Jenis Investasi Seperti Apa yang Paling Cocok untuk Mahasiswa? Simak Ulasan Ini!

Jenis Investasi Seperti Apa yang Paling Cocok untuk Mahasiswa? Simak Ulasan Ini!

Bangku kuliah merupakan tempat kamu mempelajari banyak hal. Termasuk bagaimana belajar berinvestasi untuk masa depan. Selain mengenal beragam jenis investasi untuk mahasiswa, kamu juga harus tahu bagaimana seluk beluk setiap instrumen agar tidak salah pilih.

Lantas, investasi untuk mahasiswa seperti apa yang paling cocok dan menjanjikan?

1. Pilih Investasi yang Kamu Pahami Cara Kerjanya

Bagi seorang mahasiswa, berinvestasi bukanlah sekadar untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Kamu juga perlu membekali diri dengan pengetahuan yang mumpuni untuk tiap-tiap jenis investasi agar jadi bekal setelah kamu lulus nanti. Kalau ingin mencoba berinvestasi, pilihlah instrumen yang benar-benar kamu pahami cara kerjanya. Ini penting agar investasi yang kamu buat mendatangkan keuntungan dan manfaat bagimu.

2. Pilih Investasi yang Minim Modal

Statusmu yang masih mahasiswa mungkin akan membuatmu kesulitan mencari modal awal. Kamu juga mungkin masih takut untuk menggelontorkan dana yang terlalu besar karena khawatir hasilnya tidak setimpal. Tidak usah cemas, karena saat ini kamu bisa menemukan investasi dengan modal minim yang bisa dimulai oleh siapapun termasuk mahasiswa.

3. Hati-hati dengan Investasi yang Memberi Iming-iming Terlalu Besar

Investasi pada dasarnya merupakan simpanan jangka panjang. Artinya, kamu tidak perlu harus membebani diri untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat. Ketika kamu sedang mencoba mencari produk investasi, ada banyak pihak yang mungkin akan menawarimu investasi dengan keuntungan besar yang tidak masuk akal. Jangan mudah tergoda, karena biasanya investasi ini berisiko tinggi dan berujung penipuan.

4. Pilih Investasi Berizin

Hal yang perlu kamu perhatikan saat memilih investasi adalah memerhatikan perizinannya. Produk-produk investasi yang berasal dari bank seperti deposito atau reksadana dianggap paling aman karena sudah pasti resmi. Untuk instrumen lain di luar produk bank, pastikan tempat kamu berinvestasi sudah mendapat izin resmi dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Salah satu investasi produk pembayaran syariah yang sudah terdaftar di OJK adalah qazwa.id. Qazwa merupakan startup teknologi keuangan yang bergerak di bidang peer-to-peer lending. Dengan target para pengusaha mikro kecil dan menengah, Qazwa bertekad ingin ikut memajukan industri lewat pembiayaan bebas riba.

Bagi kamu yang ingin mencari investasi untuk mahasiswa, Qazwa adalah tempat yang tepat dan aman untuk menjadi kreditur. Selain cara kerjanya yang mudah dipahami, dengan menjadi kreditur kamu bisa mendapatkan keuntungan dari bagi hasil hingga 24% sekaligus membantu para pengusaha yang membutuhkan bantuan modal berbasis syariah. Ayo bergabung dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang sudah lebih dulu menjadi kreditur di Qazwa.

Kegiatan dalam Manajemen Peserta Didik

Kegiatan dalam Manajemen Peserta Didik

Emak K masih semangat bongkar-bongkar file #CatatanKuliahEmakK. Mata kuliah Manajemen Peserta Didik di IAIN Salatiga waktu itu diampu oleh Ibu Siti Farikhah, salah satu dosen favorit karena gaya mengajarnya yang disiplin dan all out. Telitinya tiada banding, salah tanda baca saja beliau bisa menemukan. Oh iya, tulisan ini yang nulis emak K, jadi please, jangan dicopas membab buta, terkhusus untuk teman-teman mahasiswa. Jadikan sumber rujukan saja,jangan asal copas.

***

Perencanaan Peserta didik

Ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam perencanaan pesera didik. Langkah-langkah tersebut meliputi:

a. Forcasting atau perkiraan

Forcasting atau perkiraan adalah menyusun suatu perkiraan kasar dengan mengantisipasi ke depan. Mengantisipasi ke depan sebagai jangkauan ke depan mengandung arti bahwa layanan yang dipikirkan haruslah fungsional bagi kehidupan peserta didik di masa depan. Fungsionalnya kegiatan atau aktivitas ini perlu dirumuskan, sebab dengan cara demikianlah, maka mereka konsen dengan layanan, peserta didik akan yakin bahwa hal itu memang harus dilakukan.

b. Objective atau perumusan tujuan

Objective atau perumusan tujuan merupakan target yang akan dituju/dicapai. Tujuan dapat dirumuskan secara berbeda-beda sesuai dengan sudut kepentingannya. Ada rumusantujuan jangka panjang, kemudian dijabarkan ke dalam tujuan jangka menengah dan tujuan jangka pendek.

c. Policy atau kebijakan

Policy atau kebijakan adalah mengidentifikasi aktivitas-aktivitas yang dapat dipergunakan untuk mencapai target atau tujuan.

d. Programming atau pemrograman

Programming atau pemrograman adalah suatu aktivitas yang bermaksud memilih kegiatan-kegiatan yang sudah diidentifikasi sesuai dengan langkah kebijakan. Program kegiatan yang realistik dan berbobot sangatlah berperan bagi penggalakan sumber daya yang tersedia.

e. Procedure atau langkah-langkah

Procedure atau langkah-langkah terdapat tiga aktivitas, yakni:
1) pembuatan skala prioritas yaitu dengan menetapkan rumusan
2) pengurutan aktivitas dilakukan dengan mengulang sesuatu yang diprioritaskan.
3) pembuatan langkah-langkah kegiatan, agarpersonalia sekolah atau tenaga kependidikan di sekolah tersebut mengetahui apa yang harus dilakukan terlebih dahulu, dan apa yang baru boleh dilakukan kemudian.

f. Schedule atau penjadwalan

Schedule atau penjadwalan merupakan susunan kegiatan yang telah ditetapkan urutan prioritasnya, agar semua personalia yang bertugas dan memberikan bantuan bidang manajemen peserta didik akan mengetahui tugas dan tanggung jawabnya, serta kapan harus melaksanakan kegiatan tersebut.

g. Budgeting atau pembiayaan

Budgeting atau pembiayaan yaitu mengalokasikan biaya dengan merincikan biaya yang dibutuhkan dalam kegiatan-kegiatan yang sudh dijadwalkan serta menentukan sumber biaya.

Penerimaan Peserta Didik Baru

a. Kebijakan penerimaan peserta didik

Peserta didik dapat diterima disuatu lembaga pendidikan sekolah, haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan sebagaimana yang telah ditentukan. Kebijakan penerimaan peserta didik ini dibuat berdasarkan petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. Kebijakan operasional penerimaan peserta didik baru, memuat aturan mengenai jumlah peserta didik yang dapat diterima disuatu sekolah. Kegiatan penerimaan siswa baru dimaksudkan agar sekolah dapat menerima siswa sesuai dengan daya tampung sekolah, ketersediaan fasilitas, staf dan tenaga pengajar dan juga kesiapan siswa untuk belajar pada sekolah yang dituju. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu sebagai berikut :

1) Penentuan panitia penerimaan siswa baru.
2) Penyediaan format atau biodata siswa
3) Menyiapkan perangkat tes dan instrument yang diperlukan
4) Ketentuan kebijakan dari dinas pendidikan
b. System penerimaan peserta didik

Ada dua macam sistem penerimaan peserta didik baru. Pertama, dengan menggunakan sistem promosi, sedangkan yang kedua dengan menggunakan sistem seleksi.
Yang dimaksud dengan sistem promosi adalah penerimaan peserta didik yang sebelumnya tanpa menggunakan seleksi. Mereka yang mendaftar sebagai peserta didik disuatu sekolah, diterima semua begitu saja.

Kedua, adalah sistem seleksi. Sistem seleksi lazimnya dilakukan melalui dua tahap, yakni seleksi administratif dan baru kemudian seleksi akademik. Seleksi administratif adalah seleksi atas kelengkapan-kelengkapan administratif calon. Adapun seleksi akademik adalah suatu aktivitas yang bermaksud mengetahui kemampuan akademik calon.

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat merambah dunia pendidikan saat ini, berdampak positif terhadap sistem baru di sekolah. Hal tersebut tampak pada Sistem Penerimaan Siswa Baru Online, yaitu sebuah sistem penerimaan siswa yang berbasis internet.

c. Kriteria Penerimaan Peserta Didik Baru

Ada tiga macam kriteria penerimaan peserta didik :
1) Pertama, adalah kriteria acuan patokan (standard criterian referenced), yaitu suatu penerimaan peserta didik yang didasarkan atas patokan-patokan yang telah ditentukan sebelumnya.
2) Kedua, kriteria acuan norma (norm criterian referenced), yaitu penerimaan calon peserta didik yang didasarkan atas keseluruhan prestasi calon peserta didik yang mengikuti seleksi.
3) Ketiga, kriteria didasarkan atas daya tampung sekolah, penentuan peserta didik yang diterima dilakukan dengan cara meranking dari atas kebawah, sampai daya tampung tersebut terpenuhi.
Kriteria penerimaan peserta didik tentulah harus disepakati bersama dengan tenaga pendidikan disekolah sejak awal-awal perencanaan.

d. Prosedur Penerimaan Peserta Didik Baru

Adapun prosedur penerimaan peserta didik baru adalah pembentukan panitia penerimaan peserta didik baru, rapat penentuan peserta didik baru, pembuatan, pemasangan atau pengiriman pengumuman, pendaftaran peserta didik, seleksi, penentuan peserta didik yang diterima, pengumuman peserta didik yang diterima dan registrasi peserta didik yang diterima.

e. Problema Penerimaan Peserta Didik Baru

Ada banyak problema penerimaan peserta didik baru yang harus dipecahkan. Pertama, adanya peserta didik yang hasil nilai tesnya berada pada batas bawah penerimaan.
Kedua, adanya calon peserta didik yang dari segi kemampuan masih kalah dibandingkan dengan yang lainnya, sementara yang bersangkutan mendapatkan nota dari pejabat tertentu yang mempunyai kekuasaan tinggi di daerah dimana sekolah tersebut berada.
Ketiga, terbatasnya daya tampung dan saran prasarana sekolah, sementara didaerah tersebut sangat banyak calon peserta didik yang mempunyai kecakapan tinggi.

Orientasi Peserta Didik

Pada sub-bab ini akan dibahas secara berturut-turut tentang orientasi peserta didik, yakni:

a. Alasan dan batasan orientasi peserta didik

Yang dimaksud dengan orientasi adalah perkenalan. Alasan diadakannya orientasi peserta didik disekolah agar peserta didik siap menghadapi kondisi dan situasi sekolah yang baru. Dalam orientasi peserta didik ada batasannya meliputi lingkungan fisik sekolah dan lingkungan social sekolah. Lingkungan fisik meliputi fasilitas-fasilitas yang disediakan disekolah. Sedangkan lingkungan sosial sekolah meliputi kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan selain guru, teman sebaya seangkatan dan peserta didik senior di sekolah.

b. Tujuan dan fungsi orientasi peserta didik

Tujuan orientasi peserta didik baru adalah:
1) Agar peserta didik mengenal lebih dekat mengenai diri mereka sendiri ditengah-tengah lingkungan barunya.
2) Agar peserta didik mengenal lingkungan sekolah, baik lingkungan fisiknya maupun lingkungan sosialnnya
3) Menyiapkan peserta didik secara fisik, mental dan emosional agar siap menghadapi lingkungan baru sekolahnya.

Adapun fungsi orientasi peserta didik adalah :

1) Bagi peserta didik sendiri, orientasi berfungsi sebagai :
a) Wahana untuk menyatakan dirinya dalam konteks keseluruhan lingkungan sosialnya.
b) Wahana untuk mengenal siapa lingkungan barunya sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menentukan sikap.
2) Bagi personalia sekolah dan atau tenaga kependidikan orientasi berfungsi sebagai titik tolak dalam memberikan layanan layanan yang mereka butuhkan.
3) Bagi para peserta didik senior, dengan adanya orientasi ini akan mengetahui lebih dalam mengenai peserta didik penerusnya di sekolah tersebut.

Pengelompokan Siswa

Sebelum siswa yang telah diterima mengikuti kegiatan belajar, terlebih dahulu perlu dikelompokkan dalam kelompok belajarnya. Yang perlu diperhatikan dalam pengelompokan belajar yaitu :

a. Fungsi integrasi, yaitu dalam pengelompokan siswa menurut umur, jenis kelamin, dsb.

b. Fungsi perbedaan, yaitu dalam pengelompokan siswa berdasarkan pada perbedaan individu, misalnya: bakat, kemampuan, minat, dsb.

Pengelompokan atau lazim dikenal dengan grouping didasarkan atas pandangan bahwa disamping peserta didik mempunyai kesamaan, juga mempunyai perbedaan. Kesamaan-kesamaan yang ada pada peserta didik melahirkan pemikiran penetapan pada kelompok yang sama, sementara perbedaan-perbedaan yang ada pada peserta didik melahirkan pemikiran pengelompokan mereka pada kelompok yang berbeda.

Alasan pengelompokan peserta didik juga didasarkan atas realitas bahwa peserta didik secara terus-menerus bertumbuh dan berkembang. Pertumbuhan dan perkembangan peserta didik satu dengan yang lainnya berbeda. Agar perkembangan peserta didik yan cepat tidakmengganggu peserta didik yang lambat dan sebaliknya (Peserta didik yang lambat tidak mengganggu yang cepat), maka dilakukan pengelompokan peserta didik.

Dasar-dasar pengelompokan peserta didik ada lima macam yaitu:

a. Friendship Grouping
Pengelompokan siswa berdasarkan kesukaan di dalam memilih teman diantara siswa itu sendiri.

b. Achievement Grouping
Pengelompokan belajar dalam hal ini adalah campuran antara siswa yang berprestasi tinggi dan siswa yang berprestasi rendah.

c. Aptitude Grouping
Pengelompokan siswa berdasarkan atas kemampuan dan bakat yang sesuai dengan apa yang dimiliki siswa itu sendiri.

d. Attention or Interest Grouping
Pengelompokan siswa berdasarkan atas perhatian atau minat yang didasari oleh kesenangan siswa itu sendiri.

e. Intelligence Grouping
Pengelompokan siswa didasarkan atas hasil tes intelegensi yang diberikan kepada siswa.

5. Kode Etik Peserta Didik

Kode etik berasal dari kata kode dan etik. Kode berarti simbol atau tanda, sedangkan etik berasal dari bahasa Latin ethica dan bahasa Yunani ethos yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah, dan ukuran bagi tingkah laku manusia.
Kode etik peserta didik adalah aturan-aturan, norma-norma yang dikenakan kepada peserta didik, berisi sesuatu yang menyatakan boleh-tidak boleh, benar-tidak benar, layak-tidak layak, dengan maksud agar ditaati oleh peserta didik. Aturan-aturan tersebut bisa berupa yang tertulis maupun yang tidak tertulis, termasuk di dalamnya adalah tradisi-tradisi yang lazim ditaati di dunia pendidikan, khususnya sekolah.

Adapun tujuan kode etik peserta didik adalah sebagai berikut:

a. Agar terdapat standar tingkah laku tertentu yang dapat dijadikan sebagai pedoman bagi peserta didik di sekolah tertentu. Standar demikian sangat penting, mengingat peserta didik berasal dari aneka ragam kultur yang membawa aspek-aspek yang ada pada kultur mereka masing-masing.

b. Agar terdapat kesamaan bahasa dan gerak langkah antara sekolah dengan orang tua peserta didik serta masyarakat, dalam hal menangani peserrta didik. Kesamaan arah ini sangat penting, agar upaya-upaya yang mengarah pada perkembangan peserta didik menuju arah yang sama, dan bukan saling tolak belakang.

c. Agar dapat menjunjung tinggi citra peserta didik di mata masyarakat. Adanya ucapan, tingkah laku dan perbuatan yang pantas sangat menjunjung tinggi citra dan wibawa peserta didik dan bahkan lembaga pendidikan secara keseluruhan.

d. Agar tercipta suatu aturan yang dapat ditaati bersama, khususnya pesrta didik, dan demikian juga oleh personalia sekolah yang lain.

Adapun isi yang terkandung di dalam kode etik tersebut adalah sebagai berikut:
a. Pertimbangan dan/atau rasionalisme mengapa kode etik tersebut ditetapkan dan harus ditaati.
b. Standar tingkah laku peserta didik yang layak ditampilkan, baik ketika berada di sekolah, di lingkungan keluarga maupun di masyarakat.
c. Kapan peserta didik harus sudah berada di sekolah, dan kapan juga peserta didik harus sudah berada di rumah.
d. Pakaian yang bagaimanakah yang layak dipakai oleh peserta didik terutama di lingkungan sekolah.
e. Apa saja yang wajib dilakukan oleh peserta didik berkaitan dengan lembaga pendidikan atau sekolahnya.
f. Bagaimanakah hubungan antara peserta didik dengan guru, kepala sekolah, personalia yang lain, dengan teman sebaya (senior dan juniornya), orang tua, masyarakat pada umum bahkan tamu yang sedang berkunjung ke sekolah.
g. Apa yang dilakukan oleh peserta didik ketika ada diantara temannya ada yang merasa kesusahan.

Pembinaan Siswa

a. Pengaturan Kehadiran siswa

Kehadiran peserta didik disekolah adalah suatu kondisi yang memungkinkan terjadinya interaksi belajar mengajar. Peserta didik yang hadir lebih memungkinkan untuk terlibat aktif dalam interaksi tersebut, dan tidak demikian bagi peserta didik yang tidak hadir.
Pada sub-bab ini akan dibahas berturut-turut :
1) Batasan kehadiran dan ketidakhadiran peserta didik
Kehadiran peserta didik disekolah (school attandence) adalah kehadiran dan keikutsertaan peserta didik secara fisik dan mental terhadap aktivitas sekolah pada jam-jam efektif di sekolah. Sedangkan ketidakhadiran adalah ketiadaan partisipasi secara fisik peserta didik terhadap kegiatan-kegiatan sekolah.
2) Sebab-sebab ketidakhadiran peserta didik
Ada banyak sumber penyebab ketidakhadiran peserta didik disekolah. Pertama, ketidakhadiran yang bersumber dari lingkungan keluarga. Kedua, ketidakhadiran yang disebabkan siswa itu sendiri. Ketiga, kehadiran yang bersumber dari sekolah.
4) Peserta didik yang datang terlambat masuk sekolah
Ada beberapa jenis ketidakhadiran peserta didik disekolah. Pertama, ketidakhadiran tanpa member ijin, atau yang dikenal dengan membolos (truancy). Kedua, ketidakhadiran beberapa jam pelajaran karena terlambat (tardiness). Ketiga, ketidakhadiran dengan ijin (permission).
3) Catatan kehadiran dan ketidakhadiran peserta didik
Peserta didik yang hadir disekolah hendaknya dicatat oleh guru dalam buku presensi. Sementara peserta didik yang tidak hadir disekolah dicatat dalam buku absensi. Dengan kata lain, presensi adalah daftar kahadiran peserta didik, sementara absensi adalah buku daftar ketidakhadiran peserta didik.

b. Pembinaan disiplin siswa

Masalah disiplin merupakan masalah paling urgent di sekolah, karena disiplin merupakan salah satu cermin sekolah atau pencitraan yang sangat publikatif terhadap baik tidaknya sebuah lembaga sekolah di mata public.
1) Pengertian disiplin
Disiplin adalah suatu keadaan tertib di mana orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tunduk pada peraturan-peraturan ang telah ada dengan rasa senang hati. Sedangkan disiplin kelas/sekolah ialah keadaan tertib di mana guru, staf sekolah dan siswa yang tergabung dalam kelas/sekolah, tunduk pada peraturan-peraturan yang telah ditetapkan dengan senang hati.
2) Beberapa teknik pembinaan disiplin siswa
Dalam pembinaan disiplin dapat digunakan teknik pengendalian dari luar (external control technique), pengendalian dari dalam (internal control technique), dan teknik pengendalian kooperatif (cooperative control technique).
a) Teknik pengendalian dari luar (external control technique)
Teknik ini berupa bimbingan dan penyuluhan. Sering “external control” dalam arti “pengawasan” perlu diperketat, namun hendaklah secara “human” (kemanusiaan). Yang perlu diperhatikan ialah bahwa penggunaan teknik ini hendaklah disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa.
b) Teknik pengendalian dari dalam (internal control technique)
Kesadaran akan disiplin hendaknya tumbuh dan berkembang dalam diri tiap siswa ke arah disiplin diri sendiri (self dicipline). Dengan kesadaran terhadap norma-norma, peraturan-peraturan tatatertib yang ditentukan, diharapkan para siswa, baik secara individual ataupun kelompok (kelas) dapat mengendalikan dirinya.
c) Teknik pengendalian kooperatif (cooperative control technique)
Disiplin kelas yang baik mengandung kesadaran akan tujuan bersama antara guru dan siswa dan tujuan bersama ini akan menjadi tujuan yang diterima sebagai “pengendali” di mana situasi belajar mengajar tercegah dari suasana yang tidak diinginkan, baik oleh guru maupun oleh siswa. Kelas dalam sekolah-sekolah modern haruslah merupakan wadah yang menyenagkan, di mana guru dan siswa bekerja sama secara harmonis, respektif (saling menghargai), efektif dan produktif. Oleh karena itu, dalam pembinaan kelas yang baik, selalu diperlukan adanya kerja sama guru-siswa dalam mengendalikan situasi kelas kea rah terwujudnya tujuan kelas, yaitu terwujudnya proses belajar mengajar yang favorable. Inilah yang dimaksud dengan “cooperatve control technique”.

Pengadilan dan Hukuman Peserta Didik

a. Pengadilan peserta didik

Pengadilan Peserta didik atau yang lazim dikenal dengan sebutan student court’s, adalah suatu lembaga pengadilan yang ada disekolah, dan bertugas mengadili peserta didik. Peserta didik yang diduga mempunyai kesalahan-kesalahan tidak divonis begitu saja, melainkan dihadapkan ke pengadilan dan diadakan persidangan.

Dalam pengadilan demikian, ada yang bertindak sebagai pemeriksa, sekaligus juga menulis BAP (Berita Acara Pemeriksaan), penuntut peserta didik, ada yng bertindak selaku hakim bagi peserta didik, dan ada yang berlaku sebagai saksi dan pembelanya. Mereka mengerjakan tugas masing-masing sesuai dengan kapasitasnya.

Pemeriksa bertugas memeriksa kesalahan-kesalahan yang diperbuat peserta didik dan mencatatnya dalam BAP. Penuntut bertuga mengajukan tuntutan umum kepada peserta didik berdasarkan BAP yang telah diterima dari pemeriksa. Dewan hakim bertugas menentukan vonis yang harus dijatuhkan kepada peserta didik yang terbukti bersalah, berdasarkan masukan BAP, tuntutan dari penuntut, pembelaan pembela dan keterangan saksi. Pembela bertugas membela peserta didik yang menjadi kliennya. Sedangkan saksi bertugas memberikan saksi yang sebenarnya berdasarkan apa yang ia lihat.

Keputusan final yang telah dijatuhkan, dapat dipertanyakan kepada tertuduh kembali, apakah ia menerima ataukah mengajukan banding. Jika mengajukan banding, berarti ada persidangan lagi di tingkat yang lebih tinggi. Jika ia menerima, maka diminta untuk menandatangani berita acara penerimaan atas vonis yang dijatuhkan.

b. Hukuman Peserta Didik

Setelah peserta didik menapatkan vonis dari pengadilan, maka hukuman yang dijatuhkan kepadanya siap direalisasikan. Realisasi ini sangat penting, agar vonis yang diberikan tidak berhenti pada vonis saja. Sebab jika hal itu terjadi, maka akan menjatuhkan wibawa pengadilan peserta didik.
Hukuman adalah suatu sanksi yang diterima oleh seseorang sebagai akibat dari pelanggaran aturan-aturan yang telah ditetapkan. Sanksi demikian, dapat berupa material dan dapat pula berupa non material.

Tujuan hukuman adalah sebagi alat pendidikan di mana hukuman yang diberikan justru harus dapat mendidik dan menyadarkan peserta didik. Apabila setelah mendapatkan hukuman, peserta didik tetap tidak sadar, sebaiknya tidak diberi hukuman, sebab misi dan maksud hukuman, bagaimanapun harus tercapai.

Pedoman hukuman di sini ialah:
1) Punitur, qunnia no peccantum, yang artinya dihukum karena peserta didik memang bersalah.
2) Punitur no peccatum, yang artinya dihukum agar peserta didik idak lagi berbuat kesalahan.

Ada beberapa macam hukuman yaitu:

1) Hukuman fisik

Hukuman secara fisik bukan berarti hukumn yang menyakiti seperti menjewer, memukul, menyepak dan sebagainya karena hukuman seperti ini tirbukti tidak efektif, bahkan jika guru menggunakan hukuman ini hingga mengakibatkan siswa cedera, maka yang bersangkutan dapat diajuka ke pengadilan. Hukuman fisik dapat berupa meminta siswa lari keliling halaman sekolah, atau menyuruhnya melakukan kegiatan olahraga yang lain.

2) Penahanan di kelas
Hukuman ini dapat berupa peserta didik harus mengerjakan soal-soal tertentu, atau harus menyapu kelas, mengepel kelas, dan sebagainya. Hukuman ini berkaitan dengan pekerjaan yang mendidik siswa.

3) Menghilangkan privalage
Yang dimaksud dengan menghilangakan privalage adalah pencabutan hak-hak istimewa peserta didik. Ini perlu dilakukanagar yang bersangkutan mengetahui bahwa kesalahan memang tidak boleh diperbuat berulang-ulang. Misal, peserta didik tidak diperkenankan mengikuti pelajaran untuk beberapa saat.

4) Denda dan sanksi tertentu
Hukuman denda juga boleh dikenakan kepada peserta didik, selama hal tersebut tetap dalam batas/kemampuan peserta didik. Hanya saja uang tersebut harus masuk ke kas sekolah. Dengan adanya denda demikian, diharapkan peserta didik tidak terus melanggar aturan. Pembayaran demikian haruslah disertai tanda terima atau kwitansi.

Sanksi-sanksi lain dapat berupa memberikan tatapan tajam kepada siswa, menegur, memperingatkan, atau pada kasus yang berat peserta didik dapat diberikan sanksi skorsing. Pemberian skors tidak dapat dilakukan secara tiba-tiba. Sanksi ini diberikan setelah siswa mendapat peringatan secara ringan dan keras, lisan dan tertulis. Kecuali pelanggaran yang fatal.

Mutasi dan Drop Out

Mutasi dan drop out seringkali membawa masalah di dunia pendidikan. Oleh karena itu, keduanya haruslah ditangani dengan baik, agar tidak mengakibatkan keruwetan yang berlarut-larut, yang pada akhirnya akan mengganggu aktivitas sekolah.

a. Mutasi

Mutasi adalah perpindahan peserta didik dari kelas satu ke kelas yang lain yang sejajar, dan/atau perpindahan peserta didik dari sekolah satu ke sekolah lain yang sejajar.
Mutasi ini dapat dilakukan oleh peserta didik, karena mereka berhak unruk mendapatkan layanan pendidikan sesuai dengan yang dibutuhkan dan diminati.

Macam-macam mutasi yaitu:
1) Mutasi intern, adalah mutasi yang dilakukan oleh peserta didik dalam data sekolah.
2) Mutasi ekstern, adalah perpindahan peserta didik dari satu sekolah ke sekolah lain dalam satu jenis dan satu tingkatan. Meskipun ada juga peserta didik yang pindah ke sekolah lain dengan jenis sekolah yang berlainan.

b. Drop Out

Yang dimaksud dengan drop out adalah keluar dari sekolah sebelum waktunya, atau sebelum lulus.

Kenaikan Kelas

Dalam memutuskan kenaikan kelas bagi siswa ada beberapa masalah yang timbul dan dirapatkan dalam pleno kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan parawali kelas. Dalam rapat tersebut muncul beberapa sikap guru yang cenderung diklasifikasi menjadi tiga, yaitu guru yang bersikap bersitegang, guru yang bersikap pemurah, dan guru yang bersikap sewajarnnya.

Layanan Khusus Siswa

Layanan khusus siswa merupakan layanan yang diberikan kepada siswa dalam rangka membantu kelancaran siswa belajar. Layanan khusus ini diberikan dalam bentuk:

a. Layanan belajar

1) Penyediaan perpustakaan dan referensi yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
2) Layanan jaringan internet.
3) Layanan pembelajaran dalam bentuk penyediaan fasilitas simulasi dan praktik lapangan.
b. Layanan finansial
1) Pencarian dan penyediaan beasiswa
2) Layanan antar jemput
3) Layanan penyediaan kantin dengan mutu makanan sehat dan murah

c. Layanan kesehatan

Layanan kesehatan bisa berupa penyediaan ruang bab kesehatan sekolah dengan layanan dokter atau petugas kesehatan yang berasal dari siswa terlatih.

Pembinaan alumni

Pembinaan alumni dilakukan untuk menyediakan wadah bagi para lulusan yang diikat dalam suatu organisasi sekolah. Organisasi alumni sekolah bertujuan untuk :
a. Membangun jaringan silaturahmi kepada para alumni sehingga tercipta rasa cinta terhadap almamater sekolah.
b. Memberdayakan alumni untuk membina siswa disekolah almamater.
c. Memberdayakan alumni untuk membantu mensukseskan progam sekolah.
d. Mendapatkan informasi tentang pemetaan alumni yang melanjutkan studi.

Pencarian Terkait:

  • contoh kegiatan menajemen peseera didik
  • kegiatan apa saja yg termasuk manajemen peserta didik
  • kegiatan yg termasuk manajemen peserta didik
Karakteristik Anak Tunagrahita

Karakteristik Anak Tunagrahita

Karakteristik Anak Tunagrahita aku dapatkan saat aku mengambilmata kuliah  Pendidikan ABK yang diampu oleh Ibu Lilik Sriyanti. Saat kuliah Pendidikan ABK, kami harus berjaung menyelesaikan tugas demi tugas, tugas ini pun aku kerjakan setelah membaca aneka literatur. Rasanya sayang banget kalau cuma membusuk di hardisk laptop. Hihihi

***

Tunagrahita atau keterbelakangan mental merupakan kondisi dimana perkembangan kecerdasannya mengalami hambatan sehingga tidak mencapai perkembangan yang optimal.
Ada beberapa karakteristik umum anak tunagrahita yakni:

a. Keterbatasan Intelegensi

Intelegensi merupakan fungsi ayng kompleks terkait dengan kemampuan untuk memahami informasi dan ketrampilan-ketrampilan menyesuaikan diri dengan masalah-masalah dan situasi-situasi kehidupan baru, belajar pada pengalaman masa lalu, berpikir abstrak, keratif, dapat menilai secara kritis, menghindari kesalahan-kesalahan, dan kemampuan untuk merencanakan masa depan. Anak tunagrahita mengalami kekurangan dalam semua hal tersebut. Kapasitas belajar anak tunagrahita yang bersifat abstrak, seperti belajar dan berhitung, menulis dan membaca juga terbatas. (Sutjihati, 2006: 105)

Keterbatasan Sosial

Disamping memiliki keterbatasan intelegensi, anak tunagrahita juga mengalami kesulitan dalam mengurus diri sendiri dalam masyarakat, oleh karena itu mereka memerlukan bantuan.
Anak tunagrahita cenderung berteman dengan anak yang lebih muda usianya, ketergantungan terhadap orang tua sangat besar, tidak mampu memikul tanggung jawab sosial dengan bijaksana, sehingga mreka harus selalu dibimbing dan diawasi. Mereka juga mudah dipengaruhi dan cenderung melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya. (Sutjihati, 2006: 105)

c.Keterbatasan fungsi-fungsi mental lainnya

Mereka mengalami kesukaran pemudatan perhatian, jangkauan perhatiaanya sangat sulit dan cepat beralih sehingga kurang tangguh dalam menghadapi tugas. Pelupa dan mengalami kesukaran mengungkapkan kembali suatu ingatan, kurang mampu membuat asosiasi serta membuat kreasi baru. (UNS, 2013: 4.12)

d. Ciri dorongan dan Emosi

Perkembangan anak tunagrahita berbeda-beda, sesuai dengan tingkat ketunagrahitaannya masing-masing. Anak berat dan sangat berat ketunagrahitaannya hampir tidak memperlihatkan dorongan untuk mempertahankan diri dalam keadaan haus dan lapar tidak menunjukkan tanda-tandanya, mendapat perangsang yang menyakitkan tidak mampu menjauhkan diri dari perangsang tersebut. Kehidupan emosinya lemah, dorongan biologisnya berkembang, tetapi penghayatannya terbatas pada perasaan senang, takut, marah dan benci. (UNS, 2013: 4.12)

e. Ciri dalam Kemampuan Berbahasa

Kemampuan bahasa sangat terbatas perbendaharaan kata terutama kata yang abstrak. Pada anak yang ketunagrahitaannya semakin berat banyak mengalami gangguan bicara disebabkan cacat artikulasi dan problem pembentukan bunyi. (UNS, 2013: 4.12)

f. Ciri kemampuan dalam bidang akademis

Mereka sulit mencapai bidang akademis membaca dan kemampuan menghitung problematis, tetapi dapat dilatih dalam menghitung yang bersifat perhitungan. (UNS, 2013: 4.12)

g. Ciri Kepribadian

Kepribadian anak tunagrahita dari berbagai penelitian oleh Leahly, Balla dan Zigler bahwa anak yang merasa retarded tidak percaya terhadap kemampuannya, tidak mampu mengontrol dan mengarahkan dirinya sehingga lebih banyak tergantung pada pihak luar. (external locus of control). Mereka tidak mampu mengarahkan diri sehingga segala sesuatu yang terjadi pada dirinya bergantung pada pihak luar. (UNS, 2013: 4.13)

h. Ciri kemampuan dalam organisme

Kemampuan anak tunagrahita untuk mengorganisasi keadaan dirinya sangat jelek, terutama pada anak tunagrahita yang kategori berat. Hal ini ditunjukkan dengan baru dapat berjalan dan berbicara pada usia dewasa. Sikap dan gerak langkahnya kurang serasi, pendengaran dan penglihatannya tidak dapat difungsikan, kurang rentan terhadap perasaan sakit, bau yang tidak enak, serta makanan yang tidak enak. (UNS, 2013: 4.13)

Prosedur Aplikasi Metode Discovery Learning

Prosedur Aplikasi Metode Discovery Learning

Discovery Learning ini menjadi salah satu metode favorit saat mengajar Matematika. Anak-anak jauh lebih aktif dan suasana kelas lebih menyenangkan. Emak K dulu nyaris setiap minggu sekali menggunakan Discovery Learning. Kemaen emak K sudah posting konsep Metode Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning), kali ini ema K akan posting Prosedur Aplikasi Metode Discovery Learning.

***

Menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning di kelas, ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum sebagai berikut:

a. Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan)

Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Di samping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan. Dalam hal ini Bruner memberikan stimulation dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan siswa pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi. Dengan demikian seorang Guru harus menguasai teknik-teknik dalam memberi stimulus kepada siswa agar tujuan mengaktifkan siswa untuk mengeksplorasi dapat tercapai.

b. Problem Statement (Pernyataan/ Identifikasi Masalah)

Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah) (Syah 2004:244), sedangkan menurut permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni pernyataan (statement) sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang diajukan.
Memberikan kesempatan siswa untuk mengidentifikasi dan menganalisis permasasalahan yang mereka hadapi, merupakan teknik yang berguna dalam membangun siswa agar mereka terbiasa untuk menemukan suatu masalah.

c. Data Collection (Pengumpulan Data)

Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244). Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis.
Dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya. Konsekuensi dari tahap ini adalah siswa belajar secara aktif untuk menemukan sesuatu yang berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi, dengan demikian secara tidak disengaja siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki.

d. Data Processing (Pengolahan Data)

Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua informai hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah, 2002:22).
Data processing disebut juga dengan pengkodean coding/ kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis.

e. Verification (Pembuktian)

Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004:244). Verification menurut Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.
Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak.

f. Generalization (Menarik Kesimpulan/Generalisasi)

Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah, 2004:244). Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan siswa harus memperhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman seseorang, serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-pengalaman itu.

MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)

MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING)

Seri kedua #TulisanJamanKuliah emak K, Discovery Learning. Kala itu tugas ini digunakan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pembelajaran Matematika. Tulisan ini dibuat dengan merujuk ke bebagai sumber buku fisik, jadi, please, jangan copas dengan membabi buta. Terutama mahasiswa-mahasiswa, tugas kita berguna untuk mengasah otak dan kemampuan, kalau cuma copas, anak TK pun bisa.

***

Metode Discovery Learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri. Sebagaimana pendapat Bruner, bahwa: “Penemuan belajar dapat didefinisikan sebagai pembelajaran yang terjadi ketika siswa tidak disajikan dengan materi pelajaran dalam bentuk akhir, melainkan diperlukan untuk mengaturnya sendiri” (Lefancois dalam Emetembun, 1986:103).

Dasar ide Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam belajar di kelas.

Bruner memakai metode yang disebutnya Discovery Learning, di mana murid mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir (Dalyono, 1996:41).

Metode Discovery Learning adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005:43).

Discovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferi. Proses tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilatig conceps and principles in the mind atau proses mental asimilasi konsepsi dan prinsip-prinsip dalam pikiran (Robert B. Sund dalam Malik, 2001:219).
Sebagai strategi belajar, Discovery Learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem Solving.

Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah ini, pada Discovery Learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Perbedaan inkuiri dengan discovery ialah bahwa pada discovery masalah yang diperhadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru, sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan hasil rekayasa, sehingga siswa harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui proses penelitian.

Problem Solving lebih memberi tekanan pada kemampuan menyelesaikan masalah. Akan tetapi prinsip belajar yang nampak jelas dalam Discovery Learning adalah materi atau bahan pelajaran yang akan disampaikan tidak disampaikan dalam bentuk final akan tetapi siswa sebagai peserta didik didorong untuk mengidentifikasi apa yang ingin diketahui dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian mengorgansasi atau membentuk (konstruktif) apa yang mereka ketahui dan mereka pahami dalam suatu bentuk akhir.

Dengan mengaplikasikan metode Discovery Learning secara berulang-ulang dapat meningkatkan kemampuan penemuan diri individu yang bersangkutan. Penggunaan metode Discovery Learning, ingin merubah kondisi belajar yang pasif menjadi aktif dan kreatif. Mengubah pembelajaran yang teacher oriented ke student oriented. Mengubah modus Ekspositori siswa hanya menerima informasi secara keseluruhan dari guru ke modus Discovery siswa menemukan informasi sendiri.

Konsep Disovery Learning

Dalam Konsep Belajar, sesungguhnya metode Discovery Learning merupakan pembentukan kategori-kategori atau konsep-konsep, yang dapat memungkinkan terjadinya generalisasi. Sebagaimana teori Bruner tentang kategorisasi yang nampak dalam Discovery, bahwa Discovery adalah pembentukan kategori-kategori, atau lebih sering disebut sistem-sistem coding. Pembentukan kategori-kategori dan sistem-sistem coding dirumuskan demikian dalam arti relasi-relasi (similaritas & difference) yang terjadi diantara obyek-obyek dan kejadian-kejadian (events).

Bruner memandang bahwa suatu konsep atau kategorisasi memiliki lima unsur, dan siswa dikatakan memahami suatu konsep apabila mengetahui semua unsur dari konsep itu, meliputi: 1) Nama; 2) Contoh-contoh baik yang positif maupun yang negatif; 3) Karakteristik, baik yang pokok maupun tidak; 4) Rentangan karakteristik; 5) Kaidah (Budiningsih, 2005:43).

Bruner menjelaskan bahwa pembentukan konsep merupakan dua kegiatan mengkategori yang berbeda yang menuntut proses berpikir yang berbeda pula. Seluruh kegiatan mengkategori meliputi mengidentifikasi dan menempatkan contoh-contoh (obyek-obyek atau peristiwa-peristiwa) ke dalam kelas dengan menggunakan dasar kriteria tertentu.

Di dalam proses belajar, Bruner mementingkan partisipasi aktif dari tiap siswa, dan mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan. Untuk menunjang proses belajar perlu lingkungan memfasilitasi rasa ingin tahu siswa pada tahap eksplorasi. Lingkungan ini dinamakan Discovery Learning Environment, yaitu lingkungan dimana siswa dapat melakukan eksplorasi, penemuan-penemuan baru yang belum dikenal atau pengertian yang mirip dengan yang sudah diketahui. Lingkungan seperti ini bertujuan agar siswa dalam proses belajar dapat berjalan dengan baik dan lebih kreatif.

Untuk memfasilitasi proses belajar yang baik dan kreatif harus berdasarkan pada manipulasi bahan pelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa. Manipulasi bahan pelajaran bertujuan untuk memfasilitasi kemampuan siswa dalam berpikir (merepresentasikan apa yang dipahami) sesuai dengan tingkat perkembangannya.

Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh bagaimana cara lingkungan, yaitu: enactive, iconic, dan symbolic. Tahap enaktive, seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya untuk memahami lingkungan sekitarnya, artinya, dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motorik, misalnya melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainya.

Tahap iconic, seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Maksudnya, dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi). Tahap symbolic, seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan logika. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui simbol-simbol bahasa, logika, matematika, dan sebagainya.

Komunikasinya dilakukan dengan menggunakan banyak simbol. Semakin matang seseorang dalam proses berpikirnya, semakin dominan sistem simbolnya. Secara sederhana teori perkembangan dalam fase enactive, iconic dan symbolic adalah anak menjelaskan sesuatu melalui perbuatan (ia bergeser ke depan atau kebelakang di papan mainan untuk menyesuaikan beratnya dengan berat temannya bermain) ini fase enactive. Kemudian pada fase iconic ia menjelaskan keseimbangan pada gambar atau bagan dan akhirnya ia menggunakan bahasa untuk menjelaskan prinsip keseimbangan ini fase symbolic (Syaodih, 85:2001).

Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning guru berperan sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif, sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan (Sardiman, 2005:145). Kondisi seperti ini ingin merubah kegiatan belajar mengajar yang teacher oriented menjadi student oriented.

Hal yang menarik dalam pendapat Bruner yang menyebutkan: hendaknya guru harus memberikan kesempatan muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang scientis, historin, atau ahli matematika. Dalam metode Discovery Learning bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan-kesimpulan.

Hal tersebut memungkinkan murid-murid menemukan arti bagi diri mereka sendiri, dan memungkinkan mereka untuk mempelajari konsep-konsep di dalam bahasa yang dimengerti mereka. Dengan demikian seorang guru dalam aplikasi metode Discovery Learning harus dapat menempatkan siswa pada kesempatan-kesempatan dalam belajar yang lebih mandiri. Bruner mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya (Budiningsih, 2005:41).

Pada akhirnya yang menjadi tujuan dalam metode Discovery Learning menurut Bruner adalah hendaklah guru memberikan kesempatan kepada muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang scientist, historian, atau ahli matematika. Melalui kegiatan tersebut siswa akan menguasainya, menerapkan, serta menemukan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya.

Karakteristik yang paling jelas mengenai Discovery sebagai metode mengajar ialah bahwa sesudah tingkat-tingkat inisial (pemulaan) mengajar, bimbingan guru hendaklah lebih berkurang dari pada metode-metode mengajar lainnya. Hal ini tak berarti bahwa guru menghentikan untuk memberikan suatu bimbingan setelah problema disajikan kepada pelajar. Tetapi bimbingan yang diberikan tidak hanya dikurangi direktifnya melainkan pelajar diberi responsibilitas yang lebih besar untuk belajar sendiri.

Mengenal Macam-macam Hasil Belajar

Mengenal Macam-macam Hasil Belajar

Emak K sering mendapatkan pertanyaan, apa sih maksud nilai-nilai yang ada di raport anak? Apa sih kognitif, afektif dan psikomotorik? Apa sih hal-hal yang menjadi tolok ukur penilaian masing-masing aspek? Ingatanku langsung melesat ke tulisan-tulisan jaman kuliah yang belum pernah kupublish di blog karena khawatir di copas. Bhahahaha, sungguh alasan yang tidak masuk akal.

Belakangan ini, aku berfikir, tulisan-tulisan jaman kuliah ada baiknya dipublish di blog agar emak-emak millenial punya rujukan untuk memahami apa yang dihadapi oleh putra-putrinya di sekolah. Okesip, mengawali seri sekolah, aku ingin menyitir Macam-macam Hasil Belajar yang biasanya tercantum dalam raport sekolah anak.

Macam-macam Hasil Belajar

Benyamin Bloom secara garis besar mengklasifikasikan hasil belajar menjadi tiga bagian, yakni:

a. Ranah Kognitif

Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.

Tipe Pengetahuan

Tipe hasil belajar pengetahuan termasuk kognitif tingkat rendah yang paling rendah. Namun tipe belajar ini menjadi prasyarat bagi pemahaman yang berlaku untuk semua bidang studi.(Sudjana, 1989: 23)

Tipe Pemahaman

Tipe hasil belajar pemahaman merupakan tipe yang setingkat lebih tinggi daripada tipe pengetahuan. Pada tipe ini siswa mampu menjelaskan suatu pengetahuan dengan susunan kalimatnya sendiri. Nana Sudjana mengklasifikasikan tipe hasil belajar ke dalam tiga tingkat, yakni:

  • Tingkat Terendah: Pemahaman Terjemahan

Pemahaman tingkat terendah adalah pemahaman terjemahan, mulai dari terjemahan dalam arti sebenarnya, misalnya dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, mengartikan Bhineka Tunggal Ika, mengartikan merah putih, dll.

  • Tingkat Kedua: Pemahaman Penafsiran

Tingkat kedua adalah pemahaman penafsiran, yakni menghubungkan bagian-bagian terdahulu dengan yang diketahui berikutnya, atau menghubungkan beberapa bagian grafik denagn kejadian, membedakan yang pokok dengan yang bukan pokok

  • Tingkat Ketiga: Pemahaman Ekstrapolasi

Pemahaman tertinggi adalah pemahaman ekstrapolasi, yakni melihat dibalik yang tertulis, dapat membuat ramalan tentang konsekuensi, dapat memperluas presepsi dalam arti waktu, dimensi, kasus atau masalahnya.

Tipe Aplikasi

Aplikasi adalah penggunaan abstraksi pada situasi konkret atau situasi khusus. Abstraksi tersebut mungkin berupa ide, teori, atau petunjuk teknis.

Tipe Analisis

Analisis adalah usaha memilih suatu integritas menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian sehingga jelas hirearkinya atau susunannya. Analisis merupakan kecakapan yang kompleks, yang memanfaatkan ketiga tipe sebelumnya.

Tipe Sintesis

Sintesis merupakan penyatuan unsur-unsur atau bagian-bagian ke dalam bentuk menyeluruh. Berpikir sintesis merupakan ranah berpokir divergen, dimana siswa dapat menemukan hubungan kausal tertentu, atau menemukan abstraksi atau operasionalnya.

Tipe Belajar: Evaluasi

Evaluasi adalah pemberian keputusan tantang nilai sesuatu yang mungkin dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara kerja, pemecahan, metode, materiil, dll. (Sudjana, 1989: 28)

Afektif

Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Dalam ranah afektif, terdapat lima jenis kategori, yakni:
1) Reciving/ Attending
2) Responding atau Jawaban
3) Valuing atau Penilaian
4) Organisasi
5) Karakteristik
(Sudjana, 1989: 30)

Psikomotorik

Hasil belajar psikomotorik tampak dalam bentuk ketrampilan dan kemampuan bertindak individu. Ada enam tingkatan ketrampilan, yakni:
1) Gerakan reflex
2) Ketrampilan pada gerakan-gerakan dasar
3) Kemampuan perseptual
4) Kemampuan di bidang fisik
5) Gerakan-gerakan skill
6) Kemampuan yang berkenaan dengaan komunikasi non decursive.
(Sudjana, 1989: 31)