Ngeblog dan Self Healing ala Emak K

Ngeblog dan Self Healing ala Emak K

Tidak sedikit kata-kata yang bisa membuat hati sakit, semangat mengkeret dan harapan untuk hidup lebih produktif hancur tak berbekas. Rasa-rasanya orang dengan lisan yang asal meluncur tanpa rem itu akan selalu ada, karena memang sunnatullahnya kebaikan dan keburukan berjalan beriringan.

Ujian akan selalu ada untuk menguji hamba-Nya, apakah ia akan naik tingkat ataukah hanya jalan di tempat. -Abah Yai Nasruddin-

Sayangnya, aku belum bisa ‘menangkap’ nasihat kece itu. Ujian-ujian yang datang masih kuhadapi dengan hati yang penuh dengan spekulasi dan prasangka, “Ih, orang ini kenapa? Kenapa dia tega? Apa dia enggak punya hati? Awas saja…” dan seterusnya, dan seterusnya, hingga setan saja kalah.

‘Kata Mereka’ Akan Selalu Ada

Jaman masih sendiri, aku sering mendapatkan kata-kata yang mengarah ke siapa sih laki-laki yang mau pacaran sama WiDut yang enggak nyambungan? Enggak langsung bilang seperti itu, tetapi selalu menjurus kesitu. Kayak gini, “Kamu belum punya pacar sampai sekarang? Ah iya, kamu enggak nyambungan gitu. Ditanya a jawabnya z, mana ada laki-laki yang tertarik?”

Time flies, aku ketemu abah K dan menikah. Pertanyaan itu datang lagi, “Suamimu enggak kerja? Oh ya maklum, wong tagline facebooknya itu urip mung mampir cengengesan.”

Sakitnya, setelahnya orang itu update status nyindir tagline Facebook abah K yang sampai sekarang masih sama, Urip mung mampir cengengesan. What the…. Padahal aku enggak pernah ngusik hidup orang ini, kenapa sesensi itu dengan abah K? Hahaha

Kata Mereka akan Selalu Ada

Kata Mereka akan Selalu Ada

Si K lahir, datang lagi…. Kala itu aku tengah santai di ruang depan, si K sedang tidur. Abah K sedang di luar kota. Tiba-tiba, datang seseibu mencolek bahuku dengan ekspresi jengkel, “Kamu tu gimana? Anak nangis bukannya ditolongin malah kemana!” Jleb!!! Langsung lari ke kamar, kupeluk si K sambil menangis sesenggukan. Kata-kata seseibu tadi masih nancep sampai sekarang, merasa enggak becus jadi Ibu karena enggak segera datang saat si K nangis.

Oh, God… they’re always come, right?

Kita enggak bisa menghentikan datangnya hal-hal yang menyakitkan hati, enggak punya pilihan untuk menghindari, tetapi kita punya pilihan untuk memulihkan diri sendiri. Bagaimana caranya? Temukan, karena setiap orang mempunyai caranya sendiri.

Ngeblog dan Self Healing ala Emak k

Ngeblog dan Self Healing ala Emak k, src: pixabay

Ngeblog dan Self Healing

Ngeblog menjadi salah satu sarana untuk self healing. Aslinya, sih, inti pokoknya ada di menulis,. Ketika menulis itu ditujukan untuk blog yang notabene akan dibaca orang lain,aku bakal menulis dengan kondisi logika yang jalan, hingga menarik ke kesimpulan untuk berdamai dan memaafkan.

Oh, ya,kenapa aku harus sakit hati sedemikian lama? Mungkin dia ‘Dihadirkan’ agar aku bisa mengelola emosi. Oh ya, aku dulu mengalami kondisi jatuh sejatuh-jatuhnya dengan omongan orang yang enggak enak di kanan kiri sampai ada keinginan untuk bunuh diri karena Allah ingin aku berbagi tentang bunuh diri, tuh lihat, keyword yang masuk dan viewnya cukup banyak.

Kalau sedang error berat hingga logika enggak jalan gimana? Ya nulis saja di buku harian. Di buku harian kebanyakan tulisan yang enggak logis, kalau lagi waras baca buku harian aku bisa tertawa sendiri, menertawakan diri sendiri.

Kalau menulis enggak membantu, biasanya aku meminta bantuan orang lain dengan menceritakan kondisi hatiku. Biasanya ke abah K, kalau abah K sedang sibuk dan enggak bisa dicurhati saat itu juga, sementara aku khawatir hatiku semakin enggak karuan, aku akan curhat di grup. Alhamdulillah, WAG-ku isinya grup-grup keren, #BloggerKAH yang ngomporin nulis Self Healing adalah salah satunya.

Menemukan Cara untuk Self Healing

Self Healing adalah fase yang diterapkan pada proses pemulihan (umumnya dari gangguan psikologis, trauma, dll), didorong oleh dan diarahkan oleh pasien, sering hanya dipandu oleh insting. -Jurnal Digilib UIN Sby-

Self Healing HANYA bisa dilakukan oleh diri sendiri, motivasi dari dalam diri sangat kuat pengaruhnya disini. Terapis hanya bisa membantu. Ada banyak cara untuk self healing, temukan apa yang cocok untuk diri sendiri.

Me time menjadi salah satu cara untuk self healing. Bagaimana me time ini, sesuaikan dengan hobi atau kesukaan kita. Ada seorang teman yang menikmati me time-nya dengan berenang, di saat-saat ia mengerahkan energinya untuk berenang, ia mengeluarkan emosinya. Memutar kembali memori tentang apa yang telah membuat emosinya meletup-letup, hingga ia menemukan ‘ada apa’nya dan bisa memaafkan.

Berenang, Salah Satu Cara Self Healing

Berenang, Salah Satu Cara Self Healing

Teman yang lain biasa self healing dengan pergi ke tempat yang banyak pepohonan dan suara gemericik air. Ada juga yang bisa menyalurkan energi negatifnya hanya dengan makan mie dengan level kepedasan tertinggi. Abah K sendiri memilih untuk ngopi di angkingan dan jagongan bersama teman-temannya.

Enggak selalu secepat itu, semua butuh proses. Bahkan aku pernah membutuhkan waktu hitungan tahun untuk bisa berdamai dengan luka masa lalu yang membuatku traumatik ketika merasakan getaran langkah orang teburu-buru.

Menangis saat berdoa sangat membantu untuk self healing. Menceritakan semua yang dirasakan kepada Robbuna, meskipun aku tahu Robbuna sudah Mengetahui segalanya termasuk apa yang tidak kuketahui, bercerita dengan gaya berdialog menjadi hatiku jauh lebih baik dan lega.

Temukan cara terbaik untuk self healing. Kelak ketika hal yang tidak mengenakkan itu datang, kita tidak perlu membuang-buang waktu untuk meratapinya karena kita sudah menemukan caranya bagaimana agar energi negatif itu segera keluar.

 

Salam!

Emak K, deaf mommy

 

 

 

 

Berdamai dengan Diri Sendiri, Mengenyahkan Emosi Negatif

Bapak selalu mengadang-adang, “Cintailah musuhmu.”

Cintailah musuhmu?

Saat itu aku masih sekolah, sering di-bully, dan Bapak dengan teganya menyuruhku mencintai mereka yang membully. Bukannya membela putrinya, menantang pem-bully agar tidak lagi mem-bully. Bapak malah menyuruhku mencintai.

Konyol.

Sungguh, konyol sekali, pikirku.

Setiap kali aku marah kepada orang lain hingga dadaku menggemuruh. Bapak hanya menyuruhku berwudhu, shalat. Menenangkan hati. Memintaku memaafkan orang yang telah membuatku marah sebagai langkah paling dasar untuk mencintai.

Semakin kesini, aku semakin merasakan betapa pengaruh memaafkan orang yang telah membuat jengkel sangat besar, terutama untuk hatiku yang gampang terombang-ambing masalah.

Kebencian tidak akan menyelesaikan masalah, hanya membuat hati semakin berat bebannya.

Ya, kebencian hanya menyita waktu produktif. Waktu yang seharusnya dihabiskan untuk terus bergerak dan berbagi, habis untuk memikirkan orang yang dibenci. Jika kebencian sudah terlanjur dalam, apa-apa yang diperbuat oleh orang yang dibenci selalu salah di mata kita. Bukannya mengikuti jejak positif, kita malah sibuk nyinyir dan berprasangka.

Belum lagi jika kita menebarkan kebencian-kebencian itu kepada orang lain. Bawaannya menularkan emosi negatif kepada sesiapa yang ditemui.

Berdamai dengan Diri-Sendiri agar Tidak Terlalu Membenci

Ada beberapa cara yang kulakukan untuk berdamai dengan diri sendiri agar tidak terlalu membenci orang lain dan merugikan diri sendiri.

Berbincang dengan Diri Sendiri; Tidak Ada Manusia yang Sempurna

Setiap kali ada seseorang yang membuatku jengkel, aku sesegera mungkin menyepi sejenak. Berbincang dengan diri sendiri, menghubungkan nalar agar hati mampu menerima logika jika tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Wajar dia keliru. Wajar orang tersebut membuatku jengkel.

Beristighfar berulang-ulang, menyabar-nyabarkan hati sendiri; bahkan suatu saat mungkin aku juga membuat orang lain jengkel.

Bercerita kepada Orang yang Dipercaya

Jika cara yang pertama tidak berhasil, biasanya aku akan bercerita kepada orang yang kupercaya. Orang-orang pilihan yang biasanya berbalik mengingatkan diri yang banyak luputnya. Orang-orang yag menyiramkan air dingin ke kepala dengan membantuku untuk menemukan hikmah tersembunyi dari apa yang kualami.

Menyebut Namanya dalam Doa

Iya, menyebut namanya dalam doa, tentu saja dengan doa-doa yang baik. Tidak, ini bukan hal yang konyol, tetapi sungguh, mendoakan orang yang kita benci, perlahan mengikis rasa benci it dan membuat hati lebih enteng. Biasanya, aku membutuhkan waktu yang lama sembari menceritakan kepada Robbuna kenapa aku membencinya, lalu mendoakannya, juga tidak lupa mendoakan hatiku agar selalu dalam bimbingan-Nya.

Kalau bencinya sudah di level ubun-ubun, sementara si dia membuat perkara melulu, aku menyepi. Menghindar sejenak dari dia, sampai aku tidak lagi merasakan sakit hati saat menyebut namanya dalam doa. Waktunya pun beragam, ada yang sampai butuh hitungan tahun untuk tidak lagi membenci, saking tukang bikin onarnya orang ini. Hahaha.

Trust me, hidupku jauh lebih ringan ketika akutidak lagi menyimpan kebencian dalam hati. Apalagi setelah menikah, dimana aku digembleng oleh abah K untuk bersikap biasa-biasa saja, meskipun sekarang masih terseok-seok untuk tidak terlalu jengkel kepada oarnag lain manakala ia membuat ulah, tetapi tidak sehoror dulu yang bisa membuatku menangis bermalam-malam karena sakit hati.

Kalau kamu, apa yang kamu lakukan untuk berdamai dengan diri sendiri?