Mengenal Bahasa Ekspresi pada Anak Balita

Mengenal Bahasa Ekspresi pada Anak Balita

Bahasa ekspresi pada anak balita merupakan cara anak berkomunikasi dengan orang sekitarnya menggunakan gestur tubuh, gerakan tangan maupun mimik muka. Bahasa ekspresi ini diulang-ulang hingga menimbulkan kesepakatan bahasa. Bahasa ekspresi pada anak balita bisa diajarkan oleh orang tuanya, bisa juga improvisasi bayi sendiri.

Pada si K, bahasa ekspresinya ada yang kuajarkan sejak si K masih bayi untuk memudahkan aku, Ibunya yang memiliki gangguan pendengaran, memahami apa yang ia inginkan. Enggak sedikit bahasa ekspresi yang timbul karena improvisasi si K. Aku menemukan bahasa ekspresi yang timbul dari si K dengan mengamati gestur yang dilakukannya secara berulang-ulang pada momentum tertentu.

Saat ia memegang perutnya dengan gerakan memutar, aku tanya apa ia mau makan, ia mengangguk, lalu ia melakukan hal tersebut secara berulang-ulang pada saat lapar, lama-lama terjadi kesepakatan bahasa untuk mengekspresikan rasa lapar.

Mengapa Balita Butuh Bahasa Ekspresi

Balita, terutama yang baru berumur 1-2 tahun baru belajar berbicara. Orang dewasa di sekitarnya biasanya harus menebak-nebak apa maksudnya terlebih dahulu. Sayangnya, tebakan orang dewasa tidak selalu benar hingga anak capek dan kesal, berujung tantrum karena orang dewasa gagal menerjemahkan apa yang ia mau.

Disinilah pentingnya bahasa ekspresi untuk menjembatani komunikasi antara orang dewasa dam anak sembari anak belajar bahasa lisan. Dulu kukira hanya ibu dengan kekurangan pendengaran yang kesulitan berkomunikasi dengan anak, ternyata hampir semua orang tua mengalaminya.

Apakah Bahasa Ekspresi Membuat Anak Malas Bicara?

Selama ini ada kekhawatiran jika aku menggunakan bahasa ekspresi dengan si K, maka si K akan malas bicara karena terlanjur nyaman menggunakan bahasa ekspresi dengan Ibunya. Ternyata enggak, si K tetap ngomong lancar meskipun dibarengi dengan bahasa ekspresi.

Tentu saja orang dewasa harus selalu mendampingi anak untuk mengucapkan kata dengan benar meskipun orang dewasa sudah memahami apa yang anak maksud melalui bahasa ekspresinya. Aku selalu minta tolong kepada orang di sekitarku untuk mengoreksi cara bicara si K jika ia salah mengucapkan. Pan Ibunya enggak tahu apa ia mengucapkan dengan benar atau sekedar lypsing saja. Hihihi, dan aku bersyukur dengan support system yang mau menemaniku melatih si K bicara.

Ragam Bahasa Ekspresi Sederhana untuk Anak Balita

Bahasa ekspresi bisa dibuat dari kesepakatan anak dan orang tuanya secara natural.Menciptakan bahasa ekspresi yang tumbuh secara alamiah mungkin membutuhkan waktu yang agak lama. Kita bisa melatih anak dengan gerakan tertentu kemudian disesuaikan dengan bagaimana anak meniru gerakan kita. Tetap saja, ya, meskipun kita ajarkan dengan gerakan tertentu, bahasa ekspresi bakal ada kekhasan dari kesepakatan antara orang tua dan anak, kemudian menjadi bahasa cinta. Ehm.

Bahasa Ekspresi untuk Mengungkapkan Rasa Lapar

 

Untuk mengungkapkan rasa lapar, si K menaruh tangannya dalam posisi terbuka dan menggerakkan dengan gerakan memutar di atas perut. 

 

Sepertinya si K terinspirasi dari Youtube Cocomelon. Lengkap dengan muka yang mengekspresikan rasa lapar dan tidak ceria. Pertamakali aku mendapati si K berekspresi seperti ini, aku ketawa melihat muka ‘laper’nya.

Bahasa Ekspresi untuk Mengungkapkan Butuh Minum

Si K mengacungkan jempol, tetapi ia mengarahkan jempolnya ke arah mulut secara berulang-ulang dengan mulut yang sedikit dimonyongkan.

Ehm, membingungkan enggak? Sepertinya aku butuh ilustrator atau video untuk menggambarkan gerakan ragam bahasa ekspresi, ya. 😀

Bahasa Ekspresi untuk Mengungkapkan Rasa Sakit di Perut

Badannya sedikit membungkuk. Kedua tangannya berada di perut dengan posisi mencengkeram. Ekspresi wajahnya kesakitan.

Ekspresif banget, ya? Anak yang terbiasa menggunakan bahasa ekspresi menjadi lebih mudah mengungkapkan apa yang terjadi dengan tubuhnya. Jika belum bisa mengungkapkan apa yang ia rasa, biasanya anak hanya menangis dan kita kebingungan menerjemahkan apa yang terjadi padanya.

Bahasa Ekspresi untuk Mengungkapkan Keinginan untuk BAK dan BAB

Bahasa ekspresi yang ini adalah penyelamat kala toilet training dan emaknya masih loading menerjemahkan omongan si K. Hihihi. Si K mulai toilet training usia 18 bulan, ngomongnya belum jelas. Jadi kami menggunakan bahasa ekspresi untuk mengungkapkan keinginannya BAK dan BAB.

Setiap akan BAK, si K akan menyentuh alat kelaminnya. Jika akan BAB, tangan si K menyentuh pantatnya.

Simpel banget. ya? Tetapi ini sangat membantu banget kala itu. Bisa juga sembari menyentuh alat kelamin atau pantatnya dibarengi dengan kata kerja eperti, “pipis atau pup.”

 

Masih ada beberapa ragam bahasa ekspresi si K yang bisa dijadikan ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi), lain kali emak K tulis dengan rinci, ya. Emak K juga sedang ikhtiar mencari ilustrator yang bisa menggambar bahasa ekspresi. Agak susah sih, karena harus terasa hidup. Hihihi.

See you. Semoga bermanfaat.

 

 

 

 

Pencarian Terkait:

  • https://widiutami com/mengenal-bahasa-ekspresi-pada-anak-balita html
Anti Panik Menghadapi Demam Anak dengan Bahan yang Ada di Dapur

Anti Panik Menghadapi Demam Anak dengan Bahan yang Ada di Dapur

Kemaren lusa si K anget, makin malam makin tinggi demamnya. Bahkan mencapai 40 derajat celcius. Demam yang bikin si K mengingau dan kaget-kagetan. Sudah lama si K enggak sakit, begitu demam melanda, doi gendongan. Setiap kali aku tertidur si K langsung nyolek-nyolek bangunin. Aku enggak tahu jam berapa ia terlelap dan aku bisa tidur dengan tenang. Saat si K demam tinggi dan enggak ada gejala penyerta yang mengkhawatirkan, kami mempunyai jurus anti panik menghadapi anak demam tanpa obat-obatan.

Kenapa Enggak Langsung Dicecoki Obat-obatan?

Pengalaman GERD abah K memberikan kami banyak hikmah. GERD memaksa kami untuk belajar mengenali tubuh. Bagaimana tubuh menyembuhkan dirinya sendiri saat ada serangan dari luar. Bagaimana tubuh bereaksi ketika menyerap racun yang dibawa dari makanan. Bagaimana tubuh mengirimkan sinyal saat ia kekurangan asupan air.

Kami meyakini jika tubuh mampu menyembuhkan dirinya sendiri, kita hanya butuh memfasilitasi proses tersebut dengan memberi tubuh asupan-asupan yang dibutuhkan untuk menyembuhkan diri sendiri.

Tubuh yang sakit adalah kondisi tubuh dengan PH yang asam dan mengandung toksin. Tubuh yang sehat PHnya cenderung basa dan mampu memerangi toksin. Lalu, gimana kalau sakit? Kembalikan tubuh ke dalam kondisi basa. Enggak harus minum asupan air basa, kok. Kita bisa mengkondisikan tubuh ke PH basa dengan mengkonsumsi buah-buahan, sayuran mentah (raw), dan air putih yang cukup.

Selama sakitnya masih dalam batasan, kami mengusahakan untuk ikhtiar mengkondisikan tubuh kembali ke kondisi basa dengan asupan sayur, buah dan air putih. Tentu jika sakitnya sudah dalam kodnisi gawat, seperti dehidrasi parah, kejang, dll, maka membutuhkan bantuan medis disamping ikhtiar dengan mengembalikan kondisi tubuh ke kondisi basa.

Anti Panik Menghadapi Demam Anak dengan Asupan Makanan yang Didapat dari Dapur

Ahelah, Mak, emang makanan kalo bukan dari dapur darimana? Dari ruang tamu apa? Hahahaha. Dalam menghadapi demam ini, aku memberikan tiga macam asupan pokok untuk mengembalikan kondisi tubuh ke basa.

  1. Jus apel dan jus nanas. Kami penganut food combining, pemberian jus apel dan jus nanas dilakukan pada pagi hari sampai siang sebelum makan siang. Si K doyan enggak? Aslinya ogah-ogahan, tetapi emak enggak boleh kalah, kubikin drama buah melawan bakteri yang ada di dalam tubuh si K, yang bikin dia demam dan enggak bisa main. Jus apelnya cuma setengah gelas, pun jus nanas paling cuma 4 sendok. Se-mood-nya si K.
  2. Jus wortel. Jus wortel adalah salah satu jus kesukaan si K. Bahkan ia bisa membuatnya sendiri dengan dampingan Ibu. Jadi enggak sulit meminta si K minum jus wortel saat sakit. Aku memberikannya 1-3 kali dalam sehari, 1/2 gelas setiap kalinya.
  3. Larutan Kunyit, Madu dan jeruk nipis. Abah K bilang ini jamu andalan. Heuheuuu. Kunyit satu jari diparut, peras airnya. Campur dengan sesendok madu dan perasan jeruk nipis seperempat potong. Kuberikan ke si K 1-2 kali dalam sehari.

Selain ketiga asupan diatas, aku juga memastikan si K minum air putih dengan cukup. Kemarin si K lemes banget sampe ogah bangun, tetep kubangunin setiap 1 jam sekali untuk minum air putih dan makan. Si K males-malesan makan juga sih, 2-4 potong kentang goreng pun cukup membuatku tenang.

Anti Panik Menghadapi Demam Anak dengan Ramuan Pijat dari Dapur

Kalau ramuan pijat ini adalah warisan turun-temurun entah dari jaman mbah buyut atau malah mbah canggah. Hehehe. Ramuannya cukup sederhana, parut bawang merah dan campurkan dengan minyak kayu putih.

Campuran bawang merah dan minyak kayu putih tersebut dibakurkan ke dada, perut dan punggung anak dua kali sehari, pagi dan malam. Tetapi, ada beberapa anak yang kulitnya enggak kuat dengan bawang merah. Jadi musti dicoba, jika kulit anak memerah saat diolesi bawang merah, maka hentikan penggunaannya segera.

Kompres anak yang sedang demam dengan menggunakan daun dadap/randu juga jadi resep yang manjur. Sayangnya di Semarang enggak ketemu daun dadap, jadi aku hanya mengompres dengan air hangat.

Alhamdulillah, hari ini demam si K sudah turun dan si K sedang memulihkan tenaga. Aku tetap memberikan asupan yang kutulis di atas sampai si K benar-benar pulih dan ceria. Semoga anak-anak sehat selalu, ya.

Pencarian Terkait:

  • https://widiutami com/anti-panik-menghadapi-demam-anak-dengan-bahan-yang-ada-di-dapur html
Merenung Konsep Kerja yang Halal dan Thayyib

Merenung Konsep Kerja yang Halal dan Thayyib

Pendidikan finacial tidak melulu tentang menghitung uang. Didalamnya juga termasuk bagaimana cara mencari harta yang halal dan thayyib. Harta yang ditempuh dengan jalan halal dan menyeluruh kebaikannya. Thayyib sendiri adalah kebaikan menyeluruh. Bahkan ada yang mengartikan jika thayyib adalah baik dalam arti seluas-luasnya. Thayyib yang tidak mendhalimi sesama maupun diri sendiri. Thayyib yang tidak mengesampingkan kewajiban diri untuk menunaikan kewajiban kepada Tuhannya. Thayyib yang tidak mengurangi hak istri dan anak-anak atas keberadaan seorang suami dan ayah.

Kita yang sudah yakin akan kehalalan pekerjaan kita, harus senantiasa mengevaluasi apakah pekerjaan kita thayyib juga. Ya Salam, enggak sesimpel asal halal ternyata, ya? Saat ngaji itu aku sampai gedek-gedek. Gusti Allah, sekedar halal saja belum cukup, ternyata.

Beberapa kali aku dan abah K berdiskusi dan saling mengingatkan terkait thayyib enggak-nya pekerjaan kami. Abah K sering mengkritikku jika aku terlalu memikirkan blog dan chat WhatsApp terkait pekerjaan sampai emosian dengan si K, hingga abah K pernah menyuruhku untuk berhenti menerima semua jenis job blogger. Memintaku menulis di blog dengan suka-suka untuk mengembalikan emosiku stabil pada garis edarnya.

Aku pun sering mengingatkan abah K ketika abah K terlalu mementingkan pekerjaannya sampai porsi waktu, kualitas waktu dengan keluarga berkurang jauh. Biasanya setelah lembur berhari-hari, abah K langsung meminta waktu beberapa hari untuk ‘membayar’ waktu yang terutang. Bahasaku kok belibet banget, sih?

Thayyib-nya pekerjaan kita juga harus ditinjau apakah pekerjaan ini mendhalimi diri sendiri atau enggak. Pekerjaan yang lembur terus-terusan sampai mengabaikan hak tubuh untuk istirahat perlu dievaluasi. Bagaimanapun, tubuh kita adalah amanah yang harus kita tunaikan hak-haknya.

Aku belum menjejalkan si K dengan teori halal dan thayyib. Di usianya yang baru menginjak 3.5 tahun, kami fokus memberikan teladajn bagi si K. Anak adalah sebaik-baiknya peniru. Si K melihat bagaimana Abahnya tetap menjaga kesehatannya meskipun pekerjaan sedang banyak-banyaknya, tetap sarapan buah, ngeteh rempah dan pantang minum kopi.

Diam-diam, si K mempelajari betul bagaimana Abah K menyempatkan diri untuk video call di sela-sela marathon jadwal kerja di luar kota. Kemarin ia mengajakku bermain peran dengan menggunakan vespa. Tiba-tiba ia pamit bekerja, dadah-dadah… lalu bergaya di depan laptop layaknya abah K. Di tengah-tengah pekerjaan, si K mengambil mainan kotak dan bersandiwara sedang telpon Ibu.

Uwuuuuu. Emak K jadi ngebayangin kelak kalo bocah ini sudah kerja. Hahaha, so sweet banget sih, Nang…

 

Mengenalkan Uang pada Anak Balita

Mengenalkan Uang pada Anak Balita

Emak K beberapa waktu yang lalu takjub. Wow, mengenalkan uang pada anak di bawah lima tahun ternyata menjadi polemik yang cukup alot di kalangan emak-emak. Ada kalangan emak-emak yang menganggap bahwa anak baru boleh dikenalkan dengan jajan dan nominal uang saat anak sudah berusia pre aqil baligh (Sekitar 7 tahunan). Ada pula yang menganggap bahwa konsep uang harus dikenalkan sejak anak masih batita, bawah tiga tahun, lho.

Emak yang memilih untuk tidak mengenalkan anak balita pada konsep uang berpegang anak usia balita harus dikuatkan konsep rejeki dari Robbuna terlebih dahulu sebelum mengenal uang dan jajan. Bagi emak-emak ini, pendidikan financial bagi anak balita tidak melulu tentang uang. Masih ada konsep keinginan dan kebutuhan, menabung, dan bersedekah.

Sementara, emak yang mengenalkan konsep uang sejak dini meyakini bahwa anak sudah harus dikenalkan jika uang adalah alat tukar barang, jika uang kedua orang tuanya terbatas dan harus menahan diri jika membeli suatu barang. Bagi kelompok ini, pendidikan financial pada anak usia balita bisa dilakukan dengan beriringan antara menguatkan konsep rejeki dari Robbuna, mengenal uang dan pernak-pernik financial lainnya.

Lika-liku Lucu Pendidikan Financial pada si K

Saat si K berusia 2 tahun, si K belum kukenalkan dengan uang. Usia 2 tahun belum mengenal angka, jadi aku belum mengenalkan uang, bahkan belum mengenalkan jajan. Hingga suatu hari saat kami bepergian, kami mampir ke warung. Si K tiba-tiba mengambil jajan dan melesat keluar seolah-olah jajan itu miliknya sendiri. Aku kaget dan mengejar si K untuk meminta kembali jajan yang sudah ia ambil.

Saat itu juga, aku berpikir bahwa sudah tiba saatnya si K dikenalkan dengan konsep uang sebagai alat bayar. Dudu warunge mbahe, Rek… Uisin banget aku saat cerita ke yang punya warung kalau tadi mengejar si K yang melesat keluar sambil membawa jajan. Hahaha.

Masalah datang kembali beberapa bulan kemudian saat si K merengek minta uang untuk jajan, sementara invoice belum cair.

“Ibuk, tumbassss…”

“Tumbas apa?”

“Es kyim.”

“Wah, uangnya tinggal empatribu, enggak cukup untuk beli es krim.”

FYI, es krim kesukaan si K adalah es krim cup yang harganya 5k.

“Ambil uang yooo. Ambil uang di ATM.”

Baiklah… sudah tiba masanya untuk mengenalkan kepada si K bahwa enggak bisa semena-mena mengambil uang di ATM. “Kartu ini buat nyimpen uang Ibu, kalau uang di kartu ini habis, kita enggak bisa ambil uang di ATM. Buat ngisi kartu ini, Abah harus kerja, dan Kevin, Ibu, Abah harus berdoa biar rejeki kita lancar.”

Si K paham? Entah, tetapi lumayan sejak saat itu dia tanya dulu kartu Ibu ada uangnya enggak. Hahahaha.

Berkaca dari kejadian-kejadian lucu tadi, aku berada di barisan mak-emak yang mengenalkan konsep uang dan financial sejak anak masih kecil, seiring dengan menguatkan konsep rejeki dari Robbuna.

Mengenalkan Nilai Uang pada Anak Usia 3 Tahun

Si K sudah bisa membaca angka ketika berusia 3 tahun-an. Di usianya yang ke 3.5 tahun ini, aku mulai mengenalkan nilai uang pada si K agar dia tahu bahwa setiap barang harganya berbeda-beda. Bahwa dia bisa membeli permen dengan uang duaribu, tetapi harus menabung cukup lama untuk membeli ekcavator remote. Bahwa es krim tidak bisa dibawa pulang dengan uang koin 500 rupiah yang dibawanya. Bahwa Ibunya cukup cerewet jika ia merusakkan excavator remote, tetapi super selow saat balonnya meletus. Hahaha. Harganya 1000 kali lipat dari harga balon je….

Aku mencari desain uang mainan yang berbentuk file pdf dan mengeprintnya. Saat itu ada empat jenis nilai uang yang ku-print, 10k, 5k, 2k dan 1k. Selain uang, aku juga mengeprint 4 buah gambar Babi.

Bermain Mengelompokkan Nilai Mata Uang

Aku membuat amplop dari kertas bekas sebanyak 4 buah dan menempelkan gambar babi di depannya, lalu menulis nominal uang pada keempat amplop tersebut.

Setelah semuanya siap, aku meminta si K untuk memasukkan uang sesuai nominal yang tertera pada amplop. Aku meminta si K menghitung jumlah nolnya dan memastikan bahwa dia mengelompokkan uang dengan membaca angkanya, bukan mengelompokkan berdasarkan warna dan gambar uang.

Si K cukup antusias, bermain dengan riang meskipun tidak sampai habis semua helai uang. Kami bermain sekitar 15 menit, setelah itu bubar jalan. Namun, 15 menit yang singkat ini membuat si K semakin menghargai uang. Ia tidak lagi melempar-lempar uang kemana-mana, tidak lagi merengek meminta sesuatu ketika aku berkata jika harganya cukup mahal, tidak lagi mengambil Kinderjoy saat jajan karena tahu jika harga Kinderjoy bisa dibelikan 3 buah es krim coklat. Hahahaha.

 

Pasir Kinetik Home Made dari Tepung Tapioka

Pasir Kinetik Home Made dari Tepung Tapioka

Si K sedang hobi main pasir dan tanah. Emak enjoy sih sebenarnya, tetapi kalau jelang maghrib atau setelah mandi sore masih ngedeprok di luar main tanah kan bikin nangis. Hiks. Akhirnya emak K bebikinin pasir kinetik home made dari tepung tapioka. Resepnya nyontek mbak Aryani, Mama-nya mas Baron. Bahannya gampang, bisa didapatkan dari warung sekitar rumah.

Membuat Pasir Kinetik Home Made dari Tepung Tapioka (2)

Membuat Pasir Kinetik Home Made dari Tepung Tapioka (2)

Membuat Pasir Kinetik Home Made dari Tepung Tapioka

Membuat pasir kinetik dari tepung tapioka cukup mudah, sediakan bahan-bahan sebagai berikut:

  • Tepung Tapioka, emak K kemaren pakai 250 gram.
  • Pewarna makanan.
  • Minyak Goreng
Membuat Pasir Kinetik Home Made dari Tepung Tapioka

Membuat Pasir Kinetik Home Made dari Tepung Tapioka

Caranya cukup gampang, campurkan ketiga bahan tersebut hingga gembur seperti humus. Takarannya dikira-kira, ya. Hahaha. Minyak gorengnya sedikit aja, untuk 250 gram tepung tapioka kemarin, aku menuangkan sekitar 30 minyak goreng. Pewarna botol kecil 12 ml itu kutuang semua. Proses campurannya berhenti ketika adonannya gembur, enggak lengket dan bisa dibentuk.

Observasi Gaya Belajar Anak dengan Pasir Kinetik

Bermain pasir kinetik ini aku mengamati kira-kira gaya belajar apa yang menonjol pada si K. Aku tidak melakukan intervensi apapun ketika si K bermain pasir kinetik. Awalnya aku membuat pasir kinetik sampai jadi, ternyata si K penasaran dengan teoung tapioka yang tergeletak di samping dan ingin membuat pasir kinetiknya seniri.

Aku pun menyediakan baskom baru, tepung tapioka, minyak goreng di gelas dan pewarna satu botol kecil. Si K menuangkan semuanya sendiri dan menolak untuk dibantu. Ia belajar dengan gaya kinestetik, learning by doing, trial and error.

Setelah membuat pasir kinetik, si K lantas meminta pewarna lain, warna hijau. Pembuatan ronde kedua selesai, si K lanjut membuat aneka macam kue. Dipotong, lalu disajikan untuk Ibu. Ibu diharuskan makan ‘kue’ hasil masakannya. Di fase ini, gaya kinestetiknya masih menonjol.

Setelah bosan membuat kue-kuean, si K ditemani mbak Ba mencampur pasir warna hijau dan warna merah, tara… jadilah pasir warna coklat. Bhahahaha. Oh iya, saat membuat pasir kinestetik ini tercium aroma harum khas kue yang berasal dari pewarna frambozen, si K tergoda untuk mencicipi tepungnya. Wkwkwkwk. Di fase ini si K menonjol juga gaya belajar visualnya, memetakan warna-warna.

Auditorinya ada sih, si K ngobrol saat menawari kue atau bertanya sesuatu. Hanya saja enggak begitu menonjol.

 

 

Proyek Keluarga, Kemana Biduk kan Dikayuh

Proyek Keluarga, Kemana Biduk kan Dikayuh

Kuliah Bunda Sayang Batch 5 masuk ke level 3. Dimulai saat kami masih tenggelam dalam nuansa lebaran. Boro-boro membuat to do list untuk mencapai target lulus level, sempat membaca materi di Google Classroom saja sudah menjadi berkah tersendiri.

Family Project, level dimana kami belajar untuk memetakan proyek yang melibatkan keluarga, memetakan kecerdasan mana yang akan distimulasi dalam 17 hari tantangan. Awalnya, aku bertekad untuk mengikuti tantangan dengan semangat meski terkendala sinyal dan seabrek agenda lebaran.

Hari pertama, aku posting agak siang. Hari kedua pagi-pagi benar sebelum beraktivitas. Begitu juga hari ketiga dan keempat. Hingga… kesibukan pasca lebaran dan sensasi GERD yang menyerang abah K setelah makan olahan ketan, membuat emak K enggak sempat menulis proyek-proyek yang kami jalankan.

Tunggu, apakah aku sudah mulai mencari pembenaran?

Tentang Sebuah Proses Mengayuh Biduk Keluarga

“Kamu ikut kelas untuk apa, Yi? Untuk mendapatkan pujian?” tanya abah K, suatu malam saat aku merasa hopeless enggak bisa mengikuti kelas seperti biasa.

Aku menggeleng, “Tentu tidak. Meski ya, aku suka mendapatkan pujian tetapi itu bukan tujuan utama.”

Lalu, hari-hari kami disibukkan dengan proyek-proyek keluarga yang beragam. Malam-malam kami riuh dengan diskusi dan evaluasi. Sesekali diskusi terlihat alot hingga mbak ipar menyangka kami sedang bertengkar. Saking enggak pernah teriak-teriak, diskusi alot membuat orang lain menyangka kami bertengkar.

“Kita travelling, nabung konten. Kamu yang nulis, aku fokus di kerjaan kantor dan optimasi Adsense.” Ujar abah K.

“Jadi catatan mbolang harus ada di blog?”

“Iya, termasuk tugasmu di kelas IIP.”

Aku mendelik. Yang benar saja.

“Ndak perlu banyak-banyak, kayak kamu nulis di fesbuk gitu sudah cukup, Yi. Tiga ratus kata saja juga enggak apa-apa.”

Waduk Grobogan Bojonegoro

Waduk Grobogan Bojonegoro

Oke, proyek satu keluarga kami di bulan syawal, #MbolangBarengsiK. Cukup banyak yang kami kunjungi, Taman Seribu Lampu-Cepu, MC Edupark Cepu, Agrowisata Belimbing Bojonegoro, Waduk Grobogan-Bojonegoro, Ademos Delokgede-Bojonegoro, Kracaan-Niagaranya wing Bojonegoro, Sawah, Sungai, Pondok Pesantren Al Anwar lamongan, Makam sayyid Ibrohim Asmaraqandi, hingga Bledug Kuwu-Grobogan.

Sayang, yang kutulis cuma lima biji. Sensasi GERD yang menyerang abah K di malam hari membuatku harus full mendampingi dan menyingkirkan waktu menulis. Di sela-sela mendampingi abah K, kami masih sempat ngobrol tentang pola hidup sehat Food Combining yang tengah kami jalani.

Siapa sangka, kegagalanku berbagi tentang proyek keluarga #MbolangBarengsiK ternyata mengantarkan kami ke proyek keluarga lain yang tidak kami sadari.

Kami bertekad untuk bergerak aktif mendampingi teman-teman yang berjuang untuk sembuh, saudara yang tengah di uji sakitnya, juga sahabat abah K yang meninggal bulan Ramadhan kemarin. Proyek keluarga kedua hadir di saat kami menghadapi sakit GERD, #SehatBareng-bareng.

Pola Makan Food Combining

Pola Makan Food Combining

Abah K aktif berbagi tentang pengalamannya menghadapi GERD, aku aktif berbagi tentang pengalamanku mendampingi Orang dengan GERD. Ternyata tidak sedikit yang baru menyadari jika selama ini sakit GERD, bahkan ada yang menyangka jika selama ini disantet karena saking judegnya menelusuri kenapa jantung berdegup kencang, kenapa kematian serasa sangat dekat.

Chat WhatsApp dan Messengerku penuh dengan curhat dan sharing seputar food combining dan GERD. Salah satu topik chat dimana abah K akan dengan senang hati membantu membalas chat yang masuk. Beliau sangat menikmati proyek keluarga di bidang healthy life ini. Betapa aku bahagia karena kepeduliannya dengan orang lain merupakan pertanda jika GERD pelan-pelan pergi dari ususnya.

“Ada hikmahnya ya aku sakit?”

“Iya, kita jadi lebih peka sekarang, juga lebih kompak. Hehehehe.” Sahutku.

Ya, memang kadang kadangkala peristiwa yang terlihat buruk, menguras emosi, melelahkan, ternyata adalah sarana untuk menemukan jati diri keluarga, menemukan kearah mana keluarga akan dibawa, juga… menyatukan visi-misi keluarga.

Kadangkala badai yang menerjang membuat penghuni kapal menyatukan tekad kemana kapal kan dikayuh, kearah mana kapal kan dibawa. ‘Memaksa’ penghuni kapal untuk mengerahkan tenaga sekuatnya untuk keluar dari terjangan badai.

Family project hanya sekedar nama, tidak lebih. Ianya berangkat dari aktivitas keluarga yang dijalani dengan sepenuh jiwa, riang dan gembira. Ianya ditemukan setelah menjalani proses yang panjang. Menyatu dalam gerak-gerik keluarga. Bahkan kadang tanpa disadari, saking mengkristalnya ia dalam sanubari.

Gagal di Level 3-Family Project, Tidak Lantas Membuat Kami Berhenti untuk Bergerak

Ya, aku gagal di level ini. Aku hanya mampu menyetor 5 tulisan dari 10 tulisan minimum yang ditargetkan untuk lulus level. Alasannya? Banyak pembenaran yang bisa kuutarakan dan itu akan menghabiskan belasan menit waktumu untuk membaca.

Perkenankan aku untuk berterimakasih ke orang-orang hebat yang telah bersinergi menyusun Family Project Level 3 di Bunda Sayang ini; terimakasih telah membuatku berlatih untuk mengubah ujian yang kuhadapi menjadi tantangan sebagai proyek keluarga yang menyenangkan.

Juga,

Membuatku bersyukur memiliki keluarga kecil yang saling mengingatkan untuk bergerak dan berkembang bersama-sama. Level 3 sudah usai, tetapi aku akan terus melanjutkan untuk menulis konten yang sedianyan ingin kusetorkan di Bunsay Level 3. Setidaknya, abah K enggak merasa sia-sia tenaga dan uangnya yang kami gunakan untuk mbolang. Hahaha.

Salam!

Emak K