Widi Utami

Learn, Write and Share
K's Family | Parenting | Tlatah Bocah

Menyusun Kurikulum Permainan Anak Usia Dini

March 21, 2019
Menyusun Kurikulum Permainan Anak Usia Dini

Menemani anak usia balita itu susah-susah gampang, susah kalau ia tengah riwil dan gampang kalau mood-nya sedang bagus. Emak K jarang beli mainan mahal untuk si K, maklum, penganut permainan anak usia dini harus dari bahan yang mudah didapat di sekitar rumah.

Bermain enggak bisa dianggap remeh. Dalam permainan yang bagi orang dewasa sangat sepele tersimpan mutiara skill anak di masa yang akan datang, dalam kegiatan yang sederhana tersebut terdapat latihan sensorik, motorik kasar dan motorik halus yang menjadi pijakan dasar skill of life.

Manfaat Bermain untuk Anak

Tidak afdol rasanya jika tidak mengulik manfaat bermain untuk anak. Emak k beberapa kali ikut kuliah online tentang pentingnya bermain untuk anak. Aku sangat setuju dengan paparan mbak Febrianti Dwi Setyarini saat memberikan kuliah Kurikulum Bermain Anak di Gup Rayya Parenting Club.

Mbak Febri, begitu kami menyapanya dengan akrab, membeberkan betapa bermain mempunyai segudang manfaat untuk anak.

  1. Memahami diri sendiri dan mengembangkan harga diri
  2. Menemukan apa yang dapat mereka lakukan dan mengembangkan kepercayaan diri
  3. Melatih mental anak
  4. Meningkatkan daya kreativitas dan membebaskan anak dari stress
  5. Mengembangkan pola sosialisasi dan emosi anak
  6. Melatih motorik dan mengasah daya analisa anak
  7. Penyaluran bagi kebutuhan dan keinginan anak
  8. Mengembangkan otak kanan anak

Menyiapkan Diri untuk Bermain dengan Anak

Aku agak terkejut saat Mbak Febri bertanya, “Apakah sudah siap bermain dengan anak-anak?”
“Apakah sudah siap mendengarkan dengan mata, hati, kulit, kaki, tangan, dan telinga kita?”

Are we? Are we ready to play together with our child?

Yes. Oh, No. Ada tugas, ada kuliah online, ada segambreng cucian yang belum kelar. Padahal, mbak Febri menegaskan jika kita sebagai orang tua harus hadir 100% saat bermain dengan anak. Boro-boro nyambi main hape, lha wong mikirin gawean yang ngawe-ngawe saja enggak boleh.

Apa kabar emak K? Hahaha, sok-sokan multi tasking padahal membuat si K merasa terabaikan. šŸ™‚ Dear K, maafkan Ibu yang belum sempurna ini, ya. Mbak Febri menyadarkanku jika anak hanya butuh orang tuanya untuk bermain, dengan permainan sederhana sekali pun.

Jangan mengada-ada, apalagi menunggu semua tersedia. Cukup sediakan diri kita seutuhnya, InsyaAllah anak-anak akan sangat bahagia. –
Febrianti Dwisetyarini –

Mengamati Anak

Apakah menjadi orang tua otomatis tahu luar-dalamnya anak? No, bahkan emak K yang mengaku menjadi Ibu 24 jam bagi si K saja mikir dulu saat mengisi profil anak yang diberi oleh mbak Febri. Hmm, si K suka apa ya? Karena enggak bisa mengawang-awang, akhirnya emak K menyediakan waktu satu minggu untuk mengamati.

Apa saja yang perlu diamati dari anak? Secara umum, kita harus mengamati hal-hal berikut ini untuk membuat pijakan kurikulum permainan anak usia dini:

  1. Nama dan usia anak saat ini
  2. Hal-hal yang disukai anak
  3. Tanda antusias yang ditunjukkan oleh anak (Apakah anak berteriak, berbinar-binar matanya, enggak mau berhenti, dll)
  4. Akan bahagia ketika Ayah Bunda… (Kalau si K, bakal bahagia banget ketika Ibu memeluk dan Abahnya nggendong)

Mengamati keunikan anak ini membuat emak K menyadari jika ada yang luput dari si K. Si K lebih menyukai glendean menggunakan vespa daipada sepedaan keliling kampung. Si K lebih menyukai learning by doing dibandingkan menghafalkan nyanyian atau doa, wkwkwk. Si K lebih menyukai menggambar di dinding dibanding di buku–ini akhirnya membuat emak K beli papan tulis hitam yang besar–.

Menyusun Kurikulum Permainan Anak Usia Dini

Ada empat tahapan yang harus kita lakukan dalam menyusun kurikulum permainan anak usia dini, yakni; mengamati anak, mengamati lingkungan, mem-breakdown ke dalam 9 Kecerdasan Majemuk Gardner, lalu mencari ide kegiatan yang berhubungan dengan aspek 9 kecerdasan tersebut.

Kenapa harus meliputi 9 Kecerdasan Majemuk? Karena anak usia dini belum terlalu kelihatan kemanakah kecerdasannya mendominasi, sehingga kita perlu menstimulasi seluruh aspek kecerdasannya hingga kelak di kemudian hari anak bisa memutuskan sendiri ingin mendalami aspek kecerdasan yang mana.

Sembilan aspek kecerdasan itu antaralain; Kecerdasan Visual-Spasial, Kecerdasan Verbal Linguistik/ Bahasa, Kecerdasan Musikal, Kecerdasan Logika Matematika, Kecerdasan Kinestetik, Kecerdasan Interpersonal, Kecerdasan Intrapersonal, Kecerdasan Natural, Kecerdasan Eksisitensial.

Mbak Febri dalam menyusun Kurikulum Bermain Anak lebih menekankan untuk mengamati lingkungan sekitar karena anak disiapkan untuk menjadi seorang anak yang mempunyai konsep yang kuat dan mengenali lingkungannya.

Karena akan lebih mudah bagi anak untuk mengenal Tuhannya, jika ia sudah mengenali diri dan kekayaan sekitarnya. Anak yang kenal dengan dirinya, dengan lingkungannya, dengan kekayaan negerinya, dengan kekhasan alamnya yang tiada banding, akan tumbuh menjadi anak yang mempunyai konsep diri yang kuat dan utuh. -Febrianti Dwisetyarini-

Nyut-nyutan, Mak? Wkwkwkwk, aslinya sederhana, kok. Kalau sudah dipraktikkan bakal nagih. Next emak K bakal posting salah satu kurikulum bermainnya si K. InsyaAllah. Jazakumullahu khairan katsiran, mbak Febrianti Dwisetyarini. Semoga apa yang sudah Mbak bagi semakin beranak-pinak pahalanya, ya.

Bagaimana komentar kalian?

%d bloggers like this: