Me and Hubby

#KarenaIbu, Aku kembali Bangkit Menghadapi Dunia

Bisakah aku? Bilakah aku?

Medio 2010, aku berada pada titik nadir. Permohonan keringanan ujian listening pada UN Bahasa Inggris ditolak mentah-mentah. Padahal aku hanya meminta untuk mengganti listening dengan lypsing, bukan mem-bonus-kan 15 soal listening untukku. Ya, pendengaranku terganggu, aku tidak bisa membedakan huruf konsonan. Aku harus’membaca’ bibir untuk menerjemahkan pembicaraan lawan bicara.

“Bisakah aku lulus? Bilakah kemungkinan terburuk itu terjadi?”

Pertanyaan-pertanyaan itu terus-menerus terngiang dalam otakku. Aku putus asa, merasa menjadi makhluk paling nelangsa. Seorang Hard of Hearing bisa sekolah di sekolah paling favorit se-kota Salatiga tetiba menjadi mimpi yang sangat buruk. Membayangkan aku menjadi penyebab nama sekolah tercoreng sungguh sangat mengerikan.

Aku menangis sesunggukan di kamar. Berandai-andai, seandainya aku sekolah di SMALB, pasti hal semacam ini tidak akan kualami. Aku menyalahkan Bapak yang ngotot memasukkanaku ke sekolah umum, bersaing dengan teman-teman Dengar. Aku menyalahkan Dinas Pendidikan Kota Salatiga, yang menolak permohonan keringananku hanya karena tidak mau ribet. Aku menyalahkan pemerintah, yang masih terseok-seok menerapkan inklusifitas. Aku meyalahkan Robbuna, yang Menakdirkan aku sekolah di sekolah paling favorit.

Aku seolah lupa, sekolah di SMA 1 Salatiga adalah wujud dari doa-doa panjangku.

 

A post shared by Widi Utami (@widut92) on

“Nduk…” Ibu mengelus pundakku. Aku menoleh.

“Ke-na-pa na-ngis?” Ibu membelai rambutku, mengusap air mataku.

Aku menggeleng kuat-kuat. Aku tidak ingin Ibu sedih dengan berita yang kubawa dari sekolah.

Ujian Nasional tinggal menghitung hari. Segala usaha sudah kami lalui. Saat menginjak bangku kelas XII, Ibu sudah membelikan Alat Bantu Dengar, dengan harapan bisa membantuku menghadapi Ujian Listening. Ibu harus berhutang 1.6 juta untuk membeli Alat Bantu Dengar berbentuk walkman itu. Namun, ternyata Alat Bantu Dengar tidak bisa membantuku. Alat itu hanya memperbesar suara, aku tetap saja tidak bisa menangap obrolan tanpa membaca gerakan mulutnya.

Setelah pemeriksaan lebih lanjut, ternyata telingaku tidak bisa membedakan lafadz huruf konsonan. Aku merasa sangat bersalah kepada Ibu karena perjuangan Ibu untuk membeli Alat Bantu Dengar sia-sia. Aku tidak ingin menambah beban Ibu dengan berita yang buruk dari sekolah.

Aku bersimpuh di pangkuan Ibu. Meminta maaf berkali-kali. Betapa, aku telah merepotkan Ibu selama ini. Ya, diantara ketiga anak Ibu, akulah yang paling sulit dan membutuhkan perawatan lebih.

Ibu memintaku duduk. Menghapus air mataku agar aku bisa membaca mulutnya. “Nduk, ke-na-pa?”

Dengan terbata, kuceritakan berita yang kubawa dari sekolah. Kulihat Ibu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan.

Nduk, de-we wis u-sa-ha, sing nen-tu-ke ha-si-le lak ya Gus-ti Al-lah, ta?” Kita sudah berusaha, yang menentukan hasilnya juga Gusti Allah, ujar Ibu dengan logat Jawanya yang kental.

“Pasrah sama Allah, bagaimana Allah saja. Ibu tidak minta macam-macam, Nduk. Ibu hanya minta, usaha sekeras yang kita mampu. Hasilnya biar Allah.”

Air mataku jatuh lagi.

Aku dan Ibu

Ora usah digawe sepaneng, urip iki mung mampir ngombe.” lanjut Ibu, “Dhawuhe pak Yai kae, Allah tidak akan Memberi Cobaan di luar batas kemampuan kita, ya ta?”

Aku beristighfar. Menyebut nama-Nya berulangkali. Memohon ampun atas sikapku yang terlalu lancang kepada Robbuna.

“Nduk, sekarang wudhu, sholat nggih. Sholat…” Ibu mengelus-elus pundakku.

Robbuna, solusi atas masalah-masalahku, ternyata tidak lebih jauh dari tempatku berpijak. Bersujud pada-Nya, melangitkan keluh-kesah dan pengharapan pada-Nya. Memohon ketenangan batin pada-Nya.

Malam itu, rasanya beban-beban yang ada di pundakku terangkat. Setiap kali aku mengkhawatirkan Ujian Listening, aku mengambil air wudhu, berharap kekhawatiranku hanyut bersama air mata di sujud-sujud panjang. Ya, memang sujud-sujud panjang tidak lantas membuat Dinas Pendidikan mengubah keputusan. Tidak membuat telingaku tetiba bisa menangkap pembicaraan. Tetapi, dari sujud-sujud panjang itu, aku mendapatkan ketenangan batin untuk mengerjakan soal-soal yang lain.

Atas Kuasa-Nya, aku lulus. #KarenaIbu, aku tersadar dari tindakan yang kurang ajar kepada Robbuna. Kembali menghadapi Dunia.

Karena aku milik-Nya, segala yang kubutuhkan telah Disediakan oleh-Nya.

3 thoughts on “#KarenaIbu, Aku kembali Bangkit Menghadapi Dunia”

  1. Ibu luar biasa Mbak.. koq aku jadi mbrambang.. tapi bener ya Mbak, hidup itu cuma mampir ngombe. Ngapain coba terlalu spaneng? Selow aja lah ya.. toh yang paling penting adalah kehidupan di sana.

Bagaimana komentar kalian?