Observasi Potensi Anak
Deaf Corner, Me and Hubby

Curhat Receh Emak Hard of Hearing

Ngomongnya sudah lancar, sudah bisa cerita dengan 5 kata, bersambung-sambung membentuk kalimat. Komplit dengan subjek, predikat, objek dan kata penghubungnya. Perkembangan bahasanya melebii ekspektasi Ibu. Tetapi, kecepatannya berbicara, tidak sejalan dengan kecepatan Ibu mempelajari gerakan mulutnya.

Satu minggu di Krian, Sidoarjo, menjadi satu minggu yang melelahkan. Panasnya cuaca Krian membuat si K semakin tidak sabar. Permintaannya aneh-aneh, ngomongnya cepat dan harus dituruti saat itu juga. Plus, si K diare lumayan parah, baru kali ini diare sampai lemes. Emak tambah… Huft.

“Buk, teh!” seru si K, saat bangun tidur.

Biasanya, si K akan sedikit sabar saat ingin meminta sesuatu, “Ibuk, tolong…”

Seminggu ini tidak. Ia meminta dengan intonasi galak dan nada berteriak, hanya dengan satu kata. “Teh!” Jika Ibu memintanya mengulang, si K akan mbrambang, nangis, lalu tantrum dengan menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.

Emak K semakin homesick. Anak kinestetik seperti si K sepertinya tidak cocok tinggal di kos-kosan. Jangankan kos-kosan, tinggal 2 hari di perumahan saja ia sudah bertingkah aneh-aneh. Dunianya ada di pohon, pasir, tanah, selokan, kolam, tanah lapang yang membuatnya leluasa bermain bola dan sepeda. Bukan di dalam ruangan yang terjamin kebersihannya.

Semalam menjadi malam yang penuh emosional.

“Ibuk, piiikkkk!” seru si K.

“Ha?”

“I-piikkkk!”

“Ha?”

“Maem ipik, Ibuk. Maem ipikkkk.” aku tidak bisa menangkap apa maksudnya. Ipik?

“Coba, Kevin bilang ke Abah.” ujarku, kalem.

Bukannya mendekat ke abah yang sedang di depan laptop. Si K malah menangis gerung-gerung, menghentakkan kakinya di lantai.

“Apa, Bah?”

“Kripik.” jawab abah K, kalem.

Aku menelisik di setiap ujung kamar. Keripik cemilan sudah habis tak bersisa. “Keripiknya habis, Nang. Besok beli, ya?”

“Ipik, Ibu. Ipiiikkk.” Tantrumnya semakin menjadi-jadi.

“Tinggal wae! Tinggal wae! Ibuk pelgiiiii.” seru si K. Kata-kata pungkasan yang sering ia ucapkan jika sedang marah.

Aku menepi, menenangkan diri. Lalu air mataku menetes, satu-satu.

Apakah akan terus seperti ini? Bisakah si K memahami keadaan Ibunya yang Hard of Hearing? Apakah aku bisa memahami si K, dengan modal bonding seperti yang dikatakan orang-orang itu? Bagaimana jika di suatu masa, si K malu dengan keadaan Ibu yang HOH? 

Apalagi abah K sempat berkata terus-terang, “Aku ki mesakke Kevin, ngomong pengen sesuatu, tetapi awakmu ra mudeng.”

Duhai teman seperjuangan, bagaimana kalian menghadapi tantangan komunikasi ini? Terbesit dalam hatiku, apakah abah K merasa keliru memilih sosok Ibu untuk anak-anaknya?

Huft. Its sooo….

Aku menenangkan diri. Membiarkan air mata mengalir satu-satu. Membiarkan si K menangis sampai gulung-gulung di lantai. Membiarkan si K memanggil-manggil Abahnya–yang tentu tidak akan dijawab karena kami sudah membuat kesepakatan tidak akan menyambut anak yang mengadu–.

Mungkin ada setengah jam aku membiarkan si K menangis, gulung-gulung di kasur, memanggil-manggil Abahnya. Hingga kemudian si K mendekat. Merentangkan tangannya, minta dipeluk. Aku memeluknya, mengusap-usap kepalanya. Si K menangis tersedu-sedu. Tangannya memeluk erat leherku. Kami menangis. Entah apa yang dirasakan oleh si K, aku hanya mampu memeluk dan merapalkan doa untuknya.

Nang, mari kita belajar. Kamu belajar memahami Ibu dengan keistimewaan pendengarannya. Ibu akan belajar keras untuk memahami perkataanmu. Jika pun Ibu mulai kesulitan, kita mungkin akan mencoba berbahasa isyarat.

 

Bagaimana komentar kalian?