Emak K ini tim DBF, Direct Breast Feeding, menyusui langsung. Belum pernah sekalipun aku sengaja menyetok ASIP. Enggak pernah jauh dari si K yang masih bayi. Kemana-mana selalu dibawa. Terpaksa ditinggal ke kelurahan dan kecamatan untuk mengurus akte pun cuma 1 jam saat jam tidurnya si K.

Sungguh, aku sangat salut dengan Ibu-ibu yang berjuang menabung ASIP. Memeras ASI di tengah rentetan pekerjaan. Berjuang tetap menjaga asupan pola makan dan mengelola stress dengan semaksimal mungkin agar suplai ASIP tetap cukup untuk buah hati yang tercinta.

Salam hormat untukmu, duhai Emak-emak yang berjuang menabung ASIP.

Aku diam-diam merapal doa setiap teman-teman cerita bagaimana ia mengeloala ASIPnya, bagaimana menjaga agar ASIP tetap tersimpan sehat di freezer. Sungguh, tentu saja enggak mudah melakoni ini semua. Memompa ASIP, menandai tanggal, melatih sesiapa yang di rumah bagaimana cara memberi ASIP yang tersimpan di freezer untuk bayi.

Membawa alat perang yang lebih banyak daripada rekan kerja yang enggak menyusui. Dari cooler bag, ice gel, pompa asi, botol ASIP, hand sanitizer atau sabun. Lalu menyepi di sebuah ruangan dan memeras ASIP. Menyimpannya ke cooler bag dan memastikan ice gelnya bisa menjaga ASIP sampai pulang ke rumah dan dipindah ke freezer.

Beberapa teman bahkan rela pulang-pergi menggunakan pesawat demi mengantarkan ASIP untuk sang buah hati yang sedang ditinggal tugas ke luar kota. Seminggu sekali ia pulang untuk melepas rindu dengan sang buah hati dan membawa ASIP di cooler bag segedhe gaban.

Memilah-milah pompa ASi pasti juga enggak langsung kepilih yang paling sreg. Ada yang bilang kalau tangan adalah pompa ASIP terbaik, eee, lha emak K dulu pernah nyoba malah pegel bener tangannya. Ada pula poma ASIP manual, belum yang elektrik dengan segambreng-gambreng pilihan. Harganya juga.

Botol penyimpan ASIP? Ada yang berbentuk kantung plastik, ada pula yang botol kaca. Kantung plastik cuma bisa dipakai sekali. Botol kaca bisa dipakai berkali-kali tetapi mencucinya sungguhh… Ehm, membayangkannya saja sungguh repot.

Aku serius berdoa agar Robbuna memberi kesempatan untuk DBF ke adik-adiknya si K juga. Cara menyusui yang paling praktis.

Terus, untuk menyusui bayinya gimana? Ada yang pakai botol susu, ada yang pakai pipet, ada pula yang pakai sendok. Ntar gedhean pakai gelas. Itu botol susunya pun ada segambreng merk dengan berbagai kelebihan dan rentang usia. Katakanlah botol susu dr browns Indonesia, botol susu untuk baby newborn-3 bulan harganya 300k, itu nanti setelah 3 bulan musti ganti botol susu lagi.

Belum tantangan menghadapi drama bayi bingung puting atau drama bayi ogah minum dari botol susu. Strong, tentu yang mengasuh bayi juga enggak kalah strong-nya. Membutuhkan partner yang bisa diberi arahan untuk tetap memberi ASI bagi buah hati tercinta. Enggak gampang ternyata, ya.

Salut banget emak K dengan pejuang ASIP. Proses-proses segambreng seperti itu belum pernah kulakukan, dan semoga kelak aku diberi kesempatan untuk DBF terus sampai hak ASI 2 tahunnya terpenuhi. Si K kemaren malah menyusui sampai 2.5 tahun. Ada bonus 6 bulan. Hehehe.

Semoga Allah Memudahkan prosesnya agar ASIP selalu terpenuhi. Salam hormat untukmu duhai emak-emak yang berjuang demi ASIP sang buah hati. Semoga apa-apa yang telah diperjuangkan demi memberi yang terbaik untuk buah hati berbuah keberkahan.

 

 

%d bloggers like this: