Santai Menghadapi Speech Delay, Keterlambatan Bicara pada Anak

Santai Menghadapi Speech Delay, Keterlambatan Bicara pada Anak

Speech delay, keterlambatan bicara pada anak kerap membuat ibu-ibu kalang kabut. Lha piye, lihat anak tetangga sudah cas-cis-cus di usianya yang baru 2 tahun, sementara anak sendiri masih diem kalau enggak dipancing. Belum komentar miring, belum neneknya yang ribet nyuruh periksa ini itu karena khawatir ada yang tidak pas pada cucunya. Bahkan ada juga yang didesak untuk segera ke dokter THT, barangkali anak enggak mau ngomong karena telinganya bermasalah.

Pening pala emak. Apakah anakku speech delay? Apakah ada yang salah? Apakah anakku beneran Tuli?

Tidak semudah itu untuk menyatakan apakah anak mengalami speech delay. Mbok menawa bocah cuma males ngomong banyak, tipikal bocah plegmatis damai yang pendiam, siapa tahu?

Deteksi Dini Speech Delay pada Anak

Deteksi dini speech delay pada anak bisa dilakukan sejak anak masih bayi. Semakin dini ditemukan, semakin panjang waktu untuk mendeteksi faktor penyebab, semakin lebar pula peluang untuk terapi dan anak bisa mengejar ketertinggalannya.

  • Bayi berusia 3-8 bulan sudah mulai mengoceh. Jangan dianggap enteng ocehan bayi yang lebih mirip gumaman. Bayi menggumam sambil memainkan air ludah itu sebenarnya merupakan bentuk komunikasi bayi. Dulu jaman si K sudah mulai menggumam dan bermain air liur, aku gembira, merekam tingkahnya dan mengirimkan ke abahnya.
  • Bayi usia 9 bulan-12 bulan sudah mulai babbling atau berceloteh. Dituntaskan dengan kemampuannya untuk mengulang konsonan dan vokal yang sama di usia 12 bulan. Mamamama, papapapa, babababa. Si K dulu pertama kali babbling babababaa.
  • Mulai mengucapkan kata yang bermakna di usia 12-15 bulan meskipun tidak sempurna. Sekedar ‘moh’ sebagai kata untuk menolak, sudah menjadi penanda jika anak berada di titik aman.
  • Usia 16 bulan ke atas mulai menyusun kata dalam satu kalimat sederhana, yang mulai sempurna pengucapan dan susunan katanya di bulan-bulan berikutnya.

Faktor Penyebab Speech Delay

Setidaknya ada 4 faktor yang bisa menyebabkan speech delay, masing-masing faktor mempunyai cara penanganannya sendiri. Emak K coba runut sesuai dengan apa yang emak K pahami dan alami selama ini, ya. Kalau ada yang punya informasi tambahan, please, kasih tahu dengan meninggalkan komentar.

Speech Delay karena Hambatan Pendengaran

Hambatan pendengaran secara otomatis akan menghambat perkembangan bicara anak karena stimulasi utama untuk belajar bicara adalah dengan mendengar. Anak yang mengalami hambatan pendengaran bisa dideteksi sejak bayi. Anak yang terlalu diam, enggak terganggu dengan keramaian sekitar, harus segera dites apakah ada hambatan pendengaran. Nge-tesnya sederhana, cukup dengan menggoyangkan kerincingan di kanan-kiri bayi, jika bayi bisa menoleh ke arah suara, insyAllah pendengarannya baik-baik saja.

Jika bayi tidak merespon berbagai sumber suara sampai usianya 2 bulan, orang tua harus segera ke spesialis anak untuk kemudian dirujuk ke tenaga medis yang kompeten. Ikhtiar medis, psikologis sekaligus terapi bicara harus berjalan secara beriringan agar tumbuh-kembang anak bisa optimal. Enggak perlu berkecil hati ketika mendapati anak mempunyai hambatan pendengaran, emak K yakin setiap anak mempunyai berliannya sendiri. Its okay untuk merasa lelah dan ingin menangis, tetapi jangan putus asa untuk terus berikhtiar.

Emak K dulu juga mengalami speech delay karena hambatan pendengaran. Orang tua jaman dulu belum melek dengan teori parenting, tetapi aku sangat bersyukur karena bapak dan ibu enggak lelah mengajari untuk berkomunikasi dengan mengandalkan gerakan bibir. Usia 4 tahun bicaraku masih cadel dan banyak kesalahan disana-sini, baru saat aku sudah mulai membaca, ucapanku membaik. Lha piye, banyak ucapan yang gerakan bibirnya sangat mirip, aku hanya bisa membedakannya dengan tulisan. Semisal, Papa-Mama, Ma’e-Pa’e, makanya aku membiasakan si K memanggil Abah-Ibu, bukan Mama-Papa, semata agar aku gampang membedakan apakah si K memanggil Abah atau Ibunya. Hahahaha.

Speech Delay karena Gangguan Perkembangan Otak

Orang dengan keistimewaan Tuli, bicaranya cenderung sengau dan enggak sempurna pengucapannya. Namun, orang yang enggak sempurna pengucapannya belum tentu Tuli. Ada yang mengalami kesulitan berbicara karena syaraf otaknya terganggu, terutama syaraf yang berhubungan dengan daerah oral-motor-nya. Untuk memastikan apakah anak mengalami gangguan perkembangan otak atau tidak, harus dipastikan ke dokter spesialis syaraf dan spesialis perkembangan anak.

Speech Delay karena Minimnya Komunikasi

Speech delay  yang bukan karena indikasi medis hambatan pendengaran dan gangguan perkembangan otak, sebagian besar disebabkan karena minimnya komunikasi dengan orang sekitar. Apalagi jaman serba canggih dan sibuk begini, enggak sedikit orang tua yang puas dengan memberikan anak-anak mainan apapun yang menurutnya bagus, tetapi enggak mendampingi anak bermain. Sungguh, yang diperlukan anak adalah kehadiran kita sebagai orang tua untuk bermain, bukan mainan serba mewah tetapi kita enggak hadir di dalamnya.

Interaksi antara anak dengan orang tua atau orang dewasa dan teman sebayanya selama permainan berlangsung merupakan stimulasi bicara terbaik. Kita bisa saling berbicara, merespon, berlatih empati, berlatih menghargai lawan bicara dengan bermain bersama anak. Bermain yang terlihat sepele di mata orang dewasa, sebenarnya adalah proses pembelajaran kompleks bagi anak, bagaimana anak belajar etika berkomunikasi, kontak mata, menghargai lawan bicara, merspon lawan bicara, dll.

Speech Delay karena Over Menonton Televisi dan Bermain Gadget

Emak K beberapakali menjumpai kasus speech delay karena over menonton televisi dan bermain gadget, masih diperparah dengan minimnya komunikasi karena porsi menonton televisi dan bermain gadget lebih besar daripada porsi bermain dan berinteraksi. Apalagi jika anak menonton youtube berbahasa asing, makin bingunglah ia dengan ragam bahasa yang masuk, padahal bahasa ibunya belum kuat. Jika anak mengalami keterlambatan bicara karena terlalu over menonton televisi dan bermain gadget, tidak bisa tidak, orang tua harus membatasi screen time dan memperbanyak interaksi melalui bermain. Bermain apa saja, bermain perah, kuda-kudaan atau apapun yang disukai oleh anak.

dini.id Solusi Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak

dini.id Solusi Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak

Assesment Perkembangan Anak di Dini.id

Tetap santai, dampingi anak dengan penuh kasih karena orang tua adalah pendamping terbaik bagi anak. Kalau sudah mentok dan tertekan dengan kenyataan yang tak kunjung membaik, mungkin kita membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan assesment terkait speech delay anak. Dini.id bisa menjadi rujukan untuk mengakses assesment online gratis yang bisa kita gunakan untuk mendeteksi apakah anak mengalami keterlambatan bicara atau tidak. Enggak cuma assesment online yang disediakan oleh dini.id, website yang dibangun karena kepedulian dengan speech delay ini juga menyediakan layanan assesment, deservasi dan investigasi untuk membantu kita mengatasi speech delay pada anak. Jangan sungkan untuk meminta bantuan, kita adalah manusia yang butuh dikuatkan, butuh ditolong, butuh panduan.

Assesment Perkembangan Anak Dini.id

Assesment Perkembangan Anak Dini.id

Emak K sudah mencoba assesment online yang disediakan oleh dini.id. Assesment ini gratis,loh. Kita cukup mengisi data pada halaman depan dini.id, kemudian dini.id akan mengirimkan link dan password via whatsapp. Isian kuesioner itu akan direkam dalam bentuk pdf disertai dengan penjelasan hasil assesment dan apa saja yang perlu kita lakukan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

Enggak cuma menyediakan assesment, dini.id juga menawarkan solusi Play Time untuk anak-anakkita yang masih membutuhkan stimulasi serius dengan didampingi oleh kids trainer professional. Biayanya pun cukup terjangkau, 1,2 juta setiap bulan dengan durasi sesi 3 jam selama 8 kali.

 

Tinitus, Suara Misterius yang Setia Sepanjang Hari

Tinitus, Suara Misterius yang Setia Sepanjang Hari

Aku tidak ingat kapan pertamakali aku mengalami tinnitus, suara misterius yang setia berdengung di telingaku sepanjang hari. Mungkin ia hadir bersamaan dengan perginya 87.5 dB daya dengar telinga kiriku, dan tinggal bersama 2.5 dB sisa pendengaran.

Ketika orang-orang Dengar berkeluh kesah saat telinganya berdengung, aku merasa menjadi orang paling malang sedunia, lha wong cuma berdengung beberapa menit saja mereka mengeluh melulu, apakabar aku yang berdengung sepanjang hari sejak umurku masih piyik?

Suara Misterius yang Suka Berubah Wujud

Suara-suara yang menemaniku sepanjang hari selalu berubah wujud. Kadang ia memerankan diri menjadi suara Yai saat mengajariku membaca kalam-Nya, “Bismillahirrahmaanirrahimmm… ” komplit dengan langgam dan suara khasnya, kadang suara Yai Nu’man, kadang Yai Nasruddin, kadang suara abah K. Hebatnya, ayat yang dibaca itu ngepas di surat apa yang sedang kupelajari saat mengaji kepada beliau.

Kadang suara abah K saat bersenandung sholawat dengan satu headshet di telingaku dan headshet lainnya di telinga abah K. Tidak jarang suaranya enggak jelas, rungsing kayak Ibukibuk lagi ngerumpi di emperan.

Suara Tinitus yang Berubah Wujud

Suara Tinitus yang Berubah Wujud

Aku pernah dibuat kaget dengan dengungan yang kayak suara campursarinan, tengah malam, hujan-hujan pulak. Suara yang membuatku melafadzkan ayat kursi dan segala ayat yang kuhafal. Sampai-sampai aku bertanya kepada abah K,”Siapa yang campursarinan di tengah malam begini?”

Saat abah K menggeleng, pertanda jika ia tidak mendengar, bulu kudukku langsung berdiri dan hatiku menyumpah,”Hei, kalau mau campursarinan pindah saja.”

Saking nyatanya suara-suara itu di telingaku, aku sering bertanya,”Apa ada suara seperti ini?”

Kata Dokter THT tentang Tinnitus yang Kuderita

Tinitus adalah suatu gangguan pendengaran berupa keluhan perasaan pada saat mendengarkan bunyi tanpa ada rangsangan bunyi atau suara dari luar. Adapun keluhan yang dialami ini seperti bunyi mendengung, mendesis, menderu, atau berbagai variasi bunyi yang lain.  (DOAJ Intisari Sains Medis, Maret 2016)

Tinitus sendiri dibagi menjadi dua jenis, Tinitus Objektif dan Tinitus Subjektif. Tinitus Objektif memungkinkan dokter untuk mendengar suara dengingan dengan meletakkan stetoskop di sekitar telinga pasien. Tinitus Subjektif suara dengungannya hanya bisa didengar oleh pasien sendiri.

Aku termasuk pada jenis Tinitus Subjektif. Dokter tidak bisa mendeteksi apa penyebabnya. Segala tes sudah dilakukan, dari syaraf hingga koklea, semua baik-baik saja secara medis. Dokter hanya mengungkapkan, “Jika masih mendengung, berarti telinga kamu masih ada sisa pendengaran. Jika dengungan sudah hilang, kamu harus segea ke THT karena kemungkinan kamu sudah masuk ke Loss Hearing.”

Well said, seperti Hard of Hearing yang kubuat enjoy menjalaninya, meski aku tidak bisa mengatasinya dengan Alat Bantu Dengar, aku juga mencoba untuk bersahabat dengan tinitus. Menikmati suara-suaanya yang berubah wujud, tidak jarang aku menirukan suara yang timbul terutama jika suaranya seperti lantunan kalam Robbuna dari Yai-yaiku. Itung-itung ngrapal hafalan yang seuprit itu, heuheuuu.

Dhawuh Yai tentang Telinga yang Berdengung

“Jika telingamu berdengung, itu artinya kamu dipanggil kanjeng Nabi. Sholawatlah.” dhawuh Yai, pada suatu malam saat aku curhat tentang telingaku yang tidak kunjung hening. WiDhut enggak sopan, nyolong tjurhat di sela-sela ngaji kitab.

Dhawuh yai itu, entah sekedar menghibur ataukah memang benar adanya, sangat berpengaruh besar terhadap penerimaanku tentang Telingaku yang istimewa. Telinga berdengung sepanjang waktu, apakah kamu juga sholawat sepanjang waktu? Ehehehe, offcourse, aku mendendangkan sholawat dalam hati semampuku, dengan aneka sholawat yang kuingat–yang jika kudendangkan secara nyata akan ditertawakan orang-orang karena kacaunya nada.

Tinitus dan Sholawat kepada Kanjeng Rosul

Tinitus dan Sholawat kepada Kanjeng Rosul

Aku jadi ingat sesuatu, beberapa orang bertanya–termasuk abah K, amalan apakah kiranya yang kulakukan, sampai-sampai terkesan malati? You know what ‘malati’ is? Sungguh, bukan sholat malam sampai jidat hitam, bukan pula sholat sunnah sampai kaki bengkak, mungkin yang membuat mereka kayak ketiban sial setiap melukaiku adalah kanjeng Rosul, karena aku mengingatnya sepanjang telingaku berdengung.

Hoalah Dhut, kowe ki sapa tha yaaa ya. Lha wong setiap yang melukai hati hamba-Nya, cepat atau lambat akan Diberi pelajaran oleh-Nya. Kok ya pedhe men ngomongin soal malati. wkwkwk, maafkan, dua paragaf teakhir ngelantur. Semoga tulisan ini membuat pembaca semakin bersyukur atas Telinga yang sehat, ya.

 

Salam!

 

Curhat Receh Emak Hard of Hearing

Curhat Receh Emak Hard of Hearing

Ngomongnya sudah lancar, sudah bisa cerita dengan 5 kata, bersambung-sambung membentuk kalimat. Komplit dengan subjek, predikat, objek dan kata penghubungnya. Perkembangan bahasanya melebii ekspektasi Ibu. Tetapi, kecepatannya berbicara, tidak sejalan dengan kecepatan Ibu mempelajari gerakan mulutnya.

Satu minggu di Krian, Sidoarjo, menjadi satu minggu yang melelahkan. Panasnya cuaca Krian membuat si K semakin tidak sabar. Permintaannya aneh-aneh, ngomongnya cepat dan harus dituruti saat itu juga. Plus, si K diare lumayan parah, baru kali ini diare sampai lemes. Emak tambah… Huft.

“Buk, teh!” seru si K, saat bangun tidur.

Biasanya, si K akan sedikit sabar saat ingin meminta sesuatu, “Ibuk, tolong…”

Seminggu ini tidak. Ia meminta dengan intonasi galak dan nada berteriak, hanya dengan satu kata. “Teh!” Jika Ibu memintanya mengulang, si K akan mbrambang, nangis, lalu tantrum dengan menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.

Emak K semakin homesick. Anak kinestetik seperti si K sepertinya tidak cocok tinggal di kos-kosan. Jangankan kos-kosan, tinggal 2 hari di perumahan saja ia sudah bertingkah aneh-aneh. Dunianya ada di pohon, pasir, tanah, selokan, kolam, tanah lapang yang membuatnya leluasa bermain bola dan sepeda. Bukan di dalam ruangan yang terjamin kebersihannya.

Semalam menjadi malam yang penuh emosional.

“Ibuk, piiikkkk!” seru si K.

“Ha?”

“I-piikkkk!”

“Ha?”

“Maem ipik, Ibuk. Maem ipikkkk.” aku tidak bisa menangkap apa maksudnya. Ipik?

“Coba, Kevin bilang ke Abah.” ujarku, kalem.

Bukannya mendekat ke abah yang sedang di depan laptop. Si K malah menangis gerung-gerung, menghentakkan kakinya di lantai.

“Apa, Bah?”

“Kripik.” jawab abah K, kalem.

Aku menelisik di setiap ujung kamar. Keripik cemilan sudah habis tak bersisa. “Keripiknya habis, Nang. Besok beli, ya?”

“Ipik, Ibu. Ipiiikkk.” Tantrumnya semakin menjadi-jadi.

“Tinggal wae! Tinggal wae! Ibuk pelgiiiii.” seru si K. Kata-kata pungkasan yang sering ia ucapkan jika sedang marah.

Aku menepi, menenangkan diri. Lalu air mataku menetes, satu-satu.

Apakah akan terus seperti ini? Bisakah si K memahami keadaan Ibunya yang Hard of Hearing? Apakah aku bisa memahami si K, dengan modal bonding seperti yang dikatakan orang-orang itu? Bagaimana jika di suatu masa, si K malu dengan keadaan Ibu yang HOH? 

Apalagi abah K sempat berkata terus-terang, “Aku ki mesakke Kevin, ngomong pengen sesuatu, tetapi awakmu ra mudeng.”

Duhai teman seperjuangan, bagaimana kalian menghadapi tantangan komunikasi ini? Terbesit dalam hatiku, apakah abah K merasa keliru memilih sosok Ibu untuk anak-anaknya?

Huft. Its sooo….

Aku menenangkan diri. Membiarkan air mata mengalir satu-satu. Membiarkan si K menangis sampai gulung-gulung di lantai. Membiarkan si K memanggil-manggil Abahnya–yang tentu tidak akan dijawab karena kami sudah membuat kesepakatan tidak akan menyambut anak yang mengadu–.

Mungkin ada setengah jam aku membiarkan si K menangis, gulung-gulung di kasur, memanggil-manggil Abahnya. Hingga kemudian si K mendekat. Merentangkan tangannya, minta dipeluk. Aku memeluknya, mengusap-usap kepalanya. Si K menangis tersedu-sedu. Tangannya memeluk erat leherku. Kami menangis. Entah apa yang dirasakan oleh si K, aku hanya mampu memeluk dan merapalkan doa untuknya.

Nang, mari kita belajar. Kamu belajar memahami Ibu dengan keistimewaan pendengarannya. Ibu akan belajar keras untuk memahami perkataanmu. Jika pun Ibu mulai kesulitan, kita mungkin akan mencoba berbahasa isyarat.

 

Serba-Serbi Cara Berkomunikasi Hard of Hearing

Serba-Serbi Cara Berkomunikasi Hard of Hearing

Di Instagram lagi ramai jajak pendapat kalangan Tuli, #TimHearingAid atau #TimLipreading. Jajak pendapat ini biasanya cuma berlaku untuk Hard of Hearing, yang Hearing Loss atau Tuli total lebih nyaman berbahasa isyarat.

Dunia Tuli ini sangat beragam, ada yang Tuli karena gendang telinga yang rusak. Ada yang Tuli karena syaraf yang rusak. Ada pula yang bisa dibantu Implan Koklea, ada yang enggak bisa dibantu implan koklea. Ada yang bisa memakai alat bantu dengar, ada yang jika memakai alat bantu dengar malah membuat pusing terus-terusan.

Begitu pula dengan cara berkomunikasinya, sangat beragam. Ada yang full Bahasa Isyarat, ada pula yang menggunakan cara berkomunikasi campuran. Kali ini emak K cuma membahas cara berkomunikasi Hard of Hearing yang terbagi menjadi dua tim, #TeamHearingAid dan #TeamLipReading.

#TeamHearingAid

Hearing Aid, di Indonesia lebih familiar dengan sebutan alat bantu dengar, biasanya digunakan untuk teman-teman yang gangguannya bersumber dari gendang telinga, dimana kita masih bisa menerjemahkan suara jika volume suara dibesarkan.

Tim Hearing Aid

Tim Hearing Aid

Hearing Aid ini terdiri dari dua model, model semacam walkman yang butuh kantong untuk menyimpan dan model semat di telinga. Harganya pun beragam, tergantung tingkat kepekaan dan setting suara. Semakin tinggi kepekaan hearing aid, semakin banyak setting suara yang bisa dilakukan, semakin mahal harganya.

Hearing aid model semat telinga yang harganya kisaran 500k, biasanya hanya cocok untuk mbah-mbah yang kemampuan mendengarnya berkurang karena faktor usia, kalau untuk kami yang gangguan pendengarannya karena faktor kecelakaan atau bawaan lahir, harus memakai hearing aid dengan setting canggih. Harganya paling enggak lima jutaan, heuheuu. Jadi, plis, jangan menyodorkan promo alat bantu dengar yang cuma tiga ratus ribuan ke kami.

#TeamLipReading

Lip reading, atau membaca bibir, biasanya menjadi andalan Hard of Hearing yang sudah putus asa dengan hearing aid yang tidak begitu membantu. Menggunakan hearing aid hanya memperbesar suara, tetapi tetap tidak bisa menerjemahkan suara. Suara yang masuk ke telinga seperti sound itu loh, pusing dan berisik banget.

Tim Lip Reading

Tim Lip Reading

Ada pula yang memilih untuk bergabung ke tim lip reading karena malas menggunakan hearing aid, meskipun masih bisa menerjemahkan warna telinganya. Pegel telinganya, Bok. Heuheuu

Hello, I am #TeamLipReading

Emak K #TeamLipReading garis keras. HAHAHAH. Apalagi diperparah dengan kekesalan mencoba tiga macam hearing aid yang tidak membantu banyak selain memperbesar suara. Sudah habis berjuta-juta, plis, jangan disuruh beli hearing aid lagi.

Awal-awal memakai hearing aid, keseimbangan tubuhku langsung terganggu dan demam berhari-hari. Dilepas seminggu, sembuh. Setelah sembuh, nyoba pakai lagi, demam lagi. Oke fix, musiumkan saja. Waktu berlalu, aku disuruh periksa ke Bekasi, diberi hearing aid lagi, demam lagi…. Hmmmmmm. Daripada misuh-misuh karena aku tidak bisa berdamai dengan hearing aid, lebih baik aku mengembangkan potensi diri, kan?

Ya, setuju saja, ya. Kalau enggak setuju, simpan saja di hatimu. Sebab kalau nekat menyampaikan ketidaksetujuanmu, aku bakal nyemprot. Bhuahahha, maafkan, aku sangat sensitif jika ada yang seenak udel menyuruh memakai hearing aid. Apalagi jika ditambah tudingan kurang ikhtiar, rumangsamu urusanku cuma hearing aid tok po piye….

Baik #TeamLipReading maupun #TeamHearingAid, kami penyandang Hard of Hearing tetap saling menghargai. Pakai bahasa isyarat ayo, pakai oral pun ayok aja. Masing-masing memiliki pilihan dengan konsekuensi yang ditanggung sendirian, enggak ditanggung tukang orang lain, apalagi para mantan. Eh

 

Salam!

Emak K, Deaf Mommy

Dokter THT Supartinah, Sp. THT Salatiga

Dokter THT Supartinah, Sp. THT Salatiga

Menjadi seorang Hard of Hearing membuatku harus berurusan dengan dokter THT. Aku baru diperiksa di dokter THT Salatiga pada waktu menginjak bangku kelas 6 SD. Saat itu, Ibu membawaku ke dokter THT untuk memastikan ada apakah gerangan dengan telingaku, setelah bertahun-tahun menjalani pengobatan alternatif, tetapi tidak ada perkembangan yang berarti. Iya, bisa dibilang Ibu terlambat membawaku ke tenaga medis, tetapi enggak apa, daripada tidak sama sekali.

Dokter Spesialis THT Ibu Supartinah, Sp.THT Salatiga

Ibu Supartinah, namanya. Pertamakali berjumpa dengan beliau, beliau terlihat sangat sabar untuk memeriksa telingaku, bertanya tentang kondisi telinga dan riwayat kesehatan telinga. Beliau memintaku untuk langsung tes frekuensi pendengaran setelah mendiagnosis bahwa telingaku tidak ada sumbatan, juga tidak ada kerusakan yang harus diobati.

Aku tercengang, kukira yang menyebabkan aku sulit mendengar adalah gendang telinga. Namun oleh bu Supartinah, gendang telingaku baik-baik saja. Bu Supartinah menduga jika yang membuat telingaku mengalami gangguan adalah syaraf.

Aku pun masuk ke dalam bilik untuk memeriksa frekuensi pendengaran. Petugas sampai memintaku mengulang dua kali prosedur karena heran dengan hasilnya.

“Kalau dengar suara, tolong pencet tombolnya.” katanya, pelan.

“Sudah aku pencet, Pak.”

Petugas baru yakin untuk menghentikan tes frekuensi pendengaran setelah melihat hasil tes pertama dan kedua tidak jauh berbeda. Ketika Ibu Supartinah menjelaskan hasil tesnya, barulah aku memaklumi kenapa petugas heran dengan hasilnya.

“Hasilnya nyaris Tuli total. Umumnya, dengan frekuensi setinggi ini, gaya berbicaranya cenderung kaku dan sengau. Lah, adik ini bicaranya lancar-lancar saja, bahkan logat medok-nya kental.” jelas bu Supartinah. “Kamu juga nyambung kalau diajak bicara, saat Ibu panggil tadi tidak menengok. Pintar membaca gerakan mulut, ya?”

Aku hanya tersenyum. Bengong.

“Kalau mau, beli alat bantu dengar, ya.” lanjut beliau. Ibu bertanya berapakah harga alat bantu dengar untukku.

“Macam-macam, harganya dari satu juta dua ratus ribu, tergantung modelnya.”

Kulihat Ibu bergetar dan berpamitan dengan bu Supartinah. Satu juta dua ratus ribu di tahun 2004 adalah jumlah yang sangat bombastis untuk kami, paling tidak, kami harus menjual dua ekor kambing untuk mendapatkan uang sebanyak itu.

“Nduk, mau beli?”

Aku menggeleng kuat, entahlah, sejak awal aku malas membayangkan memakai alat bantu dengar. Ribet. Kelak, di tahun 2008, aku kembali menemui ibu Supartinah untuk membeli alat bantu dengar, yang harganya dua kali lipat daripada harga di tahun 2004, yang kusimpan di locker rapat-rapat setelah dua bulan percobaan karena merasa tidak ada gunanya memakai alat bantu dengar. HAHAHA.

Alamat Praktik dr Supartinah, Sp.THT

Alamat praktiknya di Jalan Osamaliki  nomor 26a, dekat dengan RSUD Salatiga. Jika kamu berangkat dari arah Solo, turun di paket Kobra Express. Tempat praktiknya kiri jalan kalau dari arah Solo.

Jadwal Praktik dr Supartinah Sp.THT

Jadwal praktik dr Supartinah, Sp.THT setiap Senin-Sabtu. Pagi jam 7.20-11.00. Sore jam 17.00-20.00. Untuk info atau memesan nomor antre, bisa menghubungi  (0298) 325505.

Biaya Periksa dr Supartinah, Sp.THT

Jaman aku periksa pertama kali, tahun 2004, kami dikenakan biaya Rp. 120.000,00 untuk periksa dokter spesialis THT dan Rp.100.000,00 untuk tes frekuensi pendengaran. Cukup mahal, ya. Hehehe, beberapa orang menceritakan per tahun 2018 biaya periksa di dr Supartinah, SP.THT paling tidak Rp. 500.000,00. Tetapi setara sih dengan pelayanan beliau yang prima.

 

Semoga sehat-sehat selalu, ya. Sakit memang mahal biaya pengobatannya. Heuheuu.

Salam!

Emak K, deaf mommy

 

Pencarian Terkait:

  • Dokter THT salatiga
  • biaya dokter tht di salatiga
  • jadwal dokter tht supartinah salatiga
  • jadwal dokter tht rs dkt salatiga
  • jadwal dokter tht rsud salatiga
  • jadwal praktek dokter tht salatiga
  • tht salatiga
  • alat dokter telinga sama dokter
  • dr supartinah tht salatiga jadwal praktik
  • jadwal dokter tht rs umum salatiga
Ketika Seorang Ibu Tuli Parsial (Hard of Hearing) Belajar Menyanyi demi Anak

Ketika Seorang Ibu Tuli Parsial (Hard of Hearing) Belajar Menyanyi demi Anak

Sebagai seorang Ibu dengan Hard of Hearing, aku enggak mau mengabaikan sisi seni si K hanya karena aku tidak bisa menyanyi dengan benar. Bah-bahno suara yang enggak jelas tinggi rendahnya nada, yang penting si K senang karena bisa menyanyi bareng Ibunya.

Ada empat bahasa nyanyian yang kukenalkan kepada si K, bahasa Jawa, bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Arab. Paling banyak bahasa Indonesia, maklum, database nyanyian dalam otak Ibu sangat terbatas. Hahaha.

Ibu dengan HOH Belajar Menyanyi

Caraku belajar menyanyi membutuhkan proses yang panjang. Awalnya, aku akan mencari lirik nyanyian, kemudian mencatatnya di buku khusus. Setelah mempunyai catatan lirik, aku akan mencari video yang jelas gerak bibir dan subtitle liriknya. Setelah itu, aku akan menggunakan headshet untuk mendengarkan nyanyiannya, kemudian ‘membaca’ mulut penyanyi sambil menirukan.

Jangan tanya berapa volume yang kusett, pokoknya sampai ada peringatan jika menggunakan volume setinggi itu akan merusak organ pendengaran. Hehehe, ya, demi anak, hal-hal yang dulu enggak kusukai, kukerjakan dengan senang hati.

Apakah enggak ingin mengenalkan si K dengan menyanyi menggunakan bahasa isyarat?

Sejauh ini belum, karena aku ingin memaksimalkan kemampuan si K terlebih dahulu sebelum mengenal bahasa isyarat. Aku baru mengenalkan sedikit bahasa isyarat pokok kepada si K, seperti makan, minum, tidur, pulang dan pergi.

Setelah aku merasa cukup, aku akan menyanyikannya untuk si K dengan berbagai kegiatan. Kegiatan yang paling disukai si K adalah dengan cara menggambar sesuatu, kemudian menyanyikannya bersama-sama.

Reaksi Orang Sekitar ketika Kami Menyanyi Bersama

“Bulik ki nyanyi apa?” tanya kakak Tegar. Aku menanggapiya dengan tertawa. HAHAHA. Sadar diri euy, dulu seni musik enggak pernah lulus. Ngahaha.

Aku memutuskan untuk tetap lanjut saja, lha piye, kalau enggak Ibunya, siapa lagi yang mengajari? Abah K waktunya sangat terbatas untuk membersamai si K, jadi aku memintanya untuk fokus mendampingi mengaji dan sholawatan. Biarlah nada nyanyian enggak karuan, yang penting ngaji dan sholawatannya benar.

Lagipula, saat orang-orang mendengar si K menyanyi sendirian, rerata mengapresiasi dan kagum karena di usia 2 tahun si K sudah lancar menyanyi, dengan kondisi Ibu yang sangat terbatas. Semoga saja kelak si K bisa memperbaiki semua yang terkait menyanyi bersama guru yang lebih mumpuni.

Tembang Dolanan Jawa Favorit si K

Si K punya tembang dolanan jawa favorit, yang kalau lagi menyanyi tembang itu, dia bakal full power sampai-sampai nadanya melengking tinggi. Sampai tulisan ini ditulis, ada tiga tembang dolanan jawa favorit si K. Aku mau menuliskan liriknya disini, hehe.

Padang Mbulan

Lagu ini kami nyanyikan setelah aku menggambar bulan sabit. 😀

 

Padang Mbulan, mbulane kaya rina

Rembulane sing ngawe-awe

ngelingake aja padha turu sore

Biasanya dilanjut dengan shalawat, sak kemenge si K nyanyi. Hahaha.

Bebek Adus Kali

Bebek adus kali

nututi sabun wangi

Abah tumbas roti

Kevin diparingi

Lirik aslinya, “…. mboten paringi” oleh si K dirubah menjadi “diparingi.” Si K bakal marah kalau liriknya mboten paringi. Hahaha

Prau Cilik

Aku nduwe dolanan sing apik

Prau cilik tak kelekke banyu

Mbesuk gedhe dadi tukang prau

Bayarane satus suwidak ewu

Di versi lain, ada yang memakai “Aku nduwe dolanan sing lucu.”, tetapi jaman aku masih kecil, liriknya memakai “dolanan sing apik”, jadi emak K pakai versi masa kecil emak K saja. Hahaha

 

 

 

 

 

Pencarian Terkait:

  • Cerita hoh ibu dan anak
  • Cerita ibu yang mempunyai bayi tuli