K's Family, Semua

Menjadi Konsumen Cerdas di Era Digital saat Berbelanja Online

Jumlah pengguna internet di Indonesia menurut survey e-marketer pada tahun 2016 mencapai 123 juta orang. Menduduki peringkat keenam pengguna internet di seluruh dunia, di bawah Jepang. Nyaris 50% dari jumlah populasi Indonesia yang sebanyak 256,2 juta jiwa. Bisa kebayang, kan, seberapa banyak penggunanya, lha wong anak kecil saja sudah akrab dengan benda bernama internet.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mempublikasikan penelitiannya terkait trend pengguna internet di Indonesia 84 juta atau 63,5% diantaranya pernah melakukan transaksi online.  92 juta pengguna merasa aman saat bertransaksi, 39,4 juta lainnya merasa tidak aman.

See? 39,4 juta bukan bilangan yang sedikit, kan? Mapolresta Solo mencatat penipuan online yang dilaporkan ke Mapolresta Solo pada tahun 2017 mencapai 900 kasus, dalam kata lain, sehari rata-rata terdapat tiga laporan penipuan online. We-O-We, itu baru dalam lingkup kota Solo saja.

Trend Internet di Indonesia dari Berbagai Sumber
Trend Internet di Indonesia dari Berbagai Sumber

Penipuan Online yang Menghantui Konsumen Cerdas di Era Digital

Penipuan online sangat beragam jenisnya. Setara dengan peningkatan jumlah pengguna internet dari tahun ke tahun, penipuan online pun semakin meningkat dari tahun ke tahun dengan modus yang sangat beragam. Emak K cerita beberapa, deh, yang pernah dialami Emak K, juga teman-teman Emak K sebagai bahan pertimbangan untuk lebih hati-hati dalam bertransaksi online.

Jebakan itu Bernama Diskon

Kala itu aku ngebet ingin membeli sebuah sandal bermerk x. Apesnya, merk tersebut hanya tersedia di sebuah Mall, yang notabene sangat jauh dari rumah. Aku harus menempuh perjalanan 2-3 jam untuk mencapai mall tersebut. Mau belanja sendiri? Enggak, lah, demi apa ngebolang sejauh itu hanya untuk membeli sandal.

Akhirnya, emak K mencari barang di sebuah marketplace. Saat menemukan barang tersebut, harganya diskon 75% dari harga normal. Dih, dasar emak-emak yang ngirit, aku klik pesan dan membayar saat itu juga. Padahal sahabat di grup Whatsaap sudah mengingatkan untuk tidak membeli barang yang diskon karena itu biasanya merupakan stock lama di gudang.

Tara, saat pak kurir bertandang ke rumah, aku tidak sabar membuka paketan. Barangnya sama persis dengan gambar, warna dan merknya pun sesuai dengan permintaan. Aku puas, memberi lima bintang. Prahara datang saat sandal yang sudah lama kuimpikan itu kupakai jalan-jalan, kulitnya mengelupas sedikit demi sedikit. Huaaaaa, nangis di pojokan. :'(

Modus Penipuan Online
Modus Penipuan Online

Penjual Kabur dengan Segudang Alasan

Mbak Haminati namanya, saat itu tengah mempersiapkan pernikahan. Lazimnya muda-mudi yang mau menikah, mbak Haminati ingin membuat undangan pernikahan yang paling baik. Setelah mencari berbagai referensi, pilihannya jatuh ke sebuah Percetakan Undangan yang ia temukan di Facebook, membayar Rp. 1.400.000,00 sebagai tanda jadi.

Keanehan mulai datang saat desain tidak kunjung dikirim melalui email. Singkat cerita, h-20 pernikahan belum ada kabar apapun. Dihubungi melalui telepon tidak diangkat, melalui sms tidak terbalas, melalui email pun nihil. Tidak rela uang terbuang sia-sia, mbak Haminati mengirim pesan ke dinding Facebook Percetakan Undangan tersebut.

Beberapa hari kemudian, orangnya menghubungi dengan segudang alasan yang intinya ia tengah bangkrut dan berjanji mengembalikan uang sebanyak Rp. 1.200.000,00 setelah dipotong biaya desain Rp.200.000,00 pada bulan April. Sampai mbak Haminati mempunyai anak berusia 3 tahun, uang yang dijanjikan tersebut tidak kunjung tampak. Nyesek.

Barang yang Datang Tidak Sesuai Ekspektasi

Mbak kandungku tergiur dengan harga sebuah setelan brokat yang cuma 70k, dimana harga 70k kalau beli kain brokat di Salatiga hanya mendapatkan kain brokat 2 meter saja, belum ongkos jahit dan kain batik untuk bawahannya. Jika menjahit sendiri, paling tidak membutuhkan Rp. 200.000,00 untuk satu setelan brokat dengan bawahan batik kualitas sedang.

Murah banget, kan? Ia pun mencoba untuk memesan.

Begitu barang datang. Hmmm, kata Mbak, lebih pantas digunakan untuk lap lantai, brokatnya super tipis, kain batiknya kain grade rendah yang digiles mesin cuci sekali langsung enggak berbentuk. Cry.

Baru tiga poin saja aku sudah ngilu, ini belum perkara seller yang memaksa untuk menelepon karena akan memberikan panduan transfer e-money, eh, ternyata malah uang rekening dikures habis-habisan, tukang jual gadget dengan harga super dikepruk–saking murahnya bukan dibanting lagi—, ternyata cuma abal-abal alias tipuan.

Agar Konsumen Cerdas Di Era Digital Tidak Mudah Ditipu Penjual Online

Konsumen Cerdas
Konsumen Cerdas

Penipu semakin hari semakin cerdas saja rasanya, sebagai konsumen, kita juga tidak boleh kalah cerdas dengan penipu. Jika penipu upgrade ilmu bagaimana cara menipu online, kita juga tidak kalah upgrade pengetahuan mengenai modus penipuan agar tidak menjadi korban. Tidak ada salahnya kita menjadi Konsumen Cerdas di Era Digital.

Sebagai Emak-emak yang sering berbelanja online, tidak dipungkiri kadangkala aku takut tertipu juga. HAHAHA, tetapi piye maneh, kalau yang jual tidak ada di daerah, plus punya anak kecil yang sering tantrum, beli online adalah pilihan yang paling pas.

Menjadi Konsumen Cerdas Saat Berbelanja Online
Menjadi Konsumen Cerdas Saat Berbelanja Online

Cek Barang, Pastikan Barang yang Dibeli Memenuhi Standar

  • Produk Dalam Negeri

Membeli produk dalam negeri merupakan wujud dukungan dalam mengembangkan perekonomian negara. Tentu saja kita ikut bangga jika produk dalam negeri semakin kuat, kan? Saat membeli online, biasanya penjual mencantumkan apakah produk tersebut produk import atau produk lokal.

  • Ber-SNI

SNI, Standar Negara Indonesia adalah standar yang dibuat Komite Teknis Perumusan SNI dan ditetapkan oleh BSN. SNI ditujukan untuk  keperluan melindungi kepentingan umum, keamanan negara, perkembangan ekonomi nasional, dan pelestarian fungsi lingkungan hidup. Jadi, kalau kita beli barang ber-SNI, insyaAllah barang tersebut sudah melalui standarisasi nasional.

Jangan segan untuk menanyakan kepada penjual, apakah barang yang akan kita beli berstandar SNI atau tidak.

  • Cek Tanggal Kedaluwarsa untuk produk Makanan dan Kosmetik

Saat membeli produk makanan dan kosmetik melalui online, pastikan tanggal kedaluwarsanya masih jauh. Jangan sungkan bertanya kepada penjual, palagi barang-barang yang sedang diobral. Biasanya di E-Commerce, penjual produk makanan dan kosmetik wajib mencantumkan tanggal kedaluwarsa.

  • Beli Sesuai Kebutuhan

Salah satu kelebihan berbelanja online adalah kita bebas window shoping tanpa dipelototi oleh penjual. HAHAHAHA. Ketahuan deh emak K suka window shoping ke e-commerce atau toko online lainnya. Namun, kebebasan untuk window shoping ini juga menggoda emak-emak membeli barang yang tidak dibutuhkan. Hihihi, so, membuat daftar barang yang dibutuhkan wajib agar kita tetap berada pada jalan yang benar, eh, tetap berbelanja sesuai kebutuhan, maksudnya.

Cek Harga Pasar, Semakin Murah Semakin Mencurigakan

Belakangan ini marak modus upload foto produk orang yang sudah terpercaya, kemudian menjual dengan harga jauh lebih murah daripada harga produk original. Please, hati-hati dengan penjual-penjual yang menampakkan produk bening dengan harga sangat murah. Jika harga jual di website atau media sosial resmi produk tersebut jauh lebih mahal, fix, itu penipuan.

Biasanya mereka menjahit dengan kain entah grade berapa, dengan jahitan alakadarnya, cutting yang serampangan, sehingga bisa mendapatkan harga produksi yang sangat rendah. Mana ada penjual yang ambil rugi, kan?

Gunakan Marketplace

Emak K bisa dibilang pengguna marketplace garis keras. HAHAHA. Ya, keberadaan marketplace membatasi gerak-gerik penipu. Menggunakan marketplace bukan semata mencari gratis ongkos kirim, namun lebih memilih jalur aman. Alur pengiriman uang kita saat menggunakan marketplace adalah sebagai berikut:

  1. Buyer memesan barang, marketplace menghitung total harga dan ongkos kirim yang harus dibayarkan oleh buyer.
  2. Buyer mengirim uang ke rekening marketplace, seller memproses dan mengirimkan barang yang dipesan oleh buyer melalui jasa ekspedisi yang dipilih.
  3. Buyer menerima barang dan memberitakan penerimaan barang, seller menerima uang penjualan dari marketplace. Jika terdapat komplain, tim marketplace akan menengahi.

Terlihat lebih menguntungkan jika menggunakan marketplace. Biasanya penipuan yang ada di marketplace seputar pada kualitas barang, so, jangan tergiur oleh harga murah yang jauh dari harga pasar, ya. Emak K bocorin deh tips agar bertransaksi aman di marketplace.

  • Cek harga pasaran, skip jika harga jauh lebih murah daripada harga pasaran. Biasanya jika harga jauh lebih murah ada beberapa kemungkinan, diantaranya: barang tiruan atau stock lama di gudang. Jangan sampai mengalami hal yang sama saat emak K membeli barang ori yang merupakan stock lama di gudang, wkwkwk.
  • Cek komentar dan rating penjual. Di beberapa marketplace menyediakan komentar dengan foto, cek saja komentar dengan foto untuk membandingkan gambar yang dipasang dengan gambar real. Jika terlalu jauh, skip saja, cari yang lain.
  • JANGAN PERNAH MELANJUTKAN TRANSAKSI DI LUAR MARKETPLACE. Saking seringnya penipuan model ini, aku merasa harus menulis dengan capslock. Ya, jika awalnya kita chat melalui marketplace, jangan sekali-kalipun menyetujui transaksi di luar marketplace.

Jika Beli di Akun Media Sosial Personal, Cek Random Testimoni dari Orang yang Pernah Membeli

Aku jarang melakukan transaksi via media sosial personal. Biasanya, aku melakukan transaksi tanpa melalui marketplace hanya kepada orang yang kukenal baik, biasanya aku menyelidikinya melalui interaksinya dengan teman-temannya. Alhamdulillah, belum pernah dikecewakan ketika membeli barang melalui akun media sosial personal.

Cek Apakah Rekening Orang Tersebut Masuk ke Dalam Daftar Blacklist

Sebagai pencegahan, jika kita masih merasa ragu karena bertransaksi dengan orang yang belum dikenal di luar marketplace, kita bisa melakukan pengecekan apakah rekening yang kita tuju merupakan rekening yang di-blaclist atau tidak melalui https://www.kredibel.co.id/check. Kita cukup menginput nomor rekening seller pada kotak pencarian yang telah disediakan.

Cek Rekening Penjual
Cek Rekening Penjual

Pasang DNS Nawala untuk Melindungi dari Toko Online atau Website yang Mencurigakan

DNS Nawala adalah layanan DNS yang bebas digunakan oleh pengguna akhir atau penyedia jasa internet untuk mendapatkan akses internet bersih dan aman. Cara untuk memasang DNS Nawala adalah sebagai berikut:

  1. Download DNSCrypt di http://www.nawala.id/category/panduan/aplikasi.
  2. Kemudian ubah nama dnscrypt.anu menjadi dnscrypt.zip, kemudian masuk ke dalam folder bin dan jalankan file dnscrypt.bat.
  3. Kemudian cari pengaturan DNS pada koneksi yang anda gunakan di PC/Laptop dan ubah setting Preferred DNS menjadi 127.0.0.1

Setelah selesai melakukan setting DNSCrypt kemudian periksa apakah DNS bisa bekerja dengan baik. Berikut ini langkah-langkahnya :

  1. Masukkan ke command promt (dos prompt)
  2. Jalankan perintah :

nslookup playboy.com 127.0.0.1

Bandingkan dengan

nslookup playboy.com 8.8.8.8

  1. Atau jalankan perintah untuk menampilkan query ke DNS yang telah disetting di PC/laptop : >nslookup playboy.com

Selain melindungi dari fraud e-commerce, DNS Nawala juga melindungi dari konten pornografi dan perjudian. Jika kita sedang mengakses situs yang mencurigakan akan muncul peringatan.

Tampilan Halaman ketika kita mengakses situs yang mencurigakan. Sumber: teknoflas.com
Tampilan Halaman ketika kita mengakses situs yang mencurigakan. Sumber: teknoflas.com

Ketika Menjadi Korban Penipuan Online, Lakukan Langkah Berikut Ini

Kata orang, meskipun kita sudah sangat hati-hati dengan melakukan berbagai langkah pencegahan, yang namanya apes ya apeslah. Kenapa emak K jadi mbulet begini, sih? Jadi, kadangkala kita sudah memilih untuk belanja kepada teman yang terpercaya, eh, transaksi ke dua dia ngilang. Ada yang sudah belanja melalui marketplace, eh, ternyata barang yang datang adalah barang kw.

Komplain ke Penjual

Jika kita sedang berbelanja melalui marketplace, kita cukup mengadukan komplain ke laman yang sudah disediakan. Customer Service marketplace akan melakukan mediasi antara buyer dan seller. Jadi, begitu paket sampai, segera membuat laporan ke marketplace karena marketplace akan menutup transaksi secara otomatis jika dalam waktu yang telah ditentukan pembeli tidak melakukan komplain.

Kalau berbelanja langsung kepada personal, kita harus lebih gigih komplain langsung kepada penjualnya.

Laporkan Penipuan ke Kantor Polisi Terdekat

Jika komplain ke marketplace dan personal tidak menemukan titik temu, penjual kabur tanpa kabar dengan memblokir semua akses, laporkan saja kepada kantor polisi terdekat dengan membawa bukti. Awal tahun 2015, saat aku tengah hamil si K, kami sempat melaporkan kasus penipuan yang dialami oleh abah K. Sampai di Mapolresta, ternyata laporan kami tidak bisa diproses karena kurang bukti. Abah K bukan orang yang teliti menyimpan bukti transfer dan percakapan dengan penipu.

Tetapi tidak mengapa, pengalaman tersebut sangat berarti bagi kami, sehingga kami tahu apa saja yang harus disiapkan jika ingin melaporkan kasus penipuan online. Yang dibutuhkan ketika kita melaporkan kasus penipuan online ke kantor polisi antaralain:

  1. Screen Capture percakapan selama bertransaksi. So, jangan menghapus riwayat chat jika barang/ jasa belum kita terima.
  2. Bukti transfer kita ke rekening penipu.

Namun, tindak penipuan yang bisa dipidanakan adalah penipuan di atas Rp. 2.500.000,00 , jika nominal di bawah Rp. 2.500.000,00, polisi tidak bisa memidanakan penipu. Namun tenang, polisi akan memberikan Surat Keterangan Kepolisian untuk dibawa ke bank agar bank melakukan tindak lanjut.

Ajukan Pemblokiran Rekening Penipu dan Pengembalian Dana ke Bank tempat Rekening Kita Berada

Untuk penipuan di bawah Rp. 2.500.000,00, kita masih bisa mengharapkan bank melakukan tindak lanjut. Aturan setiap bank berbeda, namun pada umumnya yang harus disiapkan jika kita mengadukan komplain penipuan online adalah:

Yang Harus Disiapkan untuk Melaporkan Penipuan ke Bank
Yang Harus Disiapkan untuk Melaporkan Penipuan ke Bank
  1. Surat Keterangan Kepolisian
  2. Screen Capture bukti percakapan
  3. Slip transfer atau bukti transaksi lainnya
  4. Catatan kronologi penipuan, biasanya disuruh menulis sendiri
  5. KTP
  6. Buku rekening
  7. Data Penipu/ Penerima Dana

Setelah kita menyerahkan berkas tersebut, CS bank akan melakukan crosscheck ke beberapa pihak terkait. Jika laporan kita terbukti valid, bank akan melihat arus kas rekening penerima dana, jika rekening penerima dana masih ada saldo dan cocok dengan laporan kita, biasanya akan otomatis dikembalikan ke rekening kita sejumlah uang yang telah kita transfer.

Namun, banyak penipu yang sangat gesit segera melakukan penarikan uang begitu ada uang masuk ke dalam rekening sehingga tidak ada pilihan lain bagi bank selain memblokir rekening penipu. Meskipun uang kita tidak bisa kembali, setidaknya kita sudah meminta bank untuk memblokir rekening pelaku untuk membatasi gerak-gerik pelaku dan tidak menjerat korban lain.

Melaporkan ke Laman lapor.go.id

Jika kita tidak punya waktu untuk mengurus step by step dari kepolisian hingga bank, kita bisa melaporkan penipuan yang telah kita alami ke laman lapor.go.id yang aktif menaggapi. Laman lapor.go.id disediakan untuk menampung laporan masyarakat lintas masalah. Kita cukup melakukan registrasi untuk membuat laporan, termasuk laporan penipuan online dan kecurangan penjual lainnya.

alur kerja lapor
alur kerja lapor, sumber gambar: lapor.go.id

Kelebihan saat kita melaporkan ke lapor.go.id adalah admin akan mendisposisikan ke dinas terkait, sehingga kita tidak perlu bingung ke instansi mana kita melaporkan permasalahan. Selain itu, kita cukup memiliki satu akun di lapor.go.id untuk melaporkan segala permasalahan terkait layanan publik.

Lapor di lapor.go.id
Lapor di lapor.go.id

 

Whohoho, ternyata pemerintah pun sangat serius untuk mendukung rakyatnya menjadi Konsumen Cerdas di Era Digital, ya. So, mari memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan oleh pemerintah dengan sebaik-baiknya agar aman saat bertransaksi online.

 

 

 

 

 

Sumber:

https://kominfo.go.id/content/detail/4286/pengguna-internet-indonesia-nomor-enam-dunia/0/sorotan_media

https://apjii.or.id/downfile/file/BULETINAPJIIEDISI05November2016.pdf

https://www.jawapos.com/read/2018/01/19/182377/hati-hati-penipuan-online-merajalela-sehari-tiga-korban-kena-tipu

http://bsn.go.id/main/berita/berita_det/6741/DAFTAR-PRODUK-YANG-WAJIB-MEMENUHI-SNI

www.teknoflas.com/2868/tips-menghindari-penipuan-toko-online-dengan-dns-nawala.html

27 thoughts on “Menjadi Konsumen Cerdas di Era Digital saat Berbelanja Online”

  1. Agak ngeri juga ya makin bnyak penipun yang mengatasnamakan diskon, aku juga bisa ketipu nih kalo ada barang yg dpengen dibanderol murah.
    Harus bner2 selektif dalam belanja baik online atau offline, hrus jdi konsumen yg cerdas.

    1. Enggak di online, enggak di offline, kasus penipuan karena harga jauh di bawah harga pasar cukup banyak terjadi. 🙁

  2. Mba Widut keren bangeettt…
    Jazzakillahu khoiron katsiron. Informasinya super lengkap dan sangat mudah dipahami karena menggunakan gambar.

    Aku pernah juga niih…realita vs gambar, gak sesuai.
    Tapi yaa…mau gimana. Ada harga-ada rupa.
    Gitu kata orang Jawa yaa, mba.

  3. Konsumen Zaman sekarang harus sudah mampu membentengi diri dari segala macam kejahatan. Harus bener-bener teliti dan jangan sampai salah membeli atau terjebak dengan iming iming si penjual.

  4. Ngeri juga ya..kalau sampai kena tipu saat berbelanja online. Pastinya nyesek bangeet!
    Memang perlu ekstra hati-hati saat membeli barang.

    Kita harus berusaha jadi konsumen yang cerdas, agar hak kita sebagai konsumen bisa terpenuhi, ya…

  5. Belanja online memang agak rumit meskipun banyakan enaknya. Harus berhati-hati agar tak tertipu dan tetap asik berbelanja tanpa keluar rumah.

  6. Kalau beli onlen saya seringnya ke marketplace yang terpercaya atau onlen seller rekomendasi dari teman 😀
    Emang kudu jeli ya mbak supaya terhindar dari penipuan onlen. Ya itu td jangan tergiur murah tapi kok ya mencurigakan gtu… TFS

  7. betul betul mba.. sekarang kita harus menjadi konsumen cerdas. hanya saja ini perlu banyak disosialisasikan ke masyarakat umum jangan cuma ke blogger. karena korban penipuan online kebanyakan emak-emak jaman now yang gak ngerti masalah online dan mudah tergiur dengan Diskon hehe..

    Oh ia kalau untuk DNS Nawala saya malah dari dulu males pasang mba, Soalnya jadi seperti termonitor dan terpantau semua yg kita akses begitu juga informasi pribadi yang kita gunakan selama berselancar dalam dunia maya

  8. Mbak Widi lengkap banget tulisannya.. tapi setuju tuh sama mas Tomi, kudu disosialisasikan lebih luas ke masyarakat nih gimana jadi konsumen yang cerdas di era digital. Penipuan di internet semakin merajalela soalnya, ya 🙁

  9. Alhamdulillah
    Belom pernah ketipu
    Sejak dulu mmg tukang belanja online
    Apalagi saat punya baby ga bisa kemana mana.
    Semua belanja online
    Mmg kudu smart ya
    Sy betah ngecek testimoni dan komentar pembeli di OS yg jualan di sosmed

  10. Waww lengkap sekali ulasannya. Ngebantu banget buat konsumen online yang makin banyak ini. Apalagi remaja2 yang masih pemula buat urusan ini. Perlu banget ngebaca penjelasan yang mendalam begini. Apalagi ada infografisnya. Dahsyat!

    Bicara soal pengalaman ketipu pedagang online sih paling banter dapat barang yang low quality padahal ngakunya oke punya. Eh tapi juga pernah pakai suatu jasa online, udah kubayar terus orangnya kabur. Diwasapin gak respon. Mau lapor polisi apalah daya kerugian cuma 18ribu. Wahaha

    1. Wkwkwkwk, 18rebu. 😀 😀

      Nah itu, banyak yang nyolong gambar orang, trus dibikin lagi dg kualitas jelek dan harga jauh lebih murah.

    1. Iya, makin hari makin pinter ngibulnya. Sampe ada yang bikin fake account buat komen seolah-olah banyak yang beli.

Bagaimana komentar kalian?