Widi Utami

Learn, Write and Share
Parenting

Kegalauan Emak tentang TK si K

February 4, 2018

Yi, tidak penting dimana si K sekolah TK, yang paling penting di masa TK adalah sosialisasinya.

Titah abah K, saat kami berbincang kemana si K akan sekolah. Aku ingin si K sekolah di sekolah yang menerapkan kecerdasan majemuk dalam pembelajarannya. Sementara TK jenis ini letaknya lumayan jauh dari rumah, harus motoran kurang lebih 30 menit.

Aku merasa jika aku mampu untuk mengantar dan menjemput si K, tetapi abah K tidak begitu setuju. Ada beberapa hal yang menjadi perhatian abah K kenapa si K tidak perlu mengambil sekolah yang bagus saat TK:

  1. Usia TK, yang paling dibutuhkan si K adalah sosialisasi.
  2. Usia TK, yang paling urgent untuk dikenal si K adalah lingkungan keluarga dan lingkungan tetangga.

Bagi abah K, saat si K TK adalah saat yang paling baik untuk mengenalkan lingkungan tetangga dan saudara-saudaranya. Mengenalkan adab dengan tetangga dan keluarga. Mengenalkan do and don’t kepada tetangga dan saudara.

Kasus yang merebak belakangan ini tentang sepasang orang tua sepuh yang baru ditemukan setelah meninggal seminggu lamanya di rumah, membuat abah K semakin yaqin dengan argumentnya; jaman sekarang darurat pengenalan pergaulan dengan tetangga.

Belum lagi tentang anak yang tidak punya teman bermain saat di rumah karena tidak terbiasa bermain dengan tetangga-tetangganya. Mana sekolahnya jauh, lagi. Hiks. Aku tidak akan tega merampas masa-masa si K kecil, betapa serunya bermain dengan teman-teman sebaya.

Tentang Pengembangan Bakat Sejak Dini

Disela-sela diskusi, aku bertanya kepad abahnya, “Bagaimana tentang pengembangan bakat si K?”

“Itu kan Ibunya bisa, Yi?” jelas abah K, dengan mantab.

Aku keder. Abah K melanjutkan, “Jika pun si K enggak mau sekolah TK, boleh-boleh saja, biar dia sekolah sama kamu. Yang penting sosialisasi dengan tetangga, keluarga dan saudara tidak luput.”

Glek.

Emak klakep. Mendadak puyeng karena begitu banyak yang harus disiapkan untuk si K kelak. Betapa persoalan pendidikan ini tidak mudah. Betapa persoalan pendidikan anak bukan teori ini benar, teori ini salah, teori ini mantab.

Betapa menyatukan pandangan dengan pasangan bukan hal yang mudah. Hahahahaha.

“Cobalah, di TK, paling berapa jam toh? 2 Jam. Selebihnya, sama orang tuanya.” tutur abah K, lalu beliau melanjutkan, “Kamu tahu sendiri teori parenting, teori pendidikan. Ayo kita praktikan ke anak. Aku tidak ingin si K terlalu manja karena lingkungannya yang mendukung penuh. Aku ingin motivasi si K tumbuh dari dalam.”

Hmm.

Baiklah, dipikir sambil jalan saja. Emak K sedang trial untuk mendidik anak sendiri. Menyiapkan media-medianya sendiri. Merancang kurikulum sendiri dengan bantuan para ahli.

Doakan Emak K, ya Mak. Maafkan, blogpost kali ini enggak jelas sekali-

 

 

Home Based Education Interested. Love reading, writing and travelling. Interested in blogging. Live in Salatiga, a small city near Merbabu Mountain.

  1. Bener juga sih bun, TK ga usah canggih2 amat. Yang penting anak difasilitasi bersosialisasi. Masa usia 8 tahun kebawah cukup memperkenalkan banyak hal. Sisanya biar si kecil yang eksplorasi. Masalah bisa atau ga si anak urusan belakangan. Yang penting mereka menikmati proses belajarnya .

Bagaimana komentar kalian?

%d bloggers like this: