Widi Utami

Learn, Write and Share
K's Family | Semua

Difable di Era Digital Semakin Seru dan Produktif

December 7, 2018
Meja Tulis Kantor

Era digital enggak cuma mendobrak jarak, tetapi juga mendobrak dinding batas penyandang difable. Mendobrak imposible menjadi possible. Dulu kami sering dipandang enggak bisa apa-apa, datangnya era digital membuat kami bersiap-siap dengan banyaknya hal yang bisa kami lakukan. Sejalan dengan semakin terbuka lebarnya peluang di era digital bagi penyandang difable, tantangan untuk terus menyesuaikan diri dan upgrade ilmu juga semakin tinggi. Tenang, kami bertekad untuk #madeitpossible, terus mengembangkan diri di tengah keterbatasan.

Ketika Tuli dan Tunanetra Berbincang Riang

Sebelum mengenal teknologi, kami yang Tuli jika ingin berbincang dengan sahabat Tunanetra harus meminta tolong penerjemah. Sangat riskan jika ingin curhat atau berbincang tentang hal yang bersifat pribadi. Jika enggak pakai penerjemah, kami yang Tuli akan berbahasa isyarat dengan menaruh gerakan tangan di tangan teman Tunanetra, itu pun jika teman Tunanetra bisa berbahasa isyarat.

Ribet ya?

Kalau teman Tunanetra enggak bisa berbahasa isyarat, kami harus legawa menerima kenyataan jika kami enggak bisa saling berbincang. Ngomong pakai bahasa hati sajalah, biar disampaikan oleh malaikat. Eh.

Kini setelah memasuki era digital, WOW! #MadeItPossible, kami bisa saling berbincang tanpa penerjemah dengan mudah. Kami yang Tuli bisa mengetik percakapan di handphone atau laptop, teman kami yang Tunanetra akan mendengarkan suara dari apa yang kami ketik dengan menggunakan voice yang sudah tersedia di semua telepon pintar, laptop dan berbagai gadget yang ada.

Pertamakali berbincang dengan teman Tunanetra melalui chat dan email, airmataku sampai meleleh. Tidak pernah terbayangkan dalam benakku jika aku bisa berbincang jarak jauh dengan teman Tunanetra. Dulu kami terhalang dengan teknologi yang terbatas. Teman Tunanetra belum ada teknologi untuk menerjemahkan teks ke suara, kami yang Tuli enggak bisa telepon mereka.

Tuli Bisa Menjadi Customer Service di Media Sosial

Mau jadi sekretaris, tapi… tidak bisa menerima telepon.

Mau jadi operator sekolah, tapi… tidak bisa menerima telepon.

Aku sering putus asa hanya karena persoalan telepon. Beberapa kali ditolak bekerja karena pada jaman itu telepon adalah hal yang paling efektif dan cepat untuk urusan pekerjaan. Sekarang gimana?

Era digital dengan kecanggihan teknologinya membuat pekerjaan untuk Tuli semakin terbuka lebar. Orang-orang lebih menyukai komplain di Twitter atau Facebook official dibandingkan dengan telepon. Untuk memesan barang pun lebih menyukai pesan melalui chat WhatsApp.

Marketplace sangat mengunggulkan teks dan visual, tidak lagi mengandalkan suara. Canggihnya, meskipun mengandalkan teks, teman-teman Tunanetra tetap bisa mengakses karena mereka bisa mendengarkan melalui pembacaan teks suara.

Sarana Belajar Semakin Beragam dan Mudah Diakses

Era digital menjadikan sarana belajar semakin beragam dan mudah diakses. Enggak bisa nonton Youtube, kami masih bisa request subtitle atau mencari alternatif materi yang lain. Sebagai penyandang Tuli, aku merasa semakin dimanjakan dengan era digital.

Fasilitas Wifi dan Laptop membuatku ingin belajar dan belajar setiap kali ada kesempatan. Membaca buku yang dulu harus kutempuh dengan susah payah, kini aku bisa membaca e book di berbagai portal literasi yang menyediakan pembacaan buku digital. Meskipun begitu, aku tetap membeli buku fisik setelah membaca e booknya jika kurasa buku ini akan bermanfaat dalam jangka panjang.

 

Kamu, di era digital ini,apa yang paling berkesan dalam hidupmu?

 

 

Home Based Education Interested. Love reading, writing and travelling. Interested in blogging. Live in Salatiga, a small city near Merbabu Mountain.

Bagaimana komentar kalian?

%d bloggers like this: