Widi Utami

Learn, Write and Share
Me and Hubby | Parenting

Menjadi Ibu Bahagia yang Membahagiakan Keluarga

August 12, 2018
Institut Ibu Professional

Satu minggu ini aku mengalami titik jenuh, ogah-ogahan melakukan aktivitas, ditambah sedang menstruasi, emosiku dalam sehari kayak roller coaster. Kegiatan ngobrol intens dengan abah K yang biasanya nyaris setiap malam, minggu-minggu ini berkurang karena abah K sibuk dengan klien dan bocah-bocah enggak mau libur sehari pun. Kegiatan menulis yang biasanya sehari sekali, nihil sama sekali. Praktis, kebutuhan mengeluarkan kata-kata 20.000 kata perhari tidak terpenuhi dan membuatku nyaris gila. HAHAHAHA

Fix, ada yang salah dalam diriku dan aku membutuhkan waktu untuk memperbaiki segera agar negative vibes-nya tidak merembet kepada si K dan abahnya. Aku meminta abah K meluangkan waktunya di malam dan pagi hari, menitipkan si K kepada budhenya di hari minggu agar aku bisa berbincang dan menikmati waktu dengan abah K tanpa diganggu oleh si K.

Dua malam kami menonton film bersama, film jadul di sebuah situs online. Film pertama yang kami tonton berhasil membuat kami misuh-misuh karena filmnya seolah-olah melegalkan perselingkuhan. Sampai-sampai aku bertanya kepada abah K; “Apakah Kakak seperti Dev Saran yang bersandiwara dengan pernikahannya? Apakah Kakak bahagia menjadi seorang suami?”

Film yang memberikan pelajaran sangat penting dalam sebuah pernikahan: jangan sekali-kali curhat tetang prahara rumah tangga kepada lawan jenis.

Film kedua membuat kami merenung kembali tentang apa yang telah kami berikan kepada masyarakat dan bangsa. Meresapi energi luar biasa seorang Dashrath yang ‘membelah’ gunung selama 50-an tahun demi membuat jalan bagi masyarakat desanya yang terisolir, cita-cita yang dianggap gila oleh masyarakatnya.

Kami menghabiskan waktu di hari minggu berdua untuk keliling sepedaan, ditutup dengan makan besama di warung favorit kami. Momen makan bersama menjadi pengurai ganjalan-ganjalan di hati dan evaluasi diri. Tidak lupa kami mampir di toko bunga, membeli tiga bunga untuk menambah penghuni taman mungil. Aku seperti terlahir kembali dengan semangat untuk membersamai keluarga dengan lebih baik.

Sesederhana itu kegiatan untuk mengembalikan mood-ku yang berantakan.

Ingin Menjadi Seperti Apakah Aku?

Bukan ingin menjadi seperti siapa, sebab aku tahu jika setiap orang unik dengan apa yang dimiliki dan mengelilinginya. Apa dan siapa, dua kata berbeda makna. Aku bukan seseorang berhati mulia yang rela menderita demi membuat orang lain bahagia. Bukan pula seseorang yang rela membuat orang lain menderita demi membuatku bahagia. Aku ingin menjadi seseorang yang bahagia dan membahagiakan. Menjadi Ibu yang bahagia dan membahagiakan anak-anak. Menjadi istri yang bahagia dan membahagiakan suami. Menjadi …. yang bahagia dan membahagiakan….

Materi Matrikulasi IIP minggu kedua membuatku semakin menyelami diri, apakah aku sudah menjadi pribadi yang bahagia? Apakah aku sudah menjadi Ibu professional? Ternyata definisi Ibu Professional berat juga;

Ibu Professional adalah Ibu yang bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya. Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh –sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

Lantas, bagaimana indikator keberhasilan seorang ibu professional? Karena kita melayani suami dan anak, maka indikator keberhasilan kita terletak pada mereka; Menjadi KEBANGGAAN KELUARGA. Keberhasilan kita sebagai Ibu adalah ketika anak bangga terhadap ibunya. Keberhasilan kita sebagai isti dalah ketika suami bangga terhadap istrinya.

Berat, Cyn, apalagi Nice Homework minggu kedua, sampai-sampai di grup ramai saling mengingatkan untuk bersiap-siap menghadapi perang dunia keempat jika tidak siap dengan jawaban yang diberikan oleh suami. HAHAHA

📝✅*“CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN”*✅📝
a. Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu

Sedemikian beratnya Nice Homework minggu keempat ini aku sengaja untuk menyisipkan pertanyaan kepada abah K dengan sedikit trik; disela-sela perbincangan santai, disaat mesra, dan disebar dalam beberapa kesempatan agar tidak pecah perang dunia keempat.

AKU BERHASIL.

Saking bangganya sampai capslock-ku jebol. Abah K tidak tahu kalau di dalam perbincangan-perbincangan itu terselip NHW Matrikulasi IIP. Mungkin beliau baru tahu ketika membaca postingan ini. HAHAHA, ampun, Bah!

Checklist Indikator Professionalisme Emak K

Membuat Checklist indikator professionalisme ini susah-susah gampang, butuh perenungan dan perbincangan dengan hati yang lapang agar tahu sama tahu apa yang diharapkan oleh pasangan dan anak.

Diskusi minggu kemarin memberi kunci untuk membuat checklist indikator; SMART.

  • SPECIFIK (unik/detil)
  • MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
  • ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah.
  • REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
  • TIMEBOND ( Berikan batas waktu)

Checklist Indikator Emak K sebagai Pribadi

Membuat checklist indikator emak K sebagai pribadi ini membuatku berbincang dengan diri sendiri, apa toh yang aku inginkan? Apa yang membuatku bahagia? Apa yang bisa membuatku tersenyum sepanjang hari? Apa yang membuat emosiku stabil dan enggak gampang ngambek? Yang pada akhirnya membuatku menyadari banyak hal, salah satunya, emosiku bisa berantakan hanya karena enggak baca buku dalam sebulan. HAHAHA

Checklist Spiritual:

  1. Sholat wajib di awal waktu, selambat-lambatnya 30 menit setelah adzan. Minimal tiga waktu dalam sehari yang dikerjakan di awal waktu.
  2. Tahajud dan dhuha minimal tiga kali dalam satu minggu.
  3. Tilawah minimal setengah juz dalam satu hari atau satu lembar setiap habis sholat wajib.
  4. Dzikir ‘sunnah’ ba’da sholat minimal dua kali dalam sehari.
  5. Puasa sunnah dzhulhijah minimal dua hari dilanjutkan dengan puasa sunnah senin-kamis.
  6. Ikut rutinan nadzom asma’ul husna bareng adik-adik minimal dua kali dalam seminggu.
Checklist Indikator Pribadi Spiritual
Checklist Indikator Pribadi Spiritual, edited by canva

Checklist Self Development:

  1. Baca buku satu bulan satu buku.
  2. Merangkum dan mengerjakan NHW tepat waktu selambat-lambatnya Senin Shubuh.
  3. Menulis blog minimal dua kali dalam seminggu.
  4. Me time dengan menonton film, crafting, menanamngemil coklat, menulis atau hal lainnya minimal dua kali dalam satu minggu.
Checklist Indikator Pribadi Self Development
Checklist Indikator Pribadi Self Development, edited by canva

Checklist Kesehatan

  1. Workout minimal seminggu sekali selama 15 menit
  2. Setiap hari sarapan tepat waktu
  3. Konsumsi buah dan sayur setiap hari
Checklist Indikator Pribadi Kesehatan
Checklist Indikator Pribadi Kesehatan, edited by canva

Checklist Indikator Emak K sebagai Istri

Abah K adalah tipe suami yang nriman. Enggak pernah marahin istri di hadapan orang lain. Marahnya hanya terlihat dari perubahan sikap kepada istri, jadi ibu yang serumah pun enggak tahu ketika abah K marah kepada emak K. Emak K harus mengasah hati terus-menerus agar peka saat abah K marah. wkwkwk.

Pertanyaan tentang ‘sikap yang membuatnya bahagia’ di sela-sela obrolan kami membuatku tercengang, oh, tenyata sesederhana itu yang beliau harapkan dariku sebagai seorang istri. HAHAHA. Kemana saja kau, Mak?

  1. Tidak cemberut atau ngambek dalam jangka waktu lebih dari 30 menit, jika marah harus mengutarakan apa yang membuat marah dengan ekspresi tenang dan tidak meledak-ledak.
  2. Sedia air putih di gelas besar dan kopi atau teh setiap abah K kerja.
  3. Restock camilan seminggu sekali.
  4. Menemani berbincang di malam hari minimal 30 menit, jika sedang lembur, temani berbincang di ruang kerja saat si K tidur.
Checklist Indikator sebagai Istri
Checklist Indikator sebagai Istri, edited by canva

Sejauh ini hanya empat poin yang kudapatkan untuk meng-upgrade diri sebagai seorang istri. Mungkin kelak jika checklist ini sudah menjadi kebiasaan, beliau mengharapkan upgrade di bidang lain. Masih untung enggak disuruh dandan. 😀

Checklist Indikator Emak K sebagai Seorang Ibu

“Kevin sayang Ibu enggak?”

“Ndak!” jawabnya.

“Kenapa?”

“Ibuk ojo hape wae!” seru si K, sambil menggeret-geret tanganku.

“Oooh, Kevin enggak suka Ibu main hape?”

Ia mengangguk mantab.

“Terus, Ibu disuruh apa?”

“Main ka(r)o Kepin,” jawab si K, singkat, sembari menyerahkan sebutir kelereng kepadaku. Ternyata, enggak marah-marah saja enggak cukup. Si K membutuhkan kehadiranku dan cemburu dengan hape di genggaman.

Umur 2.5 tahun, si K sudah paham jika hape di genggaman Ibu adalah musuhnya. HAHAHA.

Aku menyusun checklist indikator sebagai Ibu dengan perbincangan ringan sekaligus hasil perenungan apa yang harus kulakukan agar goal pengasuhan tercapai. Penyusunan checklist ini juga dibantu oleh abah K yang sering mengevaluasi pola asuhku saat kami berbincang santai.

  1. Menemani si K bermain tanpa memegang gadget minimal 3 jam dalam sehari. Selain jam-jam bonding boleh disambi.
  2. Membacakan buku minimal tiga buku sehari.
  3. Meniadakan ancaman untuk si K, sehari maksimal mengancam 2 kali. HAHAHA. PR banget yang ini, Cyn…. Apalagi di sekitar rumah biasa mendengar, “Awas nek enggak maem, kutinggal jalan-jalan~”
  4. Camilan buah untuk si K minimal sekali dalam sehari.
  5. Membuat perencanaan pembelajaran di malam hari, minimal dua hari sekali.
Checklist Indikator Pribadi sebagai Ibu
Checklist Indikator Pribadi sebagai Ibu, edited by canva

Tiga indikator peran sudah selesai, tinggal bagaimana mengaplikasikannya dalam sehari-hari. Emak K membuat pembiasaan ini untuk 40 hai. Kedepan akan dievaluasi, apakah ada yang ditambah atau dikurangi.

So, jika kamu gimana, Mak?Apakah ada checklist indikator untuk memperbaiki diri agar bisa menjadi Ibu yang bahagia dan membahagiakan?

 

 

 

 

 

 

 

Home Based Education Interested. Love reading, writing and travelling. Interested in blogging. Live in Salatiga, a small city near Merbabu Mountain.

  1. aiiish di balik ajakan nonton pelem, ternyaaataaah ada keperluan wawancara buat NHW, wkwk. Cantik banget infografisnya. Semoga semakin sakinah, mawaddah warohmah dan selalu bahagiaaaa 🙂

Bagaimana komentar kalian?

%d bloggers like this: