Lika-liku Membiasakan Anak 3 Tahun Gosok Gigi

Lika-liku Membiasakan Anak 3 Tahun Gosok Gigi

Level 2 Kuliah Bunda Sayang materinya tentang melatih kemandirian. Selama diskusi berlangsung, aku mereka-reka, kemandirian apa yang akan kulatih untuk si K? Aku teringat dengan drama yang masih kuhadapi selama ini; GOSOK GIGI. Si K belum mempunyai inisiatif sendiri untuk gosok gigi, lha wong selama ini gosok giginya musti dipaksa Ibu. Itu belum tentang pasta yang ditelan, air kran yang diminum, sampai gosok gigi yang sekedar ngemut sikat. Hish.

Melatih Kemandirian, Pantang Diremehkan

Melatih kemandirian jauh lebih sulit dibandingkan memanjakan anak. Gimana enggak sulit, melatih anak makan, kita harus berhadapan dengan makanan yang tercecer, baju yang kotor, lantai yang lengket dengan nasi. Melatih anak gosok gigi sendiri, kita harus berhadapan dengan air yang disembur-sembur, pasta yang ditelan, sikat gigi yang diemut, air kran yang diminum

Belum soal toilet training yang meninggalkan ceceran air kencing dimana-mana, menata buku, mainan dan baju yang membuat Ibu harus menata ulang–kerja dua kali, Rek, nata ulang dan mendampingi anak. Soal memasak? Emak K sampai enggak tega cerita di blog, saking mubadzirnya sayur dan air yang jadi korbannya si K. Wkwkwkwk

Tetapi, quote yang ada dalam materi Level 2 Melatih Kemandirian membuatku harus tahan banting dengan segala tantangannya.

Ingat, kita tidak selamanya bersama anak-anak. Maka melatih kemandirian itu adalah sebuah pilihan hidup bagi keluarga kita.

Mari berpegangan tangan saling menguatkan kala lelah, saling memaklumi kala makanan anak berceceran, saling menyemangati kala anak ngompol di rumah tetangga. Hahaha, soal toilet training, drama emak K sudah dimulai sejak si K umur 7 bulan sampai 2 tahun. Berulangkali ngepel rumah orang, bahkan di warung bakso. Njelehi ya? Wkwkwk.

Menyiapkan Latihan Gosok Gigi pada Anak Usia 3 Tahun

Apa yang harus disiapkan saat menyiapkan anak gosok gigi? MULAI. Iya, mulai saja, tantangan akan datang selama proses. Kadangkala kebanyakan teori justru membuat kita menunda-nunda untuk memulai.

Selama proses gosok gigi si K, aku menghadapi beberapa tantangan dan akan kucari triknya dan dipraktikkan esok hari. Yang paling cepet sih nanya ke teman-teman di grup yang jauh lebih berpengalaman.

  • Diskusi dengan Pasangan, Satukan Misi Melatih Kemandirian

Abah K sempat menegurku yang dianggap terlalu keras. Sementara, aku merasa jika selama ini enggak marah-marah kalau si K belum mandiri. Usut punya usut, ternyata aku sempat mengucapkan kata-kata bernada kecewa semacam, “Ibu kan sudah bilang kalau sikat gigi harus bersih… Ibu kan sudah bilang kalau air kran enggak boleh diminum… ”

Peran abah K sebagai kontrol dalam pengasuhan sangat terasa. Abah K meski sibuk kerja, beliau ikut mendukung dalam bentuk enggak menanggapi anak yang aleman. Enggak mengambilkan minum manakala anak gagal ‘menyuruh’ Ibu. Ikut menjelaskan kenapa si K harus sikat gigi.

Peran penting dari pasangan seperti ini kudapatkan setelah berdiskusi panjang, menyatukan prinsip agar enggak terjadi kesalahpahaman. Bagi orang tua yang tinggal bersama keluarga besar, tantangan untuk menyatukan misi jauh lebih besar.

  • Siapkan Sikat Gigi dengan Karakter Favorit dan Pasta dengan Rasa Favorit Anak

Ngaruh kah? Bagi si K, ngaruh banget. Aku sampai sengaja mengajak si K ke supermarket dan meminta ia memilih sendiri sikat gigi dan pastanya. Bulan lalu si K milih karakter superman berwarana dominan biru. Wkwkwk, padahal enggak ada superman dalam daftar tontonan si K.

Tantangan dalam Melatih Gosok Gigi pada Anak Usia 3 Tahun

Tantangan dalam gosok gigi si K lumayan banyak dan bikin emaknya garuk-garuk kepala mencari trik untuk menghadapi tantangan tersebut. Heuheuu.

  • Kenapa Harus Gosok Gigi

“Gigi Kepin enggak rusak, Buk.”ujar si K, saat aku memintanya gosok gigi.

“Iya, tetapi kan kalau enggak gosok gigi, Gigi Kevin bisa rusak nanti.”

“Nanti kapan?”

Krik-krik.

“Nanti cari tahu, ya? Kevin enggak punya buku tentang gigi. Nonton aja, mau?”

Si K mengangguk. Jadilah hari itu kami menonton animasi bertema gigi di Youtube. Kami berbincang setelahnya. Membicarakan makanan-makanan yang bisa membuat gigi rusak. Wkwkwkwk, bagi Ibu yang menganut no gadget, jangan ditiru cara ini, ya. Buku tentang gigi sudah banyak, tetapi emak K belum punya. Hehehe.

Soal makanan yang mempercepat kerusakan gigi, aku menggunakan buku The Very Hungry Caterpillar untuk mengenalkan kepada si K makanan apa saja yang enggak baik untuk gigi dan perutnya. Cuma di buku tersebut mengakibatkan si ulat sakit perut, gita bisa menjelaskan sendiri bagaimana makanan tersebut berbahaya bagi gigi.

  • Kenapa Air Kran Enggak Boleh Diminum

Berapa lama frekuensi si K menelan air kran? Bisa 3 kali setiap sesi gosok gigi. Emak K sampe gregetan, pakai cara jelek dengan dimarahin pun enggak mempan. Akhirnya aku menyiapkan ilustrasi sendiri kalau air kran masih ada kuman-kumannya dari pipa, dan harus dimasak sampai mendidih untuk mematikan kumannya.

“Kumannya mana?”

“Enggak kelihatan.”

“Pakai kaca Kepin yang besal bisa?” tanya si K, menunjuk kaca pembesarnya.

“Ndak, kita harus pakai mikroskop.”

“Oskop?”

“Iya, kalau mau lihat kuman kita harus punya mikroskop. Nanti kalau tabungan Kepin sudah cukup, kita beli mikroskop ya?”

“Beli oskop buat lihat kuman ya?”

“Ya. InsyaAllah.”

Oke, wish list nambah lagi, mikroskop.

  • Bagaimana Cara Gosok Gigi yang Benar

Bagian ini yang paling menantang. Hahaha. Si K itu usil. Sering ngerjain Ibuknya. Saat menyikat gigi, ia sengaja menyikat lidah sambil tertawa-tawa. Di lain waktu, ia sengaja menjilat-jilat pasta. Saat Ibunya terlihat sibuk membersihkan kamar mandi, ia sengaja menjawil Ibu untuk memperlihatkan sikat gigi yang ia gunakan untuk menyikat lidahnya. Ampun.

Membiasakan Anak Gosok Gigi

Membiasakan Anak Gosok Gigi

Aku pun akhirnya membuat gambar monyet sedang tertawa dengan gigi yang kelihatan jelas di selembar hvs, kemudian menutupinya dengan plastik. Kucoret noda-noda di gigi monyet dengan kapur–bisa diganti dengan spidol whiteboard–, lalu meminta si K untuk membersihkan dengan sikat gigi yang sudah tidak dipakai.

“Kevin, ini monyet habis makan coklat. Giginya banyak coklatnya, tolong bersihin ya.”

Aku tidak berekspektasi lebih karena minggu-minggu ini si K sedang hobi menjelajah jalan, selokan dan pagar. Tetapi ternyata ia tertarik untuk bermain Sikat Gigi Monyet sampai semingguan. Enggak cuma gigi monyet, si K memintaku untuk mencoret uang-uang logam di celengannya dan ia akan membersihkannya dengan riang.

Membiasakan Anak Gosok Gigi 2

Si K menyikat uang logam yang kucoret dengan kapur

Sinar Masih Jauh dari Genggaman Memang, Tetapi….

Anak bisa sikat gigi dengan sempurna masih jauh dari genggaman, tetapi selama mengamati dengan konsisten, aku menghargai setiap perkembangan si K meskipun kecil. Ia tidak lagi menelan air kran, sikat giginya mulai rata di gigi depan meskipun belum menjangkau gigi belakang, mulai berinisiatif gosok gigi setelah makan coklat, permen dan es krim.

Ini bukan tentang keberhasilan dalam waktu yang singkat, ini tentang proses untuk menuju kemandirian meski sinar masih jauh dari genggaman.

Masih banyak PR kemandirian anak. Jalan yang harus ditempuh begitu terjal, rintangan yang harus dilalui tak kalah banyak. Membayangkannya saja kepalaku nyut-nyutan. Baru melatihnya gosok gigi saja sudah membuatku beristighfar berulang-ulang, namun… resiko ketika anak tidak mandiri yang dipaparkan dalam review Kuliah Bunda Sayang Level 2 menjadi pengingat agar tidak lelah untuk memulai kembali kala patah semangat.

Resiko yang kumaksud adalah Gejala Ketidakmandirian Anak yang kubaca di review Level 2 Melatih Kemandirian:

  • Ketergantungan disiplin kepada kontrol luar, bukan karena kesadarannya sendiri. Perilaku ini akan mengarah kepada perilaku tidak konsisten.
  • Sikap tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya, anak mandiri bukanlah anak yang lepas dari keluarganya melainkan anak yang tetap memiliki ikatan batin dengan keluarganya tetapi tidak bergantung pada keluarganya.
  • Sikap hidup kompromistik tanpa pemahaman dan kompromistik dengan mengorbankan prinsip. Gejala masyarakat sekarang yang meyakini segala sesuatunya dapat diatur adalah bentuk ketidakjujuran berfikir dan bertindak serta kemandirian yang masih rendah.

Rasa-rasanya tantangan yang dihadapi kala melatih kemandirian anak jauh lebih ringan dibandingkan ketika kita membayangkan perilaku ketidakmandirian anak.

Level 2 sudah usai, sebagaimana Level 1 Komunikasi Produktif yang terus dipupuk sepanjang waktu, berakhirnya kuliah Melatih Kemandirian tidak lantas membuat Melatih Kemandirian Anak terhenti, justru harus konsisten dan istiqomah.