Widi Utami

Learn, Write and Share
Me and Hubby | Semua

Crazy Moments at My Wedding 4 Years Ago

July 10, 2018

Awalnya, kami ingin membuat pernikahan yang sederhana. Aqad dan syukuran super sederhana di rumah yang tidak membutuhkan persiapan yang banyak. Maklum, kali itu kami masih sama-sama kuliah, enggak kepikiran babar blas mau bikin pesta. Dua minggu sebelum aqad, Bapak memutuskan untuk membuat syukuran sederhana sekalian, komplit dengan adat jawa minimalis. Aku yang enggak tahu apa-apa gelagepan, boro-boro mau nyetak undangan, mau ngundang siapa saja aku enggak ada gambaran. Bhahaha.

Pinjam Sandal Tamu

Mentang-mentang MUA-nya cuma selemparan batu dari rumah, doi enggak menyiapkan dengan matang. Adaaa saja yang ketinggalan. Aku yang sudah panik karena jam 7 abah K tidak kunjung sampai di Salatiga, padahal aqad akan berlangsung jam 9, enggak nyadar blas tentang apa-apa yang kuperlukan.

Abah K datang, kami bersiap untuk aqad. Tiba-tiba, mas MUA panik, “Eh, sandal selopnya manten ketinggalan.”

Ha?

Aku melongo, lha wong aku belinya cuma sandal jepit tanpa hak. Dyah, sahabatku yang datang pagi-pagi langsung nyodorin sandalnya tanpa diminta, jadilah aku pinjam sandal tamu. Wkakakaka.

Me and Hubby

Abah K Memberi Cincin Dari… Dompet Toko Emas

Aqad nikah berlangsung lancar tanpa drama yang berarti, petugas KUA bertanya, “Ada yang perlu dikasih lagi?”

Abah K mengutarakan jika masih ada cincin yang enggak ikut dalam mahar. Iya, cincinnya masuk ke hadiah, bukan mahar, jadi diberikan secara terpisah. Di hadapan tamu undangan, keluarga dan petugas KUA, abah K ndredek mengeluarkan cincin dari dompet bersablon toko emas.

NGAHAHAHA.

Ya, si Abah sih terlalu lugu, mana kenal dia soal tempat cincin berbahan beludru merah yang harganya tidak seberapa itu. 😀 😀

Ketika abah K Bertanya, “Iki Dikapakke?”

Selepas aqad, tibalah prosesi nikah jawa. Dari nginjek telur sampai menuang beras. Aku enggak ngeh sama sekali kalau abah K enggak memahami prosesi ini. Jadi setiap kali prosesi, abah K selalu berbisik, “Iki dikapakke?”

“Eh, iki sikilku dikapakke?” bisiknya, saat aku memintanya untuk menginjak telur dan aku beranjak untuk membersihkan kakinya dengan air bunga.

What the… wkwkwkland.

Aku baru tahu jika tradisi pernikahan di Salatiga dengan Bojonegoro agak berbeda setelah tiga tahun pernikahan, saat kami pulang kampung karena ada sepupu abah K yang menikah. “Owalah, pantesan dulu enggak ngerti prosesi waktu kita nikah, ya.” bisikku sambil tertawa.

 

Hihihi, kalau kamu, apa crazy moments kala hari pernikahanmu, Geng? 😀

 

Home Based Education Interested. Love reading, writing and travelling. Interested in blogging. Live in Salatiga, a small city near Merbabu Mountain.

Bagaimana komentar kalian?

%d bloggers like this: