Widi Utami

Learn, Write and Share
Deaf Corner

Ketika Seorang Ibu Tuli Parsial (Hard of Hearing) Belajar Menyanyi demi Anak

June 14, 2018
Ketika Seorang Ibu Tuli Parsial (Hard of Hearing) Belajar Menyanyi demi Anak

Sebagai seorang Ibu dengan Hard of Hearing, aku enggak mau mengabaikan sisi seni si K hanya karena aku tidak bisa menyanyi dengan benar. Bah-bahno suara yang enggak jelas tinggi rendahnya nada, yang penting si K senang karena bisa menyanyi bareng Ibunya.

Ada empat bahasa nyanyian yang kukenalkan kepada si K, bahasa Jawa, bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Arab. Paling banyak bahasa Indonesia, maklum, database nyanyian dalam otak Ibu sangat terbatas. Hahaha.

Ibu dengan HOH Belajar Menyanyi

Caraku belajar menyanyi membutuhkan proses yang panjang. Awalnya, aku akan mencari lirik nyanyian, kemudian mencatatnya di buku khusus. Setelah mempunyai catatan lirik, aku akan mencari video yang jelas gerak bibir dan subtitle liriknya. Setelah itu, aku akan menggunakan headshet untuk mendengarkan nyanyiannya, kemudian ‘membaca’ mulut penyanyi sambil menirukan.

Jangan tanya berapa volume yang kusett, pokoknya sampai ada peringatan jika menggunakan volume setinggi itu akan merusak organ pendengaran. Hehehe, ya, demi anak, hal-hal yang dulu enggak kusukai, kukerjakan dengan senang hati.

Apakah enggak ingin mengenalkan si K dengan menyanyi menggunakan bahasa isyarat?

Sejauh ini belum, karena aku ingin memaksimalkan kemampuan si K terlebih dahulu sebelum mengenal bahasa isyarat. Aku baru mengenalkan sedikit bahasa isyarat pokok kepada si K, seperti makan, minum, tidur, pulang dan pergi.

Setelah aku merasa cukup, aku akan menyanyikannya untuk si K dengan berbagai kegiatan. Kegiatan yang paling disukai si K adalah dengan cara menggambar sesuatu, kemudian menyanyikannya bersama-sama.

Reaksi Orang Sekitar ketika Kami Menyanyi Bersama

“Bulik ki nyanyi apa?” tanya kakak Tegar. Aku menanggapiya dengan tertawa. HAHAHA. Sadar diri euy, dulu seni musik enggak pernah lulus. Ngahaha.

Aku memutuskan untuk tetap lanjut saja, lha piye, kalau enggak Ibunya, siapa lagi yang mengajari? Abah K waktunya sangat terbatas untuk membersamai si K, jadi aku memintanya untuk fokus mendampingi mengaji dan sholawatan. Biarlah nada nyanyian enggak karuan, yang penting ngaji dan sholawatannya benar.

Lagipula, saat orang-orang mendengar si K menyanyi sendirian, rerata mengapresiasi dan kagum karena di usia 2 tahun si K sudah lancar menyanyi, dengan kondisi Ibu yang sangat terbatas. Semoga saja kelak si K bisa memperbaiki semua yang terkait menyanyi bersama guru yang lebih mumpuni.

Tembang Dolanan Jawa Favorit si K

Si K punya tembang dolanan jawa favorit, yang kalau lagi menyanyi tembang itu, dia bakal full power sampai-sampai nadanya melengking tinggi. Sampai tulisan ini ditulis, ada tiga tembang dolanan jawa favorit si K. Aku mau menuliskan liriknya disini, hehe.

Padang Mbulan

Lagu ini kami nyanyikan setelah aku menggambar bulan sabit. 😀

 

Padang Mbulan, mbulane kaya rina

Rembulane sing ngawe-awe

ngelingake aja padha turu sore

Biasanya dilanjut dengan shalawat, sak kemenge si K nyanyi. Hahaha.

Bebek Adus Kali

Bebek adus kali

nututi sabun wangi

Abah tumbas roti

Kevin diparingi

Lirik aslinya, “…. mboten paringi” oleh si K dirubah menjadi “diparingi.” Si K bakal marah kalau liriknya mboten paringi. Hahaha

Prau Cilik

Aku nduwe dolanan sing apik

Prau cilik tak kelekke banyu

Mbesuk gedhe dadi tukang prau

Bayarane satus suwidak ewu

Di versi lain, ada yang memakai “Aku nduwe dolanan sing lucu.”, tetapi jaman aku masih kecil, liriknya memakai “dolanan sing apik”, jadi emak K pakai versi masa kecil emak K saja. Hahaha

 

 

 

 

 

Pencarian Terkait:

  • Cerita ibu yang mempunyai bayi tuli

Home Based Education Interested. Love reading, writing and travelling. Interested in blogging. Live in Salatiga, a small city near Merbabu Mountain.

Bagaimana komentar kalian?

%d bloggers like this: