Medio 2010 adalah masa paling suram. Kalian yang dekat denganku pada tahun-tahun itu, pasti tahu bagaimana gelapnya aura yang meliputi diriku. Menjadi satu-satunya siswa dengan difabilitas tuli di sekolah nomor wahid se-Salatiga bukanlah sesuatu yang membanggakan, aku malah merasa menjadi beban untuk semua orang.

Aku merutuki diri kenapa dulu begitu berambisi mendaftar ke sekolah keren ini. Harusnya aku mendaftar ke SMA-LB, sekolah yang diperuntukkan bagi penyandang difabilitas sepertiku.

Ujian Nasional Bahasa Inggris menjadi momok yang paling menakutkan. Aku sensitif dengan segala hal yang berbau audio. Aku benci dengan latihan listening, memilih tidur saat guru bahasa Inggris mengajak latihan listening di laboratorium.Aku depresi, berimbas pada materi pelajaran yang lain. Listening mengikutiku kemana-mana, hingga aku menyebutnya hantu listening.

Sepele?

Bagimu sepele, TETAPI TIDAK UNTUKKU. Aku diliputi ketakutan yang tidak berujung. Bagaimana jika aku tidak lulus hanya karena tidak bisa menjawab 20 soal listening? Tahun 2010, tidak lulus pada satu mata pelajaran artinya TIDAK LULUS SEKOLAH. Sesunguhnya aku tidak peduli apakah aku lulus atau tidak. TETAPI AKU TIDAK BISA MENGABAIKAN BAGAIMANA PERASAAN ORANG-ORANG TERDEKATKU.

Bagaimana dengan sekolahku yang merupakan sekolah nomor wahid se kota Salatiga? Aku sungguh tidak bisa tidur hanya karena membayangkan headline di media cetak nasional ‘SMANSSA TIDAK LULUS 100%”, membayangkan betapa sakit hatinya teman-temanku karena aku menjadi penyebab kegagalan target 100% lulus.  Bagaimana perasaan Ibu dan Bapak yang sudah memeras keringat, bekerja siang malam untuk membiayai sekolahku yang tidak murah? Bagaimana perasaan guru-guruku yang begitu telaten membimbingku meski beliau harus mengulang-ulang kalimat ketika berbicara kepadaku?

Pertanyaan-pertanyaan itu memancing pertanyaan yang lain, hingga… apakah ketiadaanku akan menyelamatkan semuanya? Aku terus-menerus membayangkan apa saja kemungkinan yang bisa terjadi, sehingga aku tidak perlu mengikuti Ujian Nasional. Dari mendadak sakit sepanjang jadwal UN, mendadak mati menjelang UN, mendadak koma, mendadak hilang ditelan rimba, err…

Mereka Mengulurkan Tangannya Kepadaku

Allah Maha Baik, aku dikelilingi orang-orang yang tak lelah merangkulku. Keluarga yang tak pernah bosan membelai kepalaku. Teman-teman dan guru-guru yang merangkul sembari berkata, “Nggak papa, kita maksimalkan di reading dan writing-nya, ya.”. Orang-orang yang begitu sabar dan tidak pernah sekalipun men-judge WiDut kurang iman.

Orang-orang yang memahami jika aku hanya butuh didengarkan, bukan kalimat panjang penuh petuah. Bahkan membiarkanku melakukan hal yang diluar nalar. Disaat (seharusnya) belajar dan belajar, aku malah tertantang mengikuti lomba menulis cerpen. Kerennya, guru Bahasa Indonesiaku, ibu Maria, membimbingku sepenuh hati tanpa mengintervensi jika seharusnya aku belajar untuk Ujian Nasional.

Dan, akhirnya aku bisa melewati Ujian Nasional itu meskipun dengan nilai yang sangat pas-pasan. Jangan dibandingkan saat SMP, bagai kutub utara dan kutub selatan. Tetapi setidaknya ketakutan-ketakutan itu tidak terjadi.

Bagaimana jika Tidak Ada Seorang pun yang Memahami?

Kamu enak, Dut, orang-orang yang memahami keadaanmu melimpah di sekelilingmu. Lalu, aku bagaimana? Rasanya semakin dikucilkan, semakin diejek, semakin sendiri.

Kamu tidak sendiri. Jika lingkaran terdekatmu tidak ada yang memahami tentang keinginan bunuh diri, ada banyak orang yang siap menampung segala keluh kesahmu. Bahkan ada lembaga yang siap untuk membantumu, dengan orang-orang yang ahli di bidangnya. Tenang, privasi-mu akan tetap terjaga.

Ada beberapa lembaga yang siap untuk membantumu, aku baru menemukan 4 lembaga ini:

  1. Direktorat Pelayanan Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 500-454
  2. LSM Jangan Bunuh Diri : [email protected] telp (021) 9696 9293
  3. Into the Light : [email protected] / [email protected]
  4. LSM Imaji (Inti Mata Jiwa) : [email protected]

 

 

%d bloggers like this: