Me and Hubby, Semua

Berdamai dengan Masa Lalu

Bah, menurutmu kalau mengulik-ulik masa lalu pasangan itu bagaimana?

Tanyaku, pada suatu sore di beranda rumah.

Abah K menoleh, “Haiya, ora ana gunane ta, Yi?”

Serunya, tidak ada gunanya. Aku diam, memberikan kesempatan kepada beliau untuk membeberkan pendapatnya.

Jika sudah tahu tentang masa lalu itu, tentang apa saja yang telah dilakukan, terus bagaimana? Mau apa?

Aku tertawa kecil, mengangguk-angguk, betapa selama ini beliau tidak pernah mengungkit-ungkit masa laluku. Kami memang terbiasa membicarakan apapun, termasuk apa-apa yang mengganjal di hati.

Obrolan ini bermula ketika aku bingung menjawab curhatan seorang sahabat. Aku ingin mengetahuinya dari sudut pandang seorang suami, bukan hanya sudut pandang seorang istri yang lebih banyak melibatkan perasaannya. Laki-aki dan perempuan memang makhluk yang bertolak belakang, jika nggak pandai-pandai menjembatani, heuuu, capek hati. Hahaha

Larangan Mengulik-ulik Sesuatu yang Bisa Membuat Kita Merasa Buruk

Janganlah kamu mengulik-ulik suatu perkara, yang jika kamu mengetahui perkara tersebut, membuatmu merasa buruk.

Potongan ayat al-Qur’an, aku lupa redaksi persisnya. Hal ini kuketahui dari ning Lubabah Ali saat kami berbincang ringan melalui whatsapp. Sungguh, aku baru tahu hal ini. Ning Lubabah menambahkan, “Lagipula, apa gunanya? Apa yang bisa kita lakukan jika sudah tahu tentang masa lalu pasangan? Wong yo nggak ada gunane, ta?”

Hehehe, iya juga, sih. Tidak ada gunanya mengulik-ulik hingga hal yang paling privasi. Apalagi jika membuat kita merasa buruk, atau lebih parah lagi, ‘marah’ dengan apa-apa yang terjadi di masa lalu. Bisa-bisa membuat hubungan kita dengan pasangan semakin memburuk. Jangan sampai, na’udzubillahi mindzalik.

Cukupkan saja mengetahui masa lalu sebatas garis besarnya saja. Cukup, dan tidak perlu mengungkit-ungkit kembali. Aku baru menyadari jika abah K sudah menerapkan poin ini sejak awal perkenalan kami. Hahaha, teladanku tidak lebih jauh dari sejengkal tangan, tetapi aku tidak peka. Kasihan sekali kamu, Dut.

Pun, kita sebagai teman, saudara, sahabat, tetangga, dll yang mengetahui masa lalu seseorang, jangan sampai mengulik-ulik kembali masa lalunya di hadapan pasangannya meskipun hanya untuk bercanda.

Baca juga: Hentikan Bercanda tentang Masa Lalu Orang Lain

Fokus Memperbaiki Diri

Fokus saja ke diri sendiri. Memperbaiki diri agar suami nyaman didampingi. Menjadi istri penyejuk hati. Menjadi istri yang jika suami memandang kita merasa tentram. Istri yang dirindukan ketika jarak memisahkan.

Qoola WiDut? BUKAN! ini Qoola bu Nyai Lubabah Ali. Hihihi, WiDut cem mana bisa ngomong sebijak ini? 😛 Saat aku mengaji Maratus Shalihah, Yai berulangkali juga dhawuh tentang hal yang sama. Nggak mudah memang, tetapi HARUS senantiasa diikhtiarkan. Bahkan beliau, Yai Nashrudin, dhawuh jika hal ini harus menjadi prioritas utama.

Caranya?

Membuat daftar apa-apa yang disukai suami dan tidak disukai suami.

Sulit, memang. Kadangkala apa yang menjadi kesukaan kita adalah hal yang tidak disukai oleh suami. Pun sebaliknya. Aku mengatasi hal ini dengan memperbincangkan secara khusus dengan abah K, membeberkan secara terbuka bahwa apa yang beliau tidak suka adalah hal yang kusuka. Ada toh? Ada, contoh, nonton drama korea. Itu baru satu, belum yang lain. Wkakakaka. Kadang abah K yang ngalah, bahkan beliau merelakan laptopnya sebagai sarana menonton drakor untukku. Kadang aku juga yang ngempet menahan diri untuk tidak nonton drama korea. 😀

Saling Bergandengan Tangan dengan Pasangan

Adalah hal yang konyol melakukan semua lini kehidupan seorang diri. Adalah hal yang sangat konyol berdamai dengan masa lalu tanpa melibatkan pasangan. Harus ada usaha pada kedua belah pihak agar masa lalu tidak kembali mengganggu rumah tangga yang tengah dijalani.

Sejak awal menikah, aku bersyukur karena abah K sangat terbuka, termasuk semua media sosialnya, aku bebas mengobrak-abrik. Beliau begitu komitmen untuk tidak lagi menghubungi masa lalunya melalui media apapun, jangankan masa lalu, teman-teman ceweknya saja beliau membatasi diri. Bahkan kadangkala tanpa sadar mereka berbincang denganku melalui media sosial-nya abah K. Wakakaka, piss, Mbak-mbak. :p

Aku mengimbangi beliau dengan membatasi komunikasi ke lawan jenis, siapapun. Mungkin tidak semua orang setuju dengan cara ini. Mungkin juga cara ini terlalu berlebihan. Tetapi bagiku, cara ini adalah salah satu usaha untuk menyenangkan hati pasangan.

Dengan kebiasaan abah K tersebut, aku merasa jika akulah satu-satunya perempuan yang ada di hatinya. Dan aku pun berharap beliau merasakan hal yang sama.

Ngahahaha. Bolehlah Ge-Er sedikit, kadang-kadang perlu membesarkan hati sendiri. :p

 

Menikah bagiku adalah babak pembelajaran baru. Memposisikan diri sebagai seorang pembelajar, setidaknya mengurangi rasa tertekan karena tidak mampu menjadi istri dan ibu yang sempurna. Termasuk belajar untuk berdamai dengan masa lalu, belajar untuk fokus membangun masa depan dan meninggalkan masa lalu jauh ke belakang.

 

Bagaimana komentar kalian?