Tips Memilih Web Hosting Terbaik di Indonesia

Tips Memilih Web Hosting Terbaik di Indonesia

Memilih web hosting seringkali membuat kepala nyut-nyutan, ya? Haloha, lama enggak menulis tentang hosting dan dunia develop website, emak K lagi jenuh dengan urusan hosting dan kawan-kawannya. Mending menemani si K dolanan pasir aja. Tetapi rupanya kangen juga cuap-cuap soal periperhal WordPress Self Hosted.

Memilih web hosting bisa dibilang cocok-cocokan. Aku cocok di penyedia hosting A, abah K cocok di penyedia hosting B. Aku lebih cocok di A karena user interface-nya newbie friendly, abah K cocok di hosting B karena customer servicenya yang cekatan. Lalu, apa yang perlu dipertimbangkan dalam memilih web hosting?

Pilih Web Hosting yang Menyediakan Disk Space Sesuai Kebutuhan Kita

Disk space atau biasa disebut sebagai storage adalah kapasitas penyimpanan yang disediakan oleh penyedia web hosting. Kita perlu mengira-ngira seberapa besar storage yang kita butuhkan untuk website kita paling tidak dalam satu tahun mendatang. Untuk website personal atau company profile yang tidak membutuhkan banyak foto, kapasitas storage 1 GB sudah cukup. Lain halnya untuk website online shop, blog portofolio, dan travel blog yang mengunggulkan foto sebagai konten websitenya, emak K anjurkan untuk menyewa web hosting dengan storage lebih dari 2 GB.

Ketersediaan beberapa pilihan paket storage cukup memudahkan kita ketika konten blog sudah cukup banyak dan membutuhkan storage yang lebih besar. Jika penyedia web hosting memiliki beberapa paket dengan beragam storage, kita cukup menghubungi customer service untuk upgrade layanan saat sisa storage semakin menipis. Hal ini tentu saja sangat menguntungkan kita karena kita tidak membuang-buang uang untuk menyewa storage yang tidak terpakai.

Pilih Web Hosting yang Menyediakan SSL dalam Paket Hostingnya

Seberapa pentingnya SSL dalam website? SSL sangat penting untuk mengamankan website kita. Google pun mengutamakan website yang sudah memiliki SSL dibadningkan yang belum memiliki SSL. Jika ada blog yang membahas keyword sama, satu blog menggunakan SSL dan blog lain tidak ber-SSL, maka yang akan dimenangkan oleh mesin pencari adalah blog yang menggunakan SSL.

So, sayang banget kan kalau tidak disediakan SSL-nya.

Apa semua penyedia web hosting menyedikiakan SSL gratis? NO. Emak K bulan kemaren habis mumet karena pesan hosting di luar negeri dengan kapasitas 30GB, mbayar $20 perbulan, ternyata enggak ada free SSL-nya. Mumet, Gaisss.

Jadi, pastikan dulu apakah ada free SSL di paket web hosting yang kamu pilih, ya.

Pilih Web Hosting yang Tersedia Backup dan Restore

Meskipun sudah mumpuni dengan berbagai pengamanan yang super canggih, kita perlu melakukan backup server secara rutin agar data tidak hilang ketika terjadi hal di luar dugaan. Memilih web hosting yang menyediakan backup/restore rutin minimal seminggu sekali akan sangat membantu kita dalam mengelola blog.

Ketersediaan backup rutin dalam paket website yang kita pilih akan membuat kita bisa fokus mengembangkan website karena data-data blog kita sudah aman di tangan penyedia web hosting. Jika suatu saat terjadi hal yang tidak terduga, kita masih bisa bernafas lega karena data-data kita sudah di back up.

Pilih Web Hosting yang Menyediakan Support 24 Jam

Enggak cuma UGD yang harus buka 24 jam, server pun harus menyediakan support 24 jam. Jangan kayak abah K dulu yang stress karena support lambat merespon saat tengah malam tiba, padahal saat itu sedang mumet deploy aplikasi. Rasanya? Mencak-mencak, darah tinggi. Hahaha.

Lain dengan toko fisik yang kita bisa mengatur kapan jam tutup dan jam buka toko, toko online kita harus jalan terus 24 jam non stop karena pelanggan bisa saja sedang jalan-jalan window shoping di jam-jam kita tidur ngorok.

 

4 Kriteria itu mutlak, tidak bisa diganggu guat. Nah, setelah 4 kriteria tersebut dilihat, kita baru menentukan hosting mana yang terbaik untuk website kita dari segi harganya. 

Berbicara soal web hosting terbaik Indonesia, emak K teringat dengan hosting terbaik saat ini yang menyediakan beberapa paket web hosting yang bisa kita pilih sesuai kebutuhan. Domainesia dengan Instant Deploynya pernah emak K review dalam tinjauan kemudahan menginstall software yang kita butuhkan Emak-emak Membuat Website Online Shop Sendiri dengan Instant Deploy Domainesia.

Paket Hosting Domainesia

Paket Hosting Domainesia

Domainesia menyediakan berbagai paket web hosting yang bisa kita pilih, ada paket 1 GB, 2 Gb dan 5 GB. Itu saja? Belum, masih ada paket web hosting Bisnis yang menyediakan beragam paket, bisa kita pilih sesuai kebutuhan kita dan emmungkinkan kita untuk mempunyai banyak website untuk menembak berbagai keyword. Untuk paket Bisinis sendiri ada paket Mikro, Mega, Giga dan Exa. Tinggal dipilih mana kapasitas hosting yang sesuai dengan kebutuhan web hosting kita. Rincian paket web Hosting Domainesia bisa klik disini.

Nah, sudah ada gambaran kan mau meilih web hosting yang mana? Semoga sukses, ya.

 

 

 

Kenapa Aku Memilih WordPress Self Hosted

Kenapa Aku Memilih WordPress Self Hosted

Sudah lama pengen nulis blogspot vs wordpress, tetapi maju-mundur karena keduanya punya plus minus sendiri. Eh, kemarin di grup ditantang mbak Almazia Pratita buat nulis Why I Love WordPress. Aku pikir, kenapa enggak dibikin satu blogpost khusus tentang wordpress aja, biar adil dan pembaca memutuskan sendiri mau ambil yang mana. 😍

Ada Cinta di Balik WordPress

Awal-awal ngeblog, aku memutuskan untuk memakai platform blogspot. Tahun 2017, abah K memberikan sebuah kejutan, blog baru dengan domain di WordPress Self Hosted. Lengkap dengan nuansa serba keunguan sesuai kesukaanku. Nasib punya suami programmer, kejutannya berupa blog. Wkwkwkwk.

Ya, itulah salah satu alasannya, kenapa aku sangat sayang dengan blog ini, ada cinta di dalamnya. Cinta yag menuntut produktif, bukan yang melenakan. Ngahahaha.

Plugin nan Menggoda

Pengguna WordPress sangat dimanjakan dengan keberadaan plugin. Berbeda dengan blogspot yang mengharuskan edit HTML jika ingin menambah efek-efek tertentu yang belum tersedia di default dashboard, di WordPress kita hanya perlu menginstall plugin jika ingin menambah feature. Mana pluginnya tinggal download, pasang, yang paling membuat Emak girang, kebanyakan plugin ini gratis.

Aku pribadi memasang plugin Elementor yang kumanfaatkan jika membutuhkan tampilan grafis yang kece, Jetpack untuk mengecek statistik, Akismet untuk menangkal spamming, plugin Google Analytic untuk melihat tracking Google Analytic langsung di Dashboard, Plugin Yoast SEO yang merupakan salah satu Plugin SEO Terbaik , plugin Instant Artikel untuk memanjakan pembaca dari Facebook, dimana pembaca tidak perlu keluar dari aplikasi Facebook untuk membaca artikelku.

Plugin ini bisa diatur sesuai kebutuhan. Jika sedang tidak membutuhkan tinggal klik deactivate. Jika ada update dari penyedia, tinggal klik update.

Namun, jika terlalu tergoda dengan plugin akan menyebabkan spacedisk kolaps, bahkan di beberapa kasus, karena tidak pintar memilah-milih plugin, sembarang plugin diaktifkan, bisa menyebabkan blog down karena terlalu penuh. Jadi, pinter-pinternya kita saja memilih mana yang perlu diinstall.

Edit URL 😀

Sebagai Emak Blogger tukang ngegalau, aku sangat terbantu dengan fasilitas edit URL ini, soalnya suka gonta-ganti judul di tengah-tengah proses penulisan. NGAHAHAHA. Di WordPress jika ingin mengedit URL, tinggal edit URLnya saja, tidak perlu membuat blogpost baru agar URL menyesuaikan judul.

Edit Judul WordPress

Edit Judul WordPress

Edit Komentar

Pernah mendapatkan komentar yang bikin eneg? Bukan, bukan komentar pembesar payudara, nawarin utang atau apa, itu mah masuk ke spam biasanya, tetapi komentar dari wan-kawan yang kayak enggak ikhlas komentarnya, semacam “Ini pasti iklan ya?” atau “Kok ngiklan melulu sih?” atau yang paling ngeselin, “merk X lagi, dimana-mana merk X, enggak ada yang lain apa?”

Edit Komentar WordPress

Edit Komentar WordPress

Edit komentar ini juga bisa dilakukan jika ada komentator yang typo mengetik url-nya, sehingga menyebabkan broken link. Broken link ini bikin para blogger sewot karena menyebabkan spam score tinggi dan mempengaruhi performa blog.

Jika lagi slow, aku memilih untuk mengedit komentarnya. Kalau lagi enggak waras ya hapus saja sudah. 😀

Set Featured Image

Di blogspot, foto yang diupload pertama kali otomatis menjadi featured image. Kalau di WordPress, ada pilihan untuk memakain foto yang mana. Bahkan ada pengaturan apakah featured image dimunculkan di postingan sebagai gambar pertama atau ditiadakan dari postingan.

Membantu banget untuk orang-orang yang suka menulis secara random macam emak K. Ide-ide muncul di sela-sela menulis, kadangkala gambar pertama bisa menjadi gambar terakhir karena mengubah alur pembahasan. Hahaha.

Edit Nama Foto

Dulu saat menggunakan blogspot, aku harus menyiapkan foto sekaligus komplit dengan namanya sebelum posting karena blogspot tidak menyediakan feature editing printilan identitas foto. Nah, di WordPress, kita bisa mengedit printilan foto untuk menyesuaikan dengan keyword yang kita bidik.

Edit tag Foto di WordPress

Edit tag Foto di WordPress

Sudah 500an kata, padahal masih banyak yang ingin ditulis. Biar adil, aku juga mau cerita ENGGAK ENAKNYA memakai WordPress Self Hosted.

Konsekuensi Memakai WordPress Self Hosted

Bagaimanapun enaknya memakai WordPress Selfhosted, aku harus mengakui jika memakai WordPress Self Hosted juga ada enggak enaknya.

WordPressnya Gratis, Hostingnya… Bayar dong!

Hahaha. Berbeda dengan pengguna blogspot yang hanya memikirkan perpanjangan domain setiap tahun– Itu pun jika domainnya TLD–, pengguna WordPress Self Hosted harus memikirkan juga perpanjangan hosting, diakui atau tidak, perpanjangan hosting ini kadangkala membuatku galau. Jadi sebelum beralih ke WordPress Self Hosted, ada baiknya kita menghitung benefitnya terlebih dahulu. 😀

Harus Rajin Back up

Jika kita memakai blogspot, terus lupa memperpanjang atau sengaja enggak memperpanjang sewa domain karena lagi bokek, domain otomatis berubah ke sub domain blogspot dengan postingan dan theme yang aman sentausa. Berbeda dengan WordPress Self Hosted, kalau kita alpa memperpanjang, artinya kiamat kecil. Wkwkwkwk, maksudku, lenyap semua database yang pernah kita simpan. Jadi, harus rajin-rajin backup, entah backup ke WordPress Org atau blogspot yang diset privat, atau back up manual di office.

Harus Rajin Memantau Disk Space dan CPU Usage

Ini bagian yang paling njelehi. Kalau membayar hosting bisalah, tinggal bayar. Kalau memantau CPanel. O em Ji, emak K rada-rada horor gitu memantau Cpanel. Apalagi kalau melihat tanda merah di Disk Space atau CPU Usage, mata kayak udah berkunang-kunang. Wkwkwkwk.

Ya, pengguna WordPress Self Hosted harus melakukan kompress fot, pilah-pilih apakah foto ini penting atau tidak, demi menjga kestabilan Disk Space dan CPU Usage. Bahkan Emak K sampai meminta tolong abah K untuk mengatur penyimpanan foto di Google Drive agar hostingnya tetap aman sentausa. Huks.

 

Selesai sudah tantangan dari mbak Almazia. So, kalau kamu, apa yang membuatmu memilih untuk memakai WordPress atau blogspot?

 

 

Kujawab Bullying dengan Blogging

Kujawab Bullying dengan Blogging

Nggak dengar? Dasar kuping bocor!

-Sesebapak-

Rasa-rasanya, bullying akrab dalam kehidupanku. Diantara berbagai macam bullying, bullying verbal sangat mendominasi. Jika bullying fisik rerata bisa disembuhkan dengan medis, bullying verbal membutuhkan waktu yang tidak cepat untuk menyembuhkan diri.
Perjalanan Mencari Cara Balas Dendam

Setiap kali ada yang membuatku patah hati. Eh, maksudku, down karena perkataan yang menyakitkan tentang kelambatanku menerima informasi suara, spontan terbayang bagaimana cara membalas perkataan mereka, membuat mereka kapok karena pernah menjadikan ketidak dengaranku sebagai objek bullying.

Aku berulang kali ‘dikerjain’, mereka sengaja memanggil-manggil namaku, hanya untuk sekedar mencari bahan tertawaan.

Sembari menahan perih, otakku menari-nari, bagaimana cara membuat orang-orang itu kapok dan tidak mengulangi keisengan yang menyakitkan ini? Setidaknya, jangan sampai keisengan ini berulang-ulang ke anak keturunanya, its so sick!

Mendoakan Ia/ Anak Keturunannya Mengalami Hal yang Sama

Hahahaha, please, jangan kautertawakan. Otak masa kecilku, entah kenapa, tersetting otomatis untuk mendoakan semacam begitu mereka menyakitiku. Jangan tanya bagaimana kesungguhannya, aku berdoa sepenuh hati, dengan air mata yang menetes membasahi pipi dan sajadah. So what, mereka layak menderita agar tak macam-macam lagi, pikirku.

“Widiiii, Widiiii!” panggil seseorang, aku mendengarnya setelah dia menaikkan pitch suaranya, entah berapa kali.

“Ya?” aku menoleh, menjawab dengan mata terfokus ke sesembak itu.

“Oh, nggak. Cuma manggil. Hahaha”

Lalu, satu ruangan tertawa terbahak.

Pikirku, apa yang lucu, ha?

Seiring meluasnya pergaulan dan perkembangan pola pikir, aku mulai menyadari jika ada yang salah dengan doaku. Apakah ada keuntungannya ketika orang lain menderita?

TIDAK.

Sama sekali tak ada keuntungannya bagiku ketika orang lain menderita. Justru aku didera perasaan bersalah ketika mendapati orang yang pernah kudoakan jelek itu menderita, meski dengan bentuk penderitaan yang lain.

‘Memaksa’ Diri Sendiri untuk Bisa Mendengar dan Berbicara dengan Alat Bantu Dengar

Motivasi utamaku membeli Alat Bantu Dengar hanyalah agar… aku bisa pamer kepada sesiapa yang kerap menjadikanku objek keisengan. Sepertinya keren ketika aku bisa menjawab dan berbicara lantang di depan mereka tanpa kesulitan. Sepertinya W-O-W ketika aku bisa menguping rasan-rasan dengan menyetel Alat Bantu Dengar, sehingga suara orang rasan-rasan itu terdengar sampai telinga.

Lagi-lagi aku merasa Robbuna tengah Mengajakku Bercanda. Baru seminggu aku memakai alat bantu dengar, tubuhku langsung tumbang hingga dokter menyarankan agar tidak memakai Alat Bantu Dengar jika tidak penting, telingaku sensitif terhadap suara yang masuk. Apalagi telinga adalah pusat keseimbangan tubuh.

Aku putus asa. Maksud yang Disembunyikan Robbuna apa coba? Telingaku memiliki ambang batas pendengaran yang terbilang berat, tetapi sekaligus sangat sensitif terhadap suara yang masuk.

Aku memutuskan untuk stop memakai Alat Bantu Dengar. Sebuah proses yang panjang untuk bisa menerima. Alat Bantu Dengar nggak murah, lalu kumusiumkan begitu saja. Bahkan ia kusimpan di locker terkunci, aku nggak mau melihat dia lagi. And… yes, nyinyiers always come, tanpa bertanya apapun, tanpa mencari tahu kenapa, ada sebagian orang yang men-judge aku tak mau berikhtiar dengan Alat Bantu Dengar. Beh! WTF.. Hahahaha.

Menjadi Seseorang yang Membuat Orang Lain Kagum

Membuat orang lain yang pernah meremehkan dan membully malu karena orang yang dulu diremehkan ternyata jauh lebih sukses, terdengar sangat keren, kan? Aku ingin membuat mereka merasakan hal itu. Ingin membusungkan dada di hadapan mereka, ini lho, yang dulunya kau-bully dengan semena-mena.

Aku menargetkan beberapa hal yang sekiranya membuat mereka, orang-orang yang hobi bully, malu. Satu diantaranya adalah, menjadi wanita karir dengan penampilan cemerlang. Damn it, seiring waktu justru cita-cita ini bertentangan dengan hati kecilku. Hahaha, aku stress berat ketika apa yang kutargetkan tidak sesuai dengan harapan.

Aku sadar jika aku keliru. Lagi pula, apa untungnya untukku? Iya kalau mereka berubah haluan menjadi kagum, kalau lempeng-lempeng saja? Huhuhu.

Menjadi Diri Sendiri dan Blogging sebagai Afirmasi dan Sarana Berbagi

Melewati berbagai pengalaman, aku menyadari jika selama ini mindsetku keliru. Aku memurtuskan untuk menjadi diri sendiri, dengan segala ke-deaf-anku, anehnya cara berbicaraku, lambatnya proses pemahamanku terhadap informasi suara, dan juga lirikan-lirikan keheranan dari orang-orang di sekitar.

Aku menulis apa yang kurasakan, agar orang-orang di luar sana semakin terbuka dan berhenti untuk mem-bully kawan senasib-seperjuangan.

Aku hanya memikirkan dua hal sederhana, bagaimana mensyukuri aku dengan segala yang kupunya dan berbagi melalui blogging. Aku menulis apa yang kurasakan, agar orang-orang di luar sana semakin terbuka dan berhenti untuk mem-bully kawan senasib-seperjuangan.

Meski masih harus menghadapi berbagai macam sterotype negatif terkait deaf, tetapi hati dan otakku jauh lebih ringan. Meski masih berulang kali tumbang dan harus menata hati kembali, tetapi waktu untuk meratapi diri jauh lebih berkurang.

Pencarian Terkait:

  • aku tuli patah hati