Apaaaa? Matematika? Horor, ih!

Seru seorang teman saat aku menjawab jika mengambil konsentrasi Matematika Madrasah Ibtidaiyah saat semester 6.

“Mbak Ut, tolong. Ini masa nilai Matematikanya kursi terbalik.” satu, curhatan dari tetangga sebelah.

“Mbak, Anakku nggak bisa Matematika, njuk piye?” dua, curhatan dari saudara dengan ekspresi sedih.

“Mbak… Aku nggak bisa bobok… Besuk ujian Matematika.” tiga, curhatan dari sepupu yang begadang nyaris dua malam untuk belajar Matematika.

“Bapak dulu saat hafalan perkalian di pelajaran Berhitung, gurunya siap di seberang meja memegang pecut. Kalau tidak hafal, plak! Tangannya siap-siap disabet.” empat, cerita Bapak tentang masa-masa sekolahnya puluhan tahun silam.

“Aku nggak bisa bobok, besuk ada pelajaran Matematika. Gurunya killer, PR belum selesai..” empat, CURHATANKU SENDIRI saat SMP. Mhuahahah

***

Sudah menjadi rahasia umum jika kebanyakan siswa ketakutan dengan pelajaran Matematika. Orang tua pun dag dig dug jeder setiap kali menunggu nilai ujian Matematika anak-anaknya. Tak jarang ada cerita anak yang dimarahi habis-habisan oleh orang tua hanya gara-gara nilai Matematika yang anjlok. Bahkan jaman aku masih sekolah, acapkali Matematika diplesetkan menjadi Mati-matika, saking horornya pelajaran ini.

Hmm, banyak faktor yang menyebabkan Matematika menjadi momok bagi sebagian orang. Berikut beberapa faktor yang melatarbelakangi kenapa Matematika menjadi momok bagi sebagian siswa.

1| Kecerdasan Matematikal Rendah

Otak manusia beda-beda, Dr Howard Gardner menuturkan jika secara umum terdapat delapan tipe kecerdasan pada manusia. (1) kecerdasan linguistic-verbal dan (2)kecerdasan logiko-matematik yang sudah dikenal sebelumnya, ia menambahkandengan komponen kecerdasan lainnya yaitu (3) kecerdasan spasial-visual, (4)kecerdasan ritmik-musik, (5) kecerdasan kinestetik, (6) kecerdasan interpersonal,(7) kecerdasan intrapersonal dan yang terakhir (8) kecerdasan naturalis.

Jika anak merasa kesulitan untuk memahami logika matematika, barangkali ada kecerdasan lain yang menonjol pada diri anak. Cukup gali kecerdasan anak yang menonjol, memberikan support secara penuh untuk perkembangan kecerdasannya. Dengan catatan, tetap memberikan pengetahuan matematika dasar, minimal anak tersebut tidak mudah ditipu oleh orang lain terkait perhitungan.

2| Mindsett Sesat, Matematika is Killing

“Matematika itu mematikan. Ih, serem pokoknya. Mumet, otakku nggak nyandak!” Seru seorang tetangga kala aku mau masuk SD, dia bercerita tentang pelajaran-pelajaran yang menakutkan, dan matematika menjadi urutan yang pertama.

Dih, Mbak. Eike masuk SD saja belum, sudah kaucecar dengan sederet mitos mematikan tentang Matematika. Untungnya, ada mbak kandung yang mengajariku Matematika dengan sangat sabar, saat bertemu lagi dengan tetangga yang menakut-nakuti, dengan sombongnya aku mencibir dia yang kesulitan berhitung. 😀

3| Kurikulum yang Membingungkan

Kurikulum Matematika sangat berpengaruh terhadap pemahaman anak. Pemberian materi matematika yang tidak berkesinambungan seperti yang terjadi pada kurikulum 2013 membuat otak anak njeglek.

Lha piye, belum diajari konsep perkalian kok tetiba ada soal yang penyelesaiannya menggunaka pembagiab dua angka sekaligus? Kak Tegar, ponakan saya, pernah nangis karena belum bisa mengerjakan soal perkalian. Buliknya mumet jedug-jedug karena harus mengajarkan konsep perkalian terlebih dahulu, padahal esoknya kak Tegar UAS. Krik krik krik…

4| Guru Matematika yang Killer

Seumur-umur aku sekolah, aku menjumpai dua guru Matematika yang super duper killer dan dua-duanya pernah menampar. Hahahaha.

Guru Matematika saat kelas VIII SMP, mempunyai peraturan yang sangat unik. Beliau membagi papan tulis menjadi empat bagian dengan garis spidol sebagai tempat untuk mengerjakan soal. Siswa dilarang keras menghapus garis seinci pun, apalagi sampai salah tempat saat mengerjakan soal. Bisa dilempar penghapus.

Walhasil, kegiatan belajar Matematika yang sudah terasa sulit menjadi semakin horor dan eng in eng, karena merasa tertekan, penyerapan materi siswa tidak maksimal.

Mbak Yurmawita Adismal, seorang guru Matematika yang mempunyai blog ketje www.yurmawita.com pun menegaskan pentingnya guru Matematika yang humble agar daya serap materi siswa semakin baik. Matematika tergolong pelajaran yang membutuhkan effort tinggi, jadi plis, jangan ditambah beban siswa dengan menjadi guru yang killer.

5| Terlalu Banyak Siswa di Kelas

Standar menurut Permendikbud no 23 tahun 2013, jumlah maksimal siswa dalam satu kelas adalah 32 siswa pada tingkat SD/MI, sementara untuk tingkat SMP, jumlah maksimal dalan satu kelas adalah 36 siswa. Kenyataannya, rata-rata di sekolah negeri terdapat 40an siswa pada setiap kelasnya.

Jangan bayangkan betapa gaduhnya kelas, betapa puyengnya guru membagi perhatian. Apalagi matematika membutuhkan bimbingan intensif karena matematika harus diimbangi dengan latihan dan bimbingan yang kontinyu. Jika gagal pada salah satu materi, siap-siap keteteran di Materi selanjutnya. Hosh-hosh!

6| Metode Mengajar yang Salah

Saat aku duduk di bangku SD kelas 3, walikelas yang mengajar metode yang digunakan cenderung monoton, ndongeng. Mau pelajarannya bahasa indonesia, IPA, IPS, bahkan Matematika pun beliau tetap menggunakan metode ndongeng. Saat mengajar Matematika, beliau menjelaskan sembari duduk, dan kami diminta membaca buku teks tanpa bersusah payah menjelaskan step bye step.

“Lihat halaman lima, nah, empat kali lima sama dengan lima tambah lima tambah lima tambah lima, hasilnya dua puluh, paham kan, Cah? Kalau tidak paham berarti wong bodho…” begitulah cara mengajar beliau. Apalagi saat itu duduknya diurutkan dengan nomor absen. Aku yang mempunyai nama berawalan huruf W otomatis duduk di barisan belakang paling pojok, dengan kondisi telnga yang tidak bisa mendengar dengan maksimal. Berasa sekolah di Neraka!

Untungnya saat kelas 4, walikelas diganti oleh guru yang mengajar dengan metode menyenangkan. Beliau mengatur tempat duduk sesuai dengan kemampuan siswa. Bagi siswa yang mempunyai kecerdasan di bawah rata-rata, mata minus dan pendengaran rendah ditempatkan di barisan paling depan. Pun cara mengajar beliau yang asik membuat kami menikmati pelajaran. Beliau mengajar step by step, memberiksan bimbingan personal bagi siswa yang kesulitan dan melibatkan siswa yang cerdas untuk membantu temannya yang kesulitan.

Hmmm, apalagi yang menyebabkan matematika menjadi pelajaran yang mematikan, ya? Menurutmu?