Jodoh adalah satu diantara takdir yang tak dapat ditebak kapan kan bertemu. Nggak ada yang bisa menjamin jika yang sudah bergandengan dengan pacar akan menikah duluan, bahkan siapa tahu jomblo yang cuma cengar-cengir saat teman-temannya nggojloki karena nggak laku-laku, tetiba nyebar undangan dalam waktu dekat.

Yaaa, itu kan elu, Dut, yang bertemu jodoh tanpa proses yang belibet. Mukjizat dari Robbuna karena langsung bertemu dengan keluarga abah K yang tak peduli bahwa dikau deaf. Tiga bulan kenal, sowan Yai langsung proses lamaran-ijab saat kuliah belum lulus. Gampang mah kalau ngomong…

Tunggu dulu, i’ll tell you a story, not a fairy tale, but, believe me, ini menggambarkan bagaimana doa ‘bekerja’ , i think.

Ternyata Jodohku adalah Putra Guru Ngajiku

Tak usah kubeberkan secara detail siapa gerangan perempuan ini. Usianya hampir menginjak 36 ketika seorang lelaki yang berusia lebih muda meminangnya. Sungguh, sebuah penantian yang sangat panjang. Saat aku mengenalnyatujuh tahun yang lalu, hari-harinya dipenuhi kabar pernikahan orang-orang terdekat, teman-temannya, sahabat-sahabatnya, bahkan adik-adiknya yang berusia jauh lebih muda daripadanya.

Jangan tanya, berapakali ia menghadapi pertanyaan yang nyaris berulang. Pertanyaan khas orang Indonesia setiap kali berjumpa dengan manusia berusia dua puluh plus yang masih lajang, “Kamu kapan nikah?”

Saat berjumpa atau dihubungi orang yang lama tak berjumpa, boro-boro tanya kabar, rerata mereka bertanya, “Kapan nikah?”

Lelah?

Pasti. Bahkan tak jarang rasa putus asa itu menghampiri, hingga ia menyeletuk, “Apa kakak ditakdirkan sendiri hingga mati, Dek?”

Aku lekas-lekas menjawab, “Ah, tidak, ada lelaki terbaik yang telah Allah siapkan untuk kakak.”. Berulang-ulang, sampai aku rasanya telah hafal penggalan kalimatku sendiri, hingga tak perlu berfikir untuk menjawab pertanyaan yang sama, semacam auto text.

Meski aku sendiri belum tahu ‘kapan’ itu datang, tetapi jauh di dalam hati aku yakin Allah telah menyiapkan semuanya dengan cara yang tak disangka-sangka. Setelah ‘dilangkah’ dua adiknya, pada akhirnya bersanding jua dengan lelaki terbaik yang telah Robbuna siapkan untuknya. Dengan skenario-Nya yang sangat keren.

Berawal dari keresahan karena guru ngajinya semasa kecil harus dirawat, ia berinisiatif untuk mengajak teman-temannya membantu. Ia menghubungi salah seorang putri gurunya, berbincang, saling bertukar kabar. Hingga beliau, sang guru yang disayanginya, Dipanggil Robbuna. Ungkapan belasungkawa bertebaran di timeline.

Beliau, Almarhum Gurunya pindah ke luar pulau karena suatu hal. Komunikasi dengan putrinya pun baru dimulai kembali saat ada kabar sang guru sakit. Dan, sungguh Robbuna luar biasa keren dengan skenario-Nya.

“Dek, Ingat putrinya Bapak….?” tanyanya, sembari menyebutkan nama almarhum guru ngajinya. Ia bercerita tentang niat putri almarhum untuk menjodohkan dengan adik lelakinya.

Ya, setelah puluhan tahun berpisah, komunikasi di antara dua keluarga itu terhubung kembali yang berujung pada… niat besanan.

Aku membaca pesan whatsapp-nya dengan senyum-senyum, ah, semoga berita baik itu terus berlanjut. Setiap hari aku bertanya, bagaimana kelanjutannya? Sudah istikharah?

Berulangkali ia bertutur jika ragu, tersebab belum ada ‘perasaan’ yang muncul di hatinya.

Ye kalii… baru sebatas kenal itu putra sang guru, belum berbincang, mana bisa jatuh cinta saat itu juga. Sulap kali, ye.

Aku meyakinkannya untuk memegang satu hal, istikharah. Abaikan ‘kata orang’. Abaikan perasaan ragu yang terus menggempur hati. Abaikan belum munculnya perasaan jatuh cinta. Karena cinta kan muncul seiring kebersaman.

Aku, adiknya yang sok tahu, tetiba merasa jauh lebih tua hanya karena menikah duluan. Sok-sokan menasihati, sok-sokan meyakinkan, padahal dulu saat abah K meminang mengalami hal yang sama. HAHAHAHAHAHA. Yah, pengalaman adalah guru yang terbaik, kan? :p

Ya, ta’aruf itu berlanjut ke penghulu. Akhirnya dua orang yang dulunya bertetangga, kemudian terpisah pulau, kini bersatu kembali dengan ikatan buku nikah dari pak penghulu. :p :p

Barakallahulaka wa baraka ‘alaikaa, wa jama’a bainakumaa fii khoir…

Untukmu yang kini tengah berbahagia, semoga sakinnah mawaddah dan selalu bertabur rahmah. Semoga menjadi keluarga yang berkah senantiasa, menjadikan diri semakin dekat dengan Robbuna.