K's Family, Parenting, Semua

Tantangan Menyatukan Persepsi Reward and Punishment

Sore itu, si K berulah, ia menyemburkan air minum di atas kasur berulangkali. Kasur basah.

Peringatan pertama, aku hanya menegur si K. Memberitahunya jika kasur menjadi basah. Tetapi tak mempan, si K mengulangi kembali atraksi yang dianggap lucu itu.

Aku mendudukkan si K di kasur. Duduk membungkuk, mensejajari pandangan. Menatap matanya, berkata pelan, “Kevin, Ibu marah. Kasur basah.”

Si K terlihat diam. Membuang matanya, tidak berani menatap mataku. Aku kembali menegaskan jika aku tidak suka si K menyemburkan air karena membuat kasur menjadi basah.

Lepas itu, aku mengambil lap di laci, memberikan kepada si K untuk mengelap air yang disemburkan tadi. Si K mengambil lap dari tanganku dengan sedikit enggan.

“Abaaaahhhh!” tetiba ia tertawa riang. Abahnya masuk ke kamar. Dilemparkan lap yang tadi dipegang, bergelantungan manja dengan Abahnya. Abah K yang baru istirahat dari pekerjaannya tentu saja senang disambut si K sedemikian rupa.

Aku tertawa, misi gagal lagi. “Tadi ki Kevin lagi tak seneni, kok, Bah. Malah mbok turuti, ra sida ta.”

Selepas kejadian itu, si K selalu memanggil nama Abah atau siapapun yang sedang di rumah saat aku terlihat sedang marah, mencari pembela. Ya, meskipun marahku bukan menyubit atau berteriak, tetapi sudah membuat si K sadar jika ia salah, lantas mencari pembela sejatinya.

Agaknya, aku harus berdiskusi panjang-lebar tentang kesepakatan persepsi reward dan punishment ini. Meskipun bentuk reward dan punishment sudah disetujui bersama, tetapi perlakuan saat punishment berlangsung kami belum kompak. Abah dan Mamaknya masih menyambut si K jika aku sedang marah.

Bernegoisasi tentang Perlakukan saat Reward dan Punishment

Aku memilih untuk mendiskusikan langsung tentang pandangan-pandangan para pakar parenting kepada abah K dibaningnkan tag artikel tersebut di facebook atau media sosial lainnya. Kenapa? Karena ENGGAK BAKAL DIBACA. Aku harus membaca secara tuntas terlebih dahulu, membandingkan dengan beberapa artikel dengan tema yang sama, baru berdiskusi dengan abah K.

Menyatukan persepsi, menyatukan langkah, agar si K tidak merasa simpang siur diantara kedua orang tuanya.

“Kak, kalau Kevin lagi kumarahin, jangan dialem, toh.” ujarku, dalam bahasa Jawa, saat kami sedang pillow talk. “Sekarang jadi keterusan dia, tiap kumarahin, dia selalu manggil-manggil abah atau mamak. Esensi kenapa aku marah, jadi enggak nyampe. Diulangi lagi tindakan nakalnya itu.”

“Lah Ayi nek marah mbek Kevin piye?”

“Cuma kududukkan, aku bilang Ibu marah, pasang tampang nesu, gitu.” jawabku, gregetan. Nih orang malah menguji.

“Ya, asal jangan teriak-teriak atau nyubit saja sih, Yi. Nek sampai teriak atau nyubit, Kevin langsung tak tulungi.” abah K mengajukan syarat.

“Oke, tetapi kalau aku lagi marah. Tolong dipertegas, ya.”

Abah K setuju. Hari-hari berikutnya, ketika aku sedang marah kepada si K, abah K turut mempertegas jika abah juga tidak suka dengan tindakan yang dilakukan si K. Turut mengulang apa yang kukatan. Kami kompak. Si K mulai berkurang aksi menyemburkan air minum ke sembarang tempat. Jika pun ia kelepasan usil, si K bakal meminta lap untuk membersihkan cecerannya sendiri.

Tetapi, saat Mamak di rumah, si K masih ngalem ke Mamak. PR-ku belum selesai.

Menegaskan jika si K sedang Berulah ke Keluarga

“Kevin tu tadi nyemburin air, kasur basah. Jangan mau dialem.” seruku, saat si K mulai merengek ke Mamak atau keluarga yang lain.

Aku meminta untuk turut mempertegas jika tindakan tersebut salah agar si K tidak terbiasa mencari pembela. Sejauh ini, keluargaku mendukung apa yang kuminta. Turut mengedukasi si K agar tidak mengulang perbuatan-perbuatannya yang tidak baik.

Komunikasi Reward dan Punishment

Tidak lupa, aku juga mengkomunikasikan tentang yay or nay yang diberlakukan untuk si K. Terutama soal gadget dan reward yang biasanya sangat dimanjakan oleh budhe dan pakdhenya.

Ya, si K setiap kali pakdhe dan budhenya datang, langsung nemplok begitu saja karena si K merasa dibebaskan untuk menonton video di hp milik pakdhe atau budhe. Tuman, eh, bahasa Indonesianya apa ya? Jadi, setiap kali sesi menonton video si K habis, ia bakal meminta ke pakdhe atau budhenya, cenderung memusuhi Ibunya yang membatasi menonton video saat pakdhe dan budhe berkunjung ke rumah.

Gagal, kan?

Pun dengan aturan jajan. Si K hanya kubolehkan jajan satu kali sehari, itu pun jajan susu UHT. Giliran ada pakdhe dan budhe, wah, langsung nemplok minta diantar ke warung mborong segala macam jajanan yang rerata tidak kemakan. Emak galau. Aturan, “Tadi Kevin mpun jajan kan? Sampun, susunya mpun tumbas tadi. Duwit damel jajan mpun telas.” gagal total.

Hal yang paling menantang dari parenting, bagiku, adalah menyatukan persepsi dengan keluarga. Tidak semudah bilang, ya, artikel ini benar adanya. Ya, reward dan punishment yang ideal seperti ini, seperti itu. Reward dan punishment seideal apapun, sekeren apapun, jika kita sebagai orang tua gagal mengkomunikasikan dengan yang lain, GAGAL TOTAL, anak bakal mencari pembela yang dianggapnya lebih sayang.

 

With Love

Emak K yang Masih Banyak Enggak Mudengnya

 

 

Pencarian Terkait:

  • menyatukan persepsi

1 thought on “Tantangan Menyatukan Persepsi Reward and Punishment”

Bagaimana komentar kalian?