Me and Hubby, Travelling

Bokek, Re? ke Sendang Senjoyo, yuk!

Re, kausudah tidak galau lagi, kan? Sudah ke Curug Tujuh Bidadari, belum? Atau kaumenunggu gajian untuk bertandang kesana karena begitu banyak yang ingin kaukunjungi di Kawasan Wisata Bandungan?

Tetapi, Re. Refreshing tidak harus menunggu kantong tebal. Kaubisa menyegarkan pikiran meskipun kantong nyaris kering. Akan kuceritakan sebuah kisah, mungkin kauakan terinspirasi.

Refreshing bukan perkara seberapa banyak kaumenghabiskan uang, seberapa nge-hits tempat wisata yang kaukunjungi, tetapi seberapa banyak rasa syukur yang kauhirup atas ciptaan Robbuna yang terhampar di sekelilingmu. Maka, jika kaubisa mensyukuri keberadaan langit, memandang langit senja pun sudah membuat pikiranmu segar.

Waktu itu, adik-adik mengajak outbond. Kejenuhan mereka dengan aktivitas sekolah sudah berada di level parah. Aku belum juga mengabulkan permintaan mereka karena kami belum memiliki persiapan yang matang, baik dari segi dana maupun tenaga.

Berulangkali mereka merayu, akhirnya aku luluh dan berjanji akan mengadakan outbond minggu depan. Bah, entah apa yang ada di otakku saat itu, menargetkan persiapan outbond untuk 20 orang adik-adik usia TK-SMP dalam waktu seminggu sungguh sangat mendadak. Aku meminta tolong sahabat-sahabatku untuk membantu persiapan dan pelaksanaan outbond ini.

Kami bertemu untuk membahas apa-apa saja yang perlu disiapkan. Hal pertama yang kami pikirkan adalah tempat outbond dengan beberapa kriteria:

  1. Relatif dekat dengan rumah.
  2. Tidak membutuhkan perijinan yang sulit.
  3. Ekonomis, dana kami sangat terbatas.
  4. Ada sawah, sungai dangkal dengan air yang jernih, tanah lapang berumput dan medan menantang namun kids friendly dalam satu tempat untuk mendukung pelaksanaan outbond.
Hmm, dimana, ya?

Hahahaha. Banyak syaratnya ya, Re? Saat itu aku langsung teringat dengan Sendang Senjoyo, tempat favorit ngadem sepanjang masa. Sendang Senjoyo memiliki keunggulan yang membuatnya selalu di hati. Kaumau tahu tentang Sendang Senjoyo ini, Re? Aku yakin kau akan jatuh hati setelah kuceritakan nanti.

Sendang Senjoyo nan Hijau

Eh, Re, maafkan, ya. Foto-fotonya foto narsis. Hahaha, aku sering khilaf untuk mengambil gambar saat tidak ada kegiatan. Itu adalah foto saat outbond bareng adik-adik. Plastik-plastik itu bukan sampah, tetapi keperluan adik-adik. Meskipun begitu, kautetap bisa menangkap keindahan Sendang Senjoyo dari foto itu kan, Re?

Sendang Senjoyo, Sumber Mata Air Utama bagi Masyarakat Salatiga dengan Pohon-pohon Besar nan Rindang

Sendang Senjoyo, sebuah sumber mata air yang terletak di Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang ini merupakan sumber mata air utama bagi kebutuhan air masyarakat kota Salatiga dan sekitarnya yang dikelola oleh PDAM.

Saking dekatnya Senjoyo dengan kota Salatiga, tidak sedikit yang salah paham jika Sendang Senjoyo ini terletak di Salatiga. Padahal, Sendang Senjoyo terletak di wilayah teritorial Desa Tegalwaton, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. Bahkan, Re, saat aku mencari alamat Sendang Senjoyo di mesin pencari, di laman paling atas terang-terangan tertulis alamat Tingkir, Salatiga.

Hahaha, sudah cukup soal perdebatan dimana letak Sendang Senjoyo, ya Re.Aku sengaja memberi tahu tentang kebenaran letak Sendang Senjoyo ini untuk meyakinkan jika Sendang Senjoyo adalah salah satu Pesona Kabupaten Semarang yang tersembunyi. Aku akan mengajakmu ‘jalan-jalan’ virtual ke Sendang Senjoyo sebelum kaukesini sendiri kelak.

Saat memasuki Gerbang Sendang Senjoyo, kauakan disambut dengan pohon-pohon besar nan rindang. Kutaksir, pohon-pohon ini sudah berusia ratusan tahun. Akar-akar gantung menjuntai ke bawah. Kadangkala, kutangkap kesan angker karena pengaruh keyakinan yang beredar, bahwa pada pohon-pohon tersebut mempunyai penghuni.

Salah Satu pohon Besar di Sendang Senjoyo

Mitos yang melingkupi pohon-pohon besar ini menjadi ‘penjaga’ dari penebangan pohon yang semena-mena. Ya, Re, pohon-pohon besar di Sendang Senjoyo sangat terjaga. Mungkin ini yang menjadi rahasia, kenapa air di Sendang Senjoyo tetap mengalir deras meskipun musim kemarau panjang.

Ada tujuh sumber mata air Sendang Senjoyo, Re. Masing-masing memiliki nama sendiri. Sendang Slamet, Sendang Bandung, Sendang Teguh, Sendang Lanang, Sendang Putri, Tuk Sewu, dan Umbul Senjoyo. Aku tidak tahu persis dimana mata air ini berada, tetapi, sepanjang mata memandang, disitu bertebaran air nan jernih.

Sahabat Rakyat, Mandi-Cuci-Renang tanpa Menguras Kantong

Kautahu, Re? Kemana aku kecil dulu berwisata ketika suntuk melanda? Iya, di Sendang Senjoyo, Re. The one and only tempat wisata yang sangat terjangkau bagi kami, anak-anak kampung dengan uang saku terbatas. Saat itu, aku dan teman-teman ke Sendang Senjoyo dengan jalan kaki dan membawa uang seribu perak untuk sekedar membeli bakwan jembak.

Kami harus jalan kaki sekitar 2 km, Re. Biasanya kami berangkat setelah shubuh, sampai di Sendang Senjoyo saat matahari terbit. Dengan mengabaikan rasa dingin yang menusuk tulang, kami menceburkan diri di sungai. Bermain kecipak-kecipuk air sampai kulit keriput dan bibir membiru.

Nyaris setiap hari di Sendang Senjoyo ada orang yang mencuci, Re. Entah mencuci baju, karpet, selimut. Dua minggu jelang Ramadhan, orang datang berbondong-bondong untuk mencuci karpet mushola/ masjid. Seru, Re. Aku dulu selalu ikut ketika mencuci karpet mushola, tinggal cemplungkan karpet ke kolam atau sungai yang dangkal di Sendang Senjoyo, sikat-sikat dengan sabun, nanti akan terbilas air dengan sendirinya.

Tidak heran jika Sendang Senjoyo menjadi jujugan favorit untuk keperluan mandi, renang dan cuci karena kita tidak perlu menyiapkan banyak uang untuk menikmati fasilitasnya. Cukup bawa badan saja jika kita datang dengan jalan kaki, tidak ada tiket masuk disini. Jika membawa kendaraan, cukup membayar bea parkir.

Tetap Hijau Meski Kemarau

Dengan keberadaan pohon-pohon besar di Sendang Senjoyo, Sendang Senjoyo tetap hijau meskipun kemarau. Bahkan, Re, saat kemarau panjang, Sendang Senjoyo menjadi dewa penolong bagi masyarakat yang kesulitan air. Ramai sekali saat musim kemarau, Re, apalagi saat weekend tiba. Ada yang datang untuk mencuci baju, karpet, bahkan motor dan mobil. Ada pula yang datang untuk sekedar ngadem dari atisnya udara musim kemarau.

Spot favorit untuk Mencuci, tetap Hijau Meskipun Musim Kemarau Panjang

Spot Favorit Sendang Senjoyo

Kaumau tahu spot-spot favoritku di Sendang Senjoyo, Re? Simak baik-baik, ya. Akan kubuku rahasia, dimana tempat-tempat favoritku ngadem di Sendang Senjoyo.

Sungai Dangkal sebelah Utara

Sungai ini merupakan spot paling favorit sepanjang masa. Selain lokasinya yang enak untuk berendam, di sungai dangkal ini terdapat banyak batu besar yang bisa kita gunakan untuk duduk-duduk. Pemandangannya pun oke punya. Biasanya, aku disini berendam kaki sembari menjaga adik-adik yang kecipak-kecipuk bermain air.

Sungai Dangkal Spot Favorit yang Aman untuk Anak

Sssst, saat aku kecil dulu juga bermain air disini ding, Re. Jadi sekalian nostalgia masa kecil yang seru.Kaujangan lupa bawa baju ganti, ya.

Tanah Lapang di Pojok Barat

Tanah Lapang di Pojok Barat ini tempat ngadem paling favorit untuk ngariung bareng teman-teman. Biasanya kami membawa tikar dan menggelarnya di bawah pohon. Di tempat ini pula adik-adik melakukan permainan yang tidak membutuhkan tempat yang terlalu luas.

Pojok Selatan, Tempat Favorit untuk Ngariung.

Re, dari foto itu, kaubisa membayangkan jika kaududuk disana bareng keluarga, menikmati pemandangan di depan yang berawa-rawa sembari berbincang-bincang? Romantis. Hanya saja, kauharus hati-hati, jangan sampai penasaran untuk menceburkan diri di rawa-rawa itu. Bahaya. Aku dulu nyaris tenggelam disana. Padahal pak Guru sudah mewanti-wanti jangan melewati rawa-rawa. Dih, aku bandel ya, Re? Hahaha.

Bumi Perkemahan Senjoyo

Ah iyaaa, di Sendang Senjoyo ada bumi perkemahannya. Tepatnya di bukit sebelah selatan Sendang Senjoyo. Aku dulu sering mengikuti kegiatan disini, Re. Tempatnya adem, di kelilingi pohon-pohn rindang yang besar. Lagi-lagi, nostalgia.

Bermain di Bumi Perkemahan Senjoyo

Itu spot-spot favoritku, ya, Re. Ada lagi spot di Sendang Senjoyo, airnya sangat jernih, paling jernih diantara kali-kali yang lain, tetapi aku tidak begitu menyukai untuk menjadi tempat ngadem. Mau tahu apa dan kenapa?

Kali Lanang

Hahahaha, kaubisa menebak kenapa, kan, Re? Iya, di Kali Lanang airnya paling jernih diantara air di kali-kali yang lain. Paling dalam juga, sangat cocok untuk berenang. Di kali ini, sesuai namanya, hanya laki-laki yang berhak mandi disini. Hihihihi. Makanya, ini jelas bukan tempat favoritku. Aku pernah kesini saat adik-adik ngotot ingin mandi di Kali Lanang. Sekedar menjadi penonton dan langsung menyingkir ketika ada laki-laki dewasa. Bhuahahahaha.

Kali Lanag, photo Credit: Pak Bambang Setyawan, Kompasiana

Maaf, ya, Re. Aku mengambil foto pak Bambang Setyawan, dedengkot Kompasiana dari Salatiga itu, untuk menunjukkan keberadaan Kali Lanang kepadamu karena aku tidak berani kesini untuk sekdar foto-foto. Hihihi.

Mitos yang Melingkupi Sendang Senjoyo

Cukup banyak mitos yang melingkupi Sendang Senjoyo. Diantaranya adalah kisah mas Karebet atau Jaka Tingkir yang erat kaitanya dengan Kerajaan Islam Demak. Konon, di Sendang Senjoyo merupakan tempat mas Karebet untuk melakukan laku kungkum.

Suatu waktu, saat Mas Karebet kungkum, mata air yang mancur terlalu deras. Mas Karebet lantas memotong rambutnya yang gondrong untuk menyumbat mata air agar lajunya tidak terlalu deras. Sampai sekarang, masyarakat setempat meyakini jika laju mata air yang stabil disebabkan karena sumbatan rambut Mas Karebet.

Kuatnya mitos di Sendang Senjoyo ini didukung dengan larangan melamun dan berkata-kata kotor karena dikhawatirkan bakal ‘kesambet‘. Kaujaga diri ya, Re. Patuhi peraturan setempat. Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, kan?

Cara Mudah Menuju Sendang Senjoyo

Terhitung mudah untuk ke Sendang Senjoyo, Re. Lagi-lagi, jika ingin ngirit dan praktis, kusarankan kaumemakai kendaraan pribadi. Dari arah Salatiga, kaucari plang SMK Telekomunikasi Tunas Harapan di kiri jalan. Ketika sudah ketemu, belok kiri ke gang tersebut. Ikuti saja jalannya hingga kaubertemu gerbang berwarna orange. Hati-hati, ya, Re, pelan-pelan saja. Jalan menuju ke Sendang Senjoyo memang cenderung landai, kaubaru menjumpai tanjakan ketika sudah sampai di lokasi, tetapi tikungan-tikungannya sangat tajam.

Jika kaubingung, ikuti saja Google Map yang kusematkan ini, Re.

Jika kauingin jalan-jalan ala backpaker dengan naik angkutan umum, kaubisa mencoba alternatif ini:

  1. Dari arah Solo atau Semarang naik bus Solo-Semarang
  2. Salatiga naiklah angkutan kota nomor 6.

Turun di jalan Senjoyo. Berjalanlah terus ke arah timur. Capek? Sekali-kali rasakan jejak yang kutempuh dulu, Re. Hahahaha, bercanda, kaubisa naik ojek, kok. Banyak abang-abang ojek mangkal di Jalan Senjoyo.

Sudah, ya, Re. Suratku-seperti biasanya- sangat panjang. Jika kauingin ke Senjoyo, kirim pesan pribadi ke aku, ya. Kali kita bisa bermain air bareng si K, si K suka banget main air di sungai dangkal itu.

Sebelum kusudahi,aku meringkaskan tips agar bisa menikmati keindahan Sendang Senjoyo untukmu, Re. Catat baik-baik agar kautidak menyesal.

Tips Menikmati Sendang Senjoyo

See you soon, Re.

 

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Lomba Blog Pesona Kabupaten Semarang

Pencarian Terkait:

  • bokek kerajaan

Bagaimana komentar kalian?