.
  3. Karena bilangan yang berhadapan dengan notasi penjumlahan adalah negatif, maka kodok menghadap ke arah garis bilangan negatif.
  4. Dijumlahkan dengan negatif 4, kodok maju sebanyak 4 langkah ke arah bilangan negatif.
  5. Hasilnya adalah -6.

Bisa dilihat dalam gambar berikut ini:

 

Yihaaa, gampang, kan? Emak bisa mengajarkan sendiri kepada anak ketika di rumah. Apalagi jika kita mengajarinya dengan menggunakan peraga riil boneka kodok. Bisa juga kita menggambar garis bilangan di lantai rumah, lalu melompat-lompat laiknya kodok.

Yuk, Mak, aktif mendampingi kesayangan belajar, menjadikan matematika menyenangkan.

Pencarian Terkait:

  • fun math penjumlahan
Prosedur Aplikasi Metode Discovery Learning

Prosedur Aplikasi Metode Discovery Learning

Discovery Learning ini menjadi salah satu metode favorit saat mengajar Matematika. Anak-anak jauh lebih aktif dan suasana kelas lebih menyenangkan. Emak K dulu nyaris setiap minggu sekali menggunakan Discovery Learning. Kemaen emak K sudah posting konsep Metode Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning), kali ini ema K akan posting Prosedur Aplikasi Metode Discovery Learning.

***

Menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning di kelas, ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum sebagai berikut:

a. Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan)

Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Di samping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan. Dalam hal ini Bruner memberikan stimulation dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan siswa pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi. Dengan demikian seorang Guru harus menguasai teknik-teknik dalam memberi stimulus kepada siswa agar tujuan mengaktifkan siswa untuk mengeksplorasi dapat tercapai.

b. Problem Statement (Pernyataan/ Identifikasi Masalah)

Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah) (Syah 2004:244), sedangkan menurut permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni pernyataan (statement) sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan.
Memberikan kesempatan siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisis permasasalahan yang mereka hadapi, merupakan teknik yang berguna dalam membangun siswa agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah.

c. Data Collection (Pengumpulan Data)

Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244). Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis.
Dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya. Konsekuensi dari tahap ini adalah siswa belajar secara aktif untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi, dengan demikian secara tidak disengaja siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki.

d. Data Processing (Pengolahan Data)

Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua informai hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah, 2002:22).
Data processing disebut juga dengan pengkodean coding/ kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.

e. Verification (Pembuktian)

Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004:244). Verification menurut Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.
Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak.

f. Generalization (Menarik Kesimpulan/Generalisasi)

Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah, 2004:244). Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan siswa harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu.

Kemampuan yang Harus Dikuasai Anak Balita Sebelum Belajar Berhitung

Kemampuan yang Harus Dikuasai Anak Balita Sebelum Belajar Berhitung

Tidak apa-apakah mengajari anak balita berhitung?

Pertanyaan satu ini berulangkali mampir, sayangnya, aku belum mempunyai blogpost untuk menjawabnya. HAHAHA. Dasar blogger, nanya sedikit disodorin blogspot. Yaa, mengetik penjelasan kan butuh waktu, Cynnn. Wkwkwk

Sebenarnya larangan belajar calistung untuk anak usia PAUD dan TK TIDAK BERLAKU SECARA MUTLAK. Larangan belajar calistung untuk anak PAUD dan TK berangkat dari keprihatinan pemerhati pendidikan akan maraknya les calistung untuk anak kicik-kicik itu tanpa memperhatikan kemampuan dasar yang mereka kuasai.

Ibaratnya, kita belajar pembagian tetapi belum menguasai konsep perkalian, ya konslet, dong. Apalagi jika anak kicik dipaksa untuk belajar menulis, membaca dan berhitung sampai membabi buta hingga merampas waktu mereka untuk bermain, hmmm, siap-siap saja anak bakal menjadi anak penghafal yang tidak memahami konsep.

Maka, emak-emak harus mengamati sendiri kesiapan anak, apakah anak sudah siap belajar calistung atau belum. Kali ini emak K fokus di kemampuan pra berhitung, ya, untuk kemampuan pra menulis dan pra membaca, insyaAllah akan dibahas kelak–entah kapan, tergantung mood emak. Wkwkwkwk.

Mengklasifikasikan Bentuk dan Warna Dasar

Klasifikasi atau pengelompokan ini bisa dilakukan sembari bermain. Mengenalkannya pun harus bertahap.

  • Gunakan puzle lingkaran, segitiga dan persegi. Bisa kok membuat DIy-nya, emak K dulu membuat dengan menggunakan kardus bekas.

  • Buat beberapa bentuk lingkaran, segitiga dan persegi. Aku biasanya menggunakan tiga mangkuk yang kuletakkan di ujung, dan meminta si K menaruh masing-masing bentuk sesuai dengan bentuk yang kutempel pada mangkuk. Cara ini cukup efektif karena si K adalah tipikal kinestetik yang usil lari-larian melulu, enggak betah duduk. Errr, mbulet enggak? HAHAHA.
  • Setelah anak menguasai klasifikasi bentuk dasar, kita bisa menambah bentuk lain dengan menggabungkan klasifikasi warna. Emak K sempat membuat freebie, bisa di download di bawah ya. Tinggal diprint lalu digunting.

Freebie Pre-math Batita, Mengenal Bentuk dan Warna

Si K saat tulisan ini dibuat baru sampai di klasifikasi bentuk, namun masih bingung jika bentuk dan warna digabung bersama HAHAHA.

Memahami dan Mempraktikkan Klausa “Penuh dan Kosong”

Pernah melihat anak-anak antusias menuangkan pasir ke wadah, setelah penuh dituang lagi ke tanah. Begitu terus, sampai keringat gembrobyos dan mata ngantuk? Kegiatan yang nyaris tidak pernah dilewatkan oleh si K, apalagi jika disukung dengan pasir kinetik warna-warni, sampai lupa jam tidur siang.

Terlihat sangat sepele dan kurang kerjaan, ya. Apa coba fungsinya menuh-menuhi wadah untuk dikosongkan lagi? HAHAHA.

Saat membaca kembali literatur pre-math untuk usia toddlers, aku menemukan kenyataan yang membuatku semakin semangat mengajak si K berbecek-becek ria nuang-buang pasir dengan wadah: kegiatan ini adalah sarana untuk melatih pemaham klausa penuh dan kosong, yang merupakan hal paling dasar sebelum anak diajarkan berhitung.

Ingatanku semakin bercabang-cabang, mengumpulkan kenangan proses si K dalam bermain pasir. Usia 1.5 tahun, pegangan sendok si K semakin kokoh, tetapi ia belum memahami seutuhnya paham konsep penuh dan kosong. Pasir yang berada di wadah belum penuh, sudah ditumpahkan kembali ke tanah. Bentuknya kocar-kacir.

Sekarang, menginjak 26 bulan, si K menumpahkan kembali pasir yang berada di dalam wadah setelah penuh, sehingga saat dituangkan ke tanah bentuknya mengikuti bentuk wadah. Begini amat ya belajar jadi Ibu, hal sesepele itu bisa membuat hati menghangat. 🙂


Kita bisa menggunakan aneka media yang ada di sekitar untuk mengenalkan klausa penuh dan kosong, dengan kegiatan sekreatif mungkin. Gunakan botol plastik bekas, sekalian belajar membuat kue-kuean. Bisa juga dengan menggunakan mobil-mobilan, mengisinya dengan pasir sampai penuh, mengangkut ke sebuah tempat, menumpahkannya hingga kosong.

Mainan terbaik untuk anak adalah mainan dengan bahan yang mudah didapat dari sekitar dan cara yang praktis.

Tertarik dengan Pattern

“Ibuk! (j)alan pesawat, ngueeenggg!” seru si K, sambil memamerkan hasil goresan di papan hitam Crayola Chalk.

“Kepin gambar lingkaran!” serunya lagi, memamerkan lingkaran yang lebih mirip benang ruwet.

Aku hanya mengangguk-angguk. Si K kini mempunyai ketertarikan pada aneka garis.

“Ibu, sirip ikan!” Abah K yang sedang tiduran disamping tertawa, siripnya doang, ikannya enggak ada. WKwkwkwk

Ya, pertanda apakah anak sudah siap diajak berhitung bisa dilihat dari ketertarikannya pada garis dan bentuk. Jika anak belum tertarik, akan sulit untuk membedakan lekukan-lekukan garis pada angka.

Emak K biasanya menggunakan metode cerita untuk pengenalan pattern ini. Lebih suka menggunakan krayon karena mudah dihapus sehingga bebas corat-coret dimana saja. “Ada pesawat, mau terbang ke Surabaya. Jalan lurus, ngueeengggg…” sambil menorehkan garis lurus.

“Kemarin, Kevin jatuh ya waktu naik sepeda? Itu sih karena Kevin naik sepedanya sembarangan, grusak-grusuk, terus nabrak batu, duk! jatuh, deh. ” ujarku, sambil menorehkan garis tidak beraturan.

 

So, Mak, apakah anak-anak sudah siap diajari berhitung? Emak atau ayah sendirilah yang bisa menilai. Aku BIG NO NO memaksa anak les baca tulis hitung, tetapi sangat mendukung belajar sesuai dengan kemampuan dan kesenangan anak.

 

Salam!

Emak K, professional Deaf Blogger Wannabe

6 Alasan Kenapa Matematika ‘Mematikan’

Apaaaa? Matematika? Horor, ih!

Seru seorang teman saat aku menjawab jika mengambil konsentrasi Matematika Madrasah Ibtidaiyah saat semester 6.

“Mbak Ut, tolong. Ini masa nilai Matematikanya kursi terbalik.” satu, curhatan dari tetangga sebelah.

“Mbak, Anakku nggak bisa Matematika, njuk piye?” dua, curhatan dari saudara dengan ekspresi sedih.

“Mbak… Aku nggak bisa bobok… Besuk ujian Matematika.” tiga, curhatan dari sepupu yang begadang nyaris dua malam untuk belajar Matematika.

“Bapak dulu saat hafalan perkalian di pelajaran Berhitung, gurunya siap di seberang meja memegang pecut. Kalau tidak hafal, plak! Tangannya siap-siap disabet.” empat, cerita Bapak tentang masa-masa sekolahnya puluhan tahun silam.

“Aku nggak bisa bobok, besuk ada pelajaran Matematika. Gurunya killer, PR belum selesai..” empat, CURHATANKU SENDIRI saat SMP. Mhuahahah

***

Sudah menjadi rahasia umum jika kebanyakan siswa ketakutan dengan pelajaran Matematika. Orang tua pun dag dig dug jeder setiap kali menunggu nilai ujian Matematika anak-anaknya. Tak jarang ada cerita anak yang dimarahi habis-habisan oleh orang tua hanya gara-gara nilai Matematika yang anjlok. Bahkan jaman aku masih sekolah, acapkali Matematika diplesetkan menjadi Mati-matika, saking horornya pelajaran ini.

Hmm, banyak faktor yang menyebabkan Matematika menjadi momok bagi sebagian orang. Berikut beberapa faktor yang melatarbelakangi kenapa Matematika menjadi momok bagi sebagian siswa.

1| Kecerdasan Matematikal Rendah

Otak manusia beda-beda, Dr Howard Gardner menuturkan jika secara umum terdapat delapan tipe kecerdasan pada manusia. (1) kecerdasan linguistic-verbal dan (2)kecerdasan logiko-matematik yang sudah dikenal sebelumnya, ia menambahkandengan komponen kecerdasan lainnya yaitu (3) kecerdasan spasial-visual, (4)kecerdasan ritmik-musik, (5) kecerdasan kinestetik, (6) kecerdasan interpersonal,(7) kecerdasan intrapersonal dan yang terakhir (8) kecerdasan naturalis.

Jika anak merasa kesulitan untuk memahami logika matematika, barangkali ada kecerdasan lain yang menonjol pada diri anak. Cukup gali kecerdasan anak yang menonjol, memberikan support secara penuh untuk perkembangan kecerdasannya. Dengan catatan, tetap memberikan pengetahuan matematika dasar, minimal anak tersebut tidak mudah ditipu oleh orang lain terkait perhitungan.

2| Mindsett Sesat, Matematika is Killing

“Matematika itu mematikan. Ih, serem pokoknya. Mumet, otakku nggak nyandak!” Seru seorang tetangga kala aku mau masuk SD, dia bercerita tentang pelajaran-pelajaran yang menakutkan, dan matematika menjadi urutan yang pertama.

Dih, Mbak. Eike masuk SD saja belum, sudah kaucecar dengan sederet mitos mematikan tentang Matematika. Untungnya, ada mbak kandung yang mengajariku Matematika dengan sangat sabar, saat bertemu lagi dengan tetangga yang menakut-nakuti, dengan sombongnya aku mencibir dia yang kesulitan berhitung. 😀

3| Kurikulum yang Membingungkan

Kurikulum Matematika sangat berpengaruh terhadap pemahaman anak. Pemberian materi matematika yang tidak berkesinambungan seperti yang terjadi pada kurikulum 2013 membuat otak anak njeglek.

Lha piye, belum diajari konsep perkalian kok tetiba ada soal yang penyelesaiannya menggunaka pembagiab dua angka sekaligus? Kak Tegar, ponakan saya, pernah nangis karena belum bisa mengerjakan soal perkalian. Buliknya mumet jedug-jedug karena harus mengajarkan konsep perkalian terlebih dahulu, padahal esoknya kak Tegar UAS. Krik krik krik…

4| Guru Matematika yang Killer

Seumur-umur aku sekolah, aku menjumpai dua guru Matematika yang super duper killer dan dua-duanya pernah menampar. Hahahaha.

Guru Matematika saat kelas VIII SMP, mempunyai peraturan yang sangat unik. Beliau membagi papan tulis menjadi empat bagian dengan garis spidol sebagai tempat untuk mengerjakan soal. Siswa dilarang keras menghapus garis seinci pun, apalagi sampai salah tempat saat mengerjakan soal. Bisa dilempar penghapus.

Walhasil, kegiatan belajar Matematika yang sudah terasa sulit menjadi semakin horor dan eng in eng, karena merasa tertekan, penyerapan materi siswa tidak maksimal.

Mbak Yurmawita Adismal, seorang guru Matematika yang mempunyai blog ketje www.yurmawita.com pun menegaskan pentingnya guru Matematika yang humble agar daya serap materi siswa semakin baik. Matematika tergolong pelajaran yang membutuhkan effort tinggi, jadi plis, jangan ditambah beban siswa dengan menjadi guru yang killer.

5| Terlalu Banyak Siswa di Kelas

Standar menurut Permendikbud no 23 tahun 2013, jumlah maksimal siswa dalam satu kelas adalah 32 siswa pada tingkat SD/MI, sementara untuk tingkat SMP, jumlah maksimal dalan satu kelas adalah 36 siswa. Kenyataannya, rata-rata di sekolah negeri terdapat 40an siswa pada setiap kelasnya.

Jangan bayangkan betapa gaduhnya kelas, betapa puyengnya guru membagi perhatian. Apalagi matematika membutuhkan bimbingan intensif karena matematika harus diimbangi dengan latihan dan bimbingan yang kontinyu. Jika gagal pada salah satu materi, siap-siap keteteran di Materi selanjutnya. Hosh-hosh!

6| Metode Mengajar yang Salah

Saat aku duduk di bangku SD kelas 3, walikelas yang mengajar metode yang digunakan cenderung monoton, ndongeng. Mau pelajarannya bahasa indonesia, IPA, IPS, bahkan Matematika pun beliau tetap menggunakan metode ndongeng. Saat mengajar Matematika, beliau menjelaskan sembari duduk, dan kami diminta membaca buku teks tanpa bersusah payah menjelaskan step bye step.

“Lihat halaman lima, nah, empat kali lima sama dengan lima tambah lima tambah lima tambah lima, hasilnya dua puluh, paham kan, Cah? Kalau tidak paham berarti wong bodho…” begitulah cara mengajar beliau. Apalagi saat itu duduknya diurutkan dengan nomor absen. Aku yang mempunyai nama berawalan huruf W otomatis duduk di barisan belakang paling pojok, dengan kondisi telnga yang tidak bisa mendengar dengan maksimal. Berasa sekolah di Neraka!

Untungnya saat kelas 4, walikelas diganti oleh guru yang mengajar dengan metode menyenangkan. Beliau mengatur tempat duduk sesuai dengan kemampuan siswa. Bagi siswa yang mempunyai kecerdasan di bawah rata-rata, mata minus dan pendengaran rendah ditempatkan di barisan paling depan. Pun cara mengajar beliau yang asik membuat kami menikmati pelajaran. Beliau mengajar step by step, memberiksan bimbingan personal bagi siswa yang kesulitan dan melibatkan siswa yang cerdas untuk membantu temannya yang kesulitan.

Hmmm, apalagi yang menyebabkan matematika menjadi pelajaran yang mematikan, ya? Menurutmu?

 

 

Pencarian Terkait:

  • benci guru matematika
  • kenapa matematika menakutkan
  • cerita dari dulunya tidak bisa matematika mrnjadi guru matematika
  • curahan seorang siswa tentang pelajaran matematika
  • kenapa Matematika itu mematikan
  • kenapa matematika menakutkan ?
  • matematika pelajaran mematikan
  • matematika pelajaran yang menakutkan
  • siap siap mumet matematika