Parenting

Mendidik Anak Laki-laki Mandiri, Menyiapkan Sosok Suami Masa Depan Penuh Empati

Mendidik anak lanang kuwi abot. Yen diamanahi anak lanang, berarti diamanahi menyiapkan sosok suami dan ayah masa depan.

Inti dhawuh Yai semasa aku masih gadis, empat tahun silam terus saja terngiang-ngiang sampai sekarang. Apalagi saat aku merasakan menjadi Ibu hamil yang agak rewel, dimana aku tidak sanggup mengerjakan pekerjaan rumah karena muntah parah dan gatal-gatal di seluruh badan, aku semakin merasakan jika keberadaan suami yang penuh empati adalah salah satu support besar bagi seorang istri untuk melewati masa-masa terberatnya.

Saat melahirkan si K, semakin terasa jika peran suami yang ringan tangan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mencuci popok penuh ompol dan pup bayi, mengurus ecel-precel cucian dari menjemur hingga melipat rapi, memanjakan Ibu yang baru melahirkan, menjadi salah satu support besar untuk melewati masa-masa baby blues.

Aku ingin kelak si K menjadi suami yang penuh empati. Ketiadaan sosok suami yang penuh empati menjadi salah satu faktor penyebab post partum depression. Bukan cuma kehadiran sosok fisik suami, tetapi juga sosok suami yang empati dengan keadaan istri dan ringan tangan membantunya.

Ini mungkin terlalu visioner karena masa-masa itu masih jauh ke depan, tetapi mumpung aku sebagai Ibunya masih mengawasi penuh waktu 24 jam, aku ingin menanamkan life skill sedini mungkin. Apalagi belakangan sedang booming lembaga pendidikan bonafid yang sangat memanjakan siswa. Ah, beberapa hari yang lalu, aku, mbak Arin dan mbak Ran sempat berbincang tentang PR kami untuk mengajarkan life skill ke anak yang semakin jarang diajarkan oleh sekolah.

Si K menginjak 23 bulan, masih dalam proses sounding menyapih. Life skill yang kami ajarkan masih sangat-sangat sederhana, dengan porsi failed yang lebih besar daripada berhasilnya. Juga porsi repot Ibu yang jauh lebih besar daripada terbantunya pekerjaan Ibu. Hahaha.

Makan dan Minum Sendiri

Sampai umur 23 bulan, si K belum bisa makan dengan rapi. Minumnya sih sudah lulus, sudah enggak tumpah lagi. Tetapi, makannya masih menyisakan ceceran nasi dimana-mana. Itu pun aku harus sambil menyuapi karena si K kalau makan lebih banyak main tuang-menuang kuah.

Selepas makan, si K akan kuajak untuk membersihkan ceceran nasi menggunakan sapu dan lap, Gerakan si K menyapu sudah membuat Ibu kembali waras meskipun nasi semakin tercecer dimana-mana, tetapi Ibu terlanjur senang membayangkan jika kelak si K sudah mahir menyapu. Wkwkwkwk

Menjemur dan Mengangkat Jemuran

Jika aku mencuci saat si K masih bermain, biasanya si K akan ikut lari ke tempat jemuran. Mengangkat bajunya sendiri untuk dijemur di ring jemuran si K. Ya, meskipun lebih banyak baju yang jatuh daripada yang berhasil di jemur. It mean, Ibu harus nyuci ulang. HaHaHaHa.

Dek, Baju saja Kudekap erat, apalagi kamu….

Membuang Sampah di Tempat Sampah

Ini termasuk life skill, Mak? Enggak tahu. Hahaha, tetapi apapun itu, aku meminta si K untuk membuang sampahnya sendiri ke tempat sampah, biar dia tahu kalau dia harus bertanggung jawab atas sisa-sisa keperluannya. Biar enggak seenak jidat meninggalkan anak orang setelah bersenang-senang. Na’udzubillahi mindzalik, nanti langsung lamar lalu aqad aja setelah sudah siap jadi suami lahir bathin ya, Nang.

Membersihkan Kaca dan Motor

Kaca saja kubersihkan apalagi hatimu kelak, Dek…

Wkakaka, emak K ngajari ngegombal. :p Iya, kalau Ibu sedang beberes rumah, biasanya si K ikut-ikutan. Sekedar pegang lap dan semprot-semprot pembersih kaca saja. Its okay, Nang!

A post shared by Widi Utami (@widut92) on

Mengembalikan Baju Kotor di Keranjang

Hal yang super gampang, tetapi sangat membantu Ibu. Salah satu life skill yang sudah lulus dan sangat membantu Ibu selain buang sampah di tempatnya. Ibu tidak lagi repot dengan baju yang dibuang begitu saja oleh si K. Dulu, si K kalau kelepasan ngompol, suka melepas celana dan dilempar begitu saja. Hiks, sangat merepotkan karena harus membersihka najis juga. Sekarang si K sudah tahu, jika celana dan bajunya yang kotor harus ditaruh di keranjang dan setiap kali pipis harus di kamar mandi.

Meskipun masih beberapa kali kelepasan ngompol, si K sudah hafal jika selepas ngompol harus segera mencari lap, menaruh celana yang basah ke keranjang, mengelap ompolnya, lalu pergi ke kamar mandi untuk cebok, lalu membasuh lantai yang terkena ompol tadi dengan air, mengelap lagi dengan kain bersih agar najisnya hilang. Segitu banyak yang harus dikerjakan sendiri dengan bantuan Ibu, si K lama-lama lebih memilih pipis ke kamar mandi. Capek, Bok. :p

 

Hmm, kemandirian apalagi yang bisa diajarkan kepada anak usia 2 tahun, ya, Mak? Untuk masak, emak K masih bermain masak-masakan, belum berani masak beneran karena horor si K kena pisau. Share dongs biar mamak K terinspirasi. 😀

 

Bagaimana komentar kalian?