Site icon Widi Utami

TBM Ijo Lumut; TBM Tak Melulu tentang Buku

TBM Ijo Lumut; TBM tak Melulu tentang Buku

TBM Ijo Lumut; TBM tak Melulu tentang Buku

Dua puluh tahun yang lalu, bulik membawa pulang sekardus buku cerita bergambar. Layanan Internet cepat belum tersedia saat itu. Boro-boro internet cepat, handphone saja masih monokrom. Aku yang memiliki keterbatasan dengar,seakan mendapat harta karun yang melebihi sekarung emas saat membongkar sekardus besar buku cerita bergambar.

Menembus Batas Keterbatasan Dengar dengan Buku

“Alah, paling Uut ra mudheng dhewe!” alah, paling Uut enggak paham sendiri! ejek seorang kawan saat kami sedang berbincang tentang Misteri Gunung Merapi; Mak Lampir. 

Keterbatasan dengar membuat Widi kecil enggak bisa menikmati hiburan televisi dan radio. Aku selalu tertinggal jika teman-teman sedang ngobrol tentang tontonan maupun siaran. Aku enggak bisa menikmati hiburan dongeng dari radio, enggak juga mengikuti hiburan TV yang bertebaran. Saat itu TV masih hitam putih, dengan ‘tayangan semut’ yang bisa menyerang setiap kali cuaca sedang buruk. 

Kepulangan Bulik dari rantau dengan membawa sekardus buku cerita bergambar membuat hari-hariku sangat menyenangkan. Buku cerita bergambar itu adalah buku bekas milik majikannya. Ya, Bulik adalah seorang baby sitter di Semarang, setiap kali pulang kampung ia selalu membawa pakaian, mainan dan buku cerita bekas majikannya.

Sepulang sekolah aku melesat ke rumah Mbah, dimana buku-buku cerita bergambar itu disimpan. Buku cerita bergambar yang menjadi gerbang awal gemar membaca. Aku melahap satu-persatu buku yang ada; Serial Kisah dari Taman Wortel; Serial Kisah Lumba-lumba Colleen Payne, Cerita Cinderella, hingga komik Doraemon menjadi obat nelangsa karena aku enggak paham siaran radio dan tontonan TV.

Mungkin belum bisa disebut sebagai TBM, tetapi keberadaan buku cerita bergambar yang bebas dibaca oleh anak-anak sekitar, membuatku yakin jika dunia begitu luas. Buku-buku inilah yang membuat anak kecil dengan keterbatasan dengar berani bermimpi di tengah keterbatasan informasi.

Menabung Kosa-kata

Sebelum internet cepat menjangkau kampung, membaca adalah satu-satunya akses informasi yang bisa dicerna secara utuh untuk anak dengan keterbatasan dengar. 

“Dengan frekuensi pendengaran rata-rata 82 dB, kok kamu seperti bukan Tuli, ya? Kosakata kamu bagus.” tanya seorang dokter spesialis THT saat aku periksa telinga.

“Kamu gemar membaca, ya?” dokter itu kembali bertanya, aku mengangguk ketika berhasil ‘membaca’ gerakan mulutnya. “Bagus, lanjutkan suka membacanya. Kamu tidak bisa mendengar, tetapi kamu masih bisa membaca. Kamu harus memanfaatkan benar-benar.”

Gemar membaca menjadi salah satu penyelamat bagi anak dengan keterbatasan dengar, ‘TBM’ di rumah Mbah menjadi gerbang untuk menyukai membaca. Siapa sangka, dari ‘TBM’ ala kadar itu, mimpi-mimpi kurajut di tengah labelling ‘budheg tidak punya masa depan’ yang menggempur masa kecilku.

Gemar membaca membantuku untuk menembus batas. Sekolah di sekolah umum dengan keterbatasan dengar, lalu merangkai mimpi hingga sekarang. Dari membaca lah aku bisa belajar skill-skill dalam profesiku sekarang. Dari membaca pula aku mencerna kabar terkini di dunia.

 

TBM Ijo Lumut; TBM tak Melulu tentang Buku

Sebegitu berartinya keberadaan buku di ‘TBM’ dalam kehidupanku, aku membuka koleksi buku keluarga untuk orang-orang yang berkunjung di rumah. Taman Baca Masyarakat makin kesini makin kreatif, enggak terbatas hanya pada aktivitas membangun kebiasaan gemar membaca. Salah satu TBM yang menjadi role model-ku dalam menyediakan pojok baca yang bermanfaat untuk lingkungan adalah TBM Ijo Lumut.

TBM Ijo Lumut

Berada di Ijo Lumut membuatku merasa jika literasi tak terbatas hanya pada lembaran buku. Ijo Lumut membuat makna literasi begitu luas dan mendalam, membuat TBM terkesan asik, tidak monoton dengan jejeran buku-buku bacaan.

‘Membaca’ Alam, Cinta Lingkungan

Berangkat dari kepedulian mas Kristanto, pendiri Ijo Lumut, akan cinta lingkungan, TBM Ijo Lumut sangat aktif dalam kegiatan cinta lingkungan. Enggak hanya teoritis, Ijo Lumut mengajak anak-anak praktik langsung mengenal lingkungan, mengelola sampah, sampai bagaimana mendaur ulang sampah.

Ijo Lumut- Mengenal Ekositem Kali, sumber: Instagram Ijo Lumut

Liburan sekolah selalu menjadi hari yang sibuk bagi Ijo Lumut, ia akan mengajak anak-anak untuk berpetualang mengenal alam. Kegiatan terbaru saat liburan sekolah Juni 2022 adalah Belajar Ekosistem Kali. Anak-anak diajak keliling kota mengenal kondisi kali-kali di sekitar Salatiga dengan menggunakan angkutan kota. Seru!

Berkreasi Tanpa Batas

Edukasi sampah di TBM Ijo Lumut tidak hanya mengenalkan anak untuk membuang sampah pada tempatnya, Ijo Lumut juga mengajak anak-anak untuk berkreasi dari sampah. Anak-anak dikenalkan bagaimana memilah sampah untuk kemudian di daur ulang.

kreasi diorama kamar impian, sumber: Instagram Ijo Lumut

Enggak terbatas hanya pada sampah non organik, Ijo Lumut juga melatih bagaimana membuat Eco Enzyme. Pelatihannya pun enggak hanya untuk kalangan anak-anak, tetapi juga orang dewasa, bahkan pemerintah kota Salatiga.

Sharing tanpa Batas dengan Internet

Saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan banyak pembatasan, Ijo Lumut tidak habis akal. Bukan dengan membangkang dari anjuran pemerintah untuk jaga jarak, namun dengan menggaungkan literasi melalui internet, bekerjasama dengan berbagai pihak. Online Classroom Ijo Lumut mengangkat berbagai tema, dari bercerita hingga berkreasi dengan berbagai macam barang. 

Online Classroom Arts Ijo Lumut, sumber: Instagram Ijo Lumut

Internet cepat IndiHome dari Telkom Group membuat online class menjadi pilihan yang asik untuk keluarga dalam menambah wawasan tanpa khawatir kuota jebol. Anak-anak bisa mengikuti kelas online, buku digital dan mengakses hiburan sesuai kebutuhan. Pun, Ayah dan Ibunya bisa bekerja dan belajar dari rumah tanpa khawatir meninggalkan anak ke luar kota.

Exit mobile version