#DeafRandomTalk2 Dulu Saat Sekolah, Bagaimana Belajarnya?

#DeafRandomTalk2 Dulu Saat Sekolah, Bagaimana Belajarnya?

Sebagai Hard of Hearing yang menjadi makhluk langka di sekolah, bahkan satu sekolah, baik SD, SMP, SMA dan kuliah yang mempunyai keistimewaan pendengaran cuma aku doang, nyaris semua pelajaran harus kuikuti sesuai siswa pada umumnya. Apalagi jaman aku sekolah belum ada kampanye sekolah inklusi. Paling-paling, aku diistimewakan dalam hal yang berbau listening.

Jadi, ikut pelajaran kayak yang lain dong?

Iya banget, guru menjelaskan seperti biasanya. Nothing special, yang special hanyalah aku duduk di bangku paling depan dan posisi paling strategis: kalau enggak di tengah depan papan tulis ya di depan meja guru. Sebuah posisi yang sangat dihindari oleh kebanyakan siswa. Mhuahahaha.

Fokus ‘Membaca’ Gerak Bibir Guru

Saat pelajaran, aku sangat fokus membaca gerak bibir guru. Jika gurunya berbehel atau cara bicaranya cenderung mingkem, aku pasrah, sulit banget membaca bibirnya. Hiks. Saking fokusnya membaca bibir guru, aku sampai tidak ‘ngeh’ apa-apa yang terjadi di ruang kelas ketika guru aktif berbicara di depan.

Mengalami misskomunikasi saat KBM berlangsung? Sering banget, untungnya, setiap saat aku memiliki teman-teman yang menjadi penerjemah, mereka akan mengulang kembali perkataan guru dengan gerak bibir yang sangat jelas. Thanks, Guys!

‘Menambal’ Catatan yang Bolong

Saat SD, SMP dan SMA, guru-guru kerap mendikte untuk dicatat. Aku biasanya mencontek catatan teman sebelah, jika sedang beruntung, aku bisa menyalin saat itu juga. Jika sedang apes, aku mencatat bolong-bolong.

Saat istirahat kumanfaatkan untuk melengkapi catatan yang bolong-bolong ini.

“Sret, Brak!” guru matematikaku melempar bukuku ke arah jendela. Jendela kelasku sangat lebar, lazimnya jendela pada bangunan peninggalan Belanda.

“Plak!”

Tangannya yang putih tetiba mendarat telak di pipiku.

Aku terdiam. Kaget. Shock. Marah. Malu. Belum habis rasa kagetku karena bukuku dibuang, aku kesakitan dengan tamparan yang sangat keras.

Saat itu aku tengah menyalin catatan teman di belakang. Kesepakatan yang dibuat oleh guru matematikaku telah kulanggar tanpa kusadari, mencatat saat guru tengah menjelaskan di depan.

Ya, aku tidak tahu jika sesi dikte sudah habis dan guru meminta kami mendengarkan penjelasannya tanpa menyelingi dengan kegiatan apapun.

Saat bel istirahat berdentang, aku langsung menelungkupkan mukaku ke meja. Menangis sesunggukan. Mengabaikan teman-teman yang datang untuk menghibur.

Kealpaanku memberitahu tentang kekurangan telingaku kepada guru tersebut berbuah tamparan. Pelajaran yang sangat berharga, aku selalu berusaha untu memberitahu guru-guru secara pribadi tentang kekurangan yang kusandang. Kadangkala, tanpa kuminta, teman-teman lah yang menjelaskan tentang kekuranganku kepada beliau.

Aku berhenti menjadi pecontek setia saat kuliah, tahu sendiri kan ana-anak kuliah rerata malas mencatat. Saat kuliah inilah aku memiliki keahlian yang patut kubanggakan: ‘membaca’ gerak bibir dosen sekaligus menulis di kertas tanpa melihat. Jadi, mataku membaca gerak bibir dosen, tanganku menulis di kertas. Jangan tanya bagaimana kerapiannya, yang penting masih bisa dibaca. Ngahaha.

Pengunjung Setia Perpustakan

Dalam sehari, aku mengunjungi perpustakaan paling tidak satu kali saat jam istirahat untuk meminjam buku-buku.

Niatnya meminjam buku pelajaran untuk melengkapi pemahaman yang bolong-bolong, tetapi lebih banyak memborong novel untuk mengusir jenuh saat pelajaran. 😂

Ya, gini-gini aku sering nakal. Menyembunyikan novel di bawah buku pelajaran, membacanya saat jenuh melanda. Tentu saja lihat-lihat dulu gurunya siapa, aku tidak akan pernah berani membaca novel saat pelajaran guru matematika nan killer. 😂

Visual Learner Garis Keras

Sebagai siswa dengan keterbatasan pendengaran, aku menjadi penganut visual learner garis keras. Pen warna, spidol warna menjadi piranti wajib yang menghuni kotak pensil.

Catatanku berwarna-warni, dengan pola yang tidak beraturan. Kalau sedang rajin, aku biasa mencatat kembali dengan menggunakan metode Mind Map. Catatan yang paling kukagumi adalah catatan jaman SMP. Catatan super rapi, bahkan ada daftar isinya segala. Catatan yang diwariskan kepada adik-adik, namun berakhir menjadi mercon. 😂

 

Hihihi, ya, ada suka-dukanya seorang Hard of Hearing sekolah di sekolah umum. Aku dipaksa untuk membaca dan belajar lebih lama dibandingkan teman yang lain, tetapi dari sini, aku tahu jika Robbuna selalu Menyediakan apa yang aku butuhkan.

 

Salam!

Emak K, Professional Deaf Blogger Wannabe

Benarkah Penyandang Tuli Bodoh?

IQ anak dengan gangguan pendengaran biasanya rendah.

YAIYALAH, lha wong test IQ-nya pakai instruksi verbal. Pengen misuh aku waktu sedang kuliah Anak Berkebutuhan Khusus, tetapi kutahan benar-benar, sampai aku tahu ada apa di balik dinding sekolah luar biasa yang belum pernah kunikmati bangkunya.

Pagi itu, bersama seorang kawan, aku berniat melakukan penelitian di SLB, namun DITOLAK tanpa alasan yang jelas. Untuk mengobati rasa penasara sekaligus rasa kecewa karena ditolak, aku memutuskan untuk bertanya lebih jauh, meminta ijin untuk berinteraksi dengn peserta didik.

Alhamdulillah, diijinkan.

Bahasa Pengantar SLB Tunarungu Kebanyakan adalah Bahasa Oral

Ya, problem sekolah luar biasa tunarungu (aku mau pakai Tuli gimanalah ini, resminya dari diknas pakai istilah Tunarungu), bahasa pengantarnya kebanyakan masih menggunakan bahasa oral, siswa disuruh membaca gerakan bibir guru.

Tidak semua siswa ahli membaca bibir. Sudahlah mumet dengan pelajaran, eh, penyampaiannya menggunakan bahasa yang tidak dipahami. Ibarat sudah jatuh ketimpa tangga, sudah pelajarannya susah cara meyampaikannya salah. :'(

Tujuan guru sebenarnya bagus, biar siswa Tuli tidak kesulitan komunikasi dengan orang-orang Dengar, tetapi sungguh, bukan begini caranya. Mungkin bisa menggunkan bahasa oral saat pelajaran Bahasa, tetapi pelajaran yang lain lebih baik menggunakan bahas isyarat.

Bahasa oral ini sendiri merupakan warisan Belanda. Iya, SLB Tunarungu pertamakli didirikan saat penjajahan Belnda. Namun sayang, 73 tahun Indonesia merdeka, belum banyak perubahan di sektor sekolah luar biasa. Sumber daya guru yang bisa berbahsa isyarat pun masih sangat minim. Di Grup WAG keluarga BISINDO, teman-teman tidak jarang berbagi tentang kelas SLB Tunarungu yang sedang kosong beberapa hari karena ketiadaan guru.

Penyandang Tuli Tidak Bodoh, hanya Metode yang Kurang Tepat

Ya, setelah aku berdiskusi lebih jauh dan berbincang dengan teman-teman Tuli, aku meyakini satu hal, “Penyandang Tuli tidak bodoh.”

Please, jangan jadikan kasusku sebagai pengecualian.

Tetiba aku merindukan teman-teman Tuli yang sudah menyebar kemana-mana, merantau untuk menjemput rezeki bagi keluarga yang disayanginya.

“Widi, kamu pintar.”

“Oh, No! Kalian juga pintar.”

“Tidak, kami bodoh.” sahut mereka, dengan tangan mengepal diletakkan di jidat.

Hati siapa yang tidak sakit jika mindset teman-teman saja sudah meyakini jika dirinya bodoh? :'(

“Di sekolah, bagaimana?” tanyaku, sambil menggerakan telapak tangan dari dagu keluar, lalu melanjutkan dengan telunjuk dan jempol yang membentuk huruf o di depan mulut dan menggerakkan kedua tangan berhadapan di depan dada berulang-ulang. Oral atau isyarat?

Mereka menjawab serentak dengan jari telunjuk dan jempol yang membentuk huruf o di depan mulut.

Aku mak klakep.

“Matematika?”

“Iya!”

“Bahasa?”

Ia mempertemukan jari telunjuk pada kedua tangan, “Sama. Semua. (Memakai Bahasa Oral)”

Lalu kami berbincang tentang sekolah. Bukan sekolahku, tetapi sekolah teman-teman. Mereka bercerita, betapa mumetnya memahami pelajaran dengan bahasa penyampaian oral. Berfikir dua kali, menerjemahkan bahasa dulu, baru memahami pelajaran. Kayak Emak K yang harus memahami Matematika, tetapi disampaikan dengan bahasa Jepang, konslet.

Perbendaharaan Kosakata Tuli yang Kurang

Yang aku tandai benar-benar adalah perbendaharaan kata yang kurang. Aku memakluminya karena guru fokus di oral dan nyaris mengabaikan kemampuan membaca teks. Maklum yang… bikin aku nangis malam-malam, bersyukur karena aku punya kemampuan membaca yang cukup sehingga perbendaharaan kata bertambah dengan otomatis, tetapi sekaligus sedih dengan teman-teman Tuli yang lain. Gusti!

Sampai sejauh ini, aku hanya bisa mengajak teman-teman Tuli berbincang melalui whatsapp, memberikan fasilitas buku, lalu mempersilahkan mereka bertanya tentang kosakata yang belum dipahami, aku akan menjawab sebisa yang kumampu.

Hanya itu, belum banyak yang bisa aku perbuat. Nangis lagi. Embuh wis. :'(

Seiring hari, aku sungguh berharap sekolah di negeri ini tidak hanya sekolah umum saja yang berkembang pesat, tetapi juga sekolah luar biasa. Semoga.

Pencarian Terkait:

  • tunarungu bodoh
  • Tunarungu kok bisa bodoh
Mereka Bilang Aku Tuli; Menoleh Sejenak Ingatan Terdalam

Mereka Bilang Aku Tuli; Menoleh Sejenak Ingatan Terdalam

Siang itu lebaran, entah lebaran hari ke berapa.Gerimis menyapa. Aku tengah menunggu Mbak di teras rumah tetangga. Ketika kulihat Mbak muncul bersama Bulik, aku langsung melesat, berlari menyusul Mbak. Tak dinyana, aku terpeleset membentur jalan miring, tepat di telinga kanan. Tak banyak detail yang kuingat, ingatan yang paling lekat adalah, aku sudah berada di gendongan Ibu dengan kondisi telinga yang nyeri yang meninggalkan bekas telinga robek hingga sekarang.

Orang-orang mulai berbisik setiap kali berjumpa denganku, “Uut budheg.”

Cerita ini selalu kuceritakan ke orang yang bertanya kenapa aku bisa menyandang tunarungu. Meski masih simpang siur peristiwa ini lah yang menjadi penyebab ke-tunarungu-an, karena nyatanya kedua telingaku mempunyai ambang batas pendengaran di bawah normal, tetapi setidaknya orang-orang tak lagi penasaran.

Fragmen Dua

Seorang nenek berambut putih tetiba menunjuk-nunjuk ke arahku dengan mata melotot tatkala aku tengah berjalan ke tengah jalan karena menghindari ulat alpukat. Aku yang tengah berjalan seorang diri mengenakan seragam pink kebanggaan TK di kampung, tergeragap, menoleh kebingungan, hingga aku menyadari jika di belakang ada truk berwarna merah.

Aku bersegera berlari ke pinggir jalan, truk merah itu pun berjalan kembali. Tetapi, nenek tua itu tetap saja menunjuk-nunjuk ke arahku dengan sumpah serapah yang sangat melekat hingga usiaku menjelang dua lima, “Dasar budheg!” Lengkap dengan ekspresi kemarahannya.

Dua fragmen ini tetiba berputar kembali ketika BloggerKAH Mbak Arin disini dan mbak Rani disini menetapkan tema kolaborasi blogpost Januari, “Ingatan terdalam yang bisa kita ingat”. Dua Fragmen yang memancing ingatan-ingatan lain, yang sayangnya tak beda jauh dari ‘budheg’, hingga aku merasa bahwa orang-orang tengah mengutukku dengan satu kata itu.

Maafkan, jika blogpost kali ini full curhatan. Maafkan, jika di blogpost kali ini beberapa di antara kalian merasa tersinggung. Maafkan, jika blogpost kali ini menggambarkan seorang WiDIut yang sangat cengeng dan melankolis.

Aku ingat betul orang-orang yang ‘mengutukku’ dengan kata ‘budheg’, bahkan hingga sekarang, di usiaku yang menjelang dua lima. Sangat sulit untuk berdamai dengan ingatan terjauh, ingatan terdalam yang terjadi pada masa kecil. Dan, oh Rabb, Maafkan aku sekali lagi, sampai sekarang aku belum bisa berdamai dengan orang-orang ini! Sungguh, pertahanan diriku langsung ambyar ketika ingatan itu kembali terbayang.

Sebegitu hinanya kah seorang tunarungu?

Sebegitu mengenaskannya tertakdir sebagai seorang tunarungu hingga ada yang menyimpulkan bahwa aku terkena KARMA WARISAN?

Sebegitu lucunya kah hingga ketidakdengaranku dijadikan lelucon?

So sorry to say, aku tidak mampu melupakan wajah-wajah orang-orang ini… Wajah-wajah songong yang merasa dirinya sempurna. Padahal untuk mencabut nikmat mendengar sangat mudah bagi Rabbuna. Aku… aku ingin marah, karena butuh waktu yang sangat lama untuk meyakinkan diri sendiri bahwa Rabbuna TAK MUNGKIN SALAH MENETAPKAN TAKDIRNYA. Butuh waktu yang sangat lama untuk memahami bahwa TAKDIR INILAH YANG TERBAIK BAGI SEORANG WIDUT. Dan, orang-orang ini dengan mudahnya menjadikan ketidakdengaranku sebagai lelucon.

Sebegini besarnya pengaruh perkataan negatif, apakah kalian masih tega melekatkan label kepada anak kecil dengan perkataan tak pantas, semisal, “NAKAL, NDABLEG, GOBLOG?” Lalu, apakah kaurela nama dan wajahmu diingat oleh orang dengan perkataan burukmu?

“Dut, apakah perkataan buruk lebih diingat daripada perkataan baik? Mungkin di masa lalu banyak yang perkataan dan perbuatannya baik-baik.”

SAYANGNYA IYA!

Yang melekat diingatan adalah fragmen-fragmen yang tak jauh-jauh dari label ‘budheg‘. Duh Gusti…Inikah yang membuatku mudah menaruh curiga kepada orang lain?

Tuduhan, sumpah-serapah, kutukan yang dalam ilmu psikologi disebut sebagai labelling, nyatanya adalah hal yang sangat berbahaya bagi kesehatan mental, bahkan mengarah ke bullying verbal. Nah lho, bullying ternyata bukan sekedar pukul-pukulan.

Labelling memberikan dampak negatif melalui tiga cara:

  1. Self Labelling Concept/ Konsep Diri. Saking seringnya orang lain memberikan label ‘budheg’ dengan konotasi yang buruk, dengan bodohnya aku mengaminkan perkataan mereka, mundur seribu langkah sebelum maju, ah, aku tuli, apa bisa?
  2. Melalui Persepsi Orang Dewasa terhadap Anak.
  3. Melalui Perilaku Orang Tua/ Orang Dewasa terhadap Anak

Ya, setidaknya aku harus mensyukuri keberadaan keluarga inti yang tak peduli apa kata orang di luar sana. Meski orang lain mengasihani, menganggap sebagai karma, keluarga tetap membawaku kemana-mana, mengenalkan kepada orang lain dengan kebanggan, tanpa malu-malu.

Bapak dan Ibu yang ngotot aku harus sekolah di sekolah umum, membelikan segambreng buku meski jaman dahulu keadaan ekonomi kami sangat memprihatinkan, mengantarkan aku mengaji meski berulang kali aku ngambek karena tak tahan dengan ejekan teman sebaya.

Kedua Mbak yang rutin meminjamkan segambreng buku bacaan di perpustakaan sekolah untuk adiknya di rumah. Melatih bagaimana cara mengucapkan yang benar, meski sampai sekarang aku belum bisa mengucapkan kata-kata tertentu seperti, ciput, rok, zaitun, bahkan membedakan za dengan ya saja lidahku kesleo. 😛

Boleh jadi seseorang di sekitar kita terlihat buruk. Tetapi, setidaknya jangan menjadi orang yang diingat lekat dalam ingatannya karena perlakuan buruk kita terhadap orang tersebut. Boleh jadi seseorang di sekitar kita tengah berada dalam masa-masa kritis, tetapi siapa tahu ada titik masa dimana dia mampu menjadi orang yang mematahkan perkataan remeh-temeh dari orag-orang yang berpikiran picik.

Sebab, sangat mudah bagi Robbuna untuk Membolak-balikkan Nasib seorang Hamba. Jangan sampai mengalami sendiri tentang apa-apa yang kita remehkan sekarang. Sunggu, aku berlindung dari sikap sombong dan merasa diri lebih sempurna.

 

Pencarian Terkait:

  • aku tuli
  • Aku sekarang tuli
  • seseorang berada pada ingatan terdalam
  • nama lain tuli
  • mereka bilang tuli
  • mereka bilang aku tuli mp3
  • ku tak pernah peduli mereka bilang aku tuli klo suka ya alhamdulilah
  • kata kata mengapa aku tuli
  • kata kata aku tuli
  • kata jangan bodoh dan tuli kami ini disini sakit