Mengenalkan Kekurangan Ibu kepada Anak

Mengenalkan Kekurangan Ibu kepada Anak

Tidak mudah membayangkan adegan si K memanggil-manggil Ibunya, namun tidak kunjung mendapatkan jawaban. Its such a… Aduh ya Rabb. ūüôā Tetapi, toh, life must be realistic, kadangkala harus meninggalkan sisi melankolis di belakang dan menghadapinya dengan logika.

Setidaktega apapun, si K harus tahu jika Ibunya seorang Hard of Hearing.

Aku pikir, mengenalkan kekurangan Ibu sedari dini jauh lebih baik untuk si K kelak, agar ia mempunyai pertahanan mental yang lebih, syukur-syukur kelak ia menjadi body guard Ibu dan teman-teman Ibu yang punya keterbatasan.

Hello, K, ini Ibu yang Menyandang Hard of Hearing

Setiap kali orang-orang di sekitar memberitahuku jika si K memanggil-manggil Ibunya, aku berusaha untuk memberitahunya jika Ibu berbeda. Biasanya, jika kondisi si K sedang tenang dan tidak menangis meraung-raung karena Ibu tidak kunjung menghampiri, aku akan mensejajarkan pandangan dengan si K, berkata dengan pelan, “Nang, Ibu mboten mireng. Kalau Kevin badhe nimbali Ibu, sentuh Ibu, nggih?”

Aku berkata-kata dengan pelan, sembari mengamit tangannya dan menyentuhkan ke tangan atau tubuhku, mempraktikkan bagaimana seharusnya si K memanggil Ibu.

Aku tidak berharap lebih karena usia si K baru dua tahun. Aku hanya ingin mengenalkan tentang kekurangan Ibunya sedari dini.

But, He can do it!

Aku tidak tahu persis sejak kapan, si K pelan namun pasti, akan menyentuh tangan atau pundakku dengan lembut jika ia ingin memanggilku. Jika ia terbangun di malam hari, ia bakal menepuk-nepuk pundakku dengan lembut, seolah-olah ia tahu jika Ibunya tidak bakal bangun kalau ia menangis.

Tentu saja, hal tersebut tidak berlaku saat si K sakit dan rewel. HaHaHa.

Cara ini Membuatku Jauh Lebih Berdamai dengan Diri Sendiri

Jika anak usia 2 tahun saja mulai mengerti keadaan Ibunya, maka, Ibu (seharusnya) lebih bisa menerima diri sendiri.

Berhenti memikirkan bagaimana terlihat sempurna di hadapan anak dan mengenalkan kekurangan diri kepada anak, ternyata membuatku jauh lebih enjoy menjalani hidup. Berdamai dengan diri sendiri, menerima kekurangan diri. Soal kelak bagaimana si K menghadapi lingkungan tentang keadaan Ibunya yang lain, aku memilih untuk menyiapkannya dari sekarang dengan hal-hal kecil daripada memikirkannya sampai air mata terkuras.

Mengisi Hari-hari untuk Latihan Berkomunikasi

Aku bukan Ibu yang dengan ajaib bisa menerjemahkan ocehan tidak jelas dari anak. Aku benar-benar merasa cerita dari Ibu-ibu yang lain

Suatu waktu, si K nyerocos dengan nada marah. Aku kebingungan, Abah K yang sedang sibuk menoleh, bertanya kepada si K apa yang ia inginkan. Si K menjawab dengan ekspresi menjerit.

“Itu nyuwun mimik putih, Yi.” ujar Abah K.

Aku tertawa sembari istighfar. Ya kali cuma minta air putih si K sampai menjerit dan terlihat urat lehernya. Setelah mengambilkan air putih dan si K sudah tenang, aku mengajaknya berbincang,

“Kevin marah tadi?”

Si K mengangguk.

“Marah kalih sinten?”

Ia menjawab dengan nada kesal, “Ibu!”

“Oh, kenapa? Nyuwun mimik putih?”

Si K mengangguk pelan.

“Ibu mboten mireng lah Kevin nyuwun kalih njerit-njerit. ” aku mencoba membangun pemahaman di otak kecilnya, “Kevin kalau nyuwun kalih Ibu, matur yang jelas. Mi-mik pu-tih.”

Aku memintanya mengulang kata-kata, “Mi-mik u-tih!”

“Bukan. Pu-tih!” aku memintanya mengulang dengan gerakan mulut yang lebih jelas.

“Mi-mik pu-tih!”

“Nah! Gitu, Ibu baru paham.”

Si K tertawa, entah paham kata-kata Ibunya atau tidak. Yang paling penting, perlahan-lahan kata-kata si K yang bisa kubaca semakin banyak dan miss komunikasi diantara Ibu dan Anak semakin berkurang.

Mengenalkan si K dengan Orang-orang Istimewa

Aku sepakat dengan abah K untuk mengenalkan si K dengan orang-orang istimewa, bukan menjauhkannya. Jika biasanya orang-orang bilang, ‘amit-amit jabang bayi’ setiap kali bertemu dengan penyandang difabilitas yang istimewa dengan ekspresi enggak enak, aku memilih mengenalkan si K, “Itu Mbak kayak Ibu, yuk disapa!”

Lalu aku meminta si K meyapanya sekedar say hello dengan melambaikan tangan ke teman-teman deaf yang kebetulan bertemu.

Tidak jarang aku mengenalkan si K tentang orang-orang istimewa melalui gambar dan cerita yang kukarang sendiri.

“Eh, ini Mbak pakai kursi roda, kakinya sakit, enggak bisa jalan,” aku menunjuk sebuh gambar seorang anak yang berkursi roda, “Kevin kakinya bisa jalan enggak?”

si K mengangguk sembari menunjuk-nunjuk kakinya, “Alhamdulillah, ya, kaki Kevin bisa diajak jalan.”

Lalu aku mengajaknya bercerita tentang orang-orang istimewa, meskipun aku tidak tahu si K benar-benar faham atau enggak. Hahaha.

Menjadi seorang ibu dengan keterbatasan memang tidak mudah, tetapi aku yakin Robbuna sudah Menyiapkan Segala-Nya, tugasku hanya berusaha semampu yang kubisa.

 

Dear Re, Begini Rasanya Perempuan dengan Hard of Hearing Disability Menjadi Seorang Ibu

Kukira, anakku membutuhkan pendengaranku. Mendengarkan tangisannya, mendengarkan keluh-kesahnya….

Si K Bayi

Dear Re, 22 bulan sudah aku menjadi Ibu dari si K dengan segala lika-likunya. Menikmati suka-cita, duka-lara, bahagia, juga lelah-letihnya.

Bulan-bulan pertama, aku mengalami baby blues. Jangankan membelai si K yang masih bayi merah seperti baby photoshoot artis-artis itu, tidur pun aku membelakanginya.

Bukan sakitnya jahitan yang menjadi penyebab utamanya, tetapi rasa bersalah dan tidak berdaya yang mencengkeram. Aku merasa bukan seorang Ibu yang baik bagi si K, karena aku tidak gegas bangun ketika ia menangis. Aku harus dibangunkan oleh suami atau Ibu ketika si K bangun menangis.

Seperti lazimnya bayi yang tidak segera disodori ASI saat menggeliat kehausan, si K meraung-raung heboh, tidak mau disusui karena aku terlalu lambat merespon.

Ibu macam apa aku ini, Re, untuk mendengar tangisan bayiku sendiri saja aku tidak bisa?

Aku merutuki diri. Merasa sangat hopeless. Si K masih bayi merah begini saja aku merasa tertekan, bagaimana jika si K sudah besar?

Untuk mendengar tangisan saja aku tidak bisa, bagaimana untuk mendengar ocehan?

Dua bulan awal kehidupan si K adalah hari-hari terberat. Aku hanya fokus mensugesti diri, bahwa tidak ada hal yang perlu kutakutkan terkait pendengaran. Segala pekerjaan rumah, termasuk mencuci popok si K, suami yang mengerjakan.

Mulutmu Harimaumu

Plak! Sebuah keplakan mendarat di pundak, aku tengah membaca buku di ruang tamu saat itu.

“Kevin tangi, mosok ora krungu?” perempuan tua, yang cucunya juga seumuran si K, menegurku.

Dengan gemetar, aku segera melesat ke kamar. Mendapati si K menangis meraung-raung kehausan.

Kudekap si K, kuciumi keningnya, kuusap-usap kepalanya. Ia tak juga kunjung diam, menolak ASI. Aku menangis sesunggukan.

Aku merasa bersalah, jika tetangga yang jaraknya hampir 10 m dari kamar saja mendengar tangisannya, betapa hausnya ia menangis sekeras itu.

Sebegini burukkah aku jadi Ibu?

Kutimang-timang si K, kudekap ia di dada, “Nang, maaf nggih, Ibu enggak dengar Kevin nangis. Maaf nggih.”

Berlahan, si K mulai tenang dan mau menyusu. Aku merebahkan tubuh di sofa. Menenangkan diri.

“Irkhamnaa yaa arkhamar-Rokhimiinn…”

Mengidungkan bait-bait nama-Nya. Duhai, Gusti, mohon sayangi kami, kasihi kami.

Saat malam tiba dan si K sudah terlelap, aku menceritakan semua kejadian hari itu kepada suami.

“Ayi, yak apa? Dengerin omongan orang?” tanyanya, “Yang penting itu, Ayi dan Kevin. Kevin, Yi. Kasih tahu pelan-pelan. Bayi begini, Kevin perasa, Yi.”

Yang penting itu Ayi dan Kevin, Anak dan Ibu.

Abah K
Programmer

Malam itu, kami berbincang, tentang apa-apa yang menghantui pikiranku. Tentang sikap pasifku kepada si K, terutama stimulasi berbicara.

Ya, dua bulan ini aku pasif, tidak mengajak si K berbincang. Keberadaanku sebatas hanya menjadi Ibu susuan.

“Kalau Ayi pasif, kapan Kevin belajar komunikasi dengan Ibunya?”

Aku terdiam. Sungguh, Re, malam itu rasa bersalah semakin mencengkeram. Bukan lagi tentang aku yang tidak bisa mendengar, tetapi tentang aku yang hanya menjadi Ibu susuan. Fisikku ada bersama si K, psikisku entah kemana.

Aku kehilangan 2 bulan untuk memperkuat bonding antara aku dan si K, Re.

Menganyam Bonding antara Aku dan si K

Malam itu juga, Re, aku melakukan langkah-langkah kecil untuk memperkuat bonding antara aku dan anakku. Aku berusaha mengabaikan apa kata orang, yang paling penting sekarang adalah aku dan si K.

Menyusui tanpa Gadget di Tangan

Tidak bisa dipungkiri, gadget adalah salah satu sarana untuk refreshing. Aku seringkali menyusui sembari berselancar di media sosial, tetapi ternyata, cara ini malah membuatku hampa. Aku menyusui si K belaka, sekedar mengenyangkan perutnya. Tidak dengan hatinya, Re.

Breastfeeding isnt just about milk, it is also about love.

Sebuah artikel di IDAI menamparku. Tetiba, ingatan tentang anjuran mengidungkan beberapa ayat al-Qur’an berkelebat.

Duh, Re, lagi-lagi, ngajiku hanya sebatas wacana. Aku bertekad untuk membayar dua bulan yang hilang.

Sembari menyusui, aku mengidungkan ayat-ayat cinta-Nya, yang terselip doa-doa, sembari membelai kepalanya.

Mengajaknya Bersenandung, Meskipun Suaraku Fals

Seumur-umur, jika sedang bernyanyi bersama, orang-orang selalu melirik ke arahku. Bahkan, saat aku duduk di bangku SMA, guru seni musik memintaku untuk diam karena merusak harmoni suara. Bisa membayangkan seberapa payahnya suaraku kan, Re? Hahaha
Ya, aku cenderung pasif bersenandung saat si K masih bayi merah karena khawatir ditertawakan oleh orang lain. Tetapi, sejak obrolan malam itu, kubuang jauh-jauh rasamaluku.

Si K terlihat menikmati, bahkan kut mengoceh sembari tertawa riang.

Suara Ibu adalah suara yang paling merdu di telinga anak, se-fals apapun itu….

Mengajak si K Baca Buku

Membacakan buku untuk si K sebenarnya sudah kulakukan sejak si K masih di dalam kandungan, tetapi mogok saat aku mengalami baby blues itu, Re. Payah ya, aku.

Aku bertekad untuk membayar hari-hari yang hilang. Kutemani si K membaca buku dengan sepenuh daya, mendongeng semampuku, aku tidak lagi peduli apakah suaraku lucu atau tidak.

Menulis Surat untuk si K

Menulis merupakan salah satu sarana katarsis rasa. Beberapa kali aku menulis surat untuk si K, baik di blog maupun buku harian. AKu menceritakan kepada si K apa-apa yang kami lalui bersama, apa-apa yang aku rasakan ketika mengasuhnya.

Sepurba itulah cinta Ibu kepadamu, Nang. #BloggerKAH #momblogger #HariIbu

A post shared by Widi Utami (@widut92) on

Kautahu, Re? Dengan menulis, rasa lelah karena seharian mengasuh si K seolah-olah hanyut bersama tulisan. Baca juga: Dear K, Surat Terbuka dari Ibu Penyandang Hard of Hearing

Mengajak si K Jalan-jalan, Berbincang tentang Apapun yang Ditemui di Jalan

Biasanya, ketika aku berjalan-jalan menikmati pemandangan, aku hanya menikmati sendiri. Berbincang dengan hati sendiri.

Semenjak ada si K, setiap kali jalan-jalan keluar rumah, aku mengajaknya berbincang. Membicarakan apapun, tentang awan dengan bentuknya yang beragam, tentang langit senja yang menawan.

Berbincang dengan si K

Menjadi #KancaDolan paling Setia

Bukan seberapa banyak waktu untuk menemani anak, tetapi seberapa penuh jiwa-raga kita bersamanya

Re, kaupasti tahu salah satu momwar paling menjengkelkan di muka bumi? Yes, Working Mom vs Full Time Mom at Home!

Padahal, Re, ini bukan perkara apakah Ibu di rumah penuh waktu atau tidak. Ini perkara apakah jiwa Ibu bersama anak atau tidak.

Aku merasakannya sendiri saat awal-awal dulu. Ragaku ada bersama si K penuh waktu 24 jam, jiwaku melayang entah kemana. Aku hampa, si K rewel sepanjang hari seperti mencari-cari dimana kasih sayang ibunya.

Aku ingin menebus semua itu, Re, dengan menjadi #KancaDolannya yang paling setia. Aku berusaha menemaninya sepenuh jiwa raga, membaca gerakan bibirnya lekat-lekat, agar bonding kami semakin erat.

Ketika si K mulai Bicara

Aku bersyukur, meskipun kondisi pendengaranku sangat terbatas, perkembangan verbal si K terhitung pesat dengan stimulus dari orang-orang di sekitarnya.

Masalah baru bermula, aku masih sangat kesulitan membaca gerak bibirnya. Sangat sulit membedakan kata ‘mamak’ dan ‘mbak Ba’, ‘bebek’ dan ‘mbek’ yang merujuk ke kambing.

Drama Misskomunikasi Ibu dengan Hard of Hearing

Kau mau kuceritakan satu diantara drama itu, Re?

“I-buk!” aku membaca bibir si K.

“Ya, Nang?”

Bibir si K membentuk lafadz antara mi dan pi. Aku sampai sekarang memang tidak bisa membedakan konsonan p dan m. “Apa, Nang? Pipis?”

Si K mengulang lagi, dengan nada yang lebih keras dan panjang. Lagi-lagi, aku belum bisa membedakan.

“Pipis, ya, Nang? Yuk, ke kamar mandi.”

Kubawa si K ke kamar mandi, tetapi ia malah meronta-ronta. Menolak kulepas celananya.

“Katanya pipis? Ayo pipis dulu!”

Si K menangis! Aku bingung. Kutunggu ia di kamar mandi sampai ia berhasil buang air kecil. Sekembali dari kamar mandi, si K menunjuk-nunjuk dispenser.

“I-buk! I-tu!”

Aku terkesiap. Ternyata, yang dimaksud si K adalah mimik, minum. Robbuna!

“Hahaha, mimik putih tha, Nang? Maaf, nggih. Ibuk enggak paham.”

Drama Misskomunikasi saat Demam

Drama itu belum seberapa, Re. Reaksi si K sebatas menangis sebentar.

Drama paling parah terjadi saat si K demam seminggu yang lalu. Drama yang berhasil membuat seisi rumah bangun dan bingung. Drama yang paling ter-ter.

Saat itu pukul tiga pagi, si K bangun. Aku memintanya untuk menyusu lagi, tetapi si K menggeleng kuat-kuat. Aku meraba keningnya, panas.

Belum sempat aku mencari termometer, si K menangis tantrum. Disusui tidak mau, disuruh minum air putih tidak mau. Lima belas menit ia menangis.

“Kevin, pripun?”

Bibirnya membentuk lafadz o. Aku kebingungan.

“Gendong?”

Aku bergegas mencari gendongan, tetapi si K berontak di gendongan. Menangis lagi. Meraung-raung lagi.

Si K kembali berkata dengan mulut membentuk o-o.

Abah K berkata, “Itu minta diajak keluar.”

Aku bergegas menggendongnya keluar dari kamar, berlahan si K diam dan menyusu dengan tenang.

Duhai, Robbuna!

Jika saat sehat, kami menikmati misskomunikasi ini dengan tertawa. Lucu. Tetapi, saat si K sedang demam begini, sungguh sangat menyiksa.

Aku segera melakukan pertolongan pertama, tidak ingin drama misskomunikasi saat si K demam terulang lagi. Horor, Re.

Parutan Bawang Merah

Parutan bawang merah kubalurkan ke sekujur tubuh si K sembari memijitinya pelan-pelan. Biasanya, Re, aku segera melakukan pertolongan ini saat si K terlihat sumeng.

Kompres Daun Dadap/ Randu

Daun dadap menjadi penolong saat demam. Biasanya, aku meremas-remas daun dadap dalam air hangat lantas menggunakannya untuk mengompres kepala si K.

Tempra Syrup

Aku selalu sedia Tempra Syrup, Re. Salah satu obat wajib penurun demam.

Kaupenasran kenapa aku memilih Tempra Paracetamol, Re?

Aman di Lambung

Kau tahu apa permasalahan utamaku sat memberikan obat kepada si K, Re? Si K gampang banget muntah setelah meminum obat yang membuatnya trauma dengan obat. Aku sempat mengadukannya kepada dokter, tetapi dokter hanya memintaku untuk tetap memberikan obat tersebut meskipun muntah.

Tetapi, naluri seorang ibu berkata, ada yang tidak beres dengan obatnya. Aku harus mencari obat pengganti yang tidak dimuntahkan oleh si K.

Apakah dengan Tempra Syrup ini si K jadi gampang minum obat?

Ya jelas tidak sebegitu mudahnya. Hahaha, si K tetap menolak saat aku memberikan Tempra Syrup, hanya saja, ia terlihat nyaman setelah meminumnya dan tidak memuntahkannya.

Tidak Perlu Dikocok, Larut 100%

Drama sebelum drama si K menutup mulut rapat-rapat adalah si K berontah di pangkuan saat aku mengocok obat, disusul obatnya tumpah terkena tendangan mautnya si K.

Dih, gemes enggak sih melihat obat sebotol tumpah?

Inilah salah satu yang membuatku jatuh cinta, Re, Tempra Syrup tidak perlu dikocok. Praktis. Jauh-jauh drama si K berontak saat obat sedang dikocok.

Dosis Tepat

Hal yang paling mengkhawatirkan semenjak aku mengikuti fanspage seorang dokter adalah: Apakah obat yang dikonsumsi si K overdosis?

Overdosis Paracetamol tidak bisa dianggap remeh, Re. Pada kejadian overdosis ringan, overdosis Paracetamol menyebabkan mual, muntah, lesu, diare, kehilangan nafsu makan. Pada kasus yang berat, overdosis Paracetamol bisa menyebakan kerusakan hati.

Dilansir dari Diarymail, 2015, Georgia Littlewood (17) meninggal dunia akibat overdosis parasetamol. Ia menengak parasetamol 3 tablet sekaligus untuk meredakan sakit kepalanya.

Bukan cuma itu, Re. Aku membaca sebuah jurnal, bahwa Pada tahun 2006, American Association of Poison Control Centers mencatat hampir 140.000 keracunan dikaitkan dengan parasetamol dimana lebih dari 100 pasien meninggal.

Dih, diare saja aku ngeri, Re, apalagi kerusakan hati.

Tempra Syrup memudahkan kita untuk menakar takaran yang tepat dengan tutup takar pada Tempra Syrup Anak atau pipet takar pada Tempra Syrup Drop untuk bayi.

Kaubisa menakarnya sendiri sesuai dengan takaran yang tertera di botol atau dus box-nya.

Dus Box Tempra Syrup

Alhamdulillah, setelah kuberi Tempra Syrup, hari berikutnya demam si K mulai turun. Aku masih mengamatinya, Re, apakah demamnya masih berulang atau tidak. Hard of Hearing tidak bisa menjadi alasan untuk tidak teliti, kan?

Re, semakin kesini aku semakin sadar. Anakku memang membutuhkan telingaku untuk mendengarnya, tetapi ia jauh lebih membutuhkan keberadaanku sebagai Ibu Seutuhnya.

Widi Utami
Mom With Disability

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra

Sumber: http://eprints.undip.ac.id/43715/2/Alif_Adlan_G2A009134

Pencarian Terkait:

  • lelah dan letihnya seorang ibu