Dear K, Surat Terbuka dari Ibu Penyandang Hard of Hearing

Dear K,

Saat kau mulai bisa membaca, mungkin kau baru menyadari jika Ibu tidak seperti Ibu teman-temanmu. Ya, Ibu memang berbeda. Ibu spesial, Nak.

Ibu seorang penyandang deaf. Ah, bukan. Ibu tidak diakui sebagai penyandang deaf karena Ibu masih bisa ngobrol ngalor-ngidul. Pun, Ibu juga tidak diakui sebagai orang dengar, karena Ibu tidak bisa mendengar jika tidak membaca mulut orang-orang. Belakangan Ibu menemukan istilah yang paling tepat, Hard of Hearing. Pendengar kelas berat, eh, maksud Ibu, frekuensi dengar Ibu sangat tinggi, 67 dB dan 73 dB. Kau bisa membayangkan, frekuensi untuk ukuran telinga dengar adalah 20 dB dan telinga tuli adalah 80 dB. Frekuensi Ibu nyaris menyentuh frekuensi tuli, kan? Read More

Memutus Siklus Begadang si K

Ramadhan kemaren terhitung sebagai bulan yang melelahkan. Selain karena puasa dalam kondisi menyusui, aku juga dihadapkan dengan si K yang tetiba jam tidurnya berubah. 


Si K seperti memiliki keinginan untuk pantang tidur sebelum abahnya pulang dari mushola. Padahal selama Ramadhan, abahnya baru pulang ke rumah jam 11 malam. Si K terlihat mempunyai tenaga lebih saat malam tiba. Ia bakal menjelajah seluruh isi rumah. Memanjat kursi, memanjat meja, jalan-jalan dari pojok satu ke pojok lain, bahkan ia bisa memanjat teralis jendela.  Read More

Memutus Siklus Begadang si K

Ramadhan kemaren terhitung sebagai bulan yang melelahkan. Selain karena puasa dalam kondisi menyusui, aku juga dihadapkan dengan si K yang tetiba jam tidurnya berubah. 


Si K seperti memiliki keinginan untuk pantang tidur sebelum abahnya pulang dari mushola. Padahal selama Ramadhan, abahnya baru pulang ke rumah jam 11 malam. Si K terlihat mempunyai tenaga lebih saat malam tiba. Ia bakal menjelajah seluruh isi rumah. Memanjat kursi, memanjat meja, jalan-jalan dari pojok satu ke pojok lain, bahkan ia bisa memanjat teralis jendela.  Read More

​Mewujudkan Pojok Main si K dengan Stiker Dinding

​Mewujudkan Pojok Main si K dengan Stiker Dinding

Si K mulai menunjukkan ketertarikan pada gambar. Setiap menjumpai gambar, baik di buku, dinding maupun di baju, dia akan menunjuk-nunjuk dengan telunjuk mungilnya sambil mengoceh, “Pa-pa-pa?”

Maksudnya, apa?

Ibunya harus sigap menjawab, jika tidak sigap, si K akan menarik-narik bajuku dan mengajak ke tempat gambar berada. Jika aku terlalu sibuk dengan aktivitasku sendiri, si K akan mengerahkan segenap tenaganya untuk mencuri perhatian. Jika posisiku sedang duduk atau berdiri, dia akan mencoba memanjat. Jika posisiku sedang tiduran, dia akan mengguling-gulingkan badannya di sekitar leher dan kepalaku. Hanya demi jawaban atas segala gambar yang ia tunjuk. Read More

Benarkah Anak Usia 1 Tahun Penakut adalah Pertanda Gagap Sosial?

“Moh-moh!” seru si K, sambil mengibas-ngibaskan tangan setiap kali ada orang ‘asing’ yang berniat mengajaknya.

Aku menandai reaksi seperti ini muncul sejak si K berusia 10 bulan, saat si K mulai mengenal mana Ibu, Abah, Mamak, Budhe dan orang-orang di sekitarnya.
Setiap menghadapi lingkungan baru, si K membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mengenali sekitarnya. Si K membutuhkan waktu nyaris satu minggu untuk beradaptasi dengan orang dewasa, tetapi hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk PDKT dengan teman-temannya, apalagi teman sebaya, langsung nemplok diajak gojek-an.
Maklum kah?
Aku, sebagai ibunya, sangat memaklumi kelakuan si K, bahkan lega karena hal ini adalah pertanda bahwa si K mulai bisa mengingat siapa-siapa orang terdekatnya.  Read More

Menyambut Lailatul Qadr Ramadhan Depan

“Sholatnya manusia itu setelah sholat. ” 

-abah K-

Dulu. Aku lupa bagaimana redaksi persisnya, darimana beliau mengutip kutipannya. Hanya ingat hakikatnya saja, bahwa sholat kita terlihat setelah salam. Sholat kita tercermin dalam kelakuan setiap detik setelah salam. Read More