Widi Utami

Learn, Write and Share
Deaf Corner | Parenting | Semua | Tlatah Bocah

Menerima Kekurangan Anak

May 28, 2018
Menerima Kekurangan Anak

“Kok anakmu makan sambil jalan, sih. Anakku dong, makan sendiri duduk manis…”

“Hei, Kevin kok anteng kitiran? Sampai jidatnya benjut dimana-mana. Anakku ini, ya, seusia Kevin sudah bisa belajar anteng di meja belajarnya….”

“Kevin kok bangunnya siang banget? Anakku ikut sahur, gitu shubuh-shubuh sudah ngajak jalan-jalan.”

“Kevin kalau diajak tarawih heboh, ya? Makanya Ibunya cuma tarawih satu kali, putuku ikut sholat. Anteng. Dari rekaat pertama sampai rekaat terakhir witir. ”

Ya kali, Bu, emang tarawih cuma di masjid.

“Ya Allah, Pin-pin… Diajak buka bersama kok malah mlayu rana-rene. Kene, lungguh karo putuku. Anteng sampe rampung…”

“Kevin mimik Ibu lagi? Kalah sama Mas, Mas ini enggak usah disapiih sudah menyapih diri sendiri, enggak pakai rewel, enggak pakai begadang. Pinter tenan.”

Mak, Mak enggak tahu sih bagaimana perjuangan kami untuk menyapih setelah tiga bulan berhasil tanpa ng-ASI dan gagal kembali saat si K jatuh dan mulutnya berdarah sampai enggak doyan makan. Hiks-hiks.

“Kevin masih gambar benang ruwet, ya? Anakku waktu 2 tahun sudah bisa bikin animasi pake laptop.”

Yang terakhir BOHONG, itu percakapan imajiner emak K. Wakakaka. Sangat mudah untuk berbincang tentang kelebihan anak, cucu, lalu membandingkan dengan kekurangan anak atau cucu orang lain. Tetapi tahukah, sulit untuk menerima kekurangan anak sendiri. Apalagi kalau sudah dibandingkan dengan kata-kata, “Saat seumuran…” bikin emak K dag dig dug jeder, “Apakah si K ‘berbeda’?”

Padahal jika dilihat dari tugas perkembangan, semua tugas perkembangan sudah terpenuhi. Emak-emak tukang ngegalau, memang~

Memang Sulit untuk Menerima Kekurangan Anak, but, its Possible.

Ya, memang sulit untuk menerima kekurangan anak, tetapi ini adalah hal yang sangat mungkin. Melatih diri sendiri. Begitu banyak orang tua di luar sana yang membuktikan jika mereka bisa menerima kekurangan anak dengan legowo.

Contoh terdekat dari kehidupanku adalah Ibuku sendiri. Beliau yang menerima kekuranganku sebagai Hard of Hearing. Menerima kekurangan berarti menerima sepaket tantangan, dari sisi medis, psikologi anak, juga omongan orang-orang sekitar. Menerima kekurangan anak berarti siap dengan segala resiko untuk mengayomi kekurangannya.

Apalagi jika kekurangan anak berkaitan erat dengan kemandirian mengurus diri sendiri, maasyaAllah, perjuangan sekali. Angkat topi untuk semua orang tua yang bisa menerima kekurangan anak. Kadang–kalau sedang waras– aku berkaca dari orang tua hebat ini, mencium si K berulang-ulang, betapa si K lebih banyak mempunyai kelebihan daripada kekurangannya.

Menerima kekurangan anak memang sulit, tetapi bisa dilatih sedikit demi sedikit. Aku biasanya menggunakan teknik sounding. Hahaha, enggak cuma anak yang butuh di sounding, ternyata, tetapi Ibunya juga. Ah, si K cuma susah makan, harus disyukuri, harus lebih telaten lagi, besok-besok enggak boleh marah-marah, harus dengan penuh kasih sayang….

Bergandengan Tangan dengan Suami untuk Menerima Kekurangan Anak

Anak adalah anak dari ayah dan ibu, menerima kekurangannya pun harus sepaket.  Berkaca dari orangtua hebat, menghadapi kekurangan anak akan lebih ringan jika ayah-ibu saling bergandengan tangan. Aku sering berdiskusi dengan abah K terkait kekurangan anak.

Ya, meskipun saat diskusi aku masih keceplosan, “Bah, tadi kata si X toh, si K bla bla bla.” tetapi kami fokus kepada, apakah yang dikatakan si X benar dan si K perlu diberi perlakuan agar kekurangannya bisa ditanggulangi, eh, diatasi. Apakah ada perlakuan khusus yang harus kami lakukan sebagai orang tua terhadap kekurangan si K ini.

Aku mati-matian menahan diri untuk tidak terlarut dalam perasaan. Baper boleh, tetapi kebaperan tersebut tidak boleh menghambat langkah untuk memperbaiki.

Iya, sih, menyakitkan dibilang si K kebluk, tetapi jauh lebih darurat untuk melatih si K bangun pagi agar tidak menyusahkan si K sendiri kelak jika dia sudah besar dan memikul tanggung jawab. Ini masih PR banget untuk Abah-Ibunya, apalagi si K kalau tidur dini hari. Mengubah pola tidur enggak gampang, Cyn. Daku sedih, dulu saat si K umur setahun, kami sudah berhasil mengubah pola tidur si K, tetapi tiga bulan belakangan ini susyahnya… Sampai emak K kesulitan untuk mengatur waktu ngeblog. Hiks, hiks.

Aku bersyukur, setidaknya jika orang di luar sana terus-menerus mengulang kekurangan si K, membandingkan dengan anak lain, masih ada abah K yang stay cool dan bisa membuatku merasa bahwa tidak ada yang perlu dirisaukan berlebihan, yang perlu hanyalah bagaimana mengatasi tantangan-tantangan ini.

Kata Pakar tentang Menerima Kekurangan Anak

Penerimaan merupakan pemberian cinta tanpa syarat sehingga penerimaan ibu terhadap anaknya
tercermin melalui adanya perhatian yang kuat, cinta kasih terhadap anak serta sikap penuh kebahagiaan mengasuh anak. -Hurlock-

Umumnya jurnal-jurnal Psikologi membahas penerimaan Ibu terhadap anak berkebutuhan khusus, tetapi, tentu saja ini berlaku untuk semua Ibu, yang setiap anak mempunyai keistimewaan sendiri meskipun anak kita merupakan anak yang tidak mempunyai ciri khas dalam listing anak berkebutuhan khusus.

Symonds menunjukkan perbedaan tingkah laku antara anak yang diterima dan ditolak. Secara umum anak yang diterima menunjukkan perilaku sosial baik, sementara anak yang ditolak menyimpan sejumlah tingkah laku yang tidak bisa diterima. Secara spesifik, tingkah laku anak yang diterima menyangkut kealamiahan yang baik, mempertimbangkan orang lain, ceria, semangat kerja, bersahabat, kerja sama, dan emosinya stabil. Sedangkan pada anak yang ditolak berusaha mencari perhatian, menghindari kewajiban, dan sejumlah masalah pada sekolahnya.

Aku jadi teringat saat masih aktif mengajar, betapa penerimaan orang tua SANGAT BERPENGARUH pada anak. Penerimaan ini tidak memandang apakah anak ini sempurna atau anak berkebutuhan khusus.

Aku pernah menahan emosi sampai ke ubun-ubun karena salah seorang siswa tingkahnya MaasyaAllah… dari main hape saat pelajaran berlangsung, ngusilin guru, sampai hobi mukul teman. Saat aku berbincang ringan layaknya teman–Sampai-sampai aku ditegur karena terlalu akrab dengan murid–, aku mulai mengerti kenapa anak ini tingkah lakunya caper banget; Ayah-Ibunya membandingkan dengan saudaranya yang lebih ganteng dan cerdas.

Rasanya kuingin menjitak orang tuanya, anaknya sempurna, gagah, cuma memang lebih hitam dan kecerdasannya rata-rata saja. :'(

Menerima Kekurangan Anak Memang Sulit, Mari Saling Berangkulan

Yes! Demi kebaikan anak kita dan anak-anak di sekeliling kita, mari saling berangkulan, saling menguatkan untuk menerima kekurangan anak. Kita tentu tidak mau kelak anak kita banyak tingkah hanya karena sikap kita yang kurang menerima, kurang bersyukur atas keberadaannya.

Stop mengomentari kekurangan anak orang lain dengan membandingkan dengan kelebihan anak kita seniri. Toh, tidak ada benefit jika kita berlaku seperti ini, yang ada malah membuat orang tua anak yang kita komentari kekurangannya terus bertanya dan bertanya tentang kekurangan anaknya.

Jauh lebih bermanfaat jika kita diam daripada berkomentar dengan kalimat yang membuat orang lain down. Jika memang diminta pendapat, mari saling menguatkan dengan pendapat yang menciptakan harapan positif. Jika merasa tidak memiliki solusi, sekedar genggaman tangan atau tepukan di bahu saja sudah membuat kita merasa kuat dan memiliki energi positif untuk menghadapi kekurangan anak.

 

Salam!

Emak K

Pencarian Terkait:

  • menerima kekurangan anak
  • menerima kelebihan anak itu mudah menerima kelemahan anak itu yang sulit
  • Orang tua tidak menerima kekurangan anak
  • orang tua yang tidak bisa menerima kekurangan kegagalan anaknya

Home Based Education Interested. Love reading, writing and travelling. Interested in blogging. Live in Salatiga, a small city near Merbabu Mountain.

Bagaimana komentar kalian?

%d bloggers like this: