Me and Hubby

Berhenti Merasa Bersalah, Ibu juga Manusia Biasa

Begitu beratnya tugas seorang Ibu, hingga apa-apa yang terjadi pada anak, Ibu pula yang menjadi tersangka utama.

Iya, kan? Rerata telunjuk orang mengarah ke Ibu jika ada sesuatu yang terjadi pada anak. Dari Ibu yang teledor, lah. Ibu yang tidak becus mengurus anak, lah. Ibu yang kebanyakan main game, lah. Ibu yang… Hih, seolah-olah seorang Ibu tidak boleh meleng sedikit pun.

Tahukah mereka? Tahukah kamu? Komentar-komentar tidak elok itu semakin menambah beban berat seorang Ibu, hari-harinya akan terasa berat dengan memikul rasa bersalah. Semakin banyak yang berkomentar, semakin keras seorang Ibu merutuki dirinya sendiri.

Tempo hari, seorang sahabat menangis semalaman. Orang-orang menyalahkannya karena putra kesayangannya belum bisa berbicara di usia yang menjelang tiga tahun. Speech delay memang harus segera ditangani, tetapi menyerang ibu sebagai biang keladi penyebab anak speech delay sungguh bukan tindakan yang beradab.

Banyak faktor yang bisa menyebabkan anak speech delay atau masalah perkembangan lainnya. Ibu memang memegang peranan penting sebagai madrasah pertama anak. TETAPI BERHASIL TIDAKNYA TUGAS PERKEMBANGAN ANAK TIDAK BERADA DI PUNDAK IBU, INI HAK PREROGRATIF TUHAN. Ibu hanya bisa berusaha semaksimal yang ia bisa. Hih, capslock-ku sampai jebol saking gregetannya. Pun, TUGAS MENDIDIK ANAK BUKAN HANYA TUGAS IBU, BAPAK JUGA PUNYA TANGGUNG JAWAB YANG SAMA.

Dear Ibu, Kita Boleh Salah, Kok

Berhenti merasa bersalah. Boleh-boleh saja sih merasa bersalah barang semenit lima menit, tetapi jika merasa persalah dibawa sampai seharian bahkan bertahun-tahun, pikiran semakin berat. Otak mumet dengan pertanyaan hari ini masak apa biar si keil doyan, jangan diperberat dengan perasaan bersalah.

Aku membolehkan diri salah sekali-dua kali. Memaafkan diri sendiri ketika si K jatuh dari sepeda. Emak yang teledor? Memang. Wkwkwkwk. Salah ngasih makan si K, sehingga malah batuk juga pernah. Dan aku memilih untuk take it slow, memafkan diri sendiri.

Memposisikan Diri sebagai Ibu Pembelajar

Selama ini, aku memposisikan diri sebagai Ibu pembelajar untuk mengurangi rasa bersalah. Iya, kita sedang belajar. Enggak apa-apa salah. Kadang kesalahan ada untuk tahu mana yang lebih tepat. Statemen sebagai Ibu Pembelajar ini tokcer saat aku menghadapi golongan Ibu-ibu Perfeksionis yang cenderung mengore-orek kesalahan orang lain, “Oh gitu nggih, Bu. Iya, aku sedang belajar ini. Jadi tahu jika ini salah.” Ngahahahaha

Belajar menjadi seorang Ibu dengan melahap berbagai tulisan parenting dan pengalaman orang-orang yang lebih tua kadang juga membuatku terkesan sok… er, sok apa ya? Contohnya begini, saat aku sedang belajar mengenali kenapa si K sisi individualistiknya kentara banget, aku terkesan untuk membiarkan si K pelit karena saat aku meminta ijin agar si K mau berbagi, si K menolak, ada yang berkomentar, “Mentang-mentang sarjana, yang didekep bukunya.”

Ya.. gimana atuhlah. Menjadi Ibu pembelajar di satu sisi terkesan menjadi Ibu yang sakpenake dewe, di sisi lain juga terkesan sok-sokan. Hahahaha.

Minta Dukungan Suami dan Keluarga Terdekat

It’s MOST HAVE banget, Buk-Ibuk! Jika suami dan kelarga dekat mendukung penuh, EGEPE apa kata orang-orang di luar sana, ye, kan? Hehehe, alhamdulillah, aku dikelilingi dengan orang-orang yang open minded. Saat aku meminta dukungan agar aku tetap ‘waras’ menjalani tugas-tugasku, beliau-beliau mendukung penuh.

Enggak harus muluk-muluk dengan kata romantis, kejutan tiap minggu, jalan-jalan tiap long weekend, wkwkwk. Enggak. Hanya dengan berkenan menjaga si K saat aku lelah dan butuh tidur saja sudah membuatku bahagia.

Iya, sering banget beliau-beliau menjaga si K dan aku bobok tjantik di kamar. Sering banget abah K berhenti ngoding barang satu-dua jam untuk mengajak si K bermain dan membiarkan emaknya bobok. Lah, apa kata orang-orang? Emang kupikirin, yang penting aku kembali waras saat menikmati waktu bersama si K. 😀

 

Nah, Mak-emak, bagaimana cara kalian menghentikan rasa bersalah? Share, yuk!

Have a Nice day, Mommies!

 

 

 

Pencarian Terkait:

  • apa saya boleh berheti merasa bersalah
  • berhenti merutuki diri
  • ibu merasa bersalah
  • ibu yang merasa salah

1 thought on “Berhenti Merasa Bersalah, Ibu juga Manusia Biasa”

Bagaimana komentar kalian?