Sepenting Apa Mengenal Gaya Belajar Anak

Sepenting Apa Mengenal Gaya Belajar Anak

Si K mengambil kertas HVS dan krayon, duduk di atas kursi hijau favoritnya. Ia mencoret-coret garis secara acak kemudian memintaku untuk mendekat dengan isyarat tangannya.

“Kevin lagi gambar apa? Ikan, ya?”

Si K menggeleng dengan cepat, “Oya yo, Kepin oya nggambay ikan, Kepin nggambay gunung!”

Gambar Gunung versi si K

Gambar Gunung versi si K

Aku melihat dengan seksama, ada dua sudut yang dimaksud oleh si K sebagai gunung.

“Gunung? Dimana?”

“Disana. Gunung tinggiii kae. Ada dua…” cerita demi cerita berderetan. Tentang gunung yang banyak pohonnya, udaranya yang dingin, jalannya yang rusak, juga tanamannya yang beragam. Ia menceritakan dengan detail langit gunung yang berwarna biru dengan awan-awan sirrus dan stratus.

Langit Biru, Awan Sirrus dan Awan Stratus

Langit Biru, Awan Sirrus dan Awan Stratus

Teringat dengan awan, ia bergegas mengambil buku jenis awan. Membolak-balik kertasnya dan menunjukkan kepadaku awan sirrus dan stratus yang ia maksud dengan tepat. Jeda sejenak, si K menggambar kembali goresan berwana hitam.

“Ini apa?”

“Awan, awan wayna hitam. Di gunung.”

“Kok hitam?”

“Iyo, Kepin ke gunung sama mas Bayon, awannya wayna hitam.”

Gunung Berkabut dengan Awan Hitamnya

Gunung Berkabut dengan Awan Hitamnya

Aku terpana.

Memang, kami ke gunung dua kali minggu lalu. Hari Jum’at kami ke Gardu Pandang Cunthel bersama abah K, menjumpai gunung dengan langit birunya yang cerah. Sabtu esok harinya, kami ke Pendakian Thekelan bersama mas Arsy, mas Baron dkk, menjumpai awan kelabu, panen kentang dan tomat.

Si K selama perjalanan, terlihat pethakilan, naik turun tangga, manjat pagar, ndeprok di tanah sampai mainan cacing segala. Sampai aku merasa sungkan dengan orang di sekitar, khawatir tingkah si K mengganggu orang lain. Ternyata, otak kecilnya merekam….

Si K mengingatnya, menghubungkan dengan buku-buku yang ia punya, menceritakan kepadaku dan menuangkan di kertas, dengan gaya anak tiga tahunan. Coretan yang bagi manusia dewasa seolah tiada makna, ternyata bagi si K adalah gambaran apa yang ia tangkap selama perjalanannya.

 

Aku tidak pernah menyangka, eksperimen Gaya Belajar Anak pada si K membuat inisiatif belajar si K meningkat pesat, tanpa perlu kodorong-dorong, kuiming-iming… ternyata ia hanya membutuhkan Ibu dan abahnya untuk menemani dan mewadahi. Seperti yang biasa ia ucapkan, “Kevin bisa sendiyi, kok….”

 

Mengamati Gaya Belajar Anak

Sebenarnya sudah lama aku mengamati gaya belajar si K. Sejak si K masih bayi, dominan kinestetik dan bahasa sentuhan sangat nyata. Si K bayi hentakan kaki dan tangannya keras. Ia sudah usil memanjat, naik-turun kursi sebelum ia bisa berdiri. Bayangkan saja, berdiri ia belum bisa, sudah naik turun kursi tinggi, kalau jatuh langsung nggeblak ke belakang.

Namun saat itu aku hanya mengamati tanpa membuat goal-goal belajar tertentu, hanya membiarkan ia mengeksplor semaunya dan mem-back up, jaga-jaga kalau ada yang berbahaya. Baru dua mingguan ini aku mengamati dengan teliti, mendiskusikan dengan abah K, menyimpulkan dan mengambil tindakan.

Untuk mengamati Gaya Belajar Anak, aku mengambil acuan dari beberapa sumber yang aku kumpulkan, kemudian disusun kembali untuk digunakan sendiri. Aku susun dalam bentuk spreadshet yang bisa di download, tinggal isi angka dan nanti bakal ketahuan mana yang dominan, spreadshet bisa di download disini, ya: Mengamati Gaya Belajar Anak.

Apa yang Dilakukan Setelah Mengenal Gaya Belajar Anak?

Aku sungguh penasaran, apa yang bisa dilakukan untuk anak usia tiga tahun setelah kita mengenal gaya belajar apa yang dominan pada anak? Aku berdiskusi di WAG Bunsay Jateng, bertanya kepada praktisi pendidikan anak usia dini, “Lantas apa yang bisa dilakukan? Apakah kita fokus ke gaya belajar yang dominan?”

Diskusi berlangsung seru, mengerucut pada satu kesimpulan, anak usia tiga tahun masih harus di-stimulasi di semua gaya belajarnya.

Lantas untuk apa aku susah-susah mengamati kalau toh hasilnya harus distimulasi semua? Bhahaha, sampai jenuh otakku memikirkan ini. Aku mendiskusikan dengan abah K, dengan beberapa teman yang kuanggap ahli di bidang pendidikan anak usia dini, tetapi aku belum puas. Masih penasaran.

Hingga kemudian, tiga hari ini aku menyadari perubahan reaksiku atas tindakan si K.

Aku lebih kalem ketika si K njungkir balik, lompat sana-sini, manjat sana-sini, Enggak lagi heboh melarang, hanya mengenalkan kepada si K batasan-batasan dimana situasi dan kondisi yang ia harus mengerem tingkah lincahnya. Mencari aktivitas yang menghabiskan energinya terlebih dahulu sebelum aktivitas yang lain agar emak enggak klenger. Jangan dibalik, ntar salah-salah ia minta glenderan vespa ke terowongan saat emak sedang ngantuk-ngantuknya. Hahaha.

Aku membiarkan si K mencoba sak kemenge. Mencampur warna cat minyak sampai ngeblok hitam semua. Monggo saja, toh, anak kinestetik memang selalu trial and error. Ya, meski sambil lirak-lirik ke sebelah, duh anak itu kok ya manut disuruh mewarnai Ibunya pakai warna x, y, z. Rumput tetangga memang lebih hijau, ya. Hahaha, ngelus-elus dada sambil nyebut, Gusti Allah, paringono sabar~

Rumput Tetangga Memang Lebih Hijau

Rumput Tetangga Memang Lebih Hijau, wkakaka

Aku menyiapkan mental untuk menghadapi resiko si K mencoba hal-hal tak terduga. Mendekati ulekan penuh cabe, sudah diperingatkan tetapi masih penasaran. Kubiarkan ia ngulek dan… cabe nyripat ke muka, nangis satu jaman karena kepedesen. Selow, Buk, memang begitulah dominan kinestetik, puk-puk bocah sampai diam dan ketiduran.

 

Asal tidak membahayakan diri sendiri atau orang sekitarnya, kubiarkan saja ia mencoba. Ingat, anak dominan kinestetik jauh lebih percaya inderanya sendiri daripada kata orang~  

 

Aku lebih kreatif mengakali si K. Tahu bahwa anak satu ini dominan kinestetik, ingin memasak nasi goreng sendiri, ngangkat kursi buat mencapai kompor sendiri…. aku tumis duluan bumbunya, kumatikan kompornya, ia lalu bebas memasukkan nasi goreng, kecap, garam, mengoseng-oseng semuanya… lalu bangga memamerkan nasi gorengnya ke seluruh penjuru, “Kepin yang masak!

Si K enggak bertanya kenapa kompor dimatikan? Bertanya, lah, aku jawab dengan kalem, “Nasi goreng hanya butuh api saat menumis untuk bumbu, setelah itu tidak perlu api lagi. Biar enak, tuh, nasi Kevin enak, kan?”

Wkwkwk, entah nanti ketika kognitif si K mulai terbentuk, mungkin ia akan menyadari jika mematikan api setelah menumis bumbu hanyalah akal-akalan Ibu saja.

Bagaimana dengan gaya belajar yang lain? Aku tetap menstimulasi, meminta abahnya untuk memperhatikan stimulasi auditori karena aku terbatas di pendengaran. Visual si K sama dominannya dengan kinestetik, berjalan sejajar dan masih bisa kuatasi.

 

Ini bukan tentang gaya belajar mana yang terbaik, ini tentang bagaimana kita menjadi sahabatnya, yang menerima dirinya belajar dengan gayanya, hingga ia tidak menyadari jika ia sedang belajar.

 

 

 

 

 

Susahnya Membiarkan Anak Berproses

Susahnya Membiarkan Anak Berproses

Si K sedang suka-sukanya bermain warna. Dari main pasir tempel hingga mewarnai menggunakan berbagai media. Emak K pernah baca, bahwa orang tua harus membiarkan anak berproses seburuk apapun hasilmnya.

Di Peer Group PG4 Trasi4Kaizen, kami sempat membahas tentang bagaimana seni menghadapi anak yang sedang berproses. Diskusi berlangsung seru dan ceria, mbak Farikhah dan mbak Aryani yang sempat mengikuti Talkshow berbagi apa-apa yang didapatkannya di Talkshow.

 

Ajari anak memancing dan berburu sejak kecil, memupuk bakatnya, menerima kekurangannya, tidak selalu menuntut sempurna versi kita, sabar mendampingi agar dia bisa mandiri dan menemukan passionnya,

Terdengar menarik dan mudah, ya? Ternyata membersamainya enggak semudah itu, Gengs. Hahaha.

Kemarin malam si K meminta mewarnai di alun-alun. Awalnya kami menolak karena hari sudah maghrib dan kami harus bergegas menuju ke masjid. Di perjalanan mau pulang, tiba-tiba si K masih ndremimil minta mewarnai. Ditawari mewarnai di rumah enggak mau, Kevin ingin mewaynai pakai cat aiy, katanya.

Akhirnya kami balik kanan ke arah alun-alun, padahal jarak antara masjid tempat kami sholat dan alun-alun mencapai 6 km. Jauh, Bok. Sekilo lagi sudah sampai rumah, padahal. Namanya demi anak semata wayang, dijabanin juga malam-malam membelah dinginnya kota Salatiga.

Anak Mewarnai

Anak Mewarnai

Si K langsung lari ke arah penyedia mewarnai, mengitari gambar demi gambar dan ngedeprok di depan gambar robot. Abah K meminta alat mewarnai. Kece nih, canvasnya pakai kain, catnya pakai cat minyak, kuasnya ada sejumlah warna cat.

Awalnya si K mewarnai dengan telaten, memisahkan kuas-kuas sesuai warnanya, eee, lama-lama dia nyengar-nyengir sambil mencampur warna. “Ibuk, boleh?” tanyanya.

“Boleh aoa, Nang?”

“Ini, meyah campuy biyu. Hihihi.” ujarnya, tanpa menunggu aku mengangguk, si K mencampurkan warna merah dan biru. Padahal disitu sudah ada warna ungu.

“Jadi ungu, Buk.”

Si K mencampur-campur warna

Si K mencampur-campur warna

Si K makin terobsesi mencampur warna-warna lain dan mengusapkan ke canvas. Hasilnya? Segala warna dicampur ya jadi hitam. Hahahaha. Aku bolak-balik gregetan. Duh Nang, harusnya jangan gitu, harusnya gini, harusnya… Hatiku terus saja berteriak-teriak saat melihat si K mewarnai, tetapi kutahan kuat-kuat, aku ingin membiarkan ia berproses.

Di sebelahku, ada Ibu-ibu dengan dua anak yang terus-menerus mengarahkan anaknya dalam mewarnai. Si K melongo dan bergumam, “Ibune mayah yo, Buk? Ibune mayah yo?”

Aku menunggu si K sambil harap-harap cemas, canvas sebagus ini, cat minyak sebanyak ini, berapa gerangan harga yang harus kami bayar dan akan berakhir sebagai warna abstrak dominan hitam?

Hasil mewarnai si K yang Dominan Hitam

Hasil mewarnai si K yang Dominan Hitam

See? Emak K sampe geleng-geleng cekikikan. Kali ini kami membayar 3 kali lipat dari harga mewarnai biasa yang memakai media styrofoam, media canvas kain ini dipatok 20k. Worth it lah dengan cat minyak dan kuas sebanyak itu.

Saat selesai, si K berteriak girang, “Ibuk, sudah selesai!” Matanya berbinar-binar. Menyangking hasil mewarnainya dengan riang. Ada banyak poin yang harus kusyukuri kali ini, diantaranya,; si K mewarnai sampai selesai tanpa kudorong-dorong, plus emaknya sabar menunggu, please give your applouse for us, wkwkwk, si K belajar mencampur warna, belajar bagaimana memegang kuas yang benar.

Si K pulang dengan riang gembira, sampai rumah langsung nyamperi Mamak, pamer hasil mewarnainya. Minta Ibu untuk memajang canvasnya di kamar. Keesokan harinya, rasa bangganya masih ia pamerkan ke teman-temannya, Budhe-budhenya. Yang dipamerin nahan ketawa sambil mengacungkan jempol. Alhamdulillah, enggak ada yang membuatnya down. Heuheuu.

Ranah visualnya si K terasah benar di aktivitas ini. Ia memang sangat tertarik mencampur warna sampai warnanya enggak karu-karuan. Dulu pernah mencampur aneka warna air dan di akhir aktivitas airnya jadi bewarna coklat kayak air kobokan.

Membiarkan anak berproses memang enggak mudah, rasanya pengen mendikte, ini loh nang, yang bagus gini, na… nanti kalau merah dicampur kuning jadinya orange, buat mewarnai kepala. Tetapi, dikte akan mengungkung imajinasi anak, juga menghempaskan rasa percaya dirinya.

Aku bungah ketika si K bangga dengan hasil keringatnya sendiri. Anak tiga tahun itu, sekarang sering kali berujar, “Ini yang mewaynai Kepin sendiri, maem nasi goyeng, yang goyeng Kevin wae, Ibuk, ini gambay tangan, yang gambay Kevin.”

Dan… aku ingin menjaga rasa percaya dirinya, belajar menutup mulut ketika ia berproses, belajar untuk tidak berkomentar selama itu tidak membahayakan diri-sendiri dan orang-orang sekitarnya.

 

 

 

Pencarian Terkait:

  • https://widiutami com/susahnya-membiarkan-anak-berproses html
Pasir Kinetik Home Made dari Tepung Tapioka

Pasir Kinetik Home Made dari Tepung Tapioka

Si K sedang hobi main pasir dan tanah. Emak enjoy sih sebenarnya, tetapi kalau jelang maghrib atau setelah mandi sore masih ngedeprok di luar main tanah kan bikin nangis. Hiks. Akhirnya emak K bebikinin pasir kinetik home made dari tepung tapioka. Resepnya nyontek mbak Aryani, Mama-nya mas Baron. Bahannya gampang, bisa didapatkan dari warung sekitar rumah.

Membuat Pasir Kinetik Home Made dari Tepung Tapioka (2)

Membuat Pasir Kinetik Home Made dari Tepung Tapioka (2)

Membuat Pasir Kinetik Home Made dari Tepung Tapioka

Membuat pasir kinetik dari tepung tapioka cukup mudah, sediakan bahan-bahan sebagai berikut:

  • Tepung Tapioka, emak K kemaren pakai 250 gram.
  • Pewarna makanan.
  • Minyak Goreng
Membuat Pasir Kinetik Home Made dari Tepung Tapioka

Membuat Pasir Kinetik Home Made dari Tepung Tapioka

Caranya cukup gampang, campurkan ketiga bahan tersebut hingga gembur seperti humus. Takarannya dikira-kira, ya. Hahaha. Minyak gorengnya sedikit aja, untuk 250 gram tepung tapioka kemarin, aku menuangkan sekitar 30 minyak goreng. Pewarna botol kecil 12 ml itu kutuang semua. Proses campurannya berhenti ketika adonannya gembur, enggak lengket dan bisa dibentuk.

Observasi Gaya Belajar Anak dengan Pasir Kinetik

Bermain pasir kinetik ini aku mengamati kira-kira gaya belajar apa yang menonjol pada si K. Aku tidak melakukan intervensi apapun ketika si K bermain pasir kinetik. Awalnya aku membuat pasir kinetik sampai jadi, ternyata si K penasaran dengan teoung tapioka yang tergeletak di samping dan ingin membuat pasir kinetiknya seniri.

Aku pun menyediakan baskom baru, tepung tapioka, minyak goreng di gelas dan pewarna satu botol kecil. Si K menuangkan semuanya sendiri dan menolak untuk dibantu. Ia belajar dengan gaya kinestetik, learning by doing, trial and error.

Setelah membuat pasir kinetik, si K lantas meminta pewarna lain, warna hijau. Pembuatan ronde kedua selesai, si K lanjut membuat aneka macam kue. Dipotong, lalu disajikan untuk Ibu. Ibu diharuskan makan ‘kue’ hasil masakannya. Di fase ini, gaya kinestetiknya masih menonjol.

Setelah bosan membuat kue-kuean, si K ditemani mbak Ba mencampur pasir warna hijau dan warna merah, tara… jadilah pasir warna coklat. Bhahahaha. Oh iya, saat membuat pasir kinestetik ini tercium aroma harum khas kue yang berasal dari pewarna frambozen, si K tergoda untuk mencicipi tepungnya. Wkwkwkwk. Di fase ini si K menonjol juga gaya belajar visualnya, memetakan warna-warna.

Auditorinya ada sih, si K ngobrol saat menawari kue atau bertanya sesuatu. Hanya saja enggak begitu menonjol.