Sakit dan Hikmah-hikmah yang Bertebaran

Sakit dan Hikmah-hikmah yang Bertebaran

Satu minggu yang lalu adalah minggu yang paling emosional. Abah K sakit, sakitnya enggak kayak biasa. Asam lambung meningkat tajam, diikuti debaran jantung yang mencapai 150 kali permenit dan kaki kanannya sakit misterius. Jika asam lambung dan debaran jantung yang cepat sudah ketemu penyebabnya,sehingga kami bisa memberikan treatmen agar tidak kambuh lagi. Kaki kanan yang sakit belum ketemu penyebabnya membuatku stress dan deg-degan.

Istri mana yang tidak panik melihat suaminya meringis dengan tangan menyentuh dada dimana jantung berada?

“Abah, itu kaki minta disuwuk abah Yai saja.” usulku, pada suatu sore saat kaki kanannya kambuh lagi.

Uwis tak suwuk dhewe. Lha Pak Din saja kalau kita kesana, pasti nyuruh nyuwuk dhewe.” jawab abah K sembari tertawa kecil.

Aku melanjutkan rutinitas memijat kaki abah K sembari melangitkan doa dan merapalkan sholawat. Ini pertama kalinya abah K sakit sampai menguras emosi. Biasanya jika sedang sakit, abah K jauh lebih tenang dan terlihat menikmati sakitnya. Untuk sakitnya kali ini, abah K memintaku untuk selalu berada di sampingnya, menemani segala macam, sampai-sampai makanan pun memilih untuk beli di luar.

Aku menghubungi seluruh klien yang sedang bekeja dengan abah K, meminta waktu istirahat sampai pulih. Tidak bisa tidak, abah K harus libur dari segala macam urusan terkait pekerjaan. Urusan kebutuhan, aku masih mempunyai dana darurat yang memang dipersiapkan untuk situasi-situasi seperti ini.

Hal yang sama kulakukan juga kepada semua yang berhubungan denganku, semua kepanitiaan, job menulis, juga editing theme blog, aku meminta jeda sejenak agar bisa fokus merawat abah K. Lomba Tcash yang sudah kupersiapkan bahan-bahannya selama 3 minggu pun kubiarkan ngacir, tidak ada yang lebih penting dibandingkan membersamai suami.

Mengevaluasi Habbit yang Tidak Sehat

Selama masa sakit, kami lebih sering menghabiskan waktu bertiga di kamar. Si K bermain-main di sekitaran kamar, entah membaca buku, entah membangun sesuatu dengan block kesayangannya, entah njungkir-balik di lantai kamar. Banyak hal yang kami bicarakan, termasuk soal habbit yang tidak sehat, dimana kami mencurigainya sebagai salah satu penyebab sakitnya abah K.

Tiga hal kami ambil untuk memperbaiki kebiasaan kami agar lebih sehat lagi; makan teratur, stop rokok dan rutin olahraga.

Olahraga Bersama

Olahraga Bersama

Sebelum ini sebenarnya aku sudah terbiasa masak saat shubuh, hanya saja abah K ada malas makannya. Makan saat lapar, tetapi beliau mengabaikan sinyal-sinyal asam lambung naik. Dulu saat mual tiba, bukannya makan, abah K malah membuat kopi dengan harapan bisa menghalau mual. Hal yang sangat fatal, kopi sangat bersahabat dengan asam lambung, membuat kadarnya semakin tinggi.

Di pagi hari sebelum matahari terbit, kami akan bermain bulu tangkis di barat rumah. Lahannya terbatas, jauh dari standar bermain bulu tangkis. Namun, sudah sangat lumayan untuk menggerakkan tubuh di pagi hari sembari menghirup udara segar.

Setelah si K bangun, kami bergegas pergi ke taman. Kami lari-lari kecil dan senam. Si K bermain prosotan, jungkat-jungkit yang tersedia di taman, kadang juga ikut lari-lari kecil menemani abahnya. Setelah lari dan senam dirasa usai, kami duduk sejenak menikmati bekal yang sudah kusiapkan.

Kami Olahaga, si K dan mbak Ba Bermain Prosotan

Menikmati Waktu Saat Bersama Keluarga

Sudah umum terjadi di era kiwari ini, dimana masing-masing sibuk di depan gadget. Cuat-cuit dengan kawan seberang sana, cenderung lupa jika ada anak-anak, suami di sekitar kita yang menunggu belaian kasih sayang. Enggak perlu tersinggung, daku menampar di sendiri. Abah K protes terus terang tentang waktuku yang terlalu banyak terdistraksi dengan gadget.

Ayi itu bermasalah dengan fokus. Nyuci sambil pegang gadget, bahkan masak pun.

Ya, sakitnya abah K kali ini menjadi tamparan untukku. Betapa aku terlalu terlena dengan kebebasan dan fasilitas yang diberikan abah K untukku. Main dengan si K pun masih sempat gadgetan ria. Aku mengevaluasi diri, berlatih untuk mempunyai kandang waktu, termasuk kandang waktu untuk bermain gadget.

Kami berlatih  menikmati waktu bersama dengan perhatian penuh tanpa terdistraksi dengan aneka cuitan dan kerjaan. Menemani si K nonton, menemani abah K makan, sholat jamaah, bersama-sama meluangkan waktu untuk mempererat bonding keluarga.

“Bah, sakitnya sekarang ini harus disyukuri, ya?”

“Yo mesti kabeh kudu disyukuri, kan?”

“Enggak. Maksudku, abah sekarang sudah enggak ngrokok–semoga istiqomah–, kita punya waktu untuk olahraga bareng, bahkan jadi prioritas. Terus, abah jadi gampang muji Ayi meski tetep enggak romatis blas.” ujarku, dan kami tertawa bersama.

 

Mana-dimana, Mood Nulis Saya

Mana-dimana, mood nulis saya,

Mood nulis Nyoya sedang ditelan bumi.

Mana-dimana, blog kesayangan saya,

Blog kesayangan Nyonya dihuni laba-laba.

 

Emak K sungguh enggak jelas. Hahaha. Sudah berminggu-minggu blog ini kubiarkan karatan. Enggak tahu mood nulisnya menguap kemana. Ini bukan persoalan waktu, bukan pula aku lagi enggak fit, tetapi sunggu, rasanya membuka dashboard untuk memulai menulis saja berat.

Hari-hariku enggak produktif. Bawaannya cuma stalking Facebook dan Instagram doang.Lapar mata, tetapi malas membaca buku. Pengen ngeluarin apa yang mengganjal di hati, tetapi melas menulis, meskipun itu cuma menulis dengan goresan pena.

Ada keinginan besar ntuk menulis pengalaman si K saat diare dengan lengkap, tetapi bingung mau nulis darimana. Ada keinginan menggebu untuk kembali ‘ngopeni‘ blog lain, namun kebingungan apa yang harus ditulis disana.

Gemessss banget dengan diri sendiri yang enggak jelas apa maunya.

Banyak pikiran kah?

Bisa iya, bisa tidak. Hahaha, Banyak pikian karena ada something urgent yang dipikirin, tetapi something urgent ini enggak sampai bikin susah tidur, apalagi nangis. Jadi ini termasuk banyak pikiran enggak? Wkwkwkwk, emak K enggak jelas~

Jenuh?

Enggak juga. Aku sedang menikmati masa-masa menjadi Ibu dengan segala dinamikanya. Menjadi isti yang dimanjakan suami, ehm. Jalan-jalan dan jajan di luar juga aman. So? Hahaha, mungkin ini cuma lagi jenuh dengan pintilan ngeblog.

Emm, tetapi aku kan kangen ngeblog~ wkwkwkwk, kayak kangen sama seseorang tetapi gengsi ngakuin. Bhahahaha.

Mungkin butuh ditabok rentetan email dengan job review?

Ngahahahaha. Iya, kayaknya poin ini benar. Rentetan email dengan sederet job bisa menggairahkan kembali mengisi blog dengan ocehan-ocehan absurd. Whooo, dasar mamak-mamak blogger mata duwitan. Jangan-jangan kalau enggak ada job, enggak ngeblog.

Hey, hosting dan domain butuh duwit buat mbayarnya, Cyn. Heuheuu.

Oke, kalian parapemberi job, kapan nyolek emak K lagi? Dikangenin emak K lhooo….

Bismillah, setelah ocehan ini semoga terbit hidayah untuk menulis hal-hal yang bermanfaat lagi.Aga hari-hari semakin produktif. Agar kelak jika ditanya kuota internetnya buat apa, jawabannya enggak cuma buat streaming drama Korea. Agar ilmu yang kutimba dari para ahli dan diskusi di berbagai grup enggak cuma ngendon di pikiran dan menjadi sarang penyakit.

 

 

 

Ngeblog dan Self Healing ala Emak K

Ngeblog dan Self Healing ala Emak K

Tidak sedikit kata-kata yang bisa membuat hati sakit, semangat mengkeret dan harapan untuk hidup lebih produktif hancur tak berbekas. Rasa-rasanya orang dengan lisan yang asal meluncur tanpa rem itu akan selalu ada, karena memang sunnatullahnya kebaikan dan keburukan berjalan beriringan.

Ujian akan selalu ada untuk menguji hamba-Nya, apakah ia akan naik tingkat ataukah hanya jalan di tempat. -Abah Yai Nasruddin-

Sayangnya, aku belum bisa ‘menangkap’ nasihat kece itu. Ujian-ujian yang datang masih kuhadapi dengan hati yang penuh dengan spekulasi dan prasangka, “Ih, orang ini kenapa? Kenapa dia tega? Apa dia enggak punya hati? Awas saja…” dan seterusnya, dan seterusnya, hingga setan saja kalah.

‘Kata Mereka’ Akan Selalu Ada

Jaman masih sendiri, aku sering mendapatkan kata-kata yang mengarah ke siapa sih laki-laki yang mau pacaran sama WiDut yang enggak nyambungan? Enggak langsung bilang seperti itu, tetapi selalu menjurus kesitu. Kayak gini, “Kamu belum punya pacar sampai sekarang? Ah iya, kamu enggak nyambungan gitu. Ditanya a jawabnya z, mana ada laki-laki yang tertarik?”

Time flies, aku ketemu abah K dan menikah. Pertanyaan itu datang lagi, “Suamimu enggak kerja? Oh ya maklum, wong tagline facebooknya itu urip mung mampir cengengesan.”

Sakitnya, setelahnya orang itu update status nyindir tagline Facebook abah K yang sampai sekarang masih sama, Urip mung mampir cengengesan. What the…. Padahal aku enggak pernah ngusik hidup orang ini, kenapa sesensi itu dengan abah K? Hahaha

Kata Mereka akan Selalu Ada

Kata Mereka akan Selalu Ada

Si K lahir, datang lagi…. Kala itu aku tengah santai di ruang depan, si K sedang tidur. Abah K sedang di luar kota. Tiba-tiba, datang seseibu mencolek bahuku dengan ekspresi jengkel, “Kamu tu gimana? Anak nangis bukannya ditolongin malah kemana!” Jleb!!! Langsung lari ke kamar, kupeluk si K sambil menangis sesenggukan. Kata-kata seseibu tadi masih nancep sampai sekarang, merasa enggak becus jadi Ibu karena enggak segera datang saat si K nangis.

Oh, God… they’re always come, right?

Kita enggak bisa menghentikan datangnya hal-hal yang menyakitkan hati, enggak punya pilihan untuk menghindari, tetapi kita punya pilihan untuk memulihkan diri sendiri. Bagaimana caranya? Temukan, karena setiap orang mempunyai caranya sendiri.

Ngeblog dan Self Healing ala Emak k

Ngeblog dan Self Healing ala Emak k, src: pixabay

Ngeblog dan Self Healing

Ngeblog menjadi salah satu sarana untuk self healing. Aslinya, sih, inti pokoknya ada di menulis,. Ketika menulis itu ditujukan untuk blog yang notabene akan dibaca orang lain,aku bakal menulis dengan kondisi logika yang jalan, hingga menarik ke kesimpulan untuk berdamai dan memaafkan.

Oh, ya,kenapa aku harus sakit hati sedemikian lama? Mungkin dia ‘Dihadirkan’ agar aku bisa mengelola emosi. Oh ya, aku dulu mengalami kondisi jatuh sejatuh-jatuhnya dengan omongan orang yang enggak enak di kanan kiri sampai ada keinginan untuk bunuh diri karena Allah ingin aku berbagi tentang bunuh diri, tuh lihat, keyword yang masuk dan viewnya cukup banyak.

Kalau sedang error berat hingga logika enggak jalan gimana? Ya nulis saja di buku harian. Di buku harian kebanyakan tulisan yang enggak logis, kalau lagi waras baca buku harian aku bisa tertawa sendiri, menertawakan diri sendiri.

Kalau menulis enggak membantu, biasanya aku meminta bantuan orang lain dengan menceritakan kondisi hatiku. Biasanya ke abah K, kalau abah K sedang sibuk dan enggak bisa dicurhati saat itu juga, sementara aku khawatir hatiku semakin enggak karuan, aku akan curhat di grup. Alhamdulillah, WAG-ku isinya grup-grup keren, #BloggerKAH yang ngomporin nulis Self Healing adalah salah satunya.

Menemukan Cara untuk Self Healing

Self Healing adalah fase yang diterapkan pada proses pemulihan (umumnya dari gangguan psikologis, trauma, dll), didorong oleh dan diarahkan oleh pasien, sering hanya dipandu oleh insting. -Jurnal Digilib UIN Sby-

Self Healing HANYA bisa dilakukan oleh diri sendiri, motivasi dari dalam diri sangat kuat pengaruhnya disini. Terapis hanya bisa membantu. Ada banyak cara untuk self healing, temukan apa yang cocok untuk diri sendiri.

Me time menjadi salah satu cara untuk self healing. Bagaimana me time ini, sesuaikan dengan hobi atau kesukaan kita. Ada seorang teman yang menikmati me time-nya dengan berenang, di saat-saat ia mengerahkan energinya untuk berenang, ia mengeluarkan emosinya. Memutar kembali memori tentang apa yang telah membuat emosinya meletup-letup, hingga ia menemukan ‘ada apa’nya dan bisa memaafkan.

Berenang, Salah Satu Cara Self Healing

Berenang, Salah Satu Cara Self Healing

Teman yang lain biasa self healing dengan pergi ke tempat yang banyak pepohonan dan suara gemericik air. Ada juga yang bisa menyalurkan energi negatifnya hanya dengan makan mie dengan level kepedasan tertinggi. Abah K sendiri memilih untuk ngopi di angkingan dan jagongan bersama teman-temannya.

Enggak selalu secepat itu, semua butuh proses. Bahkan aku pernah membutuhkan waktu hitungan tahun untuk bisa berdamai dengan luka masa lalu yang membuatku traumatik ketika merasakan getaran langkah orang teburu-buru.

Menangis saat berdoa sangat membantu untuk self healing. Menceritakan semua yang dirasakan kepada Robbuna, meskipun aku tahu Robbuna sudah Mengetahui segalanya termasuk apa yang tidak kuketahui, bercerita dengan gaya berdialog menjadi hatiku jauh lebih baik dan lega.

Temukan cara terbaik untuk self healing. Kelak ketika hal yang tidak mengenakkan itu datang, kita tidak perlu membuang-buang waktu untuk meratapinya karena kita sudah menemukan caranya bagaimana agar energi negatif itu segera keluar.

 

Salam!

Emak K, deaf mommy

 

 

 

 

Tempat Tidur Bayi, Yay or Nay?

Tempat Tidur Bayi, Yay or Nay?

Setiap kali ada liputan artis yang habis melahirkan, pasti ada shoot tempat tidur bayi yang super nggemesin dengan pritilan lucu. Dulu saat aku hamil si K, aku sempat berencana untuk membel box khusus untuk tempat tidur bayi. Kayaknya kok lucu dan terkesan niat banget untuk menyiapkan apa yang terbaik untuk bayi.

Saat mengutarakan keinginanku kepada abah K dan keluarga yang lain, tidak ada satu pun yang mendukung aku mengadakan tempat tidur khusus untuk bayi. Hahaha. Sedih? Pasti, saat itu aku mana bisa mengerti kenapa kebanyakan orang tidak menyarankan untuk membeli tempat tidur khusus untuk bayi, lha wong gimana merawat bayi saja masih mengawang-awang.

Tempat Tidur Bayi, Yay or Nay

Tempat Tidur Bayi, Yay or Nay, source: pixabay

Kelebihan Menggunakan Tempat Tidur Bayi

Secara umum, menggunakan tempat tidur bayi ada kelebihannya. Beberapa kelebihan menggunakan tempat tidur bayi antara lain:

  1. Bayi tidur dengan aman. Jika tidur bersama orang tua, ada kemungkinan bayi yang mungil tertindih oleh orang tua dan orang tua tidak menyadarinya karena saking mungilnya bayi.
  2. Aman ditinggalkan ketika melakukan aktivitas. Bayi yang tidur di dalam tempat tidur bayi lebih aman ditinggalkan karena ada batas pengaman sehingga tidak jatuh ke lantai. Tentu saja ini hanya berlaku pada bayi new born sampai bayi berusia 4 bulan. Lebih dari 4 bulan sangat berpeluang memanjat tempat tidurnya dan jauh lebih membahayakan.
  3. Melatih kemandirian. Poin ini masih menjadi perdebatan, sih. Di satu sisi bayi tidak tegantung pada orang tua jika mau tidur, di sisi lain ia akan tergantung pada benda yang membuatnya nyaman, seperti guling atau boneka.
  4. Memberikan privasi kepada orang tua. Ya, orang tua tetap membutuhkan privasi untuk menjaga hubungan dengan pasangan, keberadaan bayi di satu kasur tentu membatasi privasi orang tua.

Kekurangan Menggunakan Tempat Tidur Bayi

  1. Membutuhkan effort lebih untuk Ibu yang full ASI. Bagi baby new born, malam adalah saat-saat terhaus, ia bisa bangun satu sampai dua jam sekali untuk meminta ASI. Jika bayi ditempatkan terpisah dari Ibu, Ibu harus bangun dari kasur, berjalan dan menyusui bayi setiap kali bayi minta ASI. Apalagi jika Ibunya memilih untuk menggunakan popok kain, ribet pindah-pindahnya. Heuheuuu.
  2. Kehilangan salah satu momen untuk membangun bonding antara Ibu dan Bayi. Saat bayi tidur adalah saat-saat terbaik Ibu untuk melakukan self healing. Dalam kondisi psikis dan fisik yang lelah pasca melahirkan,melihat bayi yang tidur dengan nyamannya menjadi obat tersendiri untuk Ibu.
  3. Fungsi pakai tempat tidur bayi pendek. Tempat tidur bayi paling hanya bisa dipakai sampai bayi berumur 4 bulan. Ketika bayi sudah beranjak besar, ia sudah bisa memancat, mengotak-atik segala macam agar bisa keluar dari box bayi. Si K sudah bisa membuka kunci jendela saat belajar merangkak di usia 6 bulan.

 

Menimbang dari berbagai kelebihan dan kekurangannya. Plus mempertimbangkan kemampuan fisikku yang enggak strong, aku memilih untuk tidak menggunakan tempat tidur khusus bayi. Emak K ini adalah baisan emak-emak yang menyusui sambil tidur, membayangkan harus bangun dan jalan ke arah tempat tidur bayi setiap kali bayi menangis sungguh mengerikan. Hahaha.

I choose Nay.

Setiap orang memiliki pertimbangan sendiri, ya, sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing. Yang lebih ngerti juga orangnya sendiri. Bisa juga menggunakan tempat tidur bayi saat siang hari dan tidur menyatu satu kasur bersama orang tua di malam hari.

Kalau kamu gimana, Mak? Yay or Nay?

 

Seseruan Breakfast with Elephants di Kebun Binatang Surabaya

Seseruan Breakfast with Elephants di Kebun Binatang Surabaya

To Travel is to take a journey into yourself.

Menelusuri jejak diri, menguatkan bonding dengan orang-orang tercinta.

Minggu lalu kami menyambangi Kebun Binatang Surabaya, salah satu encana trip untuk si K, demi menguatkan keingintahuannya tentang binatang-binatang yang tidak ada di sekitar rumah. Selepas urusan Rumah Sakit selesai, kami meluncur ke Kebun Binatang Surabaya berempat, emak K, abah K, si K, dan mas Thoriq, kakak sepupunya si K.

Keliling Kebun Binatang Surabaya

Setelah menyusuri jalanan Sidoarjo-Surabaya dengan motor, kami akhirnya sampai di Kebun Binatang Surabaya. Di depan Kebun Binatang Surabaya ada ATM BNI dan Mandiri, kami mampir untuk mengambil barang beberapa lembar uang. Sempat kebingungan mencai kantong parki yang semrawut enggak karuan, kami akhirnya bisa parkir di salah satu tempat yang lumayan lega. Tenaga parkirnya super terbatas, enggak mengatur parkir agar rapi, padahal kami membayar karcis 5k.

Tiket seharga 17k/ orang, kala itu hari Selasa, saat libur Tahun Baru Islam, sudah terbeli. Kami menyusuri Kebun Binatang Surabaya dari areal unggas. Areal Kebun Binatang lumayan teduh dan bersih dengan penghuni yang terawat. Si K terlihat sangat antusias bertanya tentang apapun yang ada di kebun binatang, sayangnya, si K enggak mau jalan sendiri. Emaknya pegel, Rek.

Lelah menyusuri jalan setapak, kami akhirnya memutuskan untuk istirahat sejenak di warung makan. Warung makannya dekat dengan areal mamalia. Harganya lumayan mahal. Pop mie dipatok 10k/cup. Sambal yang tersaji di meja makan bikin nafsu hilang seketika karena tampilannya sungguh enggak sedap dipandang. Sayang banget~

Breakfast with Elephants

Si K dan mas Orik sudah memberikan kode ingin naik gajah sebelum berangkat ke Kebun Binatang Surabaya. Sampai di lokasi Breakfast with Elephants, aku mencoba bertanya kepada si Mbak penjaga karcis. Harga karcis 75k/ orang. Anak usia 2 tahun ke atas sudah dikenakan karcis. Karcis termasuk naik gajah, voucher makan dan voucher foto.

Sudah kepalang basah jauh-jauh ke Surabaya, mandi saja sekalian dengan menunggang gajah meski menguras kantong lebih dalam. 225k hanya untuk naik gajah bertiga. Hahaha. Antrinya lumayan, si K agak rewel karena enggak sabaran.

Naik-gajah-di-kebun-binatang-Surabaya, source: my another site nusagates

Naik-gajah-di-kebun-binatang-Surabaya, source: my another site nusagates

Sayangnya, informasi yang kami dapatkan terkait fasilitas tiket terbatas, enggak detail. Kami malah memutuskan untuk jalan-jalan dulu sebelum mengambil foto dan makan. Kami kembali ke Areal Beakfast with Elepants setelah keliling, di saat anak-anak sudah rewel kelelahan. Aku mengambil 3 foto dan 3 bungkus makannan yang terdiri dari Gado-gado, rujak dan campur.

Sesuatu yang membuatku menyesal sekaligus menjadi pelajaran yang ingin kubagi via blogpost.

Di dalam areal Breakfast with Elephants ada pojokan untuk foto bersama burung dengan tempat makan bersih bergaya ruistic. Jika kamu memiliki 3 voucher foto, SANGAT DISARANKAN untuk foto juga di areal foto bersama burung. 1 Voucher foto akan mendapatkan 1 foto cetak. Karena emak K cuma foto satu kali dan enggak foto lagi di areal foto bersama burung, anak-anak juga sudah riwil bnget, akhirnya memutuskan untuk mencetak foto bersama gajah sebanyak 3 buah.

Menu makan disajikan dengan geobak ala-ala pedagang keliling yang tetata rapi. Kamu bisa menukar voucher makan dengan menu apapun yang tersaji tanpa tambahan biaya. Voucher makan tersebut meliputi satu porsi makanan dan minuman. Boleh dibungkus dibawa pulang, boleh juga dimakan di tempat sambil menunggu cetak foto.

Aku sangat merekomendasikan untuk menikmati Breakfast with Elephants daripada beli di warung makan. Selain rasa makanannya yang jauh lebih enak, tempatnya juga jauh lebih comfy. Sekalian membuat album foto keluarga juga. Kita boleh meminta soft file-nya dengan FD atau via kabel data ke Hp.

Meyusuri Jalan Pulang

Setelah mengambil foto dan makanan, kami menyusuri jalan untuk pulang. Sebenarnya di KBS ada musium dan perpustakaan yang terdapat areal main anak, tapi karena anak-anak sudah terlihat lelah, kami memutuskan untuk segera pulang sebelum anak-anak cranky. Khawatir juga si K tantrum kalau terlalu lelah.

Sebelum pintu masuk, di dekat kandang Singa, ada becak air yang bisa disewa. Si K langsung nacang-ancang ingin naik becak air. Wkwkwkwk, emaknya ogah karena si K pasti main air dan kami enggak bawa baju ganti.

Kami pulang dengan rasa bahagia. Sempat mampir ke kampus abah K dan masjid Al Akbar Surabya. Ngobrol banyak. Abah K cerita tentang masa-masa yang dilaluinya di Surabaya, dimana dia menginap, darimana dia harus jalan kaki menuju kampus, dimana tempat ngopi favoritnya, dimana dia sering ketemu teman-temannya. Untungnya enggak mbahas sesembak di masa lalu, bisa langsung bad mud dakuh. Bhahaha.

Maaf ya, saking intimnya kami menghabsikan waktu bersama, kami sampai lupa untuk mengambil foto yang layak di setiap pojokan. Semoga ceritanya sudah cukup mewakili pengalaman family trip kami.Heuheuu.

To Travel is to take a journey into yourself, to take a journey into your lovely heart, then you’ll know how strong your hubby is.

Curhat Receh Emak Hard of Hearing

Curhat Receh Emak Hard of Hearing

Ngomongnya sudah lancar, sudah bisa cerita dengan 5 kata, bersambung-sambung membentuk kalimat. Komplit dengan subjek, predikat, objek dan kata penghubungnya. Perkembangan bahasanya melebii ekspektasi Ibu. Tetapi, kecepatannya berbicara, tidak sejalan dengan kecepatan Ibu mempelajari gerakan mulutnya.

Satu minggu di Krian, Sidoarjo, menjadi satu minggu yang melelahkan. Panasnya cuaca Krian membuat si K semakin tidak sabar. Permintaannya aneh-aneh, ngomongnya cepat dan harus dituruti saat itu juga. Plus, si K diare lumayan parah, baru kali ini diare sampai lemes. Emak tambah… Huft.

“Buk, teh!” seru si K, saat bangun tidur.

Biasanya, si K akan sedikit sabar saat ingin meminta sesuatu, “Ibuk, tolong…”

Seminggu ini tidak. Ia meminta dengan intonasi galak dan nada berteriak, hanya dengan satu kata. “Teh!” Jika Ibu memintanya mengulang, si K akan mbrambang, nangis, lalu tantrum dengan menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.

Emak K semakin homesick. Anak kinestetik seperti si K sepertinya tidak cocok tinggal di kos-kosan. Jangankan kos-kosan, tinggal 2 hari di perumahan saja ia sudah bertingkah aneh-aneh. Dunianya ada di pohon, pasir, tanah, selokan, kolam, tanah lapang yang membuatnya leluasa bermain bola dan sepeda. Bukan di dalam ruangan yang terjamin kebersihannya.

Semalam menjadi malam yang penuh emosional.

“Ibuk, piiikkkk!” seru si K.

“Ha?”

“I-piikkkk!”

“Ha?”

“Maem ipik, Ibuk. Maem ipikkkk.” aku tidak bisa menangkap apa maksudnya. Ipik?

“Coba, Kevin bilang ke Abah.” ujarku, kalem.

Bukannya mendekat ke abah yang sedang di depan laptop. Si K malah menangis gerung-gerung, menghentakkan kakinya di lantai.

“Apa, Bah?”

“Kripik.” jawab abah K, kalem.

Aku menelisik di setiap ujung kamar. Keripik cemilan sudah habis tak bersisa. “Keripiknya habis, Nang. Besok beli, ya?”

“Ipik, Ibu. Ipiiikkk.” Tantrumnya semakin menjadi-jadi.

“Tinggal wae! Tinggal wae! Ibuk pelgiiiii.” seru si K. Kata-kata pungkasan yang sering ia ucapkan jika sedang marah.

Aku menepi, menenangkan diri. Lalu air mataku menetes, satu-satu.

Apakah akan terus seperti ini? Bisakah si K memahami keadaan Ibunya yang Hard of Hearing? Apakah aku bisa memahami si K, dengan modal bonding seperti yang dikatakan orang-orang itu? Bagaimana jika di suatu masa, si K malu dengan keadaan Ibu yang HOH? 

Apalagi abah K sempat berkata terus-terang, “Aku ki mesakke Kevin, ngomong pengen sesuatu, tetapi awakmu ra mudeng.”

Duhai teman seperjuangan, bagaimana kalian menghadapi tantangan komunikasi ini? Terbesit dalam hatiku, apakah abah K merasa keliru memilih sosok Ibu untuk anak-anaknya?

Huft. Its sooo….

Aku menenangkan diri. Membiarkan air mata mengalir satu-satu. Membiarkan si K menangis sampai gulung-gulung di lantai. Membiarkan si K memanggil-manggil Abahnya–yang tentu tidak akan dijawab karena kami sudah membuat kesepakatan tidak akan menyambut anak yang mengadu–.

Mungkin ada setengah jam aku membiarkan si K menangis, gulung-gulung di kasur, memanggil-manggil Abahnya. Hingga kemudian si K mendekat. Merentangkan tangannya, minta dipeluk. Aku memeluknya, mengusap-usap kepalanya. Si K menangis tersedu-sedu. Tangannya memeluk erat leherku. Kami menangis. Entah apa yang dirasakan oleh si K, aku hanya mampu memeluk dan merapalkan doa untuknya.

Nang, mari kita belajar. Kamu belajar memahami Ibu dengan keistimewaan pendengarannya. Ibu akan belajar keras untuk memahami perkataanmu. Jika pun Ibu mulai kesulitan, kita mungkin akan mencoba berbahasa isyarat.