Sebagai mamah-mamah muda, aku masih harus terus belajar bagaimana mendidik anak. Berada di lingkungan yang belum mendukung kegiatan literasi, mengenalkan buku kepada anak sejak bayi menjadi sesuatu yang dipandang terlalu ngoyo. Apalagi buku anak tergolong mahal, eman-eman, buat beli baju bisa dapat lima stel, kata mereka.

Tetapi, toh, karena urusan anak adalah tanggung jawab orang tuanya, bukan tetangga apalagi orang jauh disana, aku hanya mendengarkan apa kata suami. Jika suami diam saja ketika aku menguras rekening beliau untuk membeli segambreng buku, artinya beliau mendukung. Hahaha.

Berhasil mengabaikan para nyinyiers dan mendulang dukungan suami, tekad untuk mengenalkan si K pada buku sejak bayi diuji oleh si K langsung. Dari yang buku dirobek-robek, kepala luka kejedot ujung buku, hingga buku dicampakkan karena gambar tidak menarik. Syedih, Cyin

Seiring perjalanan mengenalkan si K pada buku, aku menyadari jika mengenalkan buku kepada anak pun ada seninya. Tak bisa mengabaikan keunikan anak pada usia-usia tertentu.

Bahan Penyusun Buku

Anak usia satu tahun sedang berada pada fase merobek-robek kertas. Si K sangat penasaran dengan segala macam bentuk kertas. kertas tebal, label, sticker, bahkan isi dompet. πŸ˜€

Merobek kertas adalah pra-syarat anak bisa menulis dengan benar. Jadi bukan hal yang bijak jika kita melarang anak untuk merobek-robek kertas.

Dasarnya Emak-emak lugu, aku menyediakan buku interaktif dengan harapan si K tertarik pada buku saat berusia 6 bulanan. Aku mengabaikan kekuatan tangan si K untuk merobek buku. Kupikir, paling si K belum kuat merobek kertas tebal. Dan, kapokmu kapan, Mak, buku interaktif yang lumayan mahal itu sukses dirobek oleh si K. Hiks!

Langkah pertama yang harus diperhatikan sebelum membeli buku untuk anak usia newborn-3 tahun adalah bahan penyusun buku.

Pilih buku yang berbahan karton tebal atau kain. Hindari memberi buku berbahan paper back, apalagi art paper glossy atau hvs, kecuali memang sengaja menyediakan buku tersebut untuk dijadikan objek merobek-robek ria. Hindari pula memberikan buku tua yang mulai ada serbuk-serbuk kertasnya, bahaya jika terhirup dan tertelan.

Perhatikan ujung buku, pilih yang berjung tumpul untuk menghindari cedera karena terbentur boardbook berujung lancip.

 

Pilih Warna Kontras dengan Teks Cerita yang terdiri dari 1-2 Kalimat Saja

Durasi fokus anak 1-3 tahun masih sangat minim. Paling poll 1 menit. Jangan harap membaca teks sampai tuntas. Baru baca sepenggal kata, anak sudah tak sabar membolak-balikkan halaman buku.

Untuk anak newborn dianjurkan memakai buku dengan warna hitam-putih. Tetapi, jika tidak memungkinkan boleh menggunakan buku dengan susunan warna yang kontras dan gambar sederhana. Hindari membeli buku dengan gambar rumit dan kecil-kecil kayak semut.

Buku dengan Tema Diri Sendiri, Keluarga dan Lingkungan Recomended untuk usia newborn-1 tahun

Tugas perkembangan sosial anak usia newborn-1 tahun adalah mengenal emosi diri sendiri, mengenal keluarga dan lingkungan. Memilih buku dengan tema diri sendiri, keluarga dan lingkungan akan
membantu orang tua, terutama Ibu untuk mengenalkan anak tentang dirinya, keluarga dan lingkungannya. Keberadaan buku dengan tema keluarga juga
dapat memperkuat bonding antara orang tua dan anak.

Buku emosi dapat menjembatani kebingungan ibu dan ayah untuk mengenali kemauan anak. Kami sangat terbantu dengan buku pengenalan emosi. Si K jarang tantrum nggak jelas karena tahu bagaimana mengekspresikan kemarahan, kesedihan, dan rasa sakitnya.

Dulu, si K langsung nangis kejer ketika mendengar suara petir, petasan dll. Emaknya yang nggak dengar suara-suara tersebut bengong melihat anak tetiba nangis kejer tanpa sebab. Seiring dengan pemahamannya si K tentang emosi yang dibantu oleh buku Hmmm… dari Rabbithole, si K mulai mengganti bagaimana mengekspresikan rasa kagetnya, dan Emaknya pun ber oh-oh ria menyadari si K kaget dengan suara yang tidak bisa kudengar. Wkwkwk.

“…Kami menyayangimu, apapun yang terjadi. ” penggalan kalimat ini spontan membuat si K mendaratkan kecupan di pipiku.

Lantas, kami berpelukan meniru gambar yang ada di buku. Aiihh, begini banget rasanya yak. Hahaha.

Buku dengan Sensory Play Menjadi Nilai Plus

Sensory Play adalah permainan yang mendorong anak untuk menggunakan satu indera atau lebih. Baik indera penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba maupun pengecapan.

Buku yang terdapat sensory play membantu kita sebagai orang tua untuk mengemas stimulus dengan praktis. Baca buku iya, menstimulus indera peraba iya, menstimulus indera penglihatan iya, menstimulus indera pendengaran juga oke. Yang belum, stimulus indera pengecapan, kali, ya, tetapi kadang si K iseng menjilat-jilat buku juga, sih. Hahaha.

Bagaimanapun, yang Terpenting adalah Peran Aktif Ayah dan Ibu

Buku hanyalah media untuk membangun bonding antara ayah, ibu dan anak. Semahal apapun, seinteraktif apapun, semodern apapun buku yang dibeli, jika ayah dan ibu tidak mendampingi anak dengan aktif sama saja nol besar, Cyn.

Lebih baik memberi anak buku murah-meriah seribuan yang dijual di pinggir jalan dengan pendampingan penuh ayah atau ibu daripada beli buku berbilang puluhan dollar tanpa pendampingan ayah ataupun ibu.

By the way

, Mak. Buku yang ditampilkan gambar-gambarnya di atas itu buku apa sih?

Hihihi. Kan, sudah kukasih bocoran di atas, ini buku berjudul Hmmm… terbitan Rabbithole yang memang dirancang untuk anak 0-3 tahun, di atas 3 tahun juga masih bisa banget dibaca.

Iya, buku Hmmm… ini menjadi salah satu yang menemani rutinitas membaca buku antara aku, abah K dan si K.

Disusun dengan board yang ringan dan tak mudah robek, buku ini cukup aman jika diangkat-angkat dan dimainkan sendiri oleh si K.

Sensory Play yang disisipkan pun cukup kuat, si K yang kalau mencubit bisa menimbulkan lebam di kulitku ini tak cukup kuat untuk mengambil sensory play-nya. Hahaha.

Buku ini hanya bisa diperoleh via online, tidak tersedia di toko buku. Biasanya daku ngintip-ngintip instagram-nya Rabbit Hole. Hihihih.

Cukup mahal untuk ukuran buku boardbook yang beredar di pasaran, tetapi, i guess, sesuai dengan kualitas yang ditawarkan.

Meski begitu, owner Rabbithole menawarkan arisan buku. Hihihi, iya, kita beli bukunya nyicil, biar nggak berat-berat amat. πŸ™‚