Widi Utami

Learn, Write and Share
Semua

3 Momentum yang Kusyukuri di Tahun 2018

January 4, 2019
Keluarga si K

2018 sudah berlalu, masih mau nengok masa lalu? Ah, ada kalanya harus menengok masa lalu untuk diambil hikmahnya, agar ke depan tidak lagi tersandung masalah yang sama. Setidaknya, kita bisa mempunyai penanda agar tak lagi keliru. Masa depan harus lebih baik, bukan?

2018 menjadi tahun yang harus kusyukuri benar-benar, tahun dimana keluarga kecilku diuji sekaligus menemukan chemistry-nya dalam waktu yang bersamaan. Seolah ujian itu adalah Cubitan yang membuat kami menyadari jika keluarga adalah nikmat Robbuna yang tidak bisa ditukar dengan apapun juga.

Akhirnya ke Pantai Lagi, Pertama Kali Backpakeran bareng si K

Aku terakhir ke pantai saat minggu pertama menikah, setelah itu? Selain kondisi ekonomi yang belum memungkinkan untuk travelling jauh, juga tidak berani membawa si K yang masih bayi. 4 tahun petama menikah, kami hanya ngebolang di sekitar Salatiga dan Bojonegoro.

Observasi Potensi Anak
Kelakuan si K di Parang Tritis

Juli 2018 menjadi babak baru di keluarga kecil kami. Kami cabut ke Jogja langsung dari kampung halaman, Bojonegoro. Naik travel dan menginap di rumah teman abah K. Di hari kedua, kami menginap di Penginapan Anoman dekat Parang Tritis, kami menikmati senja Parangtritis sampai tuntas. What an unforgotten moment.

Bonding kami bertiga benar-benar di tempa kala travelling. Bagaimana kami saling memahami tanda-tanda kelelahan, bagaimana kami saling mengendalikan emosi kala berhadapan dengan aneka masalah.

Satu hal lagi yang enggak bakal kulupakan, saat perjalanan menggunakan busway dari Terminal Giwangan ke Malioboro, kami diturunkan di halte entah dimana. Aku bersikukuh jika di halte ini ganti bis,abah K bersikukuh jika benar ini halte Malioboro. Kami jalan tanpa arah. Saat kusuruh mengecek Google Map, ternyata Malioboro masih 2 km lagi. Ngahahaha, asem banget. Akhirnya ngojek, ngeri kali membayangkan jalan 2 km dengan menggendong si K.

Keluarga si K
Keluarga si K. Foto terbaru saat kami ke Parangtritis bulan Juli Tahun lalu

Surabaya, I am Coming!

September menjadi salah satu tonggak sejarah travelling keluarga si K. Kala itu kami sedang menemani mbak ipar yang lahiran caesar di Rumah Sakit. Sebuah babak super karena itu kali pertama kami mengurus rumah, ponakan dan ecel-precel Rumah Sakit yang maasyaAllah riweuh. Kami jadi tahu seperti apa rasanya jadi keluarga pasien. Jajan sekitar RS yang mahal, biaya wira-wiri yang enggak sedikit, diperparah dengan kondisi si K yang rewel, super.

Di bulan ini Robbuna kembali ‘Mencubit’ku tentang rezeki yang sudah Ditakar. Kala itu aku heran, invoice blogging sejak Juli-Agustus serentak dibayarkan pada awal bulan September. Jumlahnya enggak main-main, cukup buat beli laptop Lenovo incaran. Ternyata Allah Mengaturnya, bulan September ada yang sedang membutuhkan.

MaasyaAllah, Alhamdulillah, kebutuhan kami di Surabaya selama seminggu yang setara dengan kebutuhan selama tiga bulan jika dalam kondisi biasa— aku serius, hahahaha— tercukupi, masih Diberi bonus ngebolang ke Kebun Binatang Surabaya berempat.

Naik-gajah-di-kebun-binatang-Surabaya, source: my another site nusagates
Naik-gajah-di-kebun-binatang-Surabaya, source: my another site nusagates

Sakit dan Babak Baru dalam Keluarga

Sakit kok jadi salah satu hal yang membahagiakan, sih? Heuheuu, buka sakitnya, tetapi hikmah di belakang sakit yang ternyata membawa kebahagiaan berlipat-lipat. November menjadi salah satu bulan yang emosional. Abah K sakit asam lambung sampa terkena anxiety. Populer dengan istilah GERD.

Anxiety ini membuat abah K mengalami kekhawatiran berlebih. Kekhawatiran yang sudah mencapai puncak, seolah-olah sudah waktunya bertemu dengan Robbuna. Cenderung sentimentil dan sangat mudah tersinggung. Aku stress, sudah mencoba jalur pengobatan apapun tetapi enggak mempan.

Fakta Asam Lambung GERD
Fakta Asam Lambung GERD

Saat Asam Lambungnya kambuh, jantung abah K berdetak sangat cepat, 150-160 kali per menit. Aku enggak sempat mengurus apapun selain mengurus abah K. Hingga kemudian kami menyadari jika asam lambung adalah buntut dari pola makan yang keliru.

Disinilah babak baru keluarga kami dimulai. Memperbaiki pola makan dengan memperbanyak konsumsi sayur dan buah. Mengalokasikan waktu khusus untuk olahraga, kami jadi lebih sering jalan-jalan dan bermain bulu tangkis bareng.

Asam Lambung juga membuat abah K lebih care dengan waktu istirahatnya. Ia membatasi sendiri jam kerja yang biasanya tergantung dengan deadline. Yay, Emak K hepi, sebab waktu untuk si K dan emak K bertambah. Bahkan abah K jadi sempat nemenin masak dan beberes rumah, termasuk melipat baju. Hahahaha, sereceh ini bahagiaku, ya. 🙂

***

Tantangan #BloggerKAH bulan Desembe ternyata bikin aku lebih bersyukur.Mengingat-ngingat momentum membahagiaan di 2018. Bahkan momentum yang seharusnya menyedihkan ternyata bisa membahagiakan juga. 3 aja ya? Enggak, banyak sebenarnya, tetapi ada kalanya ceita bahagia maupun momentum tertentu hanya disimpan untuk diri sendiri. Kamu enggak pengen baca tulisannya mbak Arinta 5 Hal yang Saya Syukuri di Tahun ini? Aku masih nunggu tulisannya mbak Ran, yuk sini, duduk bareng nunggu tulisannya mbak Blogger dari Kudus.

 

Home Based Education Interested. Love reading, writing and travelling. Interested in blogging. Live in Salatiga, a small city near Merbabu Mountain.

  1. Alhamdulillah.. jadi bener yaa, bahagia itu ada pada hati yang bersyukur. happiness has nothing to do with money.. dengan uang memang ada kalanya kita bisa bahagia, tapi kalau ngga menemukan syukur, hambar aja rasanya.

    Semoga tahun ini lebih baik lagi ya, Mbak.. aamiin YRA

Bagaimana komentar kalian?

%d bloggers like this: