Me and Hubby, Parenting

Ekspektasi Vs Realita Menjadi Seorang Ibu

Perempuan mana yang tidak ingin menjadi seorang Ibu? Apalagi kalau sudah menikah, baru menikmati honeymoon seminggu sudah dicecar pertanyaan, gimana? Dah berhasil belum? Apa jadinya jika setahun, dua tahun tidak juga membawa kabar baik berupa dua garis di testpack? Cecaran semakin menjadi, seolah-olah goal hidup setelah pernikahan adalah berlomba-lomba memiliki anak.

Padahal, memiliki anak butuh persiapan mental dan fisik yang prima. Ada kalanya realita yang terjadi tidak seindah ekspektasi saat masih lajang atau saat masa-masa kehamilan. Nih, Emak K ingin membeberkan ekspektasi vs realita tentang menjadi seorang Ibu.

#1 Ekspektasi Vs Realita Melahirkan

Ekspektasi

Melahirkan dengan happy, didampingi suami, kalau bisa normal, tanpa jahitan. Bidan welcome dan mengerti dengan kondisi tuli parsial. Agar begitu anak lahir menikmati kebersamaan. Segala ilmu tentang melahirkan dari berbagai sumber dilahap, berbagai afirmasi dilakukan, senam hamil ditelateni.

Realita

Proses melahirkan yang panjaaaang, nyaris 40 jam sejak kontraksi pertama dirasakan. Abah K terlihatnggak tega, yang menemani lahiran ibu. Dirujuk ke RS karena pembukaan sudah lengkap tetapi posisi si K melenceng dari jalan lahir.

BIDANNYA GALAK, nggak bisa memahami kondisiku sampai aku marah-marah karena mulutnya ditutupi masker dan tidak berkenan menuliskan kata-katanya di kertas, malah sibuk bentak-bentak dengan mata membelalak. Jahitan obrass. Butuh waktu lebih dari sebulan untuk memulihkan jahitan.

#2 Ekspektasi Vs Realita Baby Newborn

Ekspektasi

Baby anteng, bobok nyenyak, Ibu bisa mengerjakan aneka printilan untuk merangsang motoriknya, semacam gantungan hitam-putih, boneka genggam dengan berbagai tekstur, istirahat dengan tenang untuk pemulihan.

Realita

Nyaris setiap malam si K rewel, boboknya minta dipangku sambil dibacain sholawat. Jahitan infeksi. Rencana membuat printilan hanya terlaksana gantungan hitam-putih doang. Kanan-kiri sibuk komentar si K kok kepalanya benjut ke atas, kulitnya sensitif, emak K kok manja bener, de el el yang berujung emak K frustasi. Nyaris baby blues.

#3Ekspektasi Vs Realita ng-ASI

Ekspektasi

ASI moncer turah-turah. Menyusui dengan bahagia tanpa drama. Menyusui tanpa pegang gadget karena konon radiasi sangat berbahaya terhadap otak bayi. Menyusui sembari merapal doa-doa, dzikir dan Qur’an.

Realita

Ada kalanya asi mampet. Si K sering nangis kejer karena ASI terlalu deras. Merasa jenuh poll-pollan, sementara belum dibolehkan ngaji, hanya bisa sholawatan, lebih sering lari ke gadget.Tetapi lumayan, doa-doa dan sholawat saat menyusui tetap terlaksana. 😀

#4 Ekspektasi vs Realita Pengasuhan Anak

Ekspektasi

Mengasuh dengan riang gembira bahagia, proporsional antara Ibu dan ayah. Menerapkan ilmu parenting dari a-z. Enggak membentak. Enggak judgement. No TV. No gadget. Permainan tradisional. Bebikinan DIY untuk anak.

Realita

Ibu sering enggak sabaran karena si K aktifffff poll-pollan. Kasusnya bukan anak yang kecanduan gadget, tetapi Ibu yang lelah menjaga si K manjat, lari, naik bukit paisr, de-el-el, akhirnya mengijinkan si K nonton upin-ipin barang satu jam. Hahahaha. Terlalu banyak faktor X dimana kita enggak bisa menerapkan ilmu parenting yang pernah didapatkan, kadang kala kata tetua lebih masuk akal daripada kata motivator ternama. Wkakakaka. DIY terlaksana satu dari 10 rencana saja sudah bahagia luar biasa. Wkwkwkwk

#5 Ekspektasi vs Realita MPASI

Ekspektasi

Menerapkan MPASI Homemade standar WHO. Makan duduk. No jajan macem-macem, camilan sehat bikinan Ibu.

Realita

MPASI TIDAK SEMUDAH MEMBUAT LALU DIMAKAN LAHAP. Di bagian ini Ibu sangat frustasi, Nang. Hiks. :'( Awal MPASI si K susah makan. Ada kalanya aku memberinya MPASI instan karena si K menolak makanan MPASI yang dibuat Ibu. Syedih, Cyn.

Pada akhirnya membolehkan si K jajan meskipun dalam batas tertentu, karena untuk bebikinan macem-maem setiap hari malah membuat Ibu melupakan hal-hal penting lainnya seperti toilet training, bahkan gegara sibuk bebikinan Ibu malah gampang mutung. Meskipun enggak sampai membentak si K, tetapi sudah membuat Ibu merasa bersalah.

#6 Ekspektasi vs Realita Penggunaan Diapers

Ekspektasi

No Pospak. Pakai clodi atau popok kain biasa. Tatur sejak bayik. Lihat tuh sampah pospak membumbung tinggi di TPS, terurainya sangat lama.

Realita

Di rumah bisa saja pakai clodi, tetapi ternyata clodi KERINGNYA LAMA. Apalagi saat si K bayik lagi musim hujan, insert clodi keringnya bisa semingguan. Hahahaha. Pakai popok tanpa pospak membuat abah K ogah-ogahan momong si K karena beliau sangat hati-hati soal najis. Di Salatiga si K ngompolnya pernah mencapai 30 kali sehari, acuannya di popok yang tersedia di loker habis.Tahu sendiri kan seberapa dinginnya Salatiga di musim hujan.

Akhirnya, Emak K melonggarkan diri memakai pospak saat sore-shubuh dan saat bepergian agar tetap waras. Wkwkwkwk.

#7 Ekspektasi vs Realita Pengenalan Literasi

Ekspektasi

Membacakan buku kepada anak sejak piyik agar anak terbiasa membaca. Bela-belain menabung buku sejak masih lajang. Membayangkan membaca buku dengan anak setiap kali mau tidur itu sungguh keren.

Realita

Saat piyik dibacakan buku mah anteng, bahkan ketawa-tawa senang. Saat sudah mulai mengerti dengan keadaan sekitar, ANCUR, Boss! Buku disobek-sobek. Apalagi belakangan tiap dibacakan buku, si K malah sibuk membaca sendiri dengan bahasa bayinya. Hahahaha

Apalagi ya? Hahaha. ada yang mau menambahkan Emak-emak? Kemaren idenya banyaaak banget, tetapi saat berhadapan dengan laptop langsung menguap. Entar ditambah lagi, deh. Dakuh penasaran dengan Ekspektasi vs Realita mama Arinta dan mama Rani. Nggak sabar nunggu notifikasi publishnya.  😀

 

 

 

 

Pencarian Terkait:

  • realita emak emak
  • diy tealita espetasi
  • ekspestasi realita emak emak
  • foto anak dan ibu
  • foto emak emak realita dan kenyataan di fb
  • hamil realita ekspetasi
  • realita emak
  • widi utami tatur

21 thoughts on “Ekspektasi Vs Realita Menjadi Seorang Ibu”

  1. hihihi memang ekspektasi suka melenceng jauh ya, mbak dari realita. saya juga nih masalah MPASI pengennya full homemade. lah saya bikin bubur saringnya aja rasanya sudah ngabisin waktu kapan bikin cemilannya. akhirnya kalau buat cemilan milih beli aja bahkan kadang sama ayahnya dikasih biskuit dewasa. hedeh

  2. aq sekarang lagi ngalamin yang terakhir mbak,, bacain buku yang ada bukunya di robek, dilempar-lempar.. duh akhirnya baca buku kalo bener-bener aq-nya pengen aja, krn kalo gak pengen nangis rasanya lihat buku di robek2

    1. Wah kalau aku sama suami sampai menarik kesimpulan mungkin semua yang mudah-mudah dan indah soal anak hanya ada di buku parenting doank dan setuju banget penting untuk menjaga otak kita tetap waras abaikan mpasi who, popok kain rmh lingkungan sesekali nggak apa2 ajaram sesat

  3. huahahhaaaa… hidup memang penuh drama ya mbak. daku belum nikah jadi belum ngerasain jadi ibu. kalo pas ada event parenting ngayalnya bakal begini begitu ntar kalau udah jadi mommy, tapi baca postingan ini sepertinya musti mempersiapkan mental kalau-kalau realita ternyata jauh dari ekspektasi 😀

  4. Masalah Ibu sedunia berarti ini yaa, mba Wid?
    Lhaa…aku pun begitu…terutama bagian jahitan obras. Wkkwk…gak melahirkan anak pertama atau kedua, sammaa…obrasnya.

    Jadi aku tambahin.

    EKSPEKTASI : Lahiran kedua normal, manis, karena katanya sudah ada jalan lahirnya kaan…

    REALITA : Anak susah keluar – ngeden teteup salah – bidan dan perawat malah asik bergosip dan membiarkan aku gulang-guling menahan sakit mirip kambing guling.

    Wkkwkk…
    Tapi ini semua indah yaa, mba Wid.
    Untuk dikenang kelak.

  5. Saya kadang merasa kecil kalo lihat emak-emak lain bikin2 DIY, MPASI yg macem2, hiks.. seolah saya ini emak yg bodo banget. Tapi setelah baca ini, saya jadi merasa punya temen. Horee! 😀

    Btw kalo saya, salah satu ekspektasinya mau rajin bikin postingan tentang tumbuh kembang anak di blog. Tapi kenyataannya, sebulan ada 4 postingan “tugas” pun udah bersyukur banget. Postingan tentang tumbang anak, sekali-kali aja, belum tentu sebulan sekali 😀

  6. Disinilah kita para laki-laki harus memahami susahnya ibu dalam mengurus anak-anak kita. Kalian para ibu-ibu memang hebat. Semoga selalu diberikan kekuatan dalam mengurus anaknya kelak menjadi orang yang hebat juga dan tidak melupakan jasa ibunya. Eh, sebulan lagi udah Hari Ibu deng.

  7. aduh!
    aku generasi yang belum mencicipi dunia pernikahan
    well, apalagi untuk melahirkan sepertinya blas gak akan ngicipi deh ya.
    semoga tetap semangat menjadi ibu yang power!

    sepertinya postingan ini malah lebih cocok kalau dibuat komik strip, ekspetasi dan realita

  8. saya berada di pihak suami, tapi saya tahu semua poin-poinnya.

    Terutama poin 1 2 3 itu realitanya hampir mirip dengan kisah saya ama istri.

    Malah yang menyebalkan itu kirain bidan di puskesmas perhatian. Ini ada yang mau lahiran malah asik main kartu

  9. Nah iya, kadang kala, kenyataan gak sesuai dengan yang kita harapkan. Tapi alangkah lebih bijaknya kita bisa selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki. Karena itu pastilah yang terbaik untuk kita. Allah mengerti apa yang terbaik bagi makhluknya.

  10. Hawuuuuu ternyata gitu banget ya jadi ibu2
    Realitanya jauh banget daripada ekspektasi
    Belum nikahpun, kayak sekarang ini, aku udah mikirin ekspektasi serupa itu looooh
    Hahahaa

    Request dooong
    Ekspektasi vs realita menjadi seorang istri
    Maksudku ekspektasi vs realita terhadap suami
    Hihihih

    Kalau jadi, ntar colek2 yaa

  11. realitanya masih mendingan banget lohh..

    Aku sering menyerah dengan gadget, membiarkan anak nonton TV lebih dr sejam, enggak bikin2 mainan dan milih beli aja, dan kasih dia bubur siap masak utk MPASInya.

    Hehehe

  12. Hihihihi bener banget tuh
    Banyak realita yg ga sesuai espektasi
    Sy dulu ngayal nya punya anak tp ttp modis
    Sore bawa anak jalan dgn dandanan couple
    Eh kenyataan..anaknya modis..maknya dasteran dgn muka kucel hahaha

  13. Bener banget.
    Tapi emang yang mesti dilakukan saat ekspetasi itu enggak kesampaian ya gpp, kalau menurut saya jgn terllau memaksa jd ibu “idealis” gtu. Tetep berusaha semampunya kita tapi ya memaafkan diri kalau ada yg melenceng. Yg penting fokus nggededein anak hehe

Bagaimana komentar kalian?