Site icon Widi Utami

Pantang Nyerah Gaungkan Budaya Tuli-HoH bersama IndiHome

Pantang Nyerah Gaungkan Budaya Tuli-HoH bersama IndiHome 2

Gaungkan Budaya Tuli-HoH Bersama IndiHome

Diskriminasi yang kami terima, umumnya bukan disebabkan karena pelakunya adalah orang yang jahat, tetapi karena tidak tahu. -Widi Utami, Hard of Hearing

25 tahun menjadi seorang Hard of Hearing, aku semakin meyakini jika ketidaktahuan adalah penyebab terbesar perilaku diskriminasi yang diterima oleh Difabel. Aku seorang Hard of Hearing, salah satu Tuli dengan derajat berat, yang masih mendengar sedikit suara dan bisa berbicara. Aku bisa berbincang laiknya orang Dengar dengan ‘membaca’ gerakan mulut lawan.

Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Aku terkejut. Kelas hening. Pak Guru menceracau, aku tidak paham… pun tidak berani memandangnya. Pak Guru menamparku karena mengira aku mencontek saat ulangan. Padahal saat itu aku sedang menyalin soal yang didikte. Aku tidak dengar, aku harus menyalin soal dari teman. Tidak ada yang berani menjelaskan. Bukuku direbut kasar, dilempar sembarangan.

Aku masih ingat dengan sangat jelas kejadian 15 tahun yang lalu saat aku duduk di bangku SMP. Tidak, pak Guru tidak jahat. Beliau tidak tahu jika satu diantara muridnya mempunyai keterbatasan dengar. Aku juga salah, aku tidak menjelaskan sejak awal kepada Guruku. Sejak kejadian itu, berita menyebar. Guru dan teman-temanku mengenal aku sebagai seorang HoH. Lingkungan sekolahku menjadi sangat kooperatif. Pak Guru yang sempat menamparku, menjadi salah satu guru yang dengan sabar membimbingku, selalu memastikan aku duduk di bangku paling depan.

Sejak kejadian itu, aku selalu memastikan jika aku sudah memberitahu orang-orang yang berinteraksi denganku jika aku memiliki keterbatasan Dengar. Reaksi yang kuterima beragam, tetapi umumnya mereka akan menjadi support system-ku.

Tanpa kusadari, budaya inklusif mulai terbentuk di lingkungan sekitarku.

Bukan Hanya Aku yang Memiliki Keterbatasan

Selepas SMA aku mulai ‘keluar kandang’, memperluas relasi sosial. Minggu pagi di Juni 2011 menjadi titik awal mengenal Teman Tuli. Aku ‘mendengarkan’ cerita Teman Tuli. Tantangannya, kesulitannya, cerita cintanya… di titik itu, aku menyadari jika keterbatasan yang mereka miliki membuat mereka kesulitan speak up ke dunia luas.

“Widi, kamu bisa ngomong, bisa enggak kamu menemani kami?” tanya teman Tuli, dengan bahasa isyarat.

Aku termenung, bukan hanya aku yang memiliki keterbatasan. Tidak semuanya mempunyai kemampuan untuk speak up dan memiliki support system yang baik. Aku menyanggupi permintaan mereka, mulai menyuarakan keberadaan teman Tuli di media sosial.

Teman Tuli menyebut kami, HoH, sebagai Tuli separo. Sementara, untuk Teman Tuli yang derajat ketuliannya sangat parah di atas 90 dB, kami menyebutnya Tuli Total. Ternyata, tidak hanya teman Tuli yang kesulitan untuk speak up. Bahkan teman HoH pun tidak sedikit yang kesulitan untuk membuka identitas dirinya sebagai seorang HoH. Kondisi Hard of Hearing yang serba tanggung memang membuat kami kesulitan untuk menjelaskan ke orang-orang di sekitar kami.

Aku malu, Mbak… Aku memilih tidak berinteraksi dengan tetangga, daripada keluargaku malu karena aku tidak dengar. Tetanggaku melabeli aku bodoh, padahal aku tidak paham apa yang mereka tanyakan. -Mbak H, di kota S, seorang HoH-

Pesan demi pesan dari teman-teman Tuli dan HoH membuatku semakin semangat untuk menyuarakan keberadaan kami dimanapun aku berada, di tempat-tempat umum, di media sosial dan blog yang kupunya.

Pandemi Covid-19 dan Teman Tuli-HoH yang Terlupakan

Covid-19 yang merebak akhir tahun 2019 di China, lalu menyebar di Indonesia Maret 2020 menjadi salah satu titik gelap di dunia HoH-Tuli. Ada hal yang sangat kami takuti selain virus Covid-19; semua orang memakai masker dan kami tidak bisa berkomunikasi.

Ketakutan tidak bisa berkomunikasi karena kami mengandalkan membaca gerak bibir menjadi ketakutan terbesar. Entah berapa bulan aku tidak mau berurusan dengan orang luar, sekedar beli sayur pun aku memilih untuk beli online karena tidak bisa berbincang.

Juni 2021, aku mengurus keperluan di Bank dan mendapatkan perlakuan satpam yang keren. Beliau berkenan untuk menulis obrolan. Tidak hanya itu, beliau juga menemaniku dan menuliskan omongan teller untukku. Aku menuliskannya di Twitter dan viral. Tweet tersebut merebut perhatian publik, mereka mulai menyadari jika ada yang luput dari perhatian selama pandemi; teman-teman Tuli-HoH.

Aku tidak berekspektasi banyak, tetapi ternyata tugas kita sebagai manusia adalah jangan berhenti untuk bergerak dan Gusti Allah akan Memberi jalan keluar. Tweet tersebut mencuri perhatian media, baik cetak, elektronik maupun TV Nasional. Beberapa diantara mereka mewawancarai lewat chat dan ketemu langsung. Jajaran direksi BNI memberikan apresiasi kepada pak Kurniawan, satpam BNI yang saat itu membantuku. Seorang teman yang bekerja di Satpam Outsourcing mengabarkan jika tweet tersebut menjadi perhatian pimpinannya dan dibuat SOP baru pelayanan Disabilitas.

Kompilasi Kisah HoH dan Bank di Era Pandemi

Dari Tweet yang viral itu juga, entah berapa banyak DM yang kuterima dari teman-teman HoH yang selama ini berdiam diri, tidak berani untuk mengenalkan identitas diri sebagai seorang HoH. Pelan-pelan, mereka yang HoH dan Tuli mulai membuka diri. Mengenalkan ke publik dan berani mengutarakan kebutuhannya.

Aku tidak pernah menyangka jika speak up yang mungkin bagi orang lain terkesan minta dikasihani akan berdampak sejauh ini. Aku mulai percaya diri untuk mengenalkan Budaya Tuli-HoH dan Disabilitas di platform apapun yang aku punya.

Gaung Budaya Tuli-HoH

Menurut KBBI, budaya adalah pikiran; akal budi, adat istiadat, sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang (beradab, maju), sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah. Budaya enggak melulu tentang adat, budaya adalah tentang kebiasaan yang sudah mengakar kuat.

Budaya inklusif merupakan sikap terbuka, toleransi untuk menerima perbedaan, baik itu perbedaan agama, perbedaan fisik dan mental, maupun perbedaan budaya dan adat. Aku memilih untuk turut serta menggaungkan salah satu budaya inklusif; budaya ramah difabel dalam hal ini adalah Tuli-HoH.

Budaya Tuli-HoH merupakan kebiasaan yang melekat pada orang dengan Tuli dan Hard of Hearing. Meskipun keduanya berbeda, tetapi bagaimana cara bergaul dan berkomunikasi Tuli-HoH dengan orang umum memiliki kesamaan.

Mengenal Tuli-HoH

Tuli merupakan orang yang tidak bisa mendengar. Orang dikatakan Tuli total jika batas dengarnya lebih dari 90 dB. Sementara, Hard of Hearing adalah orang Tuli yang masih mempunyai sisa pendengaran. Umumnya batas dengar HoH adalah 70an dB-90 dB.

Selain terkait desibel pendengaran, orang Tuli dan HoH juga berbeda dalam berkomunikasi. Orang Tuli Total berkomunikasi dengan bahasa isyarat, sementara HoH mampu berkomunikasi oral dengan cara membaca gerak bibir. Umumnya kosakata yang dimiliki teman Tuli terbatas, sementara teman HoH memiliki perbendaharaan kosakata yang lebih banyak.

Mengenal Tuli-HoH

Panduan Berkomunikasi dengan teman Tuli-HoH Bagi Teman Dengar

Informasi dalam sehari-hari, baik di ruang publik maupun ruang privat umumnya dominan informasi suara. Keterbatasan akses informasi ini membuat teman Tuli-HoH terkesan lambat menerima, bahkan plonga-plongo. Aku bahkan pernah disangka autis gara-gara tidak bisa mengikuti perintah senior.

Tidak sulit untuk mendeteksi Teman Tuli, umumnya teman Tuli berkomunikasi dengan bahasa isyarat dengan suaranya yang sengau. Sementara, teman HoH tidak begitu terlihat dalam sekilas pandang. Teman HoH berinteraksi laiknya orang Dengar, cuma, karakter khusus yang melekat pada teman HoH: terlihat sangat fokus pada gerak bibir dan tidak begitu bereaksi dengan suara panggilan atau kehebohan sekitar.

Bagaimanakah cara kita berkomunikasi dengan teman Tuli-HoH? apakah harus belajar berbahasa isyarat terlebih dahulu untuk berinteraksi dengan teman Tuli-HoH? Enggak, teman Dengar tetap bisa berinteraksi dengan teman Tuli-HoH dengan memperhatikan hal-hal berikut ini:

  1. Panggil dengan lambaian tangan atau tepukan bahu, jangan memanggil dengan suara. Teman Tuli-HoH sangat peka di visual. Jadi jika teman Dengar ingin memanggil kami, cukup dengan lambaikan tangan atau tepuk bahu kami.
  2. Perjelas gerak bibir dan pelankan tempo berbicara. Teman Tuli dan teman Dengar sama-sama lihai membaca gerak bibir. Perjelas gerak bibir dengan memelankan tempo berbicara seperti saat mengajari anak berbicara ketika ngobrol dengan teman Tuli-HoH.
  3. Pastikan tempat terang dan pencahayaan cukup. Teman HoH-Tuli membutuhkan tempat dengan pencahayaan yang cukup untuk membaca gerak bibir. Pastikan tempat terang ketika mengajak kami berbincang.
  4. Gunakan kata yang sederhana, sinonim atau tulis jika tidak kunjung memahami. Karakter beberapa bibir sangat sulit dibaca, beberapa karakter suara sama gerakan bibirnya seperti pada pelafalan mama, papa, pipi, bibi. Jika teman Tuli-HoH terlihat kesulitan untuk memahami kata-katamu, kamu perlu menggunakan sinonim kata lain atau menuliskan kata tersebut.
  5. Jangan berteriak atau meninggikan suara. Berteriak atau meninggikan suara tidak membantu kami untuk lebih memahami. Jadi jika kami tidak kunjung paham, perjelas gerak bibir, gunakan kata lain, atau tulis saja.

 

Berinteraksi dengan Tuli-HoH

Pantang Menyerah Gaungkan Budaya Tuli-HoH bersama IndiHome

Era pandemi rupanya menjadi titik balik untukku dalam hal menyuarakan kebutuhan teman Tuli-HoH, menyuarakan budaya Tuli-HoH kepada dunia. Ya, awal-awal pandemi terasa sangat gelap dan mencekam, bukan hanya bayang-bayang virus yang mematikan, tetapi juga bayang-bayang keterbatasan komunikasi.

Beberapa orang menganggap apa yang kusuarakan di media sosial dan blog adalah untuk minta dikasihani. Bahkan, ada yang terus terang menegurku untuk tidak mengutarakan kelemahan diri. Itu aib, pantang diumbar. Aku sempat down.

Lalu, bagaimana jika dilarang menyuarakan keterbatasan? Apakah kami akan membiarkan orang lain menebak-nebak, su’udzon dan menganggap kami aneh?

Cukup lama aku berdiam diri. Tidak lagi bercerita tentang dunia Tuli-HoH. Aku terus berdiskusi dengan suami, keluarga dan guru-guruku terkait speak up Tuli-HoH. Ah, aku tidak minta dikasihani, aku hanya ingin orang-orang tahu bahwa KAMI ADA. Kami yang memiliki budaya berinteraksi yang berbeda.

Dukungan suami dan teman-teman menguatkanku. Aku masih ingat betul saat aku merasa sangat lelah dengan aneka argumen minta dikasihani, menyebar aib diri, suamiku berkata dengan sangat hati-hati:

“Yi, kamu punya support system. Kalo ada apa-apa sama kamu, ada aku yang siap back up. Cuma, bagaimana dengan teman-teman kamu yang suaminya enggak sefleksibel aku, yang enggak punya keluarga untuk mengurus ini-itu? Kamu harus keluar, suarakan jika kamu ada, jika ada orang yang membutuhkan perlakuan khusus.”

Sejak saat itu, aku mulai speak up lagi. Enggak hanya di tulisan, aku juga mulai speak up tentang budaya Tuli-HoH dan kebutuhannya di IG Live, di webinar, di bootcamp inklusif, tidak ketinggalan di ranah offline. I am here.

Audiensi dengan PJ Walikota Salatiga tentang Kebutuhan Teman Tuli-HoH

Audiensi ini masih sangat baru, baru kemarin, dan aku menuliskannya disini untukmu. Aku mewakili teman-teman Tuli-HoH untuk berbincang tentang kebutuhan teman Tuli-HoH. Kuutarakan kepada pj walikota dan pejabat terkait tentang kebutuhan kami dalam mengakses layanan publik. Tidak ketinggalan tentang kebutuhan lapangan kerja yang ramah Tuli-HoH.

Audiensi dengan PJ Walikota terkait Kebutuhan Tuli-HoH, dokpri

Kami berbincang hangat. Mengenalkan budaya Tuli-HoH, bagaimana kami berinteraksi, apa saja yang kami butuhkan untuk mengakses layanan publik, kebutuhan juru bahasa isyarat dalam acara-acara yang ada teman Tuli-nya, juga kebutuhan informasi visual.

Webinar, IG-Live dan Bootcamp Duta Inklusif

2021 aku mulai merasa percaya diri untuk mengisi webinar dan IG Live. Selain karena aku baru membangun rasa percaya diri, terpasangnya kembali IndiHome di rumah adalah tiket emas untuk mengisi webinar dan IG Live. Kami sempat merantau ke Semarang selama 2 tahun, 2020 akhir kami balik lagi ke Salatiga. 2021 kami memutuskan untuk memasang IndiHome dari Telkom Indonesia untuk menunjang pekerjaan suami sebagai seorang programmer.

IndiHome yang stabil membuat tampilan webinar jernih dan aku bisa membaca mulut. Jika tidak bisa dibaca, aku masih terbantu dengan adanya webcaptioner untuk memahami pembicaraan lawan. Apalagi yang kuutarakan jika bukan tentang Tuli-HoH.

Aktivitas Mengenalkan Budaya Tuli-HoH di Online

Manfaat internet membuatku bisa berinteraksi dengan beragam difabel tanpa batas. Sungguh, aku tidak pernah membayangkan jika aku bisa satu ruang ngobrol dengan teman Tunanetra di WhatsApp Group dan Zoom. Teman Tunanetra memakai apps text to speech, sementara aku memakai apps speech to text.

Aku yakin, ketika orang-orang mengenal budaya inklusif, budaya Tuli-HoH, berinteraksi dengan hati dan menerapkan seni berinteraksi dengan Difabel, Indonesia akan inklusif pada waktunya.

Fasilitas yang wah tidak akan bekerja dengan maksimal jika pribadi yang bekerja tidak mengenal Budaya Inklusif, termasuk di dalamnya Budaya Tuli-HoH dan bagaimana cara berinteraksinya. Berkat aktivitas-aktivitas di bidang Difabel, aku bersama teman-teman Ibu Profesional membuat komunitas Ibu Inklusif dengan beragam kegiatan untuk menyuarakan dunia inklusif.

IndiHome, Internetnya Indonesia yang Menemaniku Speak Up Budaya Tuli-HoH

Aku sudah langganan IndiHome sejak tahun 2016, saat kami mulai serius membranding diri sebagai programmer-blogger. Sempat putus pada tahun 2018 karena kami merantau ke Semarang dan kembali memasang IndiHome pada tahun 2021. Iya, karena memang enggak ada yang lain, yang bisa memenuhi kebutuhan kami sebagai pekerja di bidang digital sebaik IndiHome.

Kami sempat mencoba menggunakan kartu SIM dan membeli wifi portable, tetapi malah membuat kami uring-uringan karena kuota yang membengkak dan jaringan yang tidak stabil. Kalau dihitung, dana yang dihabiskan dalam sehari-hari, antara SIM dan IndiHome lebih hemat IndiHome. Apalagi kami lebih sering di rumah daripada di luar.

Katakanlah suami membutuhkan dana 200k untuk membeli kuota internetnya sebagai programmer, sementara aku membutuhkan dana 100k. Itu belum termasuk fasilitas menonton youtube untuk anak. Dengan dana 300k kami masih harus menahan diri untuk mengakses video dan harus sabar dengan jaringan yang tidak stabil. Sementara, dengan berlangganan IndiHome sebesar 340k perbulan untuk layanan dual play, kami bisa tenang bekerja tanpa memikirkan seberapa banyak data yang kami habiskan.

Perbaikan layanan IndiHome semakin kesini semakin baik. Minggu kemarin kami sempat mengalami musibah kabel FO IndiHome putus ditabrak truk trailer. Pihak pabrik bertekad untuk tanggungjawab mencarikan servis penyambungan kembali kabel yang putus. Kami tidak membuat laporan ke pihak IndiHome karena menunggu pihak pabrik. Tiba-tiba ada teknisi IndiHome mengirim WhatsApp dan konfirmasi tentang layanan kami yang terganggu. Katanya, mereka tahu ada gangguan dari laporan sistem dan meminta ijin untuk mengecek gangguan tersebut.

Terus terang, aku mengapresiasi langkah IndiHome mengirim teknisinya untuk memperbaiki gangguan meskipun kami belum lapor ke pihak IndiHome.

Terimakasih sudah menyediakan internet yang menghubungkan aku dengan dunia yang luas. Jangkauanmu yang menyentuh kampung membuatku bisa berkarya dari rumah.

 

Sumber gambar:

  1. Dokumen Pribadi
  2. Download Canva Pro
  3. Screenshoot media sosial, whatsApp dan portal berita online

Sumber kutipan:

  1. KBBI Online

 

Exit mobile version