Pasir Kinetik Home Made dari Tepung Tapioka

Pasir Kinetik Home Made dari Tepung Tapioka

Si K sedang hobi main pasir dan tanah. Emak enjoy sih sebenarnya, tetapi kalau jelang maghrib atau setelah mandi sore masih ngedeprok di luar main tanah kan bikin nangis. Hiks. Akhirnya emak K bebikinin pasir kinetik home made dari tepung tapioka. Resepnya nyontek mbak Aryani, Mama-nya mas Baron. Bahannya gampang, bisa didapatkan dari warung sekitar rumah.

Membuat Pasir Kinetik Home Made dari Tepung Tapioka (2)

Membuat Pasir Kinetik Home Made dari Tepung Tapioka (2)

Membuat Pasir Kinetik Home Made dari Tepung Tapioka

Membuat pasir kinetik dari tepung tapioka cukup mudah, sediakan bahan-bahan sebagai berikut:

  • Tepung Tapioka, emak K kemaren pakai 250 gram.
  • Pewarna makanan.
  • Minyak Goreng
Membuat Pasir Kinetik Home Made dari Tepung Tapioka

Membuat Pasir Kinetik Home Made dari Tepung Tapioka

Caranya cukup gampang, campurkan ketiga bahan tersebut hingga gembur seperti humus. Takarannya dikira-kira, ya. Hahaha. Minyak gorengnya sedikit aja, untuk 250 gram tepung tapioka kemarin, aku menuangkan sekitar 30 minyak goreng. Pewarna botol kecil 12 ml itu kutuang semua. Proses campurannya berhenti ketika adonannya gembur, enggak lengket dan bisa dibentuk.

Observasi Gaya Belajar Anak dengan Pasir Kinetik

Bermain pasir kinetik ini aku mengamati kira-kira gaya belajar apa yang menonjol pada si K. Aku tidak melakukan intervensi apapun ketika si K bermain pasir kinetik. Awalnya aku membuat pasir kinetik sampai jadi, ternyata si K penasaran dengan teoung tapioka yang tergeletak di samping dan ingin membuat pasir kinetiknya seniri.

Aku pun menyediakan baskom baru, tepung tapioka, minyak goreng di gelas dan pewarna satu botol kecil. Si K menuangkan semuanya sendiri dan menolak untuk dibantu. Ia belajar dengan gaya kinestetik, learning by doing, trial and error.

Setelah membuat pasir kinetik, si K lantas meminta pewarna lain, warna hijau. Pembuatan ronde kedua selesai, si K lanjut membuat aneka macam kue. Dipotong, lalu disajikan untuk Ibu. Ibu diharuskan makan ‘kue’ hasil masakannya. Di fase ini, gaya kinestetiknya masih menonjol.

Setelah bosan membuat kue-kuean, si K ditemani mbak Ba mencampur pasir warna hijau dan warna merah, tara… jadilah pasir warna coklat. Bhahahaha. Oh iya, saat membuat pasir kinestetik ini tercium aroma harum khas kue yang berasal dari pewarna frambozen, si K tergoda untuk mencicipi tepungnya. Wkwkwkwk. Di fase ini si K menonjol juga gaya belajar visualnya, memetakan warna-warna.

Auditorinya ada sih, si K ngobrol saat menawari kue atau bertanya sesuatu. Hanya saja enggak begitu menonjol.

 

 

Proyek Keluarga, Kemana Biduk kan Dikayuh

Proyek Keluarga, Kemana Biduk kan Dikayuh

Kuliah Bunda Sayang Batch 5 masuk ke level 3. Dimulai saat kami masih tenggelam dalam nuansa lebaran. Boro-boro membuat to do list untuk mencapai target lulus level, sempat membaca materi di Google Classroom saja sudah menjadi berkah tersendiri.

Family Project, level dimana kami belajar untuk memetakan proyek yang melibatkan keluarga, memetakan kecerdasan mana yang akan distimulasi dalam 17 hari tantangan. Awalnya, aku bertekad untuk mengikuti tantangan dengan semangat meski terkendala sinyal dan seabrek agenda lebaran.

Hari pertama, aku posting agak siang. Hari kedua pagi-pagi benar sebelum beraktivitas. Begitu juga hari ketiga dan keempat. Hingga… kesibukan pasca lebaran dan sensasi GERD yang menyerang abah K setelah makan olahan ketan, membuat emak K enggak sempat menulis proyek-proyek yang kami jalankan.

Tunggu, apakah aku sudah mulai mencari pembenaran?

Tentang Sebuah Proses Mengayuh Biduk Keluarga

“Kamu ikut kelas untuk apa, Yi? Untuk mendapatkan pujian?” tanya abah K, suatu malam saat aku merasa hopeless enggak bisa mengikuti kelas seperti biasa.

Aku menggeleng, “Tentu tidak. Meski ya, aku suka mendapatkan pujian tetapi itu bukan tujuan utama.”

Lalu, hari-hari kami disibukkan dengan proyek-proyek keluarga yang beragam. Malam-malam kami riuh dengan diskusi dan evaluasi. Sesekali diskusi terlihat alot hingga mbak ipar menyangka kami sedang bertengkar. Saking enggak pernah teriak-teriak, diskusi alot membuat orang lain menyangka kami bertengkar.

“Kita travelling, nabung konten. Kamu yang nulis, aku fokus di kerjaan kantor dan optimasi Adsense.” Ujar abah K.

“Jadi catatan mbolang harus ada di blog?”

“Iya, termasuk tugasmu di kelas IIP.”

Aku mendelik. Yang benar saja.

“Ndak perlu banyak-banyak, kayak kamu nulis di fesbuk gitu sudah cukup, Yi. Tiga ratus kata saja juga enggak apa-apa.”

Waduk Grobogan Bojonegoro

Waduk Grobogan Bojonegoro

Oke, proyek satu keluarga kami di bulan syawal, #MbolangBarengsiK. Cukup banyak yang kami kunjungi, Taman Seribu Lampu-Cepu, MC Edupark Cepu, Agrowisata Belimbing Bojonegoro, Waduk Grobogan-Bojonegoro, Ademos Delokgede-Bojonegoro, Kracaan-Niagaranya wing Bojonegoro, Sawah, Sungai, Pondok Pesantren Al Anwar lamongan, Makam sayyid Ibrohim Asmaraqandi, hingga Bledug Kuwu-Grobogan.

Sayang, yang kutulis cuma lima biji. Sensasi GERD yang menyerang abah K di malam hari membuatku harus full mendampingi dan menyingkirkan waktu menulis. Di sela-sela mendampingi abah K, kami masih sempat ngobrol tentang pola hidup sehat Food Combining yang tengah kami jalani.

Siapa sangka, kegagalanku berbagi tentang proyek keluarga #MbolangBarengsiK ternyata mengantarkan kami ke proyek keluarga lain yang tidak kami sadari.

Kami bertekad untuk bergerak aktif mendampingi teman-teman yang berjuang untuk sembuh, saudara yang tengah di uji sakitnya, juga sahabat abah K yang meninggal bulan Ramadhan kemarin. Proyek keluarga kedua hadir di saat kami menghadapi sakit GERD, #SehatBareng-bareng.

Pola Makan Food Combining

Pola Makan Food Combining

Abah K aktif berbagi tentang pengalamannya menghadapi GERD, aku aktif berbagi tentang pengalamanku mendampingi Orang dengan GERD. Ternyata tidak sedikit yang baru menyadari jika selama ini sakit GERD, bahkan ada yang menyangka jika selama ini disantet karena saking judegnya menelusuri kenapa jantung berdegup kencang, kenapa kematian serasa sangat dekat.

Chat WhatsApp dan Messengerku penuh dengan curhat dan sharing seputar food combining dan GERD. Salah satu topik chat dimana abah K akan dengan senang hati membantu membalas chat yang masuk. Beliau sangat menikmati proyek keluarga di bidang healthy life ini. Betapa aku bahagia karena kepeduliannya dengan orang lain merupakan pertanda jika GERD pelan-pelan pergi dari ususnya.

“Ada hikmahnya ya aku sakit?”

“Iya, kita jadi lebih peka sekarang, juga lebih kompak. Hehehehe.” Sahutku.

Ya, memang kadang kadangkala peristiwa yang terlihat buruk, menguras emosi, melelahkan, ternyata adalah sarana untuk menemukan jati diri keluarga, menemukan kearah mana keluarga akan dibawa, juga… menyatukan visi-misi keluarga.

Kadangkala badai yang menerjang membuat penghuni kapal menyatukan tekad kemana kapal kan dikayuh, kearah mana kapal kan dibawa. ‘Memaksa’ penghuni kapal untuk mengerahkan tenaga sekuatnya untuk keluar dari terjangan badai.

Family project hanya sekedar nama, tidak lebih. Ianya berangkat dari aktivitas keluarga yang dijalani dengan sepenuh jiwa, riang dan gembira. Ianya ditemukan setelah menjalani proses yang panjang. Menyatu dalam gerak-gerik keluarga. Bahkan kadang tanpa disadari, saking mengkristalnya ia dalam sanubari.

Gagal di Level 3-Family Project, Tidak Lantas Membuat Kami Berhenti untuk Bergerak

Ya, aku gagal di level ini. Aku hanya mampu menyetor 5 tulisan dari 10 tulisan minimum yang ditargetkan untuk lulus level. Alasannya? Banyak pembenaran yang bisa kuutarakan dan itu akan menghabiskan belasan menit waktumu untuk membaca.

Perkenankan aku untuk berterimakasih ke orang-orang hebat yang telah bersinergi menyusun Family Project Level 3 di Bunda Sayang ini; terimakasih telah membuatku berlatih untuk mengubah ujian yang kuhadapi menjadi tantangan sebagai proyek keluarga yang menyenangkan.

Juga,

Membuatku bersyukur memiliki keluarga kecil yang saling mengingatkan untuk bergerak dan berkembang bersama-sama. Level 3 sudah usai, tetapi aku akan terus melanjutkan untuk menulis konten yang sedianyan ingin kusetorkan di Bunsay Level 3. Setidaknya, abah K enggak merasa sia-sia tenaga dan uangnya yang kami gunakan untuk mbolang. Hahaha.

Salam!

Emak K

Lika-liku Membiasakan Anak 3 Tahun Gosok Gigi

Lika-liku Membiasakan Anak 3 Tahun Gosok Gigi

Level 2 Kuliah Bunda Sayang materinya tentang melatih kemandirian. Selama diskusi berlangsung, aku mereka-reka, kemandirian apa yang akan kulatih untuk si K? Aku teringat dengan drama yang masih kuhadapi selama ini; GOSOK GIGI. Si K belum mempunyai inisiatif sendiri untuk gosok gigi, lha wong selama ini gosok giginya musti dipaksa Ibu. Itu belum tentang pasta yang ditelan, air kran yang diminum, sampai gosok gigi yang sekedar ngemut sikat. Hish.

Melatih Kemandirian, Pantang Diremehkan

Melatih kemandirian jauh lebih sulit dibandingkan memanjakan anak. Gimana enggak sulit, melatih anak makan, kita harus berhadapan dengan makanan yang tercecer, baju yang kotor, lantai yang lengket dengan nasi. Melatih anak gosok gigi sendiri, kita harus berhadapan dengan air yang disembur-sembur, pasta yang ditelan, sikat gigi yang diemut, air kran yang diminum

Belum soal toilet training yang meninggalkan ceceran air kencing dimana-mana, menata buku, mainan dan baju yang membuat Ibu harus menata ulang–kerja dua kali, Rek, nata ulang dan mendampingi anak. Soal memasak? Emak K sampai enggak tega cerita di blog, saking mubadzirnya sayur dan air yang jadi korbannya si K. Wkwkwkwk

Tetapi, quote yang ada dalam materi Level 2 Melatih Kemandirian membuatku harus tahan banting dengan segala tantangannya.

Ingat, kita tidak selamanya bersama anak-anak. Maka melatih kemandirian itu adalah sebuah pilihan hidup bagi keluarga kita.

Mari berpegangan tangan saling menguatkan kala lelah, saling memaklumi kala makanan anak berceceran, saling menyemangati kala anak ngompol di rumah tetangga. Hahaha, soal toilet training, drama emak K sudah dimulai sejak si K umur 7 bulan sampai 2 tahun. Berulangkali ngepel rumah orang, bahkan di warung bakso. Njelehi ya? Wkwkwk.

Menyiapkan Latihan Gosok Gigi pada Anak Usia 3 Tahun

Apa yang harus disiapkan saat menyiapkan anak gosok gigi? MULAI. Iya, mulai saja, tantangan akan datang selama proses. Kadangkala kebanyakan teori justru membuat kita menunda-nunda untuk memulai.

Selama proses gosok gigi si K, aku menghadapi beberapa tantangan dan akan kucari triknya dan dipraktikkan esok hari. Yang paling cepet sih nanya ke teman-teman di grup yang jauh lebih berpengalaman.

  • Diskusi dengan Pasangan, Satukan Misi Melatih Kemandirian

Abah K sempat menegurku yang dianggap terlalu keras. Sementara, aku merasa jika selama ini enggak marah-marah kalau si K belum mandiri. Usut punya usut, ternyata aku sempat mengucapkan kata-kata bernada kecewa semacam, “Ibu kan sudah bilang kalau sikat gigi harus bersih… Ibu kan sudah bilang kalau air kran enggak boleh diminum… ”

Peran abah K sebagai kontrol dalam pengasuhan sangat terasa. Abah K meski sibuk kerja, beliau ikut mendukung dalam bentuk enggak menanggapi anak yang aleman. Enggak mengambilkan minum manakala anak gagal ‘menyuruh’ Ibu. Ikut menjelaskan kenapa si K harus sikat gigi.

Peran penting dari pasangan seperti ini kudapatkan setelah berdiskusi panjang, menyatukan prinsip agar enggak terjadi kesalahpahaman. Bagi orang tua yang tinggal bersama keluarga besar, tantangan untuk menyatukan misi jauh lebih besar.

  • Siapkan Sikat Gigi dengan Karakter Favorit dan Pasta dengan Rasa Favorit Anak

Ngaruh kah? Bagi si K, ngaruh banget. Aku sampai sengaja mengajak si K ke supermarket dan meminta ia memilih sendiri sikat gigi dan pastanya. Bulan lalu si K milih karakter superman berwarana dominan biru. Wkwkwk, padahal enggak ada superman dalam daftar tontonan si K.

Tantangan dalam Melatih Gosok Gigi pada Anak Usia 3 Tahun

Tantangan dalam gosok gigi si K lumayan banyak dan bikin emaknya garuk-garuk kepala mencari trik untuk menghadapi tantangan tersebut. Heuheuu.

  • Kenapa Harus Gosok Gigi

“Gigi Kepin enggak rusak, Buk.”ujar si K, saat aku memintanya gosok gigi.

“Iya, tetapi kan kalau enggak gosok gigi, Gigi Kevin bisa rusak nanti.”

“Nanti kapan?”

Krik-krik.

“Nanti cari tahu, ya? Kevin enggak punya buku tentang gigi. Nonton aja, mau?”

Si K mengangguk. Jadilah hari itu kami menonton animasi bertema gigi di Youtube. Kami berbincang setelahnya. Membicarakan makanan-makanan yang bisa membuat gigi rusak. Wkwkwkwk, bagi Ibu yang menganut no gadget, jangan ditiru cara ini, ya. Buku tentang gigi sudah banyak, tetapi emak K belum punya. Hehehe.

Soal makanan yang mempercepat kerusakan gigi, aku menggunakan buku The Very Hungry Caterpillar untuk mengenalkan kepada si K makanan apa saja yang enggak baik untuk gigi dan perutnya. Cuma di buku tersebut mengakibatkan si ulat sakit perut, gita bisa menjelaskan sendiri bagaimana makanan tersebut berbahaya bagi gigi.

  • Kenapa Air Kran Enggak Boleh Diminum

Berapa lama frekuensi si K menelan air kran? Bisa 3 kali setiap sesi gosok gigi. Emak K sampe gregetan, pakai cara jelek dengan dimarahin pun enggak mempan. Akhirnya aku menyiapkan ilustrasi sendiri kalau air kran masih ada kuman-kumannya dari pipa, dan harus dimasak sampai mendidih untuk mematikan kumannya.

“Kumannya mana?”

“Enggak kelihatan.”

“Pakai kaca Kepin yang besal bisa?” tanya si K, menunjuk kaca pembesarnya.

“Ndak, kita harus pakai mikroskop.”

“Oskop?”

“Iya, kalau mau lihat kuman kita harus punya mikroskop. Nanti kalau tabungan Kepin sudah cukup, kita beli mikroskop ya?”

“Beli oskop buat lihat kuman ya?”

“Ya. InsyaAllah.”

Oke, wish list nambah lagi, mikroskop.

  • Bagaimana Cara Gosok Gigi yang Benar

Bagian ini yang paling menantang. Hahaha. Si K itu usil. Sering ngerjain Ibuknya. Saat menyikat gigi, ia sengaja menyikat lidah sambil tertawa-tawa. Di lain waktu, ia sengaja menjilat-jilat pasta. Saat Ibunya terlihat sibuk membersihkan kamar mandi, ia sengaja menjawil Ibu untuk memperlihatkan sikat gigi yang ia gunakan untuk menyikat lidahnya. Ampun.

Membiasakan Anak Gosok Gigi

Membiasakan Anak Gosok Gigi

Aku pun akhirnya membuat gambar monyet sedang tertawa dengan gigi yang kelihatan jelas di selembar hvs, kemudian menutupinya dengan plastik. Kucoret noda-noda di gigi monyet dengan kapur–bisa diganti dengan spidol whiteboard–, lalu meminta si K untuk membersihkan dengan sikat gigi yang sudah tidak dipakai.

“Kevin, ini monyet habis makan coklat. Giginya banyak coklatnya, tolong bersihin ya.”

Aku tidak berekspektasi lebih karena minggu-minggu ini si K sedang hobi menjelajah jalan, selokan dan pagar. Tetapi ternyata ia tertarik untuk bermain Sikat Gigi Monyet sampai semingguan. Enggak cuma gigi monyet, si K memintaku untuk mencoret uang-uang logam di celengannya dan ia akan membersihkannya dengan riang.

Membiasakan Anak Gosok Gigi 2

Si K menyikat uang logam yang kucoret dengan kapur

Sinar Masih Jauh dari Genggaman Memang, Tetapi….

Anak bisa sikat gigi dengan sempurna masih jauh dari genggaman, tetapi selama mengamati dengan konsisten, aku menghargai setiap perkembangan si K meskipun kecil. Ia tidak lagi menelan air kran, sikat giginya mulai rata di gigi depan meskipun belum menjangkau gigi belakang, mulai berinisiatif gosok gigi setelah makan coklat, permen dan es krim.

Ini bukan tentang keberhasilan dalam waktu yang singkat, ini tentang proses untuk menuju kemandirian meski sinar masih jauh dari genggaman.

Masih banyak PR kemandirian anak. Jalan yang harus ditempuh begitu terjal, rintangan yang harus dilalui tak kalah banyak. Membayangkannya saja kepalaku nyut-nyutan. Baru melatihnya gosok gigi saja sudah membuatku beristighfar berulang-ulang, namun… resiko ketika anak tidak mandiri yang dipaparkan dalam review Kuliah Bunda Sayang Level 2 menjadi pengingat agar tidak lelah untuk memulai kembali kala patah semangat.

Resiko yang kumaksud adalah Gejala Ketidakmandirian Anak yang kubaca di review Level 2 Melatih Kemandirian:

  • Ketergantungan disiplin kepada kontrol luar, bukan karena kesadarannya sendiri. Perilaku ini akan mengarah kepada perilaku tidak konsisten.
  • Sikap tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya, anak mandiri bukanlah anak yang lepas dari keluarganya melainkan anak yang tetap memiliki ikatan batin dengan keluarganya tetapi tidak bergantung pada keluarganya.
  • Sikap hidup kompromistik tanpa pemahaman dan kompromistik dengan mengorbankan prinsip. Gejala masyarakat sekarang yang meyakini segala sesuatunya dapat diatur adalah bentuk ketidakjujuran berfikir dan bertindak serta kemandirian yang masih rendah.

Rasa-rasanya tantangan yang dihadapi kala melatih kemandirian anak jauh lebih ringan dibandingkan ketika kita membayangkan perilaku ketidakmandirian anak.

Level 2 sudah usai, sebagaimana Level 1 Komunikasi Produktif yang terus dipupuk sepanjang waktu, berakhirnya kuliah Melatih Kemandirian tidak lantas membuat Melatih Kemandirian Anak terhenti, justru harus konsisten dan istiqomah.

 

Tantangan Ibu Rumah Tangga, Ketika Jenuh dengan Rutinitas IRT

Tantangan Ibu Rumah Tangga, Ketika Jenuh dengan Rutinitas IRT

Semingguan ini aku jenuh dengan rutinitas. Levelnya sudah di level membahayakan karena aku mulai agak enggak nyambung dengan obrolan, enggak sabaran dengan si K, dan enggak menikmati bermain dengan si K.

Berulangkali aku bertanya-tanya, its okay?

Penyembuhan kejenuhan semakin lama karena aku diterjang rasa bersalah dengan si K. Harusnya kan begini, bukan begitu? Harusnya tadi aku begini, kenapa malah melakukan itu?

Harusnya jangan membentak, kenapa aku membentak? Harusnya menyingkir dulu sejenak, kenapa si K malah nempel terus kayak lem Fox? Harusnya mengalihkan perhatian, kenapa malah melarang dengan galak?

Semakin banyak teori yang kita tahu, ternyata semakin membebani… Its okay?

Aku membicarakannya dengan abah K, tentang kesalahan-kesalahan yang kulakukan, tentang beban yang kurasakan, tentang semuanya… Its okay untuk mengambil jeda sejenak, melupakan teori-teori parenting ideal yang membebani. Melakukan semampu yang kubisa, sampai aku merasa sudah siap kembali ke jalur yang kupilih.

Please, take your time, Mak.

Aku mengambil waktu untuk menikmati kejenuhan. Jenuh,l sejenuh-jenuhnya. Kadang aku berkata kepada si K, “Ibu sedang jenuh, Kevin main sendiri dulu, bisa?”

Reaksi si K beragam. Kadang langsung bermain sendiri, kadang rewel meminta bermain dengan Ibu. Tidak jarang ia menyingkir dengan menundukkan kepala dalam-dalam. Ekspresi terakhir membuat emak K semakin bersalah.

Tantangan macam apa pula ini.

Sebenarnya pekerjaanku tidak banyak. Masak enggak memakan banyak waktu, wong menunya paling poll tiga macam saja. Nyuci juga tidak banyak. Nyetrika hanya baju kerja saja.

Aku menelusuri, sebenarnya apa yang membuatku jenuh?

Refreshing keluar terhitung ideal, abah K tidak pernah alpa untuk mengajakku jalan-jalan sekedar membeli es degan atau jogging di taman. Ngeblog masih jalan. Ngobrol dengan pasangan juga enggak pernah alpa. Masih di on the track lah.

Terus, kenapa?

Aku mencoba bertanya kepada diri sendiri. Ayo kita cari tahu, Dear. Why? Mengapa? Apakah ada sesuatu yang alpa kulakukan? Apa karena sedang haid, enggak ngaji dan wirid kayak biasanya menjadikanmu jenuh?

Kurunut-runut, aku menyadari satu hal; durasi screen time-ku terlalu banyak. Setiap kali aku merasa jenuh, aku langsung scroll timeline, padahal timeline isinya itu-itu saja.

Aku mendata lagi hal-hal yang enggak kulakukan belakangan ini, bul banyak, Rek. Enggak baca novel, padahal dulu aku mainak baca novel. Enggak mengajak si K main ke luar, belakangan ini paling poll main ke tetangga depan rumah, itu pun aku enggak terlibat obrolan. Hoalah, ngobrol dengan tetangga pun bisa membuat refresh pikiran.

Jarang jogging. Mungkin pikiranku ada yang enggak bisa luntur kecuali dengan keringat jogging. Bhahahahaha. Terlalu mempeng merencanakan tapi minim aksi, terutama kurikulumnya si K. Haiyooo, paling rencana-rencana yang membusuk di otak itu membuat jenuh semakin bertambah-tambah.

Ini emak K nulis apaan, Rek? Tjurhat dari huruf pertama sampai huruf pungkasan. Hahaha, ya ngene iki lah yen wis biasa nulis, nggoleki penyebab jenuh ae kudu dirunut lewat tulisan. Semoga saja yang baca enggak bosan.

Komunikasi dengan diri sendiri yang enggak bagus ternyata bisa menyebabkan kejenuhan bertubi-tubi. Aku sampai libur menulis soal Komunikasi Produktif karena merasa gagal berkomunikasi dengan diri sendiri terkait kejenuhan. Ditanya abah K ada apa juga aku enggak bisa menjawab.

Menarik. Kini aku tahu langkah apa yang harus kulakukan agar jenuh tidak semakin merajalela. Sudah cukup seminggu untuk menikmati kejenuhan, sekarang waktunya untuk kembali on the track, agar kerjaan enggak amburadul, agar ikhtiar penyembuhan abah K semakin mantul, agar si K tidak melulu sedih karena Ibunya terus-menerus menolak ketika diajak bermain.

Kejenuhan seorang Ibu berimbas pada semua lini, termasuk lini perut yang seadanya. Masih menerapkan food combining tetapi di batas minimal. Semingguan ini aku enggak galak ke abah K, abah K jajan di luar bisa-bisanya aku enggak peduli, kemaren aritmia kambuh lagi.

Jika Emak membaca blogpost ini untuk menemukan tips menghalau kejenuhan rutinitas, maaf, Emak enggak bakal menemukannya. Aku cuma berbagi bagaimana menelusuri penyebab kejenuhan dengan membangun komunikasi prodktif dengan diri-sendiri, untuk kemudian mencari solusinya sendiri.

Karakter kita beda, kesukaan kita beda, aku yakin penyebab kejenuhan kita beda. Bisa jadi aku jenuh dengan masak-memasak, tetapi untuk Emak masak adalah sarana refreshing. Bisa jadi Emak males dengan tulis-menulis dan baca, tetapi bagiku menulis dan membaca adalah sarana refreshing.

Aku ada di barisan pemandu sorak di belakang Emak, ayo, kita cari tahu apa yang menyebabkan Emak jenuh. Bahkan jika ternyata anak-anak yang membuat Emak jenuh, aku yang menjadi pendukung pertama Emak menyepi dari anak-anak sejenak. Biarkan anak-anak bersama ayahnya atau saudara. Bisa juga menitipkan ke day care barang sehari-dua hari jika Emak termasuk dalam barisan Ibu-ibu pengasuh anak sendiri garis keras.

Membangun komunikasi dengan diri-sendiri sangat penting. Bagiku, komunikasi dengan diri-sendiri adalah hal yang paling gawat untuk dilakukan sebelum memperbaiki komunikasi dengan orang lain. Memahami diri-sendiri menjadi langkah pertama sebelum memahami pasangan dan anak.

Termasuk….

Memahami jika kita bukan orang yang sempurna dan teori tidak selalu linear dengan realita.

Pencarian Terkait:

  • jenuh dengan rutinitas rumah tangga