3 Momentum yang Kusyukuri di Tahun 2018

3 Momentum yang Kusyukuri di Tahun 2018

2018 sudah berlalu, masih mau nengok masa lalu? Ah, ada kalanya harus menengok masa lalu untuk diambil hikmahnya, agar ke depan tidak lagi tersandung masalah yang sama. Setidaknya, kita bisa mempunyai penanda agar tak lagi keliru. Masa depan harus lebih baik, bukan?

2018 menjadi tahun yang harus kusyukuri benar-benar, tahun dimana keluarga kecilku diuji sekaligus menemukan chemistry-nya dalam waktu yang bersamaan. Seolah ujian itu adalah Cubitan yang membuat kami menyadari jika keluarga adalah nikmat Robbuna yang tidak bisa ditukar dengan apapun juga.

Akhirnya ke Pantai Lagi, Pertama Kali Backpakeran bareng si K

Aku terakhir ke pantai saat minggu pertama menikah, setelah itu? Selain kondisi ekonomi yang belum memungkinkan untuk travelling jauh, juga tidak berani membawa si K yang masih bayi. 4 tahun petama menikah, kami hanya ngebolang di sekitar Salatiga dan Bojonegoro.

Observasi Potensi Anak

Kelakuan si K di Parang Tritis

Juli 2018 menjadi babak baru di keluarga kecil kami. Kami cabut ke Jogja langsung dari kampung halaman, Bojonegoro. Naik travel dan menginap di rumah teman abah K. Di hari kedua, kami menginap di Penginapan Anoman dekat Parang Tritis, kami menikmati senja Parangtritis sampai tuntas. What an unforgotten moment.

Bonding kami bertiga benar-benar di tempa kala travelling. Bagaimana kami saling memahami tanda-tanda kelelahan, bagaimana kami saling mengendalikan emosi kala berhadapan dengan aneka masalah.

Satu hal lagi yang enggak bakal kulupakan, saat perjalanan menggunakan busway dari Terminal Giwangan ke Malioboro, kami diturunkan di halte entah dimana. Aku bersikukuh jika di halte ini ganti bis,abah K bersikukuh jika benar ini halte Malioboro. Kami jalan tanpa arah. Saat kusuruh mengecek Google Map, ternyata Malioboro masih 2 km lagi. Ngahahaha, asem banget. Akhirnya ngojek, ngeri kali membayangkan jalan 2 km dengan menggendong si K.

Keluarga si K

Keluarga si K. Foto terbaru saat kami ke Parangtritis bulan Juli Tahun lalu

Surabaya, I am Coming!

September menjadi salah satu tonggak sejarah travelling keluarga si K. Kala itu kami sedang menemani mbak ipar yang lahiran caesar di Rumah Sakit. Sebuah babak super karena itu kali pertama kami mengurus rumah, ponakan dan ecel-precel Rumah Sakit yang maasyaAllah riweuh. Kami jadi tahu seperti apa rasanya jadi keluarga pasien. Jajan sekitar RS yang mahal, biaya wira-wiri yang enggak sedikit, diperparah dengan kondisi si K yang rewel, super.

Di bulan ini Robbuna kembali ‘Mencubit’ku tentang rezeki yang sudah Ditakar. Kala itu aku heran, invoice blogging sejak Juli-Agustus serentak dibayarkan pada awal bulan September. Jumlahnya enggak main-main, cukup buat beli laptop Lenovo incaran. Ternyata Allah Mengaturnya, bulan September ada yang sedang membutuhkan.

MaasyaAllah, Alhamdulillah, kebutuhan kami di Surabaya selama seminggu yang setara dengan kebutuhan selama tiga bulan jika dalam kondisi biasa— aku serius, hahahaha— tercukupi, masih Diberi bonus ngebolang ke Kebun Binatang Surabaya berempat.

Naik-gajah-di-kebun-binatang-Surabaya, source: my another site nusagates

Naik-gajah-di-kebun-binatang-Surabaya, source: my another site nusagates

Sakit dan Babak Baru dalam Keluarga

Sakit kok jadi salah satu hal yang membahagiakan, sih? Heuheuu, buka sakitnya, tetapi hikmah di belakang sakit yang ternyata membawa kebahagiaan berlipat-lipat. November menjadi salah satu bulan yang emosional. Abah K sakit asam lambung sampa terkena anxiety. Populer dengan istilah GERD.

Anxiety ini membuat abah K mengalami kekhawatiran berlebih. Kekhawatiran yang sudah mencapai puncak, seolah-olah sudah waktunya bertemu dengan Robbuna. Cenderung sentimentil dan sangat mudah tersinggung. Aku stress, sudah mencoba jalur pengobatan apapun tetapi enggak mempan.

Fakta Asam Lambung GERD

Fakta Asam Lambung GERD

Saat Asam Lambungnya kambuh, jantung abah K berdetak sangat cepat, 150-160 kali per menit. Aku enggak sempat mengurus apapun selain mengurus abah K. Hingga kemudian kami menyadari jika asam lambung adalah buntut dari pola makan yang keliru.

Disinilah babak baru keluarga kami dimulai. Memperbaiki pola makan dengan memperbanyak konsumsi sayur dan buah. Mengalokasikan waktu khusus untuk olahraga, kami jadi lebih sering jalan-jalan dan bermain bulu tangkis bareng.

Asam Lambung juga membuat abah K lebih care dengan waktu istirahatnya. Ia membatasi sendiri jam kerja yang biasanya tergantung dengan deadline. Yay, Emak K hepi, sebab waktu untuk si K dan emak K bertambah. Bahkan abah K jadi sempat nemenin masak dan beberes rumah, termasuk melipat baju. Hahahaha, sereceh ini bahagiaku, ya. 🙂

***

Tantangan #BloggerKAH bulan Desembe ternyata bikin aku lebih bersyukur.Mengingat-ngingat momentum membahagiaan di 2018. Bahkan momentum yang seharusnya menyedihkan ternyata bisa membahagiakan juga. 3 aja ya? Enggak, banyak sebenarnya, tetapi ada kalanya ceita bahagia maupun momentum tertentu hanya disimpan untuk diri sendiri. Kamu enggak pengen baca tulisannya mbak Arinta 5 Hal yang Saya Syukuri di Tahun ini? Aku masih nunggu tulisannya mbak Ran, yuk sini, duduk bareng nunggu tulisannya mbak Blogger dari Kudus.

 

Mereka Bertanya tentang Sahabat Rasa Saudara #BloggerKAH

Mereka Bertanya tentang Sahabat Rasa Saudara #BloggerKAH

Sudah 2 tahun kami resmi ngerumpi bareng di #BloggerKAH. Aslinya ini singkatan dari nama anak-anak kami, tetapi malah terkesan mempertanyakan diri sendiri. #BloggerKAH? Apakah kami blogger beneran ataukah blogger abal-abal? Namanya terkesan jadi blogger labil yang hobinya ngegalau dan mempertanyakan profesi diri-sendiri, tetapi memang begitulah kenyatannya~

Suatu ketika mbak Ran melempar pertanyaan; apakah jika enggak ada sponshored post, Adsense, Event, Lomba Blog, dkk, kita tetap ngeblog?

Dasar emak K mata duwitan, kujawab: mungkin enggak. Lha wong hosting dan domain mbayar, menulisnya butuh waktu sendiri, plis atuhlah kalau enggak ada sponshored post dan kawan-kawannya.

So, emak K #BloggerKAH? Blogger sejati yang tetap semangat berbagi dalam keadaan apapun atau blogger abal-abal yang semangat nulis kalau ada pujian dan uang? Be-Do-Have-nya kudu direvisi nih. Wkwkwkwk

Long story short, kolaborasi bulan ini kami sepakat untuk ‘menguliti’ penghuni #BloggerKAH. Konon kata mbak Ran, agar tahu seberapa jauh kita mengenal. Padahal setelah ngomong gitu mbak Ran bingung, gimana nulisnya. BHAHAHAHAH

“The greatest gift of life is friendship, and I have received it.” -Hubert H. Humphrey-
Ya, daku bersyukur dengan grup WAG #BloggerKAH ini. Awalnya memang untuk mewadahi kolaborasi menulis blog agar tetap semangat menulis, tetapi lama-kelamaan menjadi sahabat yang rasanya sudah kenal lama. Tempat nyampah yang enggak laporan kemana-mana. Kadang jadi tempat paling nyaman untuk menyepi sejenak, menemukan kembali semangat yang hilang. Tempat berbagi tangis meskipun enggak bisa mengusap air mata. Tempat bebagi candaan absurd. Kadang khilaf ngerumpi juga.
Jadi, grupnya pakai tagline Blogger, tetapi perbincangan tentang blog vs ngerumpi, banyakan ngeumpinya. :p

Arinta Adiningtyas, Mama Kepiting yang (Mengaku) Galak

Setiap kali melihat orang yang mempunyai gigi gingsul, aku langsung teringat dengan mbak Arin. Mamanya mas Amay dan mas Aga yang asli Purworejo dan tinggal di Solo ini selalu mengaku jika dirinya galak, tetapi hatinya lembut, kayak tagline blog barunya ‘Mama Kepiting, Keras di Luar, Lembut di Dalam’. Eh, lha kok malah kayak slogannya Tango ya? Itu lho, Garing Di Luar, Lembut Di Dalam. Hahaha.

Bagian lembutya aku percaya, setiap aku curhat, yang menanggapi dengan kebaperan adalah mbak Arin. Bagian galaknya aku masih belum percaya, mungkin kelak daku harus membuktikannya dengan langsung.

Mbak Arin jago menulis. Tulisannya John Koplo sering dimuat di Solo Pos. Kadang aku bertanya-tanya, mbak Arin ini jarang mengeluarkan joke saat perbincangan di grup, kenapa dia bisa menulis John Koplo berulang-ulang? Apa saking berharganya sebuah joke sehingga ia menyimpannya rapat-rapat bak Logam Mulia, lalu dikeluarkan hanya saat menulis John Koplo? Lha emang elu, Mak, yang cerewet dimana-mana trus energinya kekuras dan enggak mood nulis lagi. Heueheuuu

Selain menulis joke kayak John Koplo, mbak Arin berbakat untuk menulis Cerita Anak. But, she always dealing with my words when i told her about this case. Aku tahu benar jika menulis cerita anak itu berat, pemilihan diksinya harus diteliti berulang-ulang. Mbak Arin pernah memenangkan juara harapan 2 di Lomba Menulis Dongeng Nusantara Bertutur tingkat Nasional. What make you dealing with this fact, Sis?

Jangan coba-coba melukai hati mbak Arin. Ia pemaaf, tetapi susah move on. KAYAK AKU. Ia akan mencoba bersikap biasa setelah kamu melukainya, tetapi No, kamu sudah tidak mendapatkan kepercayaan penuh dari hatinya. Mirip aku, sih, tetapi aku jauh lebih baper dan bisa nangis berhari-hari. Mbak Arin sampai punya quote tentang memaafkan ini; “Memaafkan sulit dilakukan, tetapi berdampak penyembuhan.”

Salah satu hal yang bertolak belakang antara aku dan mbak Arin adalah jiwa ngebolangnya. Mbak Arin Ibu rumahan garis keras. Ia lebih memilih untuk menikmati kebersamaan di rumah daripada ngebolang jalan-jalan. Tipe Ibu yang mirip ibuku dan emak mertua; jalan-jalan jika dan hanya jika alasan yang melatar belakanginya kuat, kayak jalan-jalan bareng keluarga besar, program wajib lingkungan atau pogram sekolah anak-anak.

Kalo emak K? Heleh, seminggu bisa tiga kali ngajak keliling meski cuma sepedaan menikmati hijaunya sawah. Kalau enggak gitu emak K bisa stressss dan uring-uringan sepanjang hari.

Aku salut dengan model dukungan bakat mbak Arin ke mas Amay–mungkin mas Aga suatu saat akan menyusul. Mas Amay bakat menggambarnya sangat kuat. Hingga suatu ketika, mbak Ain upload lembaran kertas yang berisi cerita hasil karya mas Amay. Long story short, mbak Arin dan mas Yopie mendukung penuh Amay untuk mengikuti lomba menulis buku.

Hasilnya? Belum beruntung. Tetapi disinilah letak kekuatan pasangan yang diam-diam saling mencintai sejak mbak Arin SMA; mengubah kegagalan menjadi kekuatan. Naskah yang kalah itu dicetak sendiri, dijual dan… hasil keuntungannya disumbangkan ke Palu-Donggala.

MaasyaAllah…. 

Rani R Tyas, Mama Absurd nan Misterius

Apakah kamu bisa menangkap aura…. di gambar ini? Wkwkwkwk. Mbak Ran ini ahli bikin kami merinding. Enggak kenal pagi, siang, malam, kalau kepasan mbak Ran bercerita tentang sesuatu… brrrr, grup rasanya jadi grup review peristiwa horor.

Kenal dengan mbak Ran, begitu panggilan sayang kami kepadanya, membuatku bersyukur aku enggak bisa melihat hal-hal abstrak. HAHAHA. Bisa dibilang mbak Ran adalah ‘danyang’ di grup kami. Setiap kali aku mengalami sesuatu yang enggak nyaman, entah si K yang tetiba nangis kejer, entah si K yang nunjuk-nunjuk sesuatu, aku langsung cerita di grup dan meminta saran mbak Ran. Ngahahaha

Kamu penasaran apakah cerita tentang ‘penghuni’ di suatu tempat yang berulah itu beneran atau cuma imajinasi? Tanyalah pada mbak Ran. Awas, jangan sampai menganggap kemampuan ‘melihat’ hal abstrak ini adalah gangguan jin dan menyuruhnya ruqyah, tak kepruk lambemu. Yai-ku yang hafidz 30 juz saja bisa ‘melihat’ hal abstrak ini, masa ya beliau mau diruqyah? Awas suk mben kualat dan makhluk itu mempelihatkan dirinya. Hiii

Mbak Ran perhatian banget soal penanggalan jawa; weton. Dia apal wetonku, berikut sifat-sifat yang mengikuti wetonnya. Suatu hari aku puas tertawa kala mbak Ran mengabarkan jika Alisha lahir di hari yang plek ketiplek wetonku. HAHAHAHA. Mbak Ran sampai mempunyai misi khusus; Alisha harus dididik agar enggak terlalu baperan kayak mbak WiDUt.

Setiap Anak Istimewa,Termasuk Anak Supranatural -Rani R Tyas-

Setiap Anak Istimewa,Termasuk Anak Supranatural -Rani R Tyas-

Working Mom Ibunya Han dan Alisha–err nulisnya bener enggak sih? ini strong. Bayangkan saja, jam 6 pagi mbak Ran sudah harus duduk manis di kantor. Bayangkan kesibukannya sebelum jam 6, yang nganter si gendhuk ke rumah Ibunya, yang nyiapin ini itu, yang mandi, yang make up-an. Aku jam 6 pagi masih gegoleran di kasur bareng si K, glundhang-glundhung sambil ngedongeng. Pulangnya, selain menuntaskan pekerjaan rumah, mbak Ran kudu mengasuh kedua anaknya.

Dengan kesibukan tiada akhir, si Mbak satu ini masih sempat ikut Komunitas Gendongan Kudus dan IIP Bunda Sayang. Teman-teman yang ikut IIP pasti tahu tugas level Bunda Sayang yang membutuhkan komitmen tinggi; Tantangan 10 Hari. Menjadi working mom enggak lantas membuatnya malas upgrade ilmu. Proud of you, duhai Mama Absurd.

Satu-satunya orang super logis di #BloggerKAH. Semacam ‘pengendali’ agar grup enggak terlalu terbawa arus. Saat kami hanyut dengan perasaan yang melow, mbak Ran bakal menariknya agar aura grup kembali positif dan semangat.  Satu-satunya yang concern dengan make up. Di grup kami,  persoalan perhatian terhadap penampilan jika di ranking maka hasilnya; mbak Ran, mbak Arin, terakhirnya emak K.

Strong-nya mbak Ran sepertinya di administratif dan perencanaan. Bener enggak, Mbak? Wkwkwk, dulu secara sukarela nyatat perkembangan Arisan ink di grup. Perencanaan untuk masa depan anak-anak juga sudah dipikirkan matang-matang dengan memisahkan rekening orang tua, rekening Han dan rekeningnya Alisha. Beda dengan aku dan mbak Arin, semua uang menjadi milik bersama. Setelah ini aku dijitak para financial adviser.

Siapa menyangka dibalik kesehariannya yang njawani, diperkuat sisi mistisnya yang biasanya lekat pada kebudayaan jawa, ternyata mbak Ran punya setitik darah orientalis. Darah Tionghoa yang super teliti. Hayo pantes, beda dengan orang Jawa asli yang kebanyakan nyah-nyoh-nyah-nyoh, tapi setelah itu bingung uangnya lari kemana. HAHA.

***

Sudah 1215 kata. Wkwkwkwk. Eh ini enggak diurutkan berdasarkan yang paling disayang lho, tapi berdasarkan abjad. Kayak sekolah saja. HAHAHA. Aku menyayangi keduanya sepeti aku menyayangi saudara-saudaraku. Kalau salah ya bilang salah, emang mau akur di dunia tapi musuhan di akhirat? Enggak lah.

Kamu penasaran seperti apakah aku di mata mereka? Coba ya baca link ini. Coretan mbak Arin tentangku dan mbak Ran bisa dibaca di #BloggerKAH di Mataku, coretan mbak Ran tentangku dan mbak Arin bisa dibaca di Hal yang Perlu Kamu Ketahui tentang Pesonil #BloggerKAH.  Tetapi please, jangan percaya di bagian alim dan kalemnya, percayalah di bagian cerewetnya~.

 

Ramadhan Sebentar Lagi, Sudahkah Mempersiapkan Diri

Ramadhan Sebentar Lagi, Sudahkah Mempersiapkan Diri

Hello, Dear!

Enggak kerasa, sudah masuk bulan Sya’ban saja. Perasaan baru kemaren pulang ke rumah setelah mudik keblabasan hingga tiga bulan. Baru kemarin BloggerKAH membahas puasa saat masa kecil, eh, sekarang sudah sampai ke tema mempersiapkan puasa Ramadhan. Time flies so fast!

Baca Juga: Menyambut Lailatul Qadr Tahun Depan

Sebulan lagi sudah puasa, tunggu, yang ada di otakku malah BAJU LEBARAN DAN ANGGARAN UNTUK MUDIK. Demi apa, Dut! ISTIGHFAR.

Yaeyalah, pan harus disiapkan sebelum puasa agar tidak kemrusung saat Ramadhan tiba, biar fokus gituloh. NGAHAHAHA, Emak K ngomong doang ding, Cynnn. Hih.

Hello, Tilawah Sudah Khatam Belum?

Ramadhan tiba, sebaiknya tilawah mulai dari Bismillah wajib, wkwkwk, maksudku, Bismillah Fatikhah yang masuk ke dalam surat Fatikhah. Yai Nasrudin yang dhawuh, jadi, sebelum Ramadhan tiba, biasanya beliau bertanya apakah tilawahku sudah selesai–kecuali Sya’ban tahun 2014, yang ditanya bukan tilawah, tetapi kehidupan rumah tangga yang masih bayik merah. 😀

Aku melihat ke Qur’an kesayangan hadiah abah K, sedih sih, lagu lama tiap Ramadhan mau datang, KENAPA TILAWAHKU TAHUN INI CUMA SEDIKIT? :'(

Apakabar Utang Puasa?

Dulu jaman masih lajang, membayar utang puasa adalah hal yang sangat enteng. Kilat gitu bayarnya. Giliran udah punya anak, O em Jiiiii, mau membayar utang rasanya perjuangaaaan banget. Pantes pahala yang dijanjikan untuk Ibu menyusui berlipat-lipat.

Selama si K masih menyusui, aku beberapa kali nyerah. Apalagi Ramadhan dua tahun yang lalu saat si K masih ASIX, dih, jam 9 pagi rasanya sudah lemessss banget.

Bermaaf-maafan Sebelum Ramadhan Tiba

Yang paling terlihat di layar kaca, maaf-maafan terjadi saat idul fithri tiba. Tetapi, yang paling penting justru maaf-maafan saat menjelang Ramadhan. Biasanya aku mencicil ‘sowan’ di bulan sya’ban, sekedar mampir untuk salam-salaman sekalian silaturahmi. Pan kalau Ramadhan biasanya waktu untuk silaturahmi terbatas, syibuk, apalagi abah K, syibuknya berlipat-lipat.

Menyiapkan Alat Perang untuk Ibadah

Alat perang? Mukena dan sarung baru? WKwkwkwk, ENGGAK WAJIB, tetapi kami lebih mengutamakan pembaharuan di bulan Ramadhan daripada pembaharuan di bulan Idul Fithri. Hihihi. Kalau sedang tidak ada anggaran untuk memperbaharui alat perang, biasanya aku menyiapkan sebaik mungkin agar ibadah enggak keteteran. Apalagi abah K tipikal baju untuk sholat HARUS RAPI dan WANGI.

Padahal kalo ngantor beliau pake celana kolor pun enggak masalah. WHAHAHA.

Selain alat perang untuk sholat, aku juga menyiapkan beberapa kitab dan al-Qur’an. Selama ini al-QUr’an biasa gantian, saat Ramadhan tiba, kami harus pegang al-Qur’an satu-satu. Al-Qur’an favorit kami, Al-Qur’an terbitan Makkah. Enak dan tidak membuat mata cepat lelah.

Baca Juga: Lima Langkah yang Harus DIlakukan Sebelum Membeli Al-Qur’an

Menyiapkan Makanan, Cemilan, Bumbu dan Minuman Long Lasting

Aku bukan orang yang setiti untuk menyiapkan menu buka komplit banget kayak di tv-tv yang meja makannya penuh dengan berbagai menu makanan. Apalagi keluargaku bukan keluarga yang menyukai menu aneh-aneh, menu andalannya cukup sambel.

Plus, si K yang sedang aktif-aktifnya, menuntutku untuk memasak makanan cepat saji sebagai menu berbuka dan sahur. Cepat saji yang kubahas ini tentu saja bukan mie instan, bubur instan. Bukan. Hanya menu biasa yang tidak membutuhkan effort lebih dari satu jam untuk memasak, makin singkat makin baik. Hihihi.

Biasanya aku menyiapkan sediaan kurma, syrup, susu, madu, bumbu putih, bumbu merah, kering tempe, kering teri-kacang, juga bumbu soto yang long lastik disimapn di kulkas. Jaga-jaga agar tidak kemrusung saat kesibukan melanda dan waktu memasak tidak begitu panjang.

Jika sedang rajin, aku biasa menyiapkan sayur dan lauk di kulkas sesuai rencana menu masing-masing. Biar enggak kalap kalau belanja ke pasar. Hihihi, aku akan menuliskannya lain kali soal poin ini ya. InsyaAllah.

Menyiapkan Target dan Strategi Ibadah di Bulan Ramadhan

Dulu–kenapa emak K membahas masa lalu, sih? :(– jaman masih single, aku terbiasa ketat dengan target. Maklum, belum ada faktor X yang mengikat. Aku hanya perlu melawan diri sendiri untuk mencapai target. Begitu menikah dan punya anak, kaget poll, begitu banyak faktor X yang harus kuhadapi untuk mencapai target selama Ramadhan. Lagi semangat-semangatnya, eh, si K rewel seharian. Lagi pengen ikutan ngaji, eh, abah K ada kepentingan mendadak dan enggak bisa diajak gantian momong si K.

Lha rumangsamu momong anak bukan ibadah, Yi? Yo ibadah lah! Malah luwih penting, darurat, fardhu ‘ain.

Dawuh abah K ketika aku mengeluh soal hal ini. HAHAHA. Astaghfirullah. Maafkan Ibu ya, Nang, sudah menjadikanmu kambing hitam.

Banyak ya ujian ibadah yang harus dihadapi perempuan, salah satunya soal HAID. Haih, hanya perempuan yang merasakan haus sehari suntuk, 5 menit menjelang bedug maghrib mendapati dirinya HAID. HAHAHAHA, enggak apa, kalian enggak sendiri.

Lagipula, banyak ibadah yang bisa dilakukan oleh perempuan yangs edang haid. Nih, dua dedengkot BloggerKAH menulis serentet ibadah yang bisa dilakukan oleh perempuan yang sedang haid, makanya emak K beda sendiri. Mhuahaha, bilang saja kalau enggak punya tips ini, Mak!  Haid di Bulan Ramadhan Bikin Kehilangan Kesempatan dapat Pahala? Ah, Kata Siapa? dan 9 Amalan di Bulan Ramadhan yang Bisa Dilakukan Saat Haid menjadi referensi AsyiQue untuk kita-kita yang hopeless kala datang bulan tiba.

 

So, kalau kamu, apa yang kamu lakukan sebelum Ramadhan tiba? Sharing yuk, biar emak K tambah jembar pemikirannya.

 

Salam!

Emak K, Professional Deaf Blogger Wannabe

 

 

 

Pencarian Terkait:

  • persiapkan diri sebentar lagi aku datang
Jika Masa Renta itu Tiba

Jika Masa Renta itu Tiba

Bagaimana jika kita sudah renta nanti?

Tetiba, obrolan di WAG BloggerKAH beberapa hari yang lalu mendadak melow. Mbak Ran mendadak bercerita tentang masa tua, lalu melemparkan pertanyaan, “Apa harapan kita dari anak-anak jika kelak sudah tua?”

Aku mendadak melow. Ya, meskipun masa tua renta belum tentu digapai, tetapi tentu saja menyimpan harapan-harapan yang ingin kudapatkan dari anak-anak. Mbak Arin sudah menuangkan harapannya di blog barunya, tentang Lagu Kasih Ibu, Tak Cocok untuk Mama Sepertiku. Mbak Ran masih menunggu. Hihihih.

***

Dear K,

Abah pernah berkata, “Jadikan pengasuhan anak-anak sebagai ibadah, urusannya sama Allah. Enggak boleh berharap apa-apa kepada anak. Cukup Allah saja. Ndak gelo nek apa sing dikarepke ora sesuai. ”

Ibu lantas istighfar berulang kali. Kami yang memohon keberadaanmu kepada Robbuna dalam doa-doa panjang. Sedang kamu, Nang, tidak pernah memilih akan dilahirkan di dalam rahim Ibu. Ya, Ibu tahu persis soal itu.

Maka, Nang, Ibu berusaha sebaik-baiknya untuk mengasuhmu, sekuat yang Ibu bisa. Tetapi, Nang, Ibu harus bolak-balik menata niat. Labil sekali Ibumu ini. Dulu Ibu yang memohon kepada Robbuna, kini Ibu kerapkali mengeluh jika kamu banyak tingkah. Sungguh, Nang, itu semata karena Ibu lelah, bukan karena Ibu tidak bersyukur atas keberadaanmu.

Dear K,

Meskipun Abah sudah mewanti-wanti untuk tidak berharap apa-apa, tetapi jauh di lubuk hati Ibu, Ibu punya beribu harapan. Bagi Ibu, harapan itu adalah doa. Siapa yang tidak ingin tetap sehati dengan anak jika kelak sudah renta, sih, Nang?

Siapa yang tidak ingin mempunyai anak sholih, yang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya? Nang, anak yang sholih adalah harta termahal yang dimiliki oleh orang tua. Semua orang tua berharap mempunyai anak sholih, tidak terkecuali Ibu.

Jadilah dirimu sendiri, dengan tetap berada di Jalan-Nya, ya Nang.

Dear K,

Kelak jika Ibu sudah tua, mungkin pendengaran Ibu semakin berkurang. Aduh, Nang, Ibu mendadak menangis saat menulis ini. Tetapi, Ibu harus bersiap diri bukan? Mungkin, Ibu harus belajar bahasa isyarat lebih giat lagi agar kelak pendengaran Ibu semakin berkurang, komunikasi dengan anak, cucu dan menantu tetap terjalin dengan baik.

Kamu, Nang, semoga kelak istrimu adalah perempuan penuh welas asih yang bisa memahami kondisi Ibu. Pun kamu, semoga kamu tetap menjaga komunikasi dengan Ibu, sesulit apapun gaya komunikasi Ibu.

Dear K,

Gara-gara menulis ini, Ibu menjadi berandai-andai, kelak jika Ibu sudah tua. Ibu ingin menjadi seorang Ibu yang senantiasa dirindukan anak-anak. Seorang Mertua yang dirindukan menantu. Seorang Nenek yang dirindukan cucu-cucunya.

Terdengar seperti cerpen fiksi, ya, Nang. Ah, tetapi doa Ibu, semoga kelak Ibu seperti itu. 🙂

Dear K,

Ibu berencana kembali berkecimpung di dunia volunteer kelak jika kamu dan adik-adikmu sudah mandiri. Untuk sekarang, Ibu hanya ingin menghabiskan waktu-waktu Ibu bersamamu, juga kelak dengan adik-adikmu. Kamu, Nang, semoga selalu mendukung Ibu, ya. Syukur-syukur, kamu ikut menjadi volunteer, di masa tua, apa sih yang ingin Ibu kumpulkan selain amal untuk bekal kelak di akhirat, Nang?

Dear K,

Ibu ingin kelak ketika Ibu sudah tua, Ibu tetap produktif, tidak menyusahkan orang-orang di sekitar Ibu. Tetapi, Nang, jika Robbuna kelak menakdirkan Ibu harus dirawat oleh anak-cucu, tolong, ya Nang, jadikan ini ladang ibadahmu. Jangan titipkan Ibu ke siapapun, apalagi di panti jompo. Sungguh, jangan. Ibu hanya ingin menghabiskan masa tua bersama Abah dan anak-cucu.

Dear K,

Semoga senantiasa berada dalam Lindungan-Nya. Terimakasih sudah menjadi anak yang selalu menerbitkan senyum dan tawa.

 

With Love and Big Prays

Ibu

Lika-liku Bisnis Perempuan Hard of Hearing

Lika-liku Bisnis Perempuan Hard of Hearing

Sejak lelah ditolak saat melamar pekerjaan hanya karena menyandang HOH, padahal posisi yang kulamar enggak membutuhkan keahlian mendengar. Plus, sempat diremehkan saat praktik mengajar–sakitnya masih terasa sampai sekarang (Ngetiknya sambil membatin, Bu, Njenengan enggak tahu ya kalau aku di rumah handle 15-an anak setiap hari, dan tidak ada masalah yang berarti), aku bertekad untuk mempunyai usaha sendiri, entah apa belum aku pikirkan saat itu. Wkakakaka

Sempat Menjadi Penjual Sega Jagung dan Pembeli Kertas Semen

Terdengar lucu, ya? Kalian enggak percaya emak K pernah menjalani posisi ini? Wkakakaka. Tertawalah. Kala itu aku masih semester 2, belum diijinkan mengendarai motor sendiri ke kampus. Aku berangkat dari rumah ke jalan raya jalan kaki, mampir dulu ke mbok-mbok yang jual sega jagung, beli 10 bungkus.

Aku ingat betul, harganya seribu-an, kujual 1500-an. Aku hanya untung 500/ bungkus. Menjajakan sega jagung dari ujung ke ujung, belajar tegar saat ditolak, bersyukur luar biasa saat ada yang membeli, padahal cuman untung 500rupiah. . Kisah ini yang membuat aku enggak tega menolak saat ada pedagang asongan yang menawarkan dagangan. Seperti melihat kilas balik masa lalu. Hahaha

Setelah menjajakan sega jagung, aku kembali menyusuri jalan pulang sembari membeli kertas semen. Serius, saat itu keluarga sedang menekuni bisnis kertas semen untuk dijual kembali ke pabrik asbestos tempat jualan Ibu. Tetapi sekarang sudah enggak, lelah, Cyn, bersihinnya bikin sesak napas pun.

Menjadi Mpok Kredit Gamis

Aku bukan penyuka kredit gamis, tetapi pernah menjadi mpok kredit gamis. Hahaha. Saat itu aku menjual gamis atau baju-baju lain ke kampus, teman-teman membayar dengan cara mencicil. Wkwkwkwk, lumayan laris, tetapi akhirnya berhenti karena wira-wiri kampus-grosiran itu melelahkan. Mana aku adalah tipe-tipe mahasiswa yang aktif sana-sini dan BIG BIG No mbolos, apalagi sampai mangkir tugas.

Bisnis Setelah Nikah

Salah satu pra syarat menikah dari abah K saat itu adalah, aku tidak boleh jadi PNS dan harus mengasuh anak sendiri, enggak boleh menitipkan anak meskipun dengan membayar orang. Aku merasa terselamatkan. Saat itu lapangan pekerjaan untuk difabilitas belum segencar sekarang yang setiap pengusaha harus memberikan kuota sekian persen untuk difabel, pra syarat abah K ini menjadi salah satu sumber rasa aman karena aku tidak perlu melamar lagi, mengalami penolakan lagi.

Membuka Jasa Pengetikan Bermodal Printer 600 ribuan

Kala itu abah K belum menemukan pasar website developper. Dengan uang hasil menjual cincin, bukan cincin nikah, sih, tetapi cincin tabunganku, kami nekat membeli printer 600ribuan. Mencetak MMT jasa pengetikan dan catak foto ala-ala.

Abah K kadangkala menjadi kuli panggul di pabrik kopi kalau sedang ada bongkar muatan, seminggu paling dua-tiga kali. Dengan hasil jasa pengetikan dan cetak foto yang tidak seberapa itu, plus bayaran sebagai kuli panggul, kami menjalani hari-hari sebagai manten baru. Hiks hiks hik, penuh drama.

Keprihatinan ini membuat kami semakin erat. Saling mendukung meski tidak jarang berantem juga.

Jasa Pengetikan Berkembang Menjadi Jasa Fotokopi dan Percetakan

Semakin lama, kami semakin menangkap peluang lain dari printer yang kami miliki. Kami menangkap usaha percetakan undangan dan buku yasin. Hasilnya jauh lebih menjanjikan daripada jasa pengetikan. Setiap lembar undangan, minimal kami mengambil untung bersih 500 rupiah. Kalikan saja dengan 500 undangan, 1000 undangan. Hehehe, lain kali aku bocorin ya trik bisnis undangan dan buku yasin bermodal printer 600ribuan.

Melihat usaha kami yang serba minim, ada saudara yang berniat investasi mesin fotokopi. Alhamdulillah, meskipun menyimpan cerita, mesin fotokopi ini sempat menjadi penolong kami kala itu. Kata abah K, “Yang sudah kita manfaatkan jauh lebih besar nilainya daripada kerugiannya.”

Toko fotokopi dan percetakan kututup sementara karena aku tidak bisa meng-handle urusan toko sembari mengasuh si K. Abah K pun pindah sana-sini, jadi tokonya enggak bisa dibuka secara teratur. Kasihan pelanggan kalau bukanya seenak udel. Heuheuu, tetapi daku tetap menerima pesanan percetakan, kok, cuma enggak buka toko saja.

Memulai Usaha Website Developper dan App Developper

Awal mula abah K menekuni jasa ini, pernah dibayar 500k untuk website company profile dengan desain membuat sendiri. IYA, bikin desain nol prutul, masang di CMS, input konten, BAYARANNYA 500k. Ngerjainnya dua mingguan, BEGADANG. Betapa lugunya kala itu. HAHAHAHA.

Semakin kesini, kami mulai serius menggunakan branding website developper dan app developper. Meskipun freelancer, kami memutuskan untuk usaha tidak terlalu ngoyo. Ada waktu untuk si K, ada waktu untuk istri, ada waktu untuk ngajar ngaji adik-adik di rumah. Karena mengejar dunia tidak akan ada ujungnya.

Resiko Bisnis Sebanding dengan Profit

Ya, resiko bisnis sebanding dengan profit. Akhir tahun 2017 lalu kami mengalami ‘banting’an bisnis karena salah manajemen. Jangan tergiur dengan motivasi bisnis overdosis yang membuatmu menutup mata dari adanya resiko bisnis.

Jika menjadi pegawai dengan gaji tetap, resikonya tidak terlalu kentara, paling-paling cuma dimarahin atasan. Bisnis resikonya HARUS ditanggung sendiri dengan konsekuensi yang tidak mudah. Drop sebentar boleh, tetapi harus bangkit lagi. Kadangkala harus dibuat RUGI dulu biar mau belajar. HAHAHAHA, emak K menertawakan diri sendiri.

Lakukan Saja, Ide akan Berkembang Seiring Perjalanan

Kunci dari bisnis sendiri adalah lakukan saja. Ide akan berkembang seiring perjalanan. Kebanyakan memikirkan persiapan bagaimana, apa dan bla bla blanya justru akan membuat kita enggak maju-maju. Lihat sendiri kan, bisnis percetakan dan buku yasin yang menjanjikan baru terpikirkan saat jasa pengetikan sudah jalan. Hehehe.

Curhatnya sudah 800 kata. Eh, tetapi enggak membahas bisnisnya HOH sama sekali. Wkwkwkwk. Enggak apa, intinya bisnis di atas ramah untukku yang Hard of Hearing. Heuheuu

Nah, kalau kalian sedang ingin mendengar cerita tentang seluk-beluk bisnis, kalian bisa menyimak cerita mbak Arin  Lika Liku Bisnisku dan mbak Ran Berdagang Passion atau Kebutuhan. Siapa tahu ide bisnis mbrujul saat membaca cerita mereka.