Bahasa ekspresi pada anak balita merupakan cara anak berkomunikasi dengan orang sekitarnya menggunakan gestur tubuh, gerakan tangan maupun mimik muka. Bahasa ekspresi ini diulang-ulang hingga menimbulkan kesepakatan bahasa. Bahasa ekspresi pada anak balita bisa diajarkan oleh orang tuanya, bisa juga improvisasi bayi sendiri.

Pada si K, bahasa ekspresinya ada yang kuajarkan sejak si K masih bayi untuk memudahkan aku, Ibunya yang memiliki gangguan pendengaran, memahami apa yang ia inginkan. Enggak sedikit bahasa ekspresi yang timbul karena improvisasi si K. Aku menemukan bahasa ekspresi yang timbul dari si K dengan mengamati gestur yang dilakukannya secara berulang-ulang pada momentum tertentu.

Saat ia memegang perutnya dengan gerakan memutar, aku tanya apa ia mau makan, ia mengangguk, lalu ia melakukan hal tersebut secara berulang-ulang pada saat lapar, lama-lama terjadi kesepakatan bahasa untuk mengekspresikan rasa lapar.

Mengapa Balita Butuh Bahasa Ekspresi

Balita, terutama yang baru berumur 1-2 tahun baru belajar berbicara. Orang dewasa di sekitarnya biasanya harus menebak-nebak apa maksudnya terlebih dahulu. Sayangnya, tebakan orang dewasa tidak selalu benar hingga anak capek dan kesal, berujung tantrum karena orang dewasa gagal menerjemahkan apa yang ia mau.

Disinilah pentingnya bahasa ekspresi untuk menjembatani komunikasi antara orang dewasa dam anak sembari anak belajar bahasa lisan. Dulu kukira hanya ibu dengan kekurangan pendengaran yang kesulitan berkomunikasi dengan anak, ternyata hampir semua orang tua mengalaminya.

Apakah Bahasa Ekspresi Membuat Anak Malas Bicara?

Selama ini ada kekhawatiran jika aku menggunakan bahasa ekspresi dengan si K, maka si K akan malas bicara karena terlanjur nyaman menggunakan bahasa ekspresi dengan Ibunya. Ternyata enggak, si K tetap ngomong lancar meskipun dibarengi dengan bahasa ekspresi.

Tentu saja orang dewasa harus selalu mendampingi anak untuk mengucapkan kata dengan benar meskipun orang dewasa sudah memahami apa yang anak maksud melalui bahasa ekspresinya. Aku selalu minta tolong kepada orang di sekitarku untuk mengoreksi cara bicara si K jika ia salah mengucapkan. Pan Ibunya enggak tahu apa ia mengucapkan dengan benar atau sekedar lypsing saja. Hihihi, dan aku bersyukur dengan support system yang mau menemaniku melatih si K bicara.

Ragam Bahasa Ekspresi Sederhana untuk Anak Balita

Bahasa ekspresi bisa dibuat dari kesepakatan anak dan orang tuanya secara natural.Menciptakan bahasa ekspresi yang tumbuh secara alamiah mungkin membutuhkan waktu yang agak lama. Kita bisa melatih anak dengan gerakan tertentu kemudian disesuaikan dengan bagaimana anak meniru gerakan kita. Tetap saja, ya, meskipun kita ajarkan dengan gerakan tertentu, bahasa ekspresi bakal ada kekhasan dari kesepakatan antara orang tua dan anak, kemudian menjadi bahasa cinta. Ehm.

Bahasa Ekspresi untuk Mengungkapkan Rasa Lapar

 

Untuk mengungkapkan rasa lapar, si K menaruh tangannya dalam posisi terbuka dan menggerakkan dengan gerakan memutar di atas perut. 

 

Sepertinya si K terinspirasi dari Youtube Cocomelon. Lengkap dengan muka yang mengekspresikan rasa lapar dan tidak ceria. Pertamakali aku mendapati si K berekspresi seperti ini, aku ketawa melihat muka ‘laper’nya.

Bahasa Ekspresi untuk Mengungkapkan Butuh Minum

Si K mengacungkan jempol, tetapi ia mengarahkan jempolnya ke arah mulut secara berulang-ulang dengan mulut yang sedikit dimonyongkan.

Ehm, membingungkan enggak? Sepertinya aku butuh ilustrator atau video untuk menggambarkan gerakan ragam bahasa ekspresi, ya. 😀

Bahasa Ekspresi untuk Mengungkapkan Rasa Sakit di Perut

Badannya sedikit membungkuk. Kedua tangannya berada di perut dengan posisi mencengkeram. Ekspresi wajahnya kesakitan.

Ekspresif banget, ya? Anak yang terbiasa menggunakan bahasa ekspresi menjadi lebih mudah mengungkapkan apa yang terjadi dengan tubuhnya. Jika belum bisa mengungkapkan apa yang ia rasa, biasanya anak hanya menangis dan kita kebingungan menerjemahkan apa yang terjadi padanya.

Bahasa Ekspresi untuk Mengungkapkan Keinginan untuk BAK dan BAB

Bahasa ekspresi yang ini adalah penyelamat kala toilet training dan emaknya masih loading menerjemahkan omongan si K. Hihihi. Si K mulai toilet training usia 18 bulan, ngomongnya belum jelas. Jadi kami menggunakan bahasa ekspresi untuk mengungkapkan keinginannya BAK dan BAB.

Setiap akan BAK, si K akan menyentuh alat kelaminnya. Jika akan BAB, tangan si K menyentuh pantatnya.

Simpel banget. ya? Tetapi ini sangat membantu banget kala itu. Bisa juga sembari menyentuh alat kelamin atau pantatnya dibarengi dengan kata kerja eperti, “pipis atau pup.”

 

Masih ada beberapa ragam bahasa ekspresi si K yang bisa dijadikan ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi), lain kali emak K tulis dengan rinci, ya. Emak K juga sedang ikhtiar mencari ilustrator yang bisa menggambar bahasa ekspresi. Agak susah sih, karena harus terasa hidup. Hihihi.

See you. Semoga bermanfaat.

 

 

 

 

Pencarian Terkait:

  • https://widiutami com/mengenal-bahasa-ekspresi-pada-anak-balita html
%d bloggers like this: