Me and Hubby, Semua

Dear You, Suami/ Istri yang Rela Tinggal di Rumah Mertua

Sebagai barisan ‘numpang’ di rumah orang tua, aku sedikit-banyak baper membaca berbagai tulisan tentang tinggal di rumah sendiri setelah menikah yang rerata menjurus ke judgement. Ohhh, come on, setiap orang punya pertimbangan sendiri, Guys!

Ya, boleh-boleh saja sih share tentang pilihan masing-masing, tetapi mbok ya nggak usah menuduh nggak-nggak kepada yang beda pilihan, dong. Kek tetangga sebelah yang belum puas kalau belum menjatuhkan pasangan calon lain saja.

Katakanlah, dikau lebih senang nonton Twilight dan aku lebih suka nonton Upin-Ipin, dikau suka buah naga, daku lebih doyan ngemil alpukat. Nggak ada yang protes, toh pilihan masing-masing. Ketika menemukan alpukat yang pahit, daku sendiri yang nanggung, pun ketika dikau ketusuk duri yang nyelip di tangkai buah naga, tanggung sendiri. Boleh saja saling mengobati luka, tetapi nggak usah saling menghujat pilihan.

Begitu pun dengan pasangan yang memutuskan untuk tinggal di rumah orang tua, ini tidak seseram artikel-artikel yang beredar. Ye, kan, mertua lu baik banget, Dut! Alhamdulillah, memang ada pahit-getirnya, tetapi kan ada manis-manisnya.

Lagipula, setiap keluarga memiliki air matanya sendiri.

Iya, ada yang suaminya sholih lahir bathin, ekonomi mantab, hubungan dengan mertua sangat harmonis, tetapi diuji dengan kehadiran anak. Ada yang anak mungil lucu-lucu, suami sholih pengertian, ekonomi mantab, hubungan dengan mertua dan orang tua sangat harmonis, diuji dengan tetangga yang usil. Dan ujian masing-masing, unik.

Sesekali Crash dengan Mertua/ Orang Tua, Mungkin ini Waktunya untuk Mendewasakan Diri

Ya, sesekali jika crash dengan orang tua atau mertua, mungkin ini waktunya untuk mendewasakan diri. Kepala kita beda, pemikiran kita beda, pengalaman juga beda, sangat wajar jika terjadi crash. Yang jadi masalah, bagaimana menghadapinya.

Aku biasanya memilih untuk keluar sejenak. Mojok sambil ngemil coklat atau es krim. Berbeda jika sedang jengkel dengan abah K yang langsung kuutarakan apa penyebab jengkelku, jika dengan mertua/ orang tua, aku memilih untuk menjauh sejenak barang beberapa jam untuk meredakan emosi.

Jika sudah reda emosinya, aku berbincang dengan pikiran terbuka dan gelas yang kosong, menerima saran mertua, juga mengutarakan apa yang membuatku keberatan. Biasanya, beliau-beliau cukup pengertian jika merasa alasanku cukup kuat.

Biarlah Orang Berkata Apa, Kita Pula yang Menikmati

“Enak, ya. Tinggal di rumah orang tua, anak dimomongin. Mana kamu enggak kerja, bisa leha-leha di rumah. Pun, Ibumu punya warung makan, tinggal makan saja, enggak usah masak.”

WKAKAKAKA.

Ijinkan aku tertawa mendapati komentar seperti ini. IYA-IYAIN SAJA. Awalnya menyakitkan, jika sedang waras aku memilih untuk menertawakan.

Mau menjelaskan fakta yang ku-lakoni, paling-paling juga cuma menambah gosip baru. Elu mah gitu, Tong, orang lain salah melulu di matamu. Rumput tetangga terlihat lebih jauh, kan? Tetapi aku memilih untuk menghijaukan rumputku sendiri daripada nanggepi dengan komentar, “Kamu enak ya.” :p

Biarlah orang-orang menyangka, jika butuh klarifikasi, diklarifikasi saja, tetapi enggak perlu sampai ngotot. Life is a simple as reading a children book, yang tamat dalam sekali duduk dengan ending yang selalu happy. Quote macam apa pula ini. 😀 😀

Lakoni Saja, Suatu Saat akan Rindu saat-saat Seperti Ini

Yai dhawuh, tinggal di rumah orang tua atau mertua memang banyak tantangannya, tetapi itu juga setara dengan peluang untuk berbakti. Tetapi aku masih sering durhaka sih dengan orang tua atau mertua. Meskipun enggak sengaja, tetapi kan…. Hiks-hiks.

Sudah cukup banyak cerita dari teman, sahabat, juga saudara yang menyesal karena belum sepenuhnya berbakti dengan orang tua atau mertua. Mereka memintaku untuk memanfaatkan benar-benar kondisi saat ini yang masih menumpang di rumah orang tua. Kata mereka, “Mumpung si K belum terikat sekolah, mumpung abah K gaweannya bisa dikerjakan dimana saja. Berbakti semampunya.”

Sebagai anak dan mantu sholikhah wannabe, tentu saja aku tidak mau melewatkan kesempatan ini. Naik-turun kewarasan adalah hal yang biasa, bukan?

Ada yang masih tinggal bersama orang tua atau mertua? Mari kita bergandengan erat saling menguatkan, Mak.

1 thought on “Dear You, Suami/ Istri yang Rela Tinggal di Rumah Mertua”

  1. ini sangat aq sekali deh mbak, aq juga masih tinggal sm orang tua jadi pak suami tinggal sama mertua yah istilahnya, dan alhamdullilah baik2 aja hubungan mereka, malah buat aq dan suami ada banyak hal positifnya juga msih tinggal sm orang tua.. tp mudah2an kita bisa segera punya rumah sendiri yah mbak

Bagaimana komentar kalian?