Santai Menghadapi Speech Delay, Keterlambatan Bicara pada Anak

Santai Menghadapi Speech Delay, Keterlambatan Bicara pada Anak

Speech delay, keterlambatan bicara pada anak kerap membuat ibu-ibu kalang kabut. Lha piye, lihat anak tetangga sudah cas-cis-cus di usianya yang baru 2 tahun, sementara anak sendiri masih diem kalau enggak dipancing. Belum komentar miring, belum neneknya yang ribet nyuruh periksa ini itu karena khawatir ada yang tidak pas pada cucunya. Bahkan ada juga yang didesak untuk segera ke dokter THT, barangkali anak enggak mau ngomong karena telinganya bermasalah.

Pening pala emak. Apakah anakku speech delay? Apakah ada yang salah? Apakah anakku beneran Tuli?

Tidak semudah itu untuk menyatakan apakah anak mengalami speech delay. Mbok menawa bocah cuma males ngomong banyak, tipikal bocah plegmatis damai yang pendiam, siapa tahu?

Deteksi Dini Speech Delay pada Anak

Deteksi dini speech delay pada anak bisa dilakukan sejak anak masih bayi. Semakin dini ditemukan, semakin panjang waktu untuk mendeteksi faktor penyebab, semakin lebar pula peluang untuk terapi dan anak bisa mengejar ketertinggalannya.

  • Bayi berusia 3-8 bulan sudah mulai mengoceh. Jangan dianggap enteng ocehan bayi yang lebih mirip gumaman. Bayi menggumam sambil memainkan air ludah itu sebenarnya merupakan bentuk komunikasi bayi. Dulu jaman si K sudah mulai menggumam dan bermain air liur, aku gembira, merekam tingkahnya dan mengirimkan ke abahnya.
  • Bayi usia 9 bulan-12 bulan sudah mulai babbling atau berceloteh. Dituntaskan dengan kemampuannya untuk mengulang konsonan dan vokal yang sama di usia 12 bulan. Mamamama, papapapa, babababa. Si K dulu pertama kali babbling babababaa.
  • Mulai mengucapkan kata yang bermakna di usia 12-15 bulan meskipun tidak sempurna. Sekedar ‘moh’ sebagai kata untuk menolak, sudah menjadi penanda jika anak berada di titik aman.
  • Usia 16 bulan ke atas mulai menyusun kata dalam satu kalimat sederhana, yang mulai sempurna pengucapan dan susunan katanya di bulan-bulan berikutnya.

Faktor Penyebab Speech Delay

Setidaknya ada 4 faktor yang bisa menyebabkan speech delay, masing-masing faktor mempunyai cara penanganannya sendiri. Emak K coba runut sesuai dengan apa yang emak K pahami dan alami selama ini, ya. Kalau ada yang punya informasi tambahan, please, kasih tahu dengan meninggalkan komentar.

Speech Delay karena Hambatan Pendengaran

Hambatan pendengaran secara otomatis akan menghambat perkembangan bicara anak karena stimulasi utama untuk belajar bicara adalah dengan mendengar. Anak yang mengalami hambatan pendengaran bisa dideteksi sejak bayi. Anak yang terlalu diam, enggak terganggu dengan keramaian sekitar, harus segera dites apakah ada hambatan pendengaran. Nge-tesnya sederhana, cukup dengan menggoyangkan kerincingan di kanan-kiri bayi, jika bayi bisa menoleh ke arah suara, insyAllah pendengarannya baik-baik saja.

Jika bayi tidak merespon berbagai sumber suara sampai usianya 2 bulan, orang tua harus segera ke spesialis anak untuk kemudian dirujuk ke tenaga medis yang kompeten. Ikhtiar medis, psikologis sekaligus terapi bicara harus berjalan secara beriringan agar tumbuh-kembang anak bisa optimal. Enggak perlu berkecil hati ketika mendapati anak mempunyai hambatan pendengaran, emak K yakin setiap anak mempunyai berliannya sendiri. Its okay untuk merasa lelah dan ingin menangis, tetapi jangan putus asa untuk terus berikhtiar.

Emak K dulu juga mengalami speech delay karena hambatan pendengaran. Orang tua jaman dulu belum melek dengan teori parenting, tetapi aku sangat bersyukur karena bapak dan ibu enggak lelah mengajari untuk berkomunikasi dengan mengandalkan gerakan bibir. Usia 4 tahun bicaraku masih cadel dan banyak kesalahan disana-sini, baru saat aku sudah mulai membaca, ucapanku membaik. Lha piye, banyak ucapan yang gerakan bibirnya sangat mirip, aku hanya bisa membedakannya dengan tulisan. Semisal, Papa-Mama, Ma’e-Pa’e, makanya aku membiasakan si K memanggil Abah-Ibu, bukan Mama-Papa, semata agar aku gampang membedakan apakah si K memanggil Abah atau Ibunya. Hahahaha.

Speech Delay karena Gangguan Perkembangan Otak

Orang dengan keistimewaan Tuli, bicaranya cenderung sengau dan enggak sempurna pengucapannya. Namun, orang yang enggak sempurna pengucapannya belum tentu Tuli. Ada yang mengalami kesulitan berbicara karena syaraf otaknya terganggu, terutama syaraf yang berhubungan dengan daerah oral-motor-nya. Untuk memastikan apakah anak mengalami gangguan perkembangan otak atau tidak, harus dipastikan ke dokter spesialis syaraf dan spesialis perkembangan anak.

Speech Delay karena Minimnya Komunikasi

Speech delay  yang bukan karena indikasi medis hambatan pendengaran dan gangguan perkembangan otak, sebagian besar disebabkan karena minimnya komunikasi dengan orang sekitar. Apalagi jaman serba canggih dan sibuk begini, enggak sedikit orang tua yang puas dengan memberikan anak-anak mainan apapun yang menurutnya bagus, tetapi enggak mendampingi anak bermain. Sungguh, yang diperlukan anak adalah kehadiran kita sebagai orang tua untuk bermain, bukan mainan serba mewah tetapi kita enggak hadir di dalamnya.

Interaksi antara anak dengan orang tua atau orang dewasa dan teman sebayanya selama permainan berlangsung merupakan stimulasi bicara terbaik. Kita bisa saling berbicara, merespon, berlatih empati, berlatih menghargai lawan bicara dengan bermain bersama anak. Bermain yang terlihat sepele di mata orang dewasa, sebenarnya adalah proses pembelajaran kompleks bagi anak, bagaimana anak belajar etika berkomunikasi, kontak mata, menghargai lawan bicara, merspon lawan bicara, dll.

Speech Delay karena Over Menonton Televisi dan Bermain Gadget

Emak K beberapakali menjumpai kasus speech delay karena over menonton televisi dan bermain gadget, masih diperparah dengan minimnya komunikasi karena porsi menonton televisi dan bermain gadget lebih besar daripada porsi bermain dan berinteraksi. Apalagi jika anak menonton youtube berbahasa asing, makin bingunglah ia dengan ragam bahasa yang masuk, padahal bahasa ibunya belum kuat. Jika anak mengalami keterlambatan bicara karena terlalu over menonton televisi dan bermain gadget, tidak bisa tidak, orang tua harus membatasi screen time dan memperbanyak interaksi melalui bermain. Bermain apa saja, bermain perah, kuda-kudaan atau apapun yang disukai oleh anak.

dini.id Solusi Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak

dini.id Solusi Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak

Assesment Perkembangan Anak di Dini.id

Tetap santai, dampingi anak dengan penuh kasih karena orang tua adalah pendamping terbaik bagi anak. Kalau sudah mentok dan tertekan dengan kenyataan yang tak kunjung membaik, mungkin kita membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan assesment terkait speech delay anak. Dini.id bisa menjadi rujukan untuk mengakses assesment online gratis yang bisa kita gunakan untuk mendeteksi apakah anak mengalami keterlambatan bicara atau tidak. Enggak cuma assesment online yang disediakan oleh dini.id, website yang dibangun karena kepedulian dengan speech delay ini juga menyediakan layanan assesment, deservasi dan investigasi untuk membantu kita mengatasi speech delay pada anak. Jangan sungkan untuk meminta bantuan, kita adalah manusia yang butuh dikuatkan, butuh ditolong, butuh panduan.

Assesment Perkembangan Anak Dini.id

Assesment Perkembangan Anak Dini.id

Emak K sudah mencoba assesment online yang disediakan oleh dini.id. Assesment ini gratis,loh. Kita cukup mengisi data pada halaman depan dini.id, kemudian dini.id akan mengirimkan link dan password via whatsapp. Isian kuesioner itu akan direkam dalam bentuk pdf disertai dengan penjelasan hasil assesment dan apa saja yang perlu kita lakukan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

Enggak cuma menyediakan assesment, dini.id juga menawarkan solusi Play Time untuk anak-anakkita yang masih membutuhkan stimulasi serius dengan didampingi oleh kids trainer professional. Biayanya pun cukup terjangkau, 1,2 juta setiap bulan dengan durasi sesi 3 jam selama 8 kali.

 

Cara Asik Mengenalkan Strategi Menyelesaikan Masalah kepada Anak

Matematika enggak melulu tentang angka dan simbol. Salah satu konsep matematika yang harus dilatih sejak awal adalah strategi menyelesaikan masalah, problem solving. Biasanya kalau di usia sekolah guru menggunakan soal cerita untuk menguji problem solving siswa.

Problem Solving ini menyajikan masalah kepada anak dan menyerahkan sepenuhnya kepada anak bagaimana cara dia menyelesaikan sebuah masalah yang ada di hadapannya.

Hari ke dua tantangan Matematika, emak K mengajak si K untuk menembak bola kecil ke arah yang telah ditentukan. Kebetulan di rumah ada Game Shot untuk menembak bola, aku tinggal menambahkan kotak dan meminta si K mengisi penuh kotak tersebut dengan bola-bolanya menggunakan Game Shot.

Problem Solving dengan Bahan Sekitar

Problem Solving dengan Bahan Sekitar

Tantangannya, si K harus menembak sesuai dengan urutannya dari saf terdekat hingga saf terjauh. Masing-masing saf diisi dua bola, tidak boleh lebih.

Terlihat sepele, kan?

Padahal dengan kegiatan sepele seperti ini, kita sedang mengajari anak berpikir kompleks: bagaimana mengarahkan game shot agar bola tepat berada di saf yang telah ditentukan, seberapa banyak tekanan yang harus dikeluarkan agar bola tepat berada di saf yang telah ditentukan.

Di sela-sela permainan, kami saling menebak berapa banyak bola yang ada di saf, berapa banyak bola yang belum mendapatkan tempatnya, berapa banyak saf yang berisi bola dengan jumlah yang sama. Secara tidak langsung, si K sudah belajar konsep menambah, mengurangi dan perkalian sederhana-penjumlahan berulang.

Si K menikmati permainan dengan bahagia. Berteriak girang sambil mengangkat kedua tangannya manakala ia sudah menuntaskan tugasnya, “Horeee, Kevin bisa! Bola sudah habis.”

Matematika, kalau ditekuni memang seasik ini. Hehehehe. Seringkali di tengah-tengah permainan, kita bisa berimprovisasi sesuai dengan apa yang ada di depan.

“Eh Kevin, ini bentuk bola sama enggak dengan roda?”

“Oya, oya sama kayo yoda.”

Gitu doang, belum kukenalkan dengan bentuk silinder. Khawatir doi mumet. Wong bentuk bangun datar aja masih banyak yang belum kukenalkan, yang penting si K paham dulu kalau bentuk bola berbeda dengan bentuk roda. 😆

Enggak jarang juga si K yang nanya duluan, hingga Ibunya takjub dan bertanya-tanya, apa ini sudah waktunya untuk mengenalkan konsep matematika yang lain?

“Ibuk, mbak Piska sama Kepin mau bola yang sama. Beyapa? Kepin beyapa? Mbak Piska beyapa?”

Emaknya bingung kok bocah sudah merambah ke pembagian. Akhirnya cuma kulatih membagi bolanya satu-satu, “Nah, jadi Kevin berapa? Mbak Viska berapa?”

“Kepin tiga, mbak Piska tiga. Sama, yo. ”

“Iya, berapa tadi bola semuanya?”

“Enam.”

“Iya, enam bola, dibagi mbak Viska dan Kevin, masing-masing dapat tiga. Dah, yok, main lagi, ditembak lagi. Kevin tiga, mbak Viska tiga. Gantian.”

Kegiatan matematika apalagi yang kira-kira mengasikkan untuk anak usia tiga tahun, ya? Ada yang punya ide lain? Hihi.

Stimulasi Matematika Balita Kinestetik-Visual

Stimulasi Matematika Balita Kinestetik-Visual

Matematika bagi sebagian orang menyeramkan. Enggak jarang tanpa sadar menularkan rasa seram ini ke anak, “Hiii, mati-mati-ka.” Seolah matematika adalah ilmu antara hidup dan mati. Padahal, matematika sangat mengasyikkan jika tahu bagaimana cara belajar yang tepat.

Matematika bisa diajarkan kepada anak sejak kecil, dengan hal-hal sederhana yang terlihat sangat sepele padahal merupakan pijakan penting bagi anak. Aku pernah menulis hal-hal yang harus dikuasai anak usia balita sebelum belajar berhitung, Kemampuan yang Harus Dikuasai Anak Balita sebelum Belajar Berhitung.

Sebelum mengajarkan anak berhitung, ada baiknya kita memastikan bahwa anak sudah bisa mengelompokkan bentuk, mengelompokkan warna, dari bentuk yang sederhana hingga bentuk yang sulit, mengerti konsep penuh dan kosong. Jangan langsung mengajak anak menghafal angka-angka karena itu akan menyebabkan anak kebingungan, lha wong bentuk saja belum bisa menyortir kok mau dikenalkan dengan simbol yang jauh lebih rumit?

Anak Kinestetik yang Penuh Tenaga

Umumnya anak balita adalah anak kinestetik, usil, enggak bisa diam, maunya geraaaaak terus. Ada balita yang kinestetiknya sedengan, ada balita yang kinestetiknya bikin simbok gembrobyos keringetan. Si K masuk ke anak balita yang kinestetiknya bikin gembrobyos. Enggak heran emaknya auto langsing meski porsi makannya 2 kali porsi makan abah K. 😆

Anak kinestetik ditandai dengan gerakan anggota tubuh yang seolah enggak bisa diam, meskipun itu sedang melakukan aktivitas di atas kursi atau tempat tidur. Si K kalau sedang nonton atau sedang baca buku, tangan dan kakinya tetap kemana-mana. Jika seharian dikurung di dalam rumah, ia bakal tantrum dan sangat sensitif.

Sebaliknya, jika ia dibiarkan mengeksplor lingkungan, manjat sana-sini, naik-turun selokan, lari mengejar bola, glenderan vespa, ia akan menjadi anak yang manis, yang dikit-dikit meluk Ibunya.

Mengajarkan matematika ke anak kinestetik dengan duduk anteng di atas meja enggak akan bertahan lama. Paling cuma lima menit habis itu kakinya gatel pengen lari. Maka, Ibu harus menyesuaikan gaya belajar anak untuk stimulasi matematika ini.

Stimulasi Matematika Anak Kinestetik-Visual

Matematika bisa diselipkan dalam kegiatan anak, apapun itu. Tinggal kitanya yang harus kreatif dan memastikan bahwa anak sudah lulus tugas pra matematikanya. Si K sudah bisa sortir warna, sortir bentuk, sortir warna dan bentuk, dan sudah memahami konsep kosong dan penuh, jadi aku sudah mulai mengenalkan angka-angka.

Menghitung Jumlah Kursi Kereta Kelinci

Matematika anak KinestetikSi K menamakan kereta kelinci ini dengan odong-odong. Hahahaha. Tadi pagi kami ke Taman Tirtoagung, ada rombongan anak TK yang sedang studi lingkungan ke Taman dengan menggunakan kereta kelinci.

Keretanya parkir di dalam taman, si K penasaran dan minta ijin untuk masuk ke dalam kereta saat anak-anak TK sedang beraktivitas ke dalam Taman. Ia begitu excited, naik-turun, menunjuk, bertanya banyak hal.

“Wow, odong-odongnya ada enam!” Seru si K. Aku yang sedang mengikutinya dari belakang penasaran, menghitung berapa gerangan jumlah odong-odongnya, bener, dong, enam. Emak spikles dan langsung pengen stimulasi matematika lebih banyak. 😆

“Kursinya ada berapa, Nang?”

Dasar anak kinestetik, bukannya cukup menghitung dengan jari, ia menghitung dengan lompat dari kursi satu ke kursi lain. Setelah satu gerbong selesai dihitung, lanjut ngitung ke gerbong selanjutnya. Setelah satu kereta usai, lanjut ke kereta selanjutnya.

Ibunya yang cuma mengawasi dari luar kereta saha gembrobyos, si K masih hepi lompat antar kursi berulang kali. Menghitung dengan bahagia, tertawa saat mendapati bahwa jumlah kursi antar gerbong berbeda-beda.

“Ini lima, yang itu enam. Yang hijau tujuh. Beda yo, Ibuk? Beda yo?”

Berburu Angka di Taman

“Nang, nyari angka, yuk.”

Si K mengangguk riang.

“Coba cari angka 4.” Aku menantangnya. Si K baru mengenal angka 1-10, angka selanjutnya belum aku kenalkan.

Si K menyusuri Taman, melihat plat demi plat nomer motor yang ada di Taman. Berteriak ‘hore!’ saat ia berhasil menemukan angka yang kumaksud.

Mencari Berbagai Bentuk di Taman

“Ibuk, ini bentuk lingkaran yo?” si K menunjuk roda kereta kelinci.

“Iya. Coba ada yang bentuknya segitiga?”

Ia turun dari kereta. Mencari bentuk segitiga, girang bukan main ketika menemukan penghubung gerbong berbentuk segitiga.

Aku masih meyakini, jika anak akan menikmati belajarnya jika kita sebagai orang tua tahu bagaimana mencari cara yang tepat sesuai dengan kesukaannya, termasuk Matematika.

Emak K sampai sekarang masih menjadi barisan emak-emak yang menggunakan media belajar sesuai dengan kesukaan anak, yang terdekat dan mudah dicari. Menyelipkan belajar ke aktivitas anak memang menyenangkan, apalagi jika menjumpai mata anak berbinar-binar, membuatku lupa jika aku menghadapi aneka deadline setelah bocah tidur. Hahahaha.

Pencarian Terkait:

  • https://widiutami com/stimulasi-matematika-balita-kinestetik-visual html
Punya Hobby Menjahit? Inilah 5 Alat yang Bisa Bantu Belajar Menjahit!

Punya Hobby Menjahit? Inilah 5 Alat yang Bisa Bantu Belajar Menjahit!

Menjahit merupakan salah satu keterampilan yang bisa memberikan kamu banyak manfaat. Selain melatih kemampuan, kamu bisa membuka usaha sendiri dengan cara memiliki bekal menjahit. Melalui kursus menjahit kamu akan diberikan pembelajaran bertahap hingga bisa berhasil membuat pakaian. Untuk keterampilan menjahit tidak bisa dipelajari hanya semalaman saja, maka tidak ada salahnya mencoba belajar menjahit.

Aku sendiri ingin belajar menjahit demi bisa menjahit baju tradisional impianku demi melestarikan batik nusantara.

 

Cara yang mudah dulu saja seperti menjahit sarung bantal ruangan tempat tidur, pernak-pernik simple, pouch, taplak meja, simple skirt dan masih banyak lainnya. Untuk itu, buat kamu yang ingin belajar menjahit kami akan memberikan beberapa alat yang harus kamu punya. Berikut ini perlengkapannya.

 

  1. Bahan Kain

Bahan Kain

sumber: Hipwee.com

 

Kain merupakan salah satu bahan utama yang diperlukan untuk menjahit. Terlebih dahulu kenali ciri-ciri dan jenis kain sebelum membelinya. Kain meteran wollycrepe memiliki ukuran 1,5 meter sehingga memiliki jenis yang bertekstur halus, lembut, berpasir, ringan, dan tidak terlalu tebal. Sedangkan kain untuk celana dan kemeja biasanya kain seperti  premium/kain katun stretch/chinos memiliki ukuran 90×150 cm yang digunakan untuk membuat berbagai macam pakaian seperti blus wanita, celana panjang, celana chinos, dan celana pendek. Selain itu, ada kain Japan drill yang memiliki ukuran 1,5 meter biasanya digunakan untuk membuat seragam sekolah karena berbahan tekstur halus dan cukup tebal.

 

 

  1. Alat Pengukur

Alat Pengukur

Alat Pengukur, sumber: craffbymood.com

 

Alat ukur untuk menjahit menggunakan pita ukur meteran dan penggaris. Penggaris digunakan untuk membuat garis yang lurus. Ada berbagai macam jenis penggaris yang digunakan untuk menjahit seperti penggaris khusus pola, penggaris biasa, dan penggaris quilt. Sedangkan pita ukur meteran digunakan untuk mengukur pakaian. Selain itu, ada juga veterban digunakan untuk mengukur letak bagian tertentu agar tidak tergeser dan ukurannya tepat.

 

  1. Alat Pemotong

Alat Pemotong

Alat Pemotong, sumber: craffbymood.com

 

Gunting merupakan alat yang digunakan untuk memotong kain dengan berbagai macam variasi penggunaannya. Berbagai macam gunting tersebut yaitu gunting zigzag, gunting kain, dan gunting benang. Untuk gunting kain digunakan menggunting tekstil dengan salah satu pegangan berukuran besar agar empat jari dapat masuk ketika ingin menggunting kain. Jika ingin tetap tajam sebaiknya jangan digunakan untuk menggunting benda lain seperti kertas dan lainnya. Selain itu, gunting benang digunakan untuk menggunting bagian-bagian yang sulit digunting. Sedangkan gunting zig-zag digunakan untuk menyelesaikan kampuh pada bahan yang tidak mudah bertiras dan bisa juga untuk menyelesaikan tepi bahan.

 

  1. Alat Memindahkan Pola

Alat Pemindah pola

sumber: Shopee

 

Untuk memindahkan tanda pola, kamu membutuhkan bantuan alat seperti karbon jahit, kapur jahit, rader, dan pensil jahit. Pensil jahit atau kapur jahit digunakan untuk memberikan tanda pada bahan tekstil dan tidak perlu khawatir jika tidak bisa dihilangkan. Untuk menggunakannya sebaiknya pakailah tipis-tipis saja dan jangan terlalu ditekan. Alat pemindah pola (rader) digunakan untuk memberikan tanda pada bahan dengan cara menekan karbon jahitnya. Untuk rader beroda tumpul sebaiknya digunakan untuk tetoron, kain katun, georgette, dan lain-lain. Sedangkan rader beroda tajam digunakan untuk kain yang memiliki bahan tebal seperti jeans, corduray, dril.

 

  1. Janome CT2480 LX

sumber: carakitahd.com

 

Yang terakhir ini merupakan salah satu mesin yang dapat menjahit berbagai macam jenis bahan tebal atau tipis. Sangat cocok sekali nih untuk kamu yang memiliki hobi di bidang fashion atau craft. Mesin jahit Janome memiliki body dasar terbuat dari alumunium sehingga memiliki ketahanan yang awet dan lebih kuat. Selain itu, alat jahit ini dilengkapi dengan 1 langkah lubang kancing beserta pemasuk benang otomatis dam 25 pola jahitan. Lebar zigzag pun bisa diatur sesuai dengan keinginanmu. Mesin ini juga sangat ramah karena memiliki suara yang sangat halus. Untuk kamu yang sedang mencari mesin jahit yang kuat, tidak bising, bisa menjahit semua bahan, maka Janome CT 2480 LX sangat cocok untuk kamu gunakan.

 

Itulah 5 alat perlengkapan jahit yang bisa kamu gunakan untuk belajar menjahit, well kamu sudah punya yang mana ?

Sepenting Apa Mengenal Gaya Belajar Anak

Sepenting Apa Mengenal Gaya Belajar Anak

Si K mengambil kertas HVS dan krayon, duduk di atas kursi hijau favoritnya. Ia mencoret-coret garis secara acak kemudian memintaku untuk mendekat dengan isyarat tangannya.

“Kevin lagi gambar apa? Ikan, ya?”

Si K menggeleng dengan cepat, “Oya yo, Kepin oya nggambay ikan, Kepin nggambay gunung!”

Gambar Gunung versi si K

Gambar Gunung versi si K

Aku melihat dengan seksama, ada dua sudut yang dimaksud oleh si K sebagai gunung.

“Gunung? Dimana?”

“Disana. Gunung tinggiii kae. Ada dua…” cerita demi cerita berderetan. Tentang gunung yang banyak pohonnya, udaranya yang dingin, jalannya yang rusak, juga tanamannya yang beragam. Ia menceritakan dengan detail langit gunung yang berwarna biru dengan awan-awan sirrus dan stratus.

Langit Biru, Awan Sirrus dan Awan Stratus

Langit Biru, Awan Sirrus dan Awan Stratus

Teringat dengan awan, ia bergegas mengambil buku jenis awan. Membolak-balik kertasnya dan menunjukkan kepadaku awan sirrus dan stratus yang ia maksud dengan tepat. Jeda sejenak, si K menggambar kembali goresan berwana hitam.

“Ini apa?”

“Awan, awan wayna hitam. Di gunung.”

“Kok hitam?”

“Iyo, Kepin ke gunung sama mas Bayon, awannya wayna hitam.”

Gunung Berkabut dengan Awan Hitamnya

Gunung Berkabut dengan Awan Hitamnya

Aku terpana.

Memang, kami ke gunung dua kali minggu lalu. Hari Jum’at kami ke Gardu Pandang Cunthel bersama abah K, menjumpai gunung dengan langit birunya yang cerah. Sabtu esok harinya, kami ke Pendakian Thekelan bersama mas Arsy, mas Baron dkk, menjumpai awan kelabu, panen kentang dan tomat.

Si K selama perjalanan, terlihat pethakilan, naik turun tangga, manjat pagar, ndeprok di tanah sampai mainan cacing segala. Sampai aku merasa sungkan dengan orang di sekitar, khawatir tingkah si K mengganggu orang lain. Ternyata, otak kecilnya merekam….

Si K mengingatnya, menghubungkan dengan buku-buku yang ia punya, menceritakan kepadaku dan menuangkan di kertas, dengan gaya anak tiga tahunan. Coretan yang bagi manusia dewasa seolah tiada makna, ternyata bagi si K adalah gambaran apa yang ia tangkap selama perjalanannya.

 

Aku tidak pernah menyangka, eksperimen Gaya Belajar Anak pada si K membuat inisiatif belajar si K meningkat pesat, tanpa perlu kodorong-dorong, kuiming-iming… ternyata ia hanya membutuhkan Ibu dan abahnya untuk menemani dan mewadahi. Seperti yang biasa ia ucapkan, “Kevin bisa sendiyi, kok….”

 

Mengamati Gaya Belajar Anak

Sebenarnya sudah lama aku mengamati gaya belajar si K. Sejak si K masih bayi, dominan kinestetik dan bahasa sentuhan sangat nyata. Si K bayi hentakan kaki dan tangannya keras. Ia sudah usil memanjat, naik-turun kursi sebelum ia bisa berdiri. Bayangkan saja, berdiri ia belum bisa, sudah naik turun kursi tinggi, kalau jatuh langsung nggeblak ke belakang.

Namun saat itu aku hanya mengamati tanpa membuat goal-goal belajar tertentu, hanya membiarkan ia mengeksplor semaunya dan mem-back up, jaga-jaga kalau ada yang berbahaya. Baru dua mingguan ini aku mengamati dengan teliti, mendiskusikan dengan abah K, menyimpulkan dan mengambil tindakan.

Untuk mengamati Gaya Belajar Anak, aku mengambil acuan dari beberapa sumber yang aku kumpulkan, kemudian disusun kembali untuk digunakan sendiri. Aku susun dalam bentuk spreadshet yang bisa di download, tinggal isi angka dan nanti bakal ketahuan mana yang dominan, spreadshet bisa di download disini, ya: Mengamati Gaya Belajar Anak.

Apa yang Dilakukan Setelah Mengenal Gaya Belajar Anak?

Aku sungguh penasaran, apa yang bisa dilakukan untuk anak usia tiga tahun setelah kita mengenal gaya belajar apa yang dominan pada anak? Aku berdiskusi di WAG Bunsay Jateng, bertanya kepada praktisi pendidikan anak usia dini, “Lantas apa yang bisa dilakukan? Apakah kita fokus ke gaya belajar yang dominan?”

Diskusi berlangsung seru, mengerucut pada satu kesimpulan, anak usia tiga tahun masih harus di-stimulasi di semua gaya belajarnya.

Lantas untuk apa aku susah-susah mengamati kalau toh hasilnya harus distimulasi semua? Bhahaha, sampai jenuh otakku memikirkan ini. Aku mendiskusikan dengan abah K, dengan beberapa teman yang kuanggap ahli di bidang pendidikan anak usia dini, tetapi aku belum puas. Masih penasaran.

Hingga kemudian, tiga hari ini aku menyadari perubahan reaksiku atas tindakan si K.

Aku lebih kalem ketika si K njungkir balik, lompat sana-sini, manjat sana-sini, Enggak lagi heboh melarang, hanya mengenalkan kepada si K batasan-batasan dimana situasi dan kondisi yang ia harus mengerem tingkah lincahnya. Mencari aktivitas yang menghabiskan energinya terlebih dahulu sebelum aktivitas yang lain agar emak enggak klenger. Jangan dibalik, ntar salah-salah ia minta glenderan vespa ke terowongan saat emak sedang ngantuk-ngantuknya. Hahaha.

Aku membiarkan si K mencoba sak kemenge. Mencampur warna cat minyak sampai ngeblok hitam semua. Monggo saja, toh, anak kinestetik memang selalu trial and error. Ya, meski sambil lirak-lirik ke sebelah, duh anak itu kok ya manut disuruh mewarnai Ibunya pakai warna x, y, z. Rumput tetangga memang lebih hijau, ya. Hahaha, ngelus-elus dada sambil nyebut, Gusti Allah, paringono sabar~

Rumput Tetangga Memang Lebih Hijau

Rumput Tetangga Memang Lebih Hijau, wkakaka

Aku menyiapkan mental untuk menghadapi resiko si K mencoba hal-hal tak terduga. Mendekati ulekan penuh cabe, sudah diperingatkan tetapi masih penasaran. Kubiarkan ia ngulek dan… cabe nyripat ke muka, nangis satu jaman karena kepedesen. Selow, Buk, memang begitulah dominan kinestetik, puk-puk bocah sampai diam dan ketiduran.

 

Asal tidak membahayakan diri sendiri atau orang sekitarnya, kubiarkan saja ia mencoba. Ingat, anak dominan kinestetik jauh lebih percaya inderanya sendiri daripada kata orang~  

 

Aku lebih kreatif mengakali si K. Tahu bahwa anak satu ini dominan kinestetik, ingin memasak nasi goreng sendiri, ngangkat kursi buat mencapai kompor sendiri…. aku tumis duluan bumbunya, kumatikan kompornya, ia lalu bebas memasukkan nasi goreng, kecap, garam, mengoseng-oseng semuanya… lalu bangga memamerkan nasi gorengnya ke seluruh penjuru, “Kepin yang masak!

Si K enggak bertanya kenapa kompor dimatikan? Bertanya, lah, aku jawab dengan kalem, “Nasi goreng hanya butuh api saat menumis untuk bumbu, setelah itu tidak perlu api lagi. Biar enak, tuh, nasi Kevin enak, kan?”

Wkwkwk, entah nanti ketika kognitif si K mulai terbentuk, mungkin ia akan menyadari jika mematikan api setelah menumis bumbu hanyalah akal-akalan Ibu saja.

Bagaimana dengan gaya belajar yang lain? Aku tetap menstimulasi, meminta abahnya untuk memperhatikan stimulasi auditori karena aku terbatas di pendengaran. Visual si K sama dominannya dengan kinestetik, berjalan sejajar dan masih bisa kuatasi.

 

Ini bukan tentang gaya belajar mana yang terbaik, ini tentang bagaimana kita menjadi sahabatnya, yang menerima dirinya belajar dengan gayanya, hingga ia tidak menyadari jika ia sedang belajar.

 

 

 

 

 

Doa Ulang Tahun untuk Ibu dalam Islam

Doa Ulang Tahun untuk Ibu dalam Islam

Menulis ini, emak K tersadar kalau aku jarang mengucapkan selamat ulang tahun langsung kepada Ibu. Lha piye, Ibuku enggak tahu hari lahirnya kapan, hari lahir yang tertera dalam KTP itu ngarang. Ya, tahin 50an, almarhum mbah kakung enggak mencatat kelahiran anaknya dengan rapi. Hahahaha. Meskpin begitu, doa-doa untuk Ibu tidak akan terlupa.

Doa ulang tahun untuk Ibu sebenarnya bisa menggunakan doa untuk kedua orang tua yang anak kecil saja hafal. Doa jamak yang didengungkan minimal setiap ba’da sholat.

 

Allahummagfirly waliwaalidayya warkhamhuma kamaa Robbayanii shagira.

Duhai Allah, Ampunilah aku dan kedua orang tuaku, kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku di waktu kecil.

Duhai Allah, ayun-ayun-lah Ibu dengan kasih sayang-Mu, sebagaimana ia telah mengayun-ayunkan aku semasa aku kecil dengan penuh kasih. Merawatku tanpa peduli kantuk dan lelah. Memberi ASI terbaiknya untuk asupan nutrisiku.

 

Doa Ulang Tahun untuk Ibu

Doa Ulang Tahun untuk Ibu

Duhai Allah, Jaga Ibu lebih dari ia menjagaku semasa bayi. Jaga Ibu dari segala marabahaya sebagaimana ia menjagaku dulu dari gigitan nyamuk dengan sepenuh tenaga yang ia punya.

 

Nah, kalau doa ulang tahun yang khusus. Bisa menggunakan doa dibawah ini:

Doa Ulang Tahun Islami untuk Ibu

Doa Ulang Tahun Islami untuk Ibu

Barakallah fi umrik ya ummi wa yuthawwil umrak fi thoatillah wa fi shihhah wa afiyah

Semoga Allah Memberkahi umurmu, duhai Ibu. Memanjangkan umurmu dalam ketaatan kepada-Nya, kesehatan dan selalu dalam lindungan-Nya.

 

Semoga Allah memberkahimu, duhai Ibu. Memberkahi umurmu. Umur yang penuh dengan ketaatan kepada-Nya. Umur yang semain hari semakin baik lagi penuh pahala.

Semoga Allah memberkahimu, duhai Ibu. Melindungimu dari segala marabahaya. Menjaga dalam malammu lagi siangmu. Membalas setiap peluh keringatmu kala merawatku dengan wangi surga-Nya.

Duh, membuat blogpost ini aku misek-misek, ingat jaman bayi dulu. Ingat betapa besarnya cinta Ibu untukku. Semoga kita menjadi anak yang bisa menyejukkan mata dan hatinya. Membuatnya tenang menikmati hari tua. Menemaninya mengisi hari-hari dalam ketaatan kepada Robbuna. Menghangatkan hari-harinya dengan kasih sayang, yang meskipun tidak bisa sama dengan kasih sayangnya kepada kita, semoga membuatnya bahagia.

 

 

 

 

Pencarian Terkait:

  • ucapan ulang tahun untuk ibu dalam islam
  • ucapan selamat ulang tahun untuk ibu dalam islam
  • ucapan ulang tahun islami untuk ibu
  • Doa ulang tahun untuk ibu
  • Doa ultah
  • ucapan ulang tahun islami
  • ucapan ulang tahun buat ibu
  • ucapan ulang tahun islam buat ibu
  • ucapan ulang tahun untuk ibu islami
  • doa untuk i bu ultah