Cara Asik Mengenalkan Strategi Menyelesaikan Masalah kepada Anak

Matematika enggak melulu tentang angka dan simbol. Salah satu konsep matematika yang harus dilatih sejak awal adalah strategi menyelesaikan masalah, problem solving. Biasanya kalau di usia sekolah guru menggunakan soal cerita untuk menguji problem solving siswa.

Problem Solving ini menyajikan masalah kepada anak dan menyerahkan sepenuhnya kepada anak bagaimana cara dia menyelesaikan sebuah masalah yang ada di hadapannya.

Hari ke dua tantangan Matematika, emak K mengajak si K untuk menembak bola kecil ke arah yang telah ditentukan. Kebetulan di rumah ada Game Shot untuk menembak bola, aku tinggal menambahkan kotak dan meminta si K mengisi penuh kotak tersebut dengan bola-bolanya menggunakan Game Shot.

Problem Solving dengan Bahan Sekitar

Problem Solving dengan Bahan Sekitar

Tantangannya, si K harus menembak sesuai dengan urutannya dari saf terdekat hingga saf terjauh. Masing-masing saf diisi dua bola, tidak boleh lebih.

Terlihat sepele, kan?

Padahal dengan kegiatan sepele seperti ini, kita sedang mengajari anak berpikir kompleks: bagaimana mengarahkan game shot agar bola tepat berada di saf yang telah ditentukan, seberapa banyak tekanan yang harus dikeluarkan agar bola tepat berada di saf yang telah ditentukan.

Di sela-sela permainan, kami saling menebak berapa banyak bola yang ada di saf, berapa banyak bola yang belum mendapatkan tempatnya, berapa banyak saf yang berisi bola dengan jumlah yang sama. Secara tidak langsung, si K sudah belajar konsep menambah, mengurangi dan perkalian sederhana-penjumlahan berulang.

Si K menikmati permainan dengan bahagia. Berteriak girang sambil mengangkat kedua tangannya manakala ia sudah menuntaskan tugasnya, “Horeee, Kevin bisa! Bola sudah habis.”

Matematika, kalau ditekuni memang seasik ini. Hehehehe. Seringkali di tengah-tengah permainan, kita bisa berimprovisasi sesuai dengan apa yang ada di depan.

“Eh Kevin, ini bentuk bola sama enggak dengan roda?”

“Oya, oya sama kayo yoda.”

Gitu doang, belum kukenalkan dengan bentuk silinder. Khawatir doi mumet. Wong bentuk bangun datar aja masih banyak yang belum kukenalkan, yang penting si K paham dulu kalau bentuk bola berbeda dengan bentuk roda. 😆

Enggak jarang juga si K yang nanya duluan, hingga Ibunya takjub dan bertanya-tanya, apa ini sudah waktunya untuk mengenalkan konsep matematika yang lain?

“Ibuk, mbak Piska sama Kepin mau bola yang sama. Beyapa? Kepin beyapa? Mbak Piska beyapa?”

Emaknya bingung kok bocah sudah merambah ke pembagian. Akhirnya cuma kulatih membagi bolanya satu-satu, “Nah, jadi Kevin berapa? Mbak Viska berapa?”

“Kepin tiga, mbak Piska tiga. Sama, yo. ”

“Iya, berapa tadi bola semuanya?”

“Enam.”

“Iya, enam bola, dibagi mbak Viska dan Kevin, masing-masing dapat tiga. Dah, yok, main lagi, ditembak lagi. Kevin tiga, mbak Viska tiga. Gantian.”

Kegiatan matematika apalagi yang kira-kira mengasikkan untuk anak usia tiga tahun, ya? Ada yang punya ide lain? Hihi.

Stimulasi Matematika Balita Kinestetik-Visual

Stimulasi Matematika Balita Kinestetik-Visual

Matematika bagi sebagian orang menyeramkan. Enggak jarang tanpa sadar menularkan rasa seram ini ke anak, “Hiii, mati-mati-ka.” Seolah matematika adalah ilmu antara hidup dan mati. Padahal, matematika sangat mengasyikkan jika tahu bagaimana cara belajar yang tepat.

Matematika bisa diajarkan kepada anak sejak kecil, dengan hal-hal sederhana yang terlihat sangat sepele padahal merupakan pijakan penting bagi anak. Aku pernah menulis hal-hal yang harus dikuasai anak usia balita sebelum belajar berhitung, Kemampuan yang Harus Dikuasai Anak Balita sebelum Belajar Berhitung.

Sebelum mengajarkan anak berhitung, ada baiknya kita memastikan bahwa anak sudah bisa mengelompokkan bentuk, mengelompokkan warna, dari bentuk yang sederhana hingga bentuk yang sulit, mengerti konsep penuh dan kosong. Jangan langsung mengajak anak menghafal angka-angka karena itu akan menyebabkan anak kebingungan, lha wong bentuk saja belum bisa menyortir kok mau dikenalkan dengan simbol yang jauh lebih rumit?

Anak Kinestetik yang Penuh Tenaga

Umumnya anak balita adalah anak kinestetik, usil, enggak bisa diam, maunya geraaaaak terus. Ada balita yang kinestetiknya sedengan, ada balita yang kinestetiknya bikin simbok gembrobyos keringetan. Si K masuk ke anak balita yang kinestetiknya bikin gembrobyos. Enggak heran emaknya auto langsing meski porsi makannya 2 kali porsi makan abah K. 😆

Anak kinestetik ditandai dengan gerakan anggota tubuh yang seolah enggak bisa diam, meskipun itu sedang melakukan aktivitas di atas kursi atau tempat tidur. Si K kalau sedang nonton atau sedang baca buku, tangan dan kakinya tetap kemana-mana. Jika seharian dikurung di dalam rumah, ia bakal tantrum dan sangat sensitif.

Sebaliknya, jika ia dibiarkan mengeksplor lingkungan, manjat sana-sini, naik-turun selokan, lari mengejar bola, glenderan vespa, ia akan menjadi anak yang manis, yang dikit-dikit meluk Ibunya.

Mengajarkan matematika ke anak kinestetik dengan duduk anteng di atas meja enggak akan bertahan lama. Paling cuma lima menit habis itu kakinya gatel pengen lari. Maka, Ibu harus menyesuaikan gaya belajar anak untuk stimulasi matematika ini.

Stimulasi Matematika Anak Kinestetik-Visual

Matematika bisa diselipkan dalam kegiatan anak, apapun itu. Tinggal kitanya yang harus kreatif dan memastikan bahwa anak sudah lulus tugas pra matematikanya. Si K sudah bisa sortir warna, sortir bentuk, sortir warna dan bentuk, dan sudah memahami konsep kosong dan penuh, jadi aku sudah mulai mengenalkan angka-angka.

Menghitung Jumlah Kursi Kereta Kelinci

Matematika anak KinestetikSi K menamakan kereta kelinci ini dengan odong-odong. Hahahaha. Tadi pagi kami ke Taman Tirtoagung, ada rombongan anak TK yang sedang studi lingkungan ke Taman dengan menggunakan kereta kelinci.

Keretanya parkir di dalam taman, si K penasaran dan minta ijin untuk masuk ke dalam kereta saat anak-anak TK sedang beraktivitas ke dalam Taman. Ia begitu excited, naik-turun, menunjuk, bertanya banyak hal.

“Wow, odong-odongnya ada enam!” Seru si K. Aku yang sedang mengikutinya dari belakang penasaran, menghitung berapa gerangan jumlah odong-odongnya, bener, dong, enam. Emak spikles dan langsung pengen stimulasi matematika lebih banyak. 😆

“Kursinya ada berapa, Nang?”

Dasar anak kinestetik, bukannya cukup menghitung dengan jari, ia menghitung dengan lompat dari kursi satu ke kursi lain. Setelah satu gerbong selesai dihitung, lanjut ngitung ke gerbong selanjutnya. Setelah satu kereta usai, lanjut ke kereta selanjutnya.

Ibunya yang cuma mengawasi dari luar kereta saha gembrobyos, si K masih hepi lompat antar kursi berulang kali. Menghitung dengan bahagia, tertawa saat mendapati bahwa jumlah kursi antar gerbong berbeda-beda.

“Ini lima, yang itu enam. Yang hijau tujuh. Beda yo, Ibuk? Beda yo?”

Berburu Angka di Taman

“Nang, nyari angka, yuk.”

Si K mengangguk riang.

“Coba cari angka 4.” Aku menantangnya. Si K baru mengenal angka 1-10, angka selanjutnya belum aku kenalkan.

Si K menyusuri Taman, melihat plat demi plat nomer motor yang ada di Taman. Berteriak ‘hore!’ saat ia berhasil menemukan angka yang kumaksud.

Mencari Berbagai Bentuk di Taman

“Ibuk, ini bentuk lingkaran yo?” si K menunjuk roda kereta kelinci.

“Iya. Coba ada yang bentuknya segitiga?”

Ia turun dari kereta. Mencari bentuk segitiga, girang bukan main ketika menemukan penghubung gerbong berbentuk segitiga.

Aku masih meyakini, jika anak akan menikmati belajarnya jika kita sebagai orang tua tahu bagaimana mencari cara yang tepat sesuai dengan kesukaannya, termasuk Matematika.

Emak K sampai sekarang masih menjadi barisan emak-emak yang menggunakan media belajar sesuai dengan kesukaan anak, yang terdekat dan mudah dicari. Menyelipkan belajar ke aktivitas anak memang menyenangkan, apalagi jika menjumpai mata anak berbinar-binar, membuatku lupa jika aku menghadapi aneka deadline setelah bocah tidur. Hahahaha.

Pencarian Terkait:

  • https://widiutami com/stimulasi-matematika-balita-kinestetik-visual html
Kemampuan yang Harus Dikuasai Anak Balita Sebelum Belajar Berhitung

Kemampuan yang Harus Dikuasai Anak Balita Sebelum Belajar Berhitung

Tidak apa-apakah mengajari anak balita berhitung?

Pertanyaan satu ini berulangkali mampir, sayangnya, aku belum mempunyai blogpost untuk menjawabnya. HAHAHA. Dasar blogger, nanya sedikit disodorin blogspot. Yaa, mengetik penjelasan kan butuh waktu, Cynnn. Wkwkwk

Sebenarnya larangan belajar calistung untuk anak usia PAUD dan TK TIDAK BERLAKU SECARA MUTLAK. Larangan belajar calistung untuk anak PAUD dan TK berangkat dari keprihatinan pemerhati pendidikan akan maraknya les calistung untuk anak kicik-kicik itu tanpa memperhatikan kemampuan dasar yang mereka kuasai.

Ibaratnya, kita belajar pembagian tetapi belum menguasai konsep perkalian, ya konslet, dong. Apalagi jika anak kicik dipaksa untuk belajar menulis, membaca dan berhitung sampai membabi buta hingga merampas waktu mereka untuk bermain, hmmm, siap-siap saja anak bakal menjadi anak penghafal yang tidak memahami konsep.

Maka, emak-emak harus mengamati sendiri kesiapan anak, apakah anak sudah siap belajar calistung atau belum. Kali ini emak K fokus di kemampuan pra berhitung, ya, untuk kemampuan pra menulis dan pra membaca, insyaAllah akan dibahas kelak–entah kapan, tergantung mood emak. Wkwkwkwk.

Mengklasifikasikan Bentuk dan Warna Dasar

Klasifikasi atau pengelompokan ini bisa dilakukan sembari bermain. Mengenalkannya pun harus bertahap.

  • Gunakan puzle lingkaran, segitiga dan persegi. Bisa kok membuat DIy-nya, emak K dulu membuat dengan menggunakan kardus bekas.

  • Buat beberapa bentuk lingkaran, segitiga dan persegi. Aku biasanya menggunakan tiga mangkuk yang kuletakkan di ujung, dan meminta si K menaruh masing-masing bentuk sesuai dengan bentuk yang kutempel pada mangkuk. Cara ini cukup efektif karena si K adalah tipikal kinestetik yang usil lari-larian melulu, enggak betah duduk. Errr, mbulet enggak? HAHAHA.
  • Setelah anak menguasai klasifikasi bentuk dasar, kita bisa menambah bentuk lain dengan menggabungkan klasifikasi warna. Emak K sempat membuat freebie, bisa di download di bawah ya. Tinggal diprint lalu digunting.

Freebie Pre-math Batita, Mengenal Bentuk dan Warna

Si K saat tulisan ini dibuat baru sampai di klasifikasi bentuk, namun masih bingung jika bentuk dan warna digabung bersama HAHAHA.

Memahami dan Mempraktikkan Klausa “Penuh dan Kosong”

Pernah melihat anak-anak antusias menuangkan pasir ke wadah, setelah penuh dituang lagi ke tanah. Begitu terus, sampai keringat gembrobyos dan mata ngantuk? Kegiatan yang nyaris tidak pernah dilewatkan oleh si K, apalagi jika disukung dengan pasir kinetik warna-warni, sampai lupa jam tidur siang.

Terlihat sangat sepele dan kurang kerjaan, ya. Apa coba fungsinya menuh-menuhi wadah untuk dikosongkan lagi? HAHAHA.

Saat membaca kembali literatur pre-math untuk usia toddlers, aku menemukan kenyataan yang membuatku semakin semangat mengajak si K berbecek-becek ria nuang-buang pasir dengan wadah: kegiatan ini adalah sarana untuk melatih pemaham klausa penuh dan kosong, yang merupakan hal paling dasar sebelum anak diajarkan berhitung.

Ingatanku semakin bercabang-cabang, mengumpulkan kenangan proses si K dalam bermain pasir. Usia 1.5 tahun, pegangan sendok si K semakin kokoh, tetapi ia belum memahami seutuhnya paham konsep penuh dan kosong. Pasir yang berada di wadah belum penuh, sudah ditumpahkan kembali ke tanah. Bentuknya kocar-kacir.

Sekarang, menginjak 26 bulan, si K menumpahkan kembali pasir yang berada di dalam wadah setelah penuh, sehingga saat dituangkan ke tanah bentuknya mengikuti bentuk wadah. Begini amat ya belajar jadi Ibu, hal sesepele itu bisa membuat hati menghangat. 🙂


Kita bisa menggunakan aneka media yang ada di sekitar untuk mengenalkan klausa penuh dan kosong, dengan kegiatan sekreatif mungkin. Gunakan botol plastik bekas, sekalian belajar membuat kue-kuean. Bisa juga dengan menggunakan mobil-mobilan, mengisinya dengan pasir sampai penuh, mengangkut ke sebuah tempat, menumpahkannya hingga kosong.

Mainan terbaik untuk anak adalah mainan dengan bahan yang mudah didapat dari sekitar dan cara yang praktis.

Tertarik dengan Pattern

“Ibuk! (j)alan pesawat, ngueeenggg!” seru si K, sambil memamerkan hasil goresan di papan hitam Crayola Chalk.

“Kepin gambar lingkaran!” serunya lagi, memamerkan lingkaran yang lebih mirip benang ruwet.

Aku hanya mengangguk-angguk. Si K kini mempunyai ketertarikan pada aneka garis.

“Ibu, sirip ikan!” Abah K yang sedang tiduran disamping tertawa, siripnya doang, ikannya enggak ada. WKwkwkwk

Ya, pertanda apakah anak sudah siap diajak berhitung bisa dilihat dari ketertarikannya pada garis dan bentuk. Jika anak belum tertarik, akan sulit untuk membedakan lekukan-lekukan garis pada angka.

Emak K biasanya menggunakan metode cerita untuk pengenalan pattern ini. Lebih suka menggunakan krayon karena mudah dihapus sehingga bebas corat-coret dimana saja. “Ada pesawat, mau terbang ke Surabaya. Jalan lurus, ngueeengggg…” sambil menorehkan garis lurus.

“Kemarin, Kevin jatuh ya waktu naik sepeda? Itu sih karena Kevin naik sepedanya sembarangan, grusak-grusuk, terus nabrak batu, duk! jatuh, deh. ” ujarku, sambil menorehkan garis tidak beraturan.

 

So, Mak, apakah anak-anak sudah siap diajari berhitung? Emak atau ayah sendirilah yang bisa menilai. Aku BIG NO NO memaksa anak les baca tulis hitung, tetapi sangat mendukung belajar sesuai dengan kemampuan dan kesenangan anak.

 

Salam!

Emak K, professional Deaf Blogger Wannabe