Bokek, Re? ke Sendang Senjoyo, yuk!

Bokek, Re? ke Sendang Senjoyo, yuk!

Re, kausudah tidak galau lagi, kan? Sudah ke Curug Tujuh Bidadari, belum? Atau kaumenunggu gajian untuk bertandang kesana karena begitu banyak yang ingin kaukunjungi di Kawasan Wisata Bandungan?

Tetapi, Re. Refreshing tidak harus menunggu kantong tebal. Kaubisa menyegarkan pikiran meskipun kantong nyaris kering. Akan kuceritakan sebuah kisah, mungkin kauakan terinspirasi.

Refreshing bukan perkara seberapa banyak kaumenghabiskan uang, seberapa nge-hits tempat wisata yang kaukunjungi, tetapi seberapa banyak rasa syukur yang kauhirup atas ciptaan Robbuna yang terhampar di sekelilingmu. Maka, jika kaubisa mensyukuri keberadaan langit, memandang langit senja pun sudah membuat pikiranmu segar.

Waktu itu, adik-adik mengajak outbond. Kejenuhan mereka dengan aktivitas sekolah sudah berada di level parah. Aku belum juga mengabulkan permintaan mereka karena kami belum memiliki persiapan yang matang, baik dari segi dana maupun tenaga.

Berulangkali mereka merayu, akhirnya aku luluh dan berjanji akan mengadakan outbond minggu depan. Bah, entah apa yang ada di otakku saat itu, menargetkan persiapan outbond untuk 20 orang adik-adik usia TK-SMP dalam waktu seminggu sungguh sangat mendadak. Aku meminta tolong sahabat-sahabatku untuk membantu persiapan dan pelaksanaan outbond ini.

Kami bertemu untuk membahas apa-apa saja yang perlu disiapkan. Hal pertama yang kami pikirkan adalah tempat outbond dengan beberapa kriteria:

  1. Relatif dekat dengan rumah.
  2. Tidak membutuhkan perijinan yang sulit.
  3. Ekonomis, dana kami sangat terbatas.
  4. Ada sawah, sungai dangkal dengan air yang jernih, tanah lapang berumput dan medan menantang namun kids friendly dalam satu tempat untuk mendukung pelaksanaan outbond.
Hmm, dimana, ya?

Hahahaha. Banyak syaratnya ya, Re? Saat itu aku langsung teringat dengan Sendang Senjoyo, tempat favorit ngadem sepanjang masa. Sendang Senjoyo memiliki keunggulan yang membuatnya selalu di hati. Kaumau tahu tentang Sendang Senjoyo ini, Re? Aku yakin kau akan jatuh hati setelah kuceritakan nanti.

Sendang Senjoyo nan Hijau

Eh, Re, maafkan, ya. Foto-fotonya foto narsis. Hahaha, aku sering khilaf untuk mengambil gambar saat tidak ada kegiatan. Itu adalah foto saat outbond bareng adik-adik. Plastik-plastik itu bukan sampah, tetapi keperluan adik-adik. Meskipun begitu, kautetap bisa menangkap keindahan Sendang Senjoyo dari foto itu kan, Re?

Sendang Senjoyo, Sumber Mata Air Utama bagi Masyarakat Salatiga dengan Pohon-pohon Besar nan Rindang

Sendang Senjoyo, sebuah sumber mata air yang terletak di Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang ini merupakan sumber mata air utama bagi kebutuhan air masyarakat kota Salatiga dan sekitarnya yang dikelola oleh PDAM.

Saking dekatnya Senjoyo dengan kota Salatiga, tidak sedikit yang salah paham jika Sendang Senjoyo ini terletak di Salatiga. Padahal, Sendang Senjoyo terletak di wilayah teritorial Desa Tegalwaton, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. Bahkan, Re, saat aku mencari alamat Sendang Senjoyo di mesin pencari, di laman paling atas terang-terangan tertulis alamat Tingkir, Salatiga.

Hahaha, sudah cukup soal perdebatan dimana letak Sendang Senjoyo, ya Re.Aku sengaja memberi tahu tentang kebenaran letak Sendang Senjoyo ini untuk meyakinkan jika Sendang Senjoyo adalah salah satu Pesona Kabupaten Semarang yang tersembunyi. Aku akan mengajakmu ‘jalan-jalan’ virtual ke Sendang Senjoyo sebelum kaukesini sendiri kelak.

Saat memasuki Gerbang Sendang Senjoyo, kauakan disambut dengan pohon-pohon besar nan rindang. Kutaksir, pohon-pohon ini sudah berusia ratusan tahun. Akar-akar gantung menjuntai ke bawah. Kadangkala, kutangkap kesan angker karena pengaruh keyakinan yang beredar, bahwa pada pohon-pohon tersebut mempunyai penghuni.

Salah Satu pohon Besar di Sendang Senjoyo

Mitos yang melingkupi pohon-pohon besar ini menjadi ‘penjaga’ dari penebangan pohon yang semena-mena. Ya, Re, pohon-pohon besar di Sendang Senjoyo sangat terjaga. Mungkin ini yang menjadi rahasia, kenapa air di Sendang Senjoyo tetap mengalir deras meskipun musim kemarau panjang.

Ada tujuh sumber mata air Sendang Senjoyo, Re. Masing-masing memiliki nama sendiri. Sendang Slamet, Sendang Bandung, Sendang Teguh, Sendang Lanang, Sendang Putri, Tuk Sewu, dan Umbul Senjoyo. Aku tidak tahu persis dimana mata air ini berada, tetapi, sepanjang mata memandang, disitu bertebaran air nan jernih.

Sahabat Rakyat, Mandi-Cuci-Renang tanpa Menguras Kantong

Kautahu, Re? Kemana aku kecil dulu berwisata ketika suntuk melanda? Iya, di Sendang Senjoyo, Re. The one and only tempat wisata yang sangat terjangkau bagi kami, anak-anak kampung dengan uang saku terbatas. Saat itu, aku dan teman-teman ke Sendang Senjoyo dengan jalan kaki dan membawa uang seribu perak untuk sekedar membeli bakwan jembak.

Kami harus jalan kaki sekitar 2 km, Re. Biasanya kami berangkat setelah shubuh, sampai di Sendang Senjoyo saat matahari terbit. Dengan mengabaikan rasa dingin yang menusuk tulang, kami menceburkan diri di sungai. Bermain kecipak-kecipuk air sampai kulit keriput dan bibir membiru.

Nyaris setiap hari di Sendang Senjoyo ada orang yang mencuci, Re. Entah mencuci baju, karpet, selimut. Dua minggu jelang Ramadhan, orang datang berbondong-bondong untuk mencuci karpet mushola/ masjid. Seru, Re. Aku dulu selalu ikut ketika mencuci karpet mushola, tinggal cemplungkan karpet ke kolam atau sungai yang dangkal di Sendang Senjoyo, sikat-sikat dengan sabun, nanti akan terbilas air dengan sendirinya.

Tidak heran jika Sendang Senjoyo menjadi jujugan favorit untuk keperluan mandi, renang dan cuci karena kita tidak perlu menyiapkan banyak uang untuk menikmati fasilitasnya. Cukup bawa badan saja jika kita datang dengan jalan kaki, tidak ada tiket masuk disini. Jika membawa kendaraan, cukup membayar bea parkir.

Tetap Hijau Meski Kemarau

Dengan keberadaan pohon-pohon besar di Sendang Senjoyo, Sendang Senjoyo tetap hijau meskipun kemarau. Bahkan, Re, saat kemarau panjang, Sendang Senjoyo menjadi dewa penolong bagi masyarakat yang kesulitan air. Ramai sekali saat musim kemarau, Re, apalagi saat weekend tiba. Ada yang datang untuk mencuci baju, karpet, bahkan motor dan mobil. Ada pula yang datang untuk sekedar ngadem dari atisnya udara musim kemarau.

Spot favorit untuk Mencuci, tetap Hijau Meskipun Musim Kemarau Panjang

Spot Favorit Sendang Senjoyo

Kaumau tahu spot-spot favoritku di Sendang Senjoyo, Re? Simak baik-baik, ya. Akan kubuku rahasia, dimana tempat-tempat favoritku ngadem di Sendang Senjoyo.

Sungai Dangkal sebelah Utara

Sungai ini merupakan spot paling favorit sepanjang masa. Selain lokasinya yang enak untuk berendam, di sungai dangkal ini terdapat banyak batu besar yang bisa kita gunakan untuk duduk-duduk. Pemandangannya pun oke punya. Biasanya, aku disini berendam kaki sembari menjaga adik-adik yang kecipak-kecipuk bermain air.

Sungai Dangkal Spot Favorit yang Aman untuk Anak

Sssst, saat aku kecil dulu juga bermain air disini ding, Re. Jadi sekalian nostalgia masa kecil yang seru.Kaujangan lupa bawa baju ganti, ya.

Tanah Lapang di Pojok Barat

Tanah Lapang di Pojok Barat ini tempat ngadem paling favorit untuk ngariung bareng teman-teman. Biasanya kami membawa tikar dan menggelarnya di bawah pohon. Di tempat ini pula adik-adik melakukan permainan yang tidak membutuhkan tempat yang terlalu luas.

Pojok Selatan, Tempat Favorit untuk Ngariung.

Re, dari foto itu, kaubisa membayangkan jika kaududuk disana bareng keluarga, menikmati pemandangan di depan yang berawa-rawa sembari berbincang-bincang? Romantis. Hanya saja, kauharus hati-hati, jangan sampai penasaran untuk menceburkan diri di rawa-rawa itu. Bahaya. Aku dulu nyaris tenggelam disana. Padahal pak Guru sudah mewanti-wanti jangan melewati rawa-rawa. Dih, aku bandel ya, Re? Hahaha.

Bumi Perkemahan Senjoyo

Ah iyaaa, di Sendang Senjoyo ada bumi perkemahannya. Tepatnya di bukit sebelah selatan Sendang Senjoyo. Aku dulu sering mengikuti kegiatan disini, Re. Tempatnya adem, di kelilingi pohon-pohn rindang yang besar. Lagi-lagi, nostalgia.

Bermain di Bumi Perkemahan Senjoyo

Itu spot-spot favoritku, ya, Re. Ada lagi spot di Sendang Senjoyo, airnya sangat jernih, paling jernih diantara kali-kali yang lain, tetapi aku tidak begitu menyukai untuk menjadi tempat ngadem. Mau tahu apa dan kenapa?

Kali Lanang

Hahahaha, kaubisa menebak kenapa, kan, Re? Iya, di Kali Lanang airnya paling jernih diantara air di kali-kali yang lain. Paling dalam juga, sangat cocok untuk berenang. Di kali ini, sesuai namanya, hanya laki-laki yang berhak mandi disini. Hihihihi. Makanya, ini jelas bukan tempat favoritku. Aku pernah kesini saat adik-adik ngotot ingin mandi di Kali Lanang. Sekedar menjadi penonton dan langsung menyingkir ketika ada laki-laki dewasa. Bhuahahahaha.

Kali Lanag, photo Credit: Pak Bambang Setyawan, Kompasiana

Maaf, ya, Re. Aku mengambil foto pak Bambang Setyawan, dedengkot Kompasiana dari Salatiga itu, untuk menunjukkan keberadaan Kali Lanang kepadamu karena aku tidak berani kesini untuk sekdar foto-foto. Hihihi.

Mitos yang Melingkupi Sendang Senjoyo

Cukup banyak mitos yang melingkupi Sendang Senjoyo. Diantaranya adalah kisah mas Karebet atau Jaka Tingkir yang erat kaitanya dengan Kerajaan Islam Demak. Konon, di Sendang Senjoyo merupakan tempat mas Karebet untuk melakukan laku kungkum.

Suatu waktu, saat Mas Karebet kungkum, mata air yang mancur terlalu deras. Mas Karebet lantas memotong rambutnya yang gondrong untuk menyumbat mata air agar lajunya tidak terlalu deras. Sampai sekarang, masyarakat setempat meyakini jika laju mata air yang stabil disebabkan karena sumbatan rambut Mas Karebet.

Kuatnya mitos di Sendang Senjoyo ini didukung dengan larangan melamun dan berkata-kata kotor karena dikhawatirkan bakal ‘kesambet‘. Kaujaga diri ya, Re. Patuhi peraturan setempat. Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, kan?

Cara Mudah Menuju Sendang Senjoyo

Terhitung mudah untuk ke Sendang Senjoyo, Re. Lagi-lagi, jika ingin ngirit dan praktis, kusarankan kaumemakai kendaraan pribadi. Dari arah Salatiga, kaucari plang SMK Telekomunikasi Tunas Harapan di kiri jalan. Ketika sudah ketemu, belok kiri ke gang tersebut. Ikuti saja jalannya hingga kaubertemu gerbang berwarna orange. Hati-hati, ya, Re, pelan-pelan saja. Jalan menuju ke Sendang Senjoyo memang cenderung landai, kaubaru menjumpai tanjakan ketika sudah sampai di lokasi, tetapi tikungan-tikungannya sangat tajam.

Jika kaubingung, ikuti saja Google Map yang kusematkan ini, Re.

Jika kauingin jalan-jalan ala backpaker dengan naik angkutan umum, kaubisa mencoba alternatif ini:

  1. Dari arah Solo atau Semarang naik bus Solo-Semarang
  2. Salatiga naiklah angkutan kota nomor 6.

Turun di jalan Senjoyo. Berjalanlah terus ke arah timur. Capek? Sekali-kali rasakan jejak yang kutempuh dulu, Re. Hahahaha, bercanda, kaubisa naik ojek, kok. Banyak abang-abang ojek mangkal di Jalan Senjoyo.

Sudah, ya, Re. Suratku-seperti biasanya- sangat panjang. Jika kauingin ke Senjoyo, kirim pesan pribadi ke aku, ya. Kali kita bisa bermain air bareng si K, si K suka banget main air di sungai dangkal itu.

Sebelum kusudahi,aku meringkaskan tips agar bisa menikmati keindahan Sendang Senjoyo untukmu, Re. Catat baik-baik agar kautidak menyesal.

Tips Menikmati Sendang Senjoyo

See you soon, Re.

 

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Lomba Blog Pesona Kabupaten Semarang

Pencarian Terkait:

  • sendang senjoyo salatiga
  • bokek barat
  • bokek kerajaan
  • outbond senjoyo
  • bokek sawa
  • Bokek di sawah
  • foto bokek barat
  • https://widiutami com/bokek-re-ke-sendang-senjoyo-yuk html
  • jalan menuju ke sendang senjoyo dari arah Semarang
  • kisah2 nostalgia yg pernah tinggal di salatiga
Kujawab Bullying dengan Blogging

Kujawab Bullying dengan Blogging

Nggak dengar? Dasar kuping bocor!

-Sesebapak-

Rasa-rasanya, bullying akrab dalam kehidupanku. Diantara berbagai macam bullying, bullying verbal sangat mendominasi. Jika bullying fisik rerata bisa disembuhkan dengan medis, bullying verbal membutuhkan waktu yang tidak cepat untuk menyembuhkan diri.
Perjalanan Mencari Cara Balas Dendam

Setiap kali ada yang membuatku patah hati. Eh, maksudku, down karena perkataan yang menyakitkan tentang kelambatanku menerima informasi suara, spontan terbayang bagaimana cara membalas perkataan mereka, membuat mereka kapok karena pernah menjadikan ketidak dengaranku sebagai objek bullying.

Aku berulang kali ‘dikerjain’, mereka sengaja memanggil-manggil namaku, hanya untuk sekedar mencari bahan tertawaan.

Sembari menahan perih, otakku menari-nari, bagaimana cara membuat orang-orang itu kapok dan tidak mengulangi keisengan yang menyakitkan ini? Setidaknya, jangan sampai keisengan ini berulang-ulang ke anak keturunanya, its so sick!

Mendoakan Ia/ Anak Keturunannya Mengalami Hal yang Sama

Hahahaha, please, jangan kautertawakan. Otak masa kecilku, entah kenapa, tersetting otomatis untuk mendoakan semacam begitu mereka menyakitiku. Jangan tanya bagaimana kesungguhannya, aku berdoa sepenuh hati, dengan air mata yang menetes membasahi pipi dan sajadah. So what, mereka layak menderita agar tak macam-macam lagi, pikirku.

“Widiiii, Widiiii!” panggil seseorang, aku mendengarnya setelah dia menaikkan pitch suaranya, entah berapa kali.

“Ya?” aku menoleh, menjawab dengan mata terfokus ke sesembak itu.

“Oh, nggak. Cuma manggil. Hahaha”

Lalu, satu ruangan tertawa terbahak.

Pikirku, apa yang lucu, ha?

Seiring meluasnya pergaulan dan perkembangan pola pikir, aku mulai menyadari jika ada yang salah dengan doaku. Apakah ada keuntungannya ketika orang lain menderita?

TIDAK.

Sama sekali tak ada keuntungannya bagiku ketika orang lain menderita. Justru aku didera perasaan bersalah ketika mendapati orang yang pernah kudoakan jelek itu menderita, meski dengan bentuk penderitaan yang lain.

‘Memaksa’ Diri Sendiri untuk Bisa Mendengar dan Berbicara dengan Alat Bantu Dengar

Motivasi utamaku membeli Alat Bantu Dengar hanyalah agar… aku bisa pamer kepada sesiapa yang kerap menjadikanku objek keisengan. Sepertinya keren ketika aku bisa menjawab dan berbicara lantang di depan mereka tanpa kesulitan. Sepertinya W-O-W ketika aku bisa menguping rasan-rasan dengan menyetel Alat Bantu Dengar, sehingga suara orang rasan-rasan itu terdengar sampai telinga.

Lagi-lagi aku merasa Robbuna tengah Mengajakku Bercanda. Baru seminggu aku memakai alat bantu dengar, tubuhku langsung tumbang hingga dokter menyarankan agar tidak memakai Alat Bantu Dengar jika tidak penting, telingaku sensitif terhadap suara yang masuk. Apalagi telinga adalah pusat keseimbangan tubuh.

Aku putus asa. Maksud yang Disembunyikan Robbuna apa coba? Telingaku memiliki ambang batas pendengaran yang terbilang berat, tetapi sekaligus sangat sensitif terhadap suara yang masuk.

Aku memutuskan untuk stop memakai Alat Bantu Dengar. Sebuah proses yang panjang untuk bisa menerima. Alat Bantu Dengar nggak murah, lalu kumusiumkan begitu saja. Bahkan ia kusimpan di locker terkunci, aku nggak mau melihat dia lagi. And… yes, nyinyiers always come, tanpa bertanya apapun, tanpa mencari tahu kenapa, ada sebagian orang yang men-judge aku tak mau berikhtiar dengan Alat Bantu Dengar. Beh! WTF.. Hahahaha.

Menjadi Seseorang yang Membuat Orang Lain Kagum

Membuat orang lain yang pernah meremehkan dan membully malu karena orang yang dulu diremehkan ternyata jauh lebih sukses, terdengar sangat keren, kan? Aku ingin membuat mereka merasakan hal itu. Ingin membusungkan dada di hadapan mereka, ini lho, yang dulunya kau-bully dengan semena-mena.

Aku menargetkan beberapa hal yang sekiranya membuat mereka, orang-orang yang hobi bully, malu. Satu diantaranya adalah, menjadi wanita karir dengan penampilan cemerlang. Damn it, seiring waktu justru cita-cita ini bertentangan dengan hati kecilku. Hahaha, aku stress berat ketika apa yang kutargetkan tidak sesuai dengan harapan.

Aku sadar jika aku keliru. Lagi pula, apa untungnya untukku? Iya kalau mereka berubah haluan menjadi kagum, kalau lempeng-lempeng saja? Huhuhu.

Menjadi Diri Sendiri dan Blogging sebagai Afirmasi dan Sarana Berbagi

Melewati berbagai pengalaman, aku menyadari jika selama ini mindsetku keliru. Aku memurtuskan untuk menjadi diri sendiri, dengan segala ke-deaf-anku, anehnya cara berbicaraku, lambatnya proses pemahamanku terhadap informasi suara, dan juga lirikan-lirikan keheranan dari orang-orang di sekitar.

Aku menulis apa yang kurasakan, agar orang-orang di luar sana semakin terbuka dan berhenti untuk mem-bully kawan senasib-seperjuangan.

Aku hanya memikirkan dua hal sederhana, bagaimana mensyukuri aku dengan segala yang kupunya dan berbagi melalui blogging. Aku menulis apa yang kurasakan, agar orang-orang di luar sana semakin terbuka dan berhenti untuk mem-bully kawan senasib-seperjuangan.

Meski masih harus menghadapi berbagai macam sterotype negatif terkait deaf, tetapi hati dan otakku jauh lebih ringan. Meski masih berulang kali tumbang dan harus menata hati kembali, tetapi waktu untuk meratapi diri jauh lebih berkurang.

Pencarian Terkait:

  • aku tuli patah hati
Re, Menyepilah Sejenak ke Curug Tujuh Bidadari

Re, Menyepilah Sejenak ke Curug Tujuh Bidadari

Dear, Re. Apakabar? Semoga dalam lindungan Rabbuna senantiasa. Maaf, ya. Belakangan aku tidak bisa menemanimu untuk bercerita seperti saat aku masih gadis. Kaupasti memaklumi tugasku sebagai seorang istri dari abah K dan ibu dari si K yang sedang berada di masa-masa terrible two. Aku sengaja membuat surat ini untuk mengganti percakapan-percakapan yang tergadai.

Dear, Re. Jodoh sudah ada yang Mengatur. Tugas kita hanya berikhtiar, selebihnya pasrahkan pada Rabbuna. Usah dengarkan komentar orang-orang. Mereka yang sering membuatmu sakit hati karena komentar yang sangat tidak elok, barangkali tidak tahu bagaimana cara yang indah untuk menunjukkan rasa peduli.  Daripada waktumu habis untuk mendengarkan celotehan yang membuat rasa syukurmu akan nikmat Robbuna berkurang, lebih baik kaugunakan saja untuk berpetualang mentaddaburi alam-Nya.

Percayalah, suatu saat kauakan merindukan masa-masa berpetualang tanpa beban. Ya, konsekuensi menikah tidak sebatas melepaskan status jomblo. Kauakan paham jika masa itu tiba.

Dear, Re. Aku akan menceritakan satu tempat yang keren, dimana saat kaumengunjungi tempat itu, semangatmu akan tumbuh melesat, otakmu kembali jernih. Ya, Curug Tujuh Bidadari, air terjun yang paling kurekomendasikan untukmu. Karena apa? Aku akan menjawabnya nanti. Spesial untukmu, Re.

Disambut Alam nan Cantik sejak dalam Perjalanan

Curug Tujuh Bidadari, namanya. Aku mengunjunginya bersama tiga sahabat. Kaupasti tahu siapa mereka saat melihat foto-fotoku nanti, Re. Curug yang terletak di desa Keseneng, Kecamatan Sumowono ini akan membuatmu berdecak kagum, bahkan sebelum kamu sampai ke lokasinya, Re. Aku bahkan berulangkali menyebut nama-Nya yang begitu Agung.

Dari Salatiga, kami melewati jalan tol yang saat itu belum beroperasi. Sepanjang jalan, aku menikmati gabungan keindahan Rawa Pening, hamparan sawah dan Gunung Merbabu. Kelak, jika kaukesini menggunakan mobil, kauwajib melewati jalan tol ini. Catat, rencanakan untuk melewati tol ini saat menjelang pagi atau menjelang sore. Demi apa jika bukan demi menikmati pemandangan fajar atau senja, kauakan terkagum-kagum kehabisan kata saat menikmati semburat jingga.

Mejeng Sejenak di Jalan Menuju Curug Tujuh Bidadari :p (Dokumen Pribadi)

Memasuki kawasan wisata Bandungan, kauakan disambut hamparan sawah dan ladang bunga. Dingin mulai menyapa tubuh. Jangan lupa bawa jaket, ya. Udara di kawasan wisata Bandungan ini terhitung sangat dingin. Beberapa kali aku berjumpa dengan halimun dan kabut. Mataku dimanjakan dengan hijaunya sayur dan warna-warni kembang. Percayalah, Re, aku tidak sedang di-endors saat menulis surat ini untumu.

Jalan meliuk-liuk. Lebih sering menanjak dan menikung daripada lurus seperti jalan tol. Pastikan dulu segala hal tentang kendaraanmu dalam keadaan aman, penuhi tank bahan bakar dulu. SPBU terdekat berada di dekat Gapura Kawasan Wisata Gedong Songo. Jika menyetir, matamu harus awas karena beberapa kali aku menjumpai pengendara yang menyetir sakpenak udele dewe.

Entah di tikungan keberapa setelah gerbang selamat datang di Kawasan Wisata Bandungan, ada plang penunjuk arah ke kawasan wista Curug Tujuh Bidadari. Jalan menuju Curug Tujuh Bidadari sangat halus, mobil bisa melewati jalan ini, tetapi harus bergantian jika ada yang bersisian dari lawan arah.

Sayang, papan penunjuk arahnya belum lengkap. Ada beberapa ruas simpangan yang tidak ada penunjuk arah. Tidak apa, kaubisa menggunakan Google Map, Re. Jaman digital begini, kauharus pandai-pandai memanfaatkan telepon pintarmu. Jangan manja. Hahaha, eh, tetapi aku berbaik hati menunjukkan lokasi Curug Tujuh Bidadari di sini. Kautinggal simpan offline di telepon pintarmu. Simpan offline, ya, untuk jaga-jaga jika kehilangan sinyal. Sinyal beberapa operator mendlap-mendlep enggak karuan di Kawasan Wisata Bandungan.

Disimi belum terjangkau oleh angkutan umum. Bisa, sih, kalau mau naik angkudes dari pasar Ambarawa jurusan Bandungan, turun di gang masuk ke Curug Tujuh Bidadari, lalu ngojek. Tetapi ini tidak recomended, sebab tukang ojeknya kadang ada, kadang tidak. Semoga suatu saat nanti ada angkutan umum yang menjangkau kawasan wisata.

Curug Tujuh Bidadari, Air Terjun yang Bersahabat

Dari sekian air terjun yang pernah kukunjungi, Curug Tujuh Bidadari adalah air terjun yang lokasinya paling bersahabat. Jarak air terjun paling-paling hanya 300 meter dari parkiran, dengan jalan yang landai. Serius, kita tidak perlu bersusah payah mendaki untuk sampai ke air terjun, most recomended jika kamu berwisata dengan rombongan lansia.

Dari segi karcis pun kantongable, Re. Kauhanya perlu membayar tiket Rp.3.000,00, iya, tiga ribu rupiah perorang plus parkir. Aku dulu dikenakan tarif Rp. 1.000,00 per motor, kurang tahu jika mobil, paling tidak sampai membuat kantongmu terkuras.

Curug Tujuh Bidadari, Pesona Air Terjun Kabupaten Semarang yang tidak Tergantikan

Paling kaumembatin, Widut ngegombal, kan, Re? Hahaha, lah, setiap tempat mempunyai kesan tersendiri. Enggak ada satu pun yang menggantikan. Pun Curug Tujuh Bidadari dengan air terjun dan pesona alamnya. Dingin dan gemericik air terjun masih bisa kurasakan sampai sekarang setiap kali memandang foto-fotonya.

Boleh jadi aku tidak punya mantan yang berkesan, tetapi aku punya Curug Tujuh Bidadari yang tidak tergantikan.

Hahahaha. Tertawalah sepuasnya, Re. Asal kaubahagia, aku rela. 😀

Legenda yang Memayungi Curug Tujuh Bidadari

Pertama mendengar namanya, aku langsung teringat dengan Legenda Jaka Tarub. Dulu, Bapak sering bercerita tentang Jaka Tarub ini, sampai-sampai aku penasaran dimana lokasi air terjunnya. Ternyata, masyarakat di sekitar desa Keseneng meyakini jika Curug Tujuh Bidadari merupakan tempat dimana Jaka Tarub mengintip tujuh bidadari dan menyembunyikan selendang salah satu diantara mereka.

Konon, sebelum ada tujuh bidadari, Curug ini bernama Curug Bali. Setelah Jaka Tarub mengintip tujuh bidadari yang sedang mandi, Curug tersebut berubah menjadi Curug Tujuh Bidadari. Bidadari yang selendangnya disembunyikan oleh Jaka Tarub tidak bisa kembali lagi ke khayangan, Nawangwulan, namanya.

Hamparan Sawah dan Sungai di Sekitar Curug Tujuh Bidadari

Turun dari parkiran, mataku dimanjakan oleh hamparan sawah dan sungai. Kata apa yang berulangkali kuucapkan selain menyebut nama-Nya, Re. Langit biru dan udara yang dingin semakin membuatku larut dalam perenungan.

Mejeng di Jembatan Menuju Curug Tujuh Bidadari (Dokumen Pribadi)

Keren, kan, Re? Abaikan jilbabku yang enggak karuan itu, aku kadung bahagia dengan hamparan ciptaan-Nya dan enggak sempat dandan saat dijepret.

Curug Tujuh Bidadari, Air Terjun Tiga Tingkat yang Segar

Sampai di lokasi, hatiku tak henti berdecak kagum. Subhanallah… Terlihat air terjun tiga tingkat dengan kolam di bawahnya. Ada tali pegangan yang membantu pengunjung agar tidak terpeleset. Nah, kan, Re, kautidak butuh pacar hanya untuk pegangan, ada tali disini. Enggak usah galau.

Tali Menuju Lokasi Curug (Dokumen Pribadi)

Sebelum berjalan ke air terjunnya, aku memilih untuk menghabiskan waktu sejenak untuk berbincang di bebatuan bersama sahabat sembari bermain kecipak-kecipak air yang bening. Melihat air bening seperti itu, siapa yang tidak tergoda untuk bermesraan dengannya sih, Re?

Sungai dekat Curug ini sangat dangkal. Kita bisa bermain disini bersama anak-anak kecil. Berbasah-basah ria, atau sekedar duduk-duduk di bebatuan. Aku menyempatkan diri untuk wudhu. Kala air itu kusapukan ke wajah, Subhanallah, Re, segaaarrrr banget!

Bebatuan di Curug Tujuh Bidadari Asik buat Ngobrol (Dokumen Pribadi)

Sampai di Curug, aku melihat ada tulisan kedalaman kolam 10 m. Dalam, ya? Jalannya pun terlihat menanjak dan licin, tetapi bukan Widut namanya, Re, kalau tidak penasaran. Pantang menyerah sebelum mengerahkan segala usaha, aku ingin berwudhu langsung di kucuran air terjun itu, Re. Allah Mengabulkan doaku, enggak cuma wudhu di air terjun, aku bisa sampai ke bebatuan di atas air terjun dengan bantuan tali pegangan. Siapa bilang hanya tangan pacar yang bisa menuntun? Hahaha.

Oh, iya, aku lupa, Re. Kaujangan lupa membawa sandal jepit. Sandal sejuta umat yang sangat nyaman dipakai di medan licin seperti ini. Kalau memakai sepatu, lebih baik dilepas saja. Nyeker lebih aman. Pun, patuhi instruksi penjaga. Jika dilarang, jangan nekat. Saat itu aku diijinkan oleh penjaga untuk naik ke atas karena debit air terhitung aman.

Menimati Kucuran Air di Curug Tujuh Bidadari (Dokumen Pribadi)

Jika diperhatikan benar-benar, Re. Air terjun ini terdiri dari tiga tingkat, dengan jumlah kucuran sebanyak tujuh buah. Aku lebih percaya penamaan Curug Tujuh Bidadari berdasarkan jumlah kucuran ini. Hahaha, pengunjung cerewet, ya. :p

Pemandangan Curug Tujuh Bidadari Secara Keseluruhan (Dokumen Pribadi)

Keindahan belum Usai saat Beranjak Pulang

Hari sudah mulai sore, kami berniat untuk sholat di mushola. Ya, fasilitas disini sangat lengkap, Re. Mushola, Kamar Mandi, serta tempat makan yang kantongable. Saat itu kami makan dulu sebelum sholat. Dari sekian menu, aku memilih untuk makan gendar pecel di warung berdinding bambu berantap rumbia, eh, atapnya terbuat dari serabut-serabut, enggak tahu serabut apa. Hehehe.

Saat membayar, kami terkejut bukan main. Biasanya, harga di tempat wisata tergolong mahal, di Curug Tujuh Bidadari, Gendar Pecel semangkuk penuh hanya dipatok Rp. 5.000,00. Duh, syurga banget buat cuci mata saat kantong tepos, Re. Maaf, aku tidak sempat mendokumentasikan makanannya, keburu lapar, Re. Mana sempat foto.

Sembari mencari mushola, kami berjalan beriringan melewati jembatan dan lorong bambu. Hahaha, apa ya istilah yang tepat untuk jembatan berbentuk rumah bambu ini, Re?

Lorog dan Jembatan di Curug 7 Bidadari nan Instagramable (Dokumen Pribadi)

Disini, seperti kebiasaanku dulu, aku tetap memasukkan sampah ke plastik dan kumasukkan di kantong tas. Sayang banget jika pemandangan seindah ini harus rusak oleh sampah berserakan. Disini bersih banget, Re. Kamar mandi, musholanya, semuanya, bersih dan terawat. Bahkan mukena yang berada di dalam pun harum. Kau jangan sekali-kali merusaknya dengan sampah atau coretan.

Kausiap berpetualang kemari, Re? Ehm, kaucatat petuah-petuahku, enggak? Hahaha, pasti lupa, ya. Kuringkaskan untukmu, Re. Agar kau tidak lupa apa yang harus kaulakukan jika akan ke Curug Tujuh Bidadari.

Tips Emak K

Kemana setelah ini?

Kemana setelah ini? Banyak sekali, Re. Tidak cukup waktu 24 jam untuk menjelajah Pesona Kabupaten Semarang di area Bandungan ini. Iya, cuma di area Bandungan saja kaubutuh waktu berhari-hari untuk menjelajahnya. Apalagi Kabupaten Semarang secara keseluruhan. Selain butuh waktu panjang, juga butuh stamina yang kuat karena rata-rata harus mendaki menaiki bukit menuruni lembah. Eh, jadi ingat kartun jadul Ninja Hatori.

Aku sengaca nyicil, Re. Sebab aku tidak sanggup menyelesaikan penjelajahan dengan marathon, bisa remuk tulang-tulangku. Tetapi, jika kauingin menjelajah lagi, aku bisa memberimu beberapa rekomendasi tempat. Tenang, di kawasan Bandungan ini banyak tersedia hotel, dari kelas melati hingga kelas anggrek, eh, hotel berbintang, maksudku. Tinggal kaupilih saja sesuai dengan alokasi kantong.

Candi Gedongsongo

Lokasinya tidak jauh dari Curug Tujuh Bidadari, ada gapura selamat datang yang besar. Jalan menuju ke Candi Gedongsongo sangat menanjak, jauh lebih menanjak daripada jalan yang kita tempuh menuju Curug Tujuh Bidadari. Jadi, pastikan dulu segalanya oke, ya.

Untuk melihat candi-candi Gedong Songo, kita harus mendaki bukit. Jika malas mendaki bisa menyewa kuda. Nanti dituntun oleh pawangnya, kok, jadi jangan khawatir kudanya ngamuk. Hehehe

Grojogan Klenting Kuning

Air terjun satu ini, meskipun lokasinya tidak jauh dari Curug Tujuh Bidadari, tetapi memiliki karakteristik yang unik. Grojogan Kemuning memiliki tanah yang cenderung merah-kekuningan, sehingga air terjunnya terkesan kuning.

Wisata Kampung Krisan Bandungan

Wisata ini masih berada di kawasan Candi Gedong Songo, Re. Masih menjadi wishlist-ku. Aku belum keturutan untuk memanjakan mata kesini. Beberapa kali iri melihat foto teman-teman bertebaran. Oh, betapa senangnya berada di tengah-tengah bunga krisan yang sedang bermekaran.

Pasar Bandungan

Di pasar Bandungan ngapain? Beli oleh-oleh, Re. Kalo aku, sih, biasanya beli bunga dan buah-buahan yang lagi musim. Daripada beli di pinggir jalan, beli di pasar Bandungan harganya jauh lebih bersahabat. Belilah sayur dan buah-buahan sekuat yang kaubawa, segar sayurnya, fresh!

Jika kaumenginginkan oleh-oleh makanan matang, kaubisa memilih Tahu Bakso Ungaran, Tahu Serasi, atau makanan lain yang tersedia di deretan pasar Bandungan.

Beberapa Wisata Bandungan (Candi Gedongsongo & Grojogan Klenthing Kuning: Dokumen Pribadi, Kampung Krisan: Dokumen Oky Wulan Maulina)XZX

Re, suratku kali ini terlalu panjang. Masih banyak tempat wisata di kawasan ini yang semakin membuatmu jatuh hati dengan Pesona Kabupaten Semarang. Kapan-kapan aku sambung lagi, ya, Re. Semoga suatu saat kita bisa menikmati Pesona Kabupaten Semarang bersama-sama.

Selamat beraktivitas, Re. Rabbuna Melindungimu, selalu.

 

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Lomba Blog Pesona Kabupaten Semarang

Pencarian Terkait:

  • cara mandi tujuh bidadari
  • gambar kartun bidadari dan bunga
  • niat mandi tujuh bidadari
  • tempat jaga tarub Satu bandungan
Berhenti Merasa Bersalah, Ibu juga Manusia Biasa

Berhenti Merasa Bersalah, Ibu juga Manusia Biasa

Begitu beratnya tugas seorang Ibu, hingga apa-apa yang terjadi pada anak, Ibu pula yang menjadi tersangka utama.

Iya, kan? Rerata telunjuk orang mengarah ke Ibu jika ada sesuatu yang terjadi pada anak. Dari Ibu yang teledor, lah. Ibu yang tidak becus mengurus anak, lah. Ibu yang kebanyakan main game, lah. Ibu yang… Hih, seolah-olah seorang Ibu tidak boleh meleng sedikit pun.

Tahukah mereka? Tahukah kamu? Komentar-komentar tidak elok itu semakin menambah beban berat seorang Ibu, hari-harinya akan terasa berat dengan memikul rasa bersalah. Semakin banyak yang berkomentar, semakin keras seorang Ibu merutuki dirinya sendiri.

Tempo hari, seorang sahabat menangis semalaman. Orang-orang menyalahkannya karena putra kesayangannya belum bisa berbicara di usia yang menjelang tiga tahun. Speech delay memang harus segera ditangani, tetapi menyerang ibu sebagai biang keladi penyebab anak speech delay sungguh bukan tindakan yang beradab.

Banyak faktor yang bisa menyebabkan anak speech delay atau masalah perkembangan lainnya. Ibu memang memegang peranan penting sebagai madrasah pertama anak. TETAPI BERHASIL TIDAKNYA TUGAS PERKEMBANGAN ANAK TIDAK BERADA DI PUNDAK IBU, INI HAK PREROGRATIF TUHAN. Ibu hanya bisa berusaha semaksimal yang ia bisa. Hih, capslock-ku sampai jebol saking gregetannya. Pun, TUGAS MENDIDIK ANAK BUKAN HANYA TUGAS IBU, BAPAK JUGA PUNYA TANGGUNG JAWAB YANG SAMA.

Dear Ibu, Kita Boleh Salah, Kok

Berhenti merasa bersalah. Boleh-boleh saja sih merasa bersalah barang semenit lima menit, tetapi jika merasa persalah dibawa sampai seharian bahkan bertahun-tahun, pikiran semakin berat. Otak mumet dengan pertanyaan hari ini masak apa biar si keil doyan, jangan diperberat dengan perasaan bersalah.

Aku membolehkan diri salah sekali-dua kali. Memaafkan diri sendiri ketika si K jatuh dari sepeda. Emak yang teledor? Memang. Wkwkwkwk. Salah ngasih makan si K, sehingga malah batuk juga pernah. Dan aku memilih untuk take it slow, memafkan diri sendiri.

Memposisikan Diri sebagai Ibu Pembelajar

Selama ini, aku memposisikan diri sebagai Ibu pembelajar untuk mengurangi rasa bersalah. Iya, kita sedang belajar. Enggak apa-apa salah. Kadang kesalahan ada untuk tahu mana yang lebih tepat. Statemen sebagai Ibu Pembelajar ini tokcer saat aku menghadapi golongan Ibu-ibu Perfeksionis yang cenderung mengore-orek kesalahan orang lain, “Oh gitu nggih, Bu. Iya, aku sedang belajar ini. Jadi tahu jika ini salah.” Ngahahahaha

Belajar menjadi seorang Ibu dengan melahap berbagai tulisan parenting dan pengalaman orang-orang yang lebih tua kadang juga membuatku terkesan sok… er, sok apa ya? Contohnya begini, saat aku sedang belajar mengenali kenapa si K sisi individualistiknya kentara banget, aku terkesan untuk membiarkan si K pelit karena saat aku meminta ijin agar si K mau berbagi, si K menolak, ada yang berkomentar, “Mentang-mentang sarjana, yang didekep bukunya.”

Ya.. gimana atuhlah. Menjadi Ibu pembelajar di satu sisi terkesan menjadi Ibu yang sakpenake dewe, di sisi lain juga terkesan sok-sokan. Hahahaha.

Minta Dukungan Suami dan Keluarga Terdekat

It’s MOST HAVE banget, Buk-Ibuk! Jika suami dan kelarga dekat mendukung penuh, EGEPE apa kata orang-orang di luar sana, ye, kan? Hehehe, alhamdulillah, aku dikelilingi dengan orang-orang yang open minded. Saat aku meminta dukungan agar aku tetap ‘waras’ menjalani tugas-tugasku, beliau-beliau mendukung penuh.

Enggak harus muluk-muluk dengan kata romantis, kejutan tiap minggu, jalan-jalan tiap long weekend, wkwkwk. Enggak. Hanya dengan berkenan menjaga si K saat aku lelah dan butuh tidur saja sudah membuatku bahagia.

Iya, sering banget beliau-beliau menjaga si K dan aku bobok tjantik di kamar. Sering banget abah K berhenti ngoding barang satu-dua jam untuk mengajak si K bermain dan membiarkan emaknya bobok. Lah, apa kata orang-orang? Emang kupikirin, yang penting aku kembali waras saat menikmati waktu bersama si K. 😀

 

Nah, Mak-emak, bagaimana cara kalian menghentikan rasa bersalah? Share, yuk!

Have a Nice day, Mommies!

 

 

 

Pencarian Terkait:

  • apa saya boleh berheti merasa bersalah
  • berhenti merutuki diri
  • ibu merasa bersalah
  • ibu yang merasa salah

Cerpen | Kupu-kupu Kertas

Preketekketekktek Dorr kretek kretekk Dorr!

Bunyi itu berulang kali menjebol telingaku. Disambut teriakan girang orang-orang. Bocahbocah melonjak saking senangnya, seakan mendapat es krim rasa coklat kacang saja. Kampung mendadak kumuh, kertaskertas berhamburan seperti kupukupu putih yang tengah menjelajahi jalanan. Kebiasaan saat ramadhan tiba, meledakkan petasan hampir di setiap malam.

Sretttt.

Ada bekas luka yang kembali terkoyak di hatiku, tarikannya sekeras bunyi bom gadungan. Hatiku menjerit, sakit. Syuutttt. preketekketekketek!

Lagi-lagi mereka menyulut kembang api, atau apalah namanya, aku tak tahu. Itu lho, mirip kembang api, tetapi meledaknya jauh di udara. Ah, entah, yang jelas hatiku sakit sekarang. Air mataku siap tumpah. Bunyi itu memaksaku untuk mengenang kembali kesakitan yang membuatku mengobral air mata semalaman.

***

“Dik, buku dan map-mapku masih kamu bawa?” aku langsung menodong cowok jangkung itu ketika berjumpa di beranda rumahnya.

“Dibawa Mas Seto, Mbak!” ia menjawab dengan datar, tanpa ekspresi penyesalan. Aku dongkol, Seto, sepupuku itu kukenal sebagai seorang remaja yang tak punya rasa sayang dengan buku. Buku sekolahnya saja robek tak terawat, apalagi buku orang lain. Hah!

“Hah, kamu ki piye, toh! Semuanya, ya?” aku cepat-cepat melangkah ke jalanan. Hatiku dagdigdug tak karuan.

Bukuku, Robbuna. Buku yang kugadai dengan keringatku. Buku yang menjadi kepanjangan tangan-Mu untuk menyelamatkanku dari kebutaan akan ilmu.

“Dik, bukuku mbok bawa?” aku mengusik Seto yang tengah asyik mentelengin liputan sepak bola di rumahnya. “Bukunya nggak ada.” Bress.

Benar, kan? Benar, kan, dugaanku? Tapi, nggak ada kemana?

“Emang dipinjem siapa lagi?”

Tak ada jawaban. Sepupu sok cool itu masih saja mentelengin layar kaca.

“Heh, jawab, Dik!” kukeluarkan nada tujuh oktaf dari suara parauku.

Hanya kedikan bahu. Oh, Robbuna, hanya kedikan bahu!

Dik, kemana hatimu? Kemana, Dik?

Aku berjalan pulang dengan dada yang luar biasa sesak. Aku muak, sungguh. Air mataku berderai, kenapa sangat sedikit orang yang menghargai kecintaanku  pada buku?

Dorr! Dorr! Dorr!

Jantungku mendadak mengalami percepatan ketika tanah yang kupijak bergetar. Ada pesta petasan sepertinya. Aku bergegas keluar rumah. Kuusap air mataku yang menganakpinak.

“Wee, Dik Seto! Bikin ulah aja!” aku berteriak ketika melihat Seto tersenyum puas. Ya, dia yang meledakkan petasan yang membuat jantungku mengalami percepatan itu.

Serpihan kertas hijau mengusik mataku. Badanku mendadak dingin, jantungku berdetak lebih cepat lagi. Perasaanku tak karu-karuan. Ada apa dengan kertas hijau itu? Ia seperti sesosok benda yang melekat di hatiku. Aku mendekat, mengamati lekat-lekat.

Jeduar!

Kertas hijau dengan goresan tinta merah. Goresan yang sangat kukenal, tulisan yang kuukir dengan jemari panjangku. Ini ringkasan Biologiku, ya Robbana!

Mataku memanas, hatiku bergelombang hebat, tanganku gemetar, dadaku kembang kempis tak karuan. Aku dipukul palu godham kekecewaan. Robbana, inikah jawabannya?

Aku jatuh lunglai ke tanah. Tubuhku melemah tak ada tenaga. Tanganku mengumpulkan serpihan-serpihan kertas dengan gemetar. Mataku menatap serpihan itu dengan nanar. Dadaku sesak, air mataku tumpah sudah. Kutemukan banyak ukiran jemariku di sana. Serpihan-serpihan reproduksi, peribahasa, aljabar, bilangan bulat. . Aaah, ini benda yang kuingini untuk kembali.

“ALLAH. .” mulutku menceracau asma-Nya. Ada secercah harapan di hati, mungkin ada yang bisa diselamatkan diantara benda keramat itu, benda yang kugunakan sebagai ajimat saat UN SMP.

“Dik, Buku-bukuku kamu buat petasan, ya? Ada yang sisa?” suara parauku keluar saat aku menghampiri Seto yang memegang korek, ia tengah bersiap untuk meledakkan petasan untuk yang kesekian kali.

Kedikan bahu, lagi.

“Dik, jawab!” kutarik kaos yang melekat di badan Seto, dadaku sesak. Aku muak dengan orang ini!

“Tuh!” matanya menuju ke sebuah kotak coklat. Aku melongok, mendekati kotak itu dengan hati penuh harapan.

“Pe-ta-san.” kutahan nafasku kuat-kuat. Jantungku berdebar keras. Air mataku tumpah tanpa dikomando.

Kotak coklat dengan gambar aladin tersenyum membuat hatiku tersayat-sayat. Jejeran benda berbentuk silinder yang ada di dalam kotak itu sukses merajam tubuhku. Ya, benda itu adalah petasan yang terbuat dari buku-buku dan bendelbendelku.

Be butterfly, girl!

Aku terpaku pada ukiran jemariku di petasan berwarna kuning. Tulisan itu, kutulis di bawah ringkasan saat aku berhasil menamatkan ringkasan matematika, lengkap dengan tanda tanganku.

“Jadi, setelah lulus, kamu ledakkan semua ini, Dik?” aku mendesah. Ingin rasanya kutempeleng mukanya yang tak pedulian itu. Ingin kuajak dia menjelajah masa lalu, saat-saat aku menggadaikan kesenanganku hanya untuk meringkas materi.

Dorr jeduaarr dorr!

Orangorang kembali berteriak girang. Semakin banyak kupu-kupu kertas menjelajah dan akhirnya lunglai rebah ke tanah saat angin tak lagi membawanya terbang. Aku tak mampu lagi menahan air mata. Entah, berapa kali aku mengucurkan air mata lalu kuusap kembali dengan kasar.

***

Sebuah pesan membuyarkan lamunanku, dari Kak Aqil, kakak kandungku yang tengah berada di pondok Tahfidzul Qur’an.

Aku menahan nafas, sesak jika harus mengingat ini.

Aku mendesah. Memang, aku tak lagi berlinangan air mata. Tetapi, jika melihat kupu-kupu kertas itu terkapar di jalanan, aku kembali kesakitan.

Tdk, tp blum bs brdmai dg hati.

Aku mengirim balasan, selang beberapa menit dating pesan dari Kak Aqil.

Kak bingung wkt it, smpe kak rela sms adek sembari ngapal qur’an!

Aku nyengir, saat itu Kak Aqil yang berusaha menenangkanku. Memaksaku untuk mengambil pena dan kertas, memulai kembali langkah dari nol. Jawaban yang membuatku gemas bukan main. Aku sampai sangsi akan kecintaan Kak Aqil pada lembaran ilmu.

Bagaimana tidak? Kak Aqil adalah kakak kandungku, ia tengah di rumah saat aku berkecimpung pada buku-buku. Bahkan, dialah yang mengingatkanku untuk makan saat aku hanyut dalam lautan buku-buku. Singkatnya, Kak Aqil tahu perjuanganku untuk menulis ringkasan itu.

Hehe. Alafwu, Kak. Kak tau ndri, ade gadai keringat buat nulis2 ckran ayam it.

***

“Dik, makan!” suara yang berwibawa mengusik keasyikanku.

“Nantilah, Kak. Belum selesai!” aku terus menulis, sesekali menghirup nafas panjang saat mendapati materi yang belum mampu kucerna.

“ALLAH, ini ruang tamu apa gudang buku!” Kak Aqil berdiri dengan tangan kiri di pinggang, tangan kanannya menggaruk kepalanya yang berambut cepak.

“Ruang tamu untuk buku-buku, Kak! Bukunya lagi bertamu. Hihih.” aku tertawa cekikikan.

Dasarnya baru tiba dari pondok tadi pagi, Kak Aqil terlihat konyol dengan ruang tamu yang disulap jadi gudang buku. Buku-buku dari tingkat tujuh sampai sembilan kuborong ke ruang tamu semua. Aku bosan menulis di kamar.

“Banyak amat, tugas apa iseng nih?” Kak Aqil mendekat, duduk di kursi samping. Aku lesehan di lantai menghadap meja dan seabrek buku.

“Itu yang matematika tugas. Hukuman buat yang tidak ikut ke Bali.” aku menunjuk ke sebuah buku bersampul merah yang telah kuberi daftar isi. “Yang ini, iseng. Biar lain kali nggak ngrasain baca buku seabrek gini. Tinggal baca ringkasan, beres!”

“Hehe, tapi makan dulu!” Kak Aqil menonjok halus kepalaku, aku terhuyung ke kiri.”Kata Umi, adik belum makan dari tadi pagi! Maagmu, Diik!”

“Uaah, tinggal dikit ni bab reproduksinya! Bentar lg dzuhur, trus tidur!”

“Lha makannya? Punya adik kok kelewat rajin gini. Teman-temannya asyik wisata, ni anak asyik sama buku sampe lupa makan!”

“Baru sehari di rumah crewetnya amit-amit, woi. Untung kakak mondok, jika tidak, habislah daku kau bantai! Haha.”

Kami tertawa cekikikan, aku menghentikan kegiatan sejenak. Melintas dalam otakku, sedang apakah gerangan teman-teman di Bali? Bermain-main dengan ombak di Pantai Kuta, memilah-milih kaos di Jangkrik atau Joger, menikmati koleksi flora di Bothanic Eka Karya Garden, ataukah tengah menikmati pemandangan di sepanjang jalan?

“Lho, koleksimu nggak nambah, Dik?” suara Kak Aqil mengusik telingaku, matanya tertuju pada rak buku di pojok rumah.

“Nggak, uang tabunganku buat beli pen segini sama hvs satu rim!” ujarku sembari memamerkan pencil tic satu pak.

***

Kak tau, tapi apa selesai jk hny menangis?

Pesan Kak Aqil kembali membuyarkan lamunanku. Aku terdiam, kata-kata yang pernah disampaikan Kak Aqil dua tahun silam. Kak, tak semudah itu melepas bukuku.

Adik, biarlah buku hilang, tapi tlg, smangatmu jngn hilang!

Aku mendesah. Ini hampir maghrib, harusnya Kak Aqil menyiapkan ta’jil di masjid pondok.

InsyaALLAH, doakan. Kakak siap-siap buka. Adk sendiri d rmh, Umi Abah k rmh Mbah.

Jeduar. Dorr. Dorr. Syuttt. Preketekketekk!

Aku keluar kamar hendak menutup pintu. Kupu-kupu kertas kembali berhamburan di jalanan, ilmu-ilmu yang ada di dalamnya seakan meronta kepadaku. Entah sampai kapan hati ini membuka luka kembali saat kupu-kupu kertas berhamburan menunggu rebah ke tanah. Sampai tak ada petasan di muka bumi ini. Mungkin.

 

Pencarian Terkait:

  • cerpen kupu-kupu hijau
  • cerpen tentang kupu-kupu
  • contoh resume novel kupu-kupu kertas
  • kupu kupu dari buku tulis biasa di tengah tengah tanpa do sobek