Pandemi Corona membuat tingkat stress-ku meroket tajam. Bawaannya pengen pulang, dekat dengan keluarga. Kontrakan yang sepetak membuat kami harus pinter-pinter ngelola ruang agar si K bisa main sepuasnya. Sementara abah K membutuhkan space ruang untuk kerja. Jadilah kamar menjadi play ground tempat si K bermain.

Sudah terbiasa dengan work from home tidak lantas membuatku ahli mengelola stress saat #dirumahaja. Ruang gerak si K yang terbatas membuatnya sering uring-uringan. Sementara aku merasa jenuh karena mengkhawatirkan hal yang sama sepanjang hari; corona.

Melihat grafik penderita yang naik per 22 maret ini, persebaran yang luas, penularan yang sangat cepat. Diakui atau tidak, aku pun merasakan kekhawatiran yang mencekam. Sampai kapan? Kapan berakhir?

Rasanya lelah mantengin timeline. Lelah melihat orang-orang yang denial dengan situasi sekarang dan bebas keluar dan berkumpul dengan orang banyak; yang sangat beresiko menularkan Covid-19.

Aku stress, jenuh  dan gampang meledak. Mengambil resiko yang paling minim, aku memilih untuk memberi si K waktu nonton yang lebih longgar agar aku mempunyai waktu untuk mengelola stress dengan me time.

Abah K melampiaskan stress dan kejenuhan pada proyek-proyeknya. Mengurangi paparan medsos dan meilhat berita dari sumber resmi untuk meningkatkan kewaspadaan.

Its time to battle together. #JagaJarak sudah, tingkatkan imunitas tubuh dengan buah dan sayur sudah. Dikencengin dengan doa dan sholawat kala ada penyakit wabah. Selebihnya tawakkal, berdoa riada henti agar wabah ini lekas usai.

Oh, God!

Bahkan dalam benakku sekalipun, tidak pernah terlintas aku akan melewati jaman ini. Jaman dimana keluar rumah dibayang-bayangi benda tidak kasat mata bernama virus corona. Jaman dimana ‘ulama memilih untuk meniadakan sholat jum’at sampai virus bisa dikendalikan. Jaman dimana Makkah ditutup…. .

Menyadarkanku bahwa mengunjungi rumah-Nya bukan hanya perkara ada uang belaka. Mencubitku bahwa Dia yang Maha tidak hanya sebatas berada di Masjid dan Kakbah.

Bahwa…. .

Betapa banyak hal yang dianggap biasa kini serasa menunggu berita sangat gembira. Betapa berpetualang tanpa khawatir terpapar virus berbahaya adalah sebuah kenikmatan yang selama ini dianggap biasa.

Betapa bertemu keluarga, menyambung silaturrahim, menikmati ayat-ayat Kauniah-Nya di pelosok bumi adalah nikmat yang tiada tara, yang tidak bisa dihitung dengan harta benda.

Betapa banyak biasa-biasa lain yang kini terasa sangat berharga.

Seolah Robbuna sedang Mengelus ummat-Nya agar kembali bersinergi. Meminta ummat-Nya  agar bergandengan tangan kembali. Menyudahi perdebatan tidak penting. Menyatukan ummat ini untuk bersama melawan musuh tak kasat mata.

Meski,

Ada pula yang tetap mengobarkan api.

Rajab sudah dipenghujung bulan. Tiada doa lain yang selalu bergaung dalam hati sepanjang waktu beberapa hari ini, Allah, tolong sembuhkan yang sakit, kuatkan yang berjuang di garda terdepan…. dan, ijinkan kami menikmati bulan-Mu yang penuh Maghfirah tanpa virus Covid-19.

 

%d bloggers like this: