Site icon Widi Utami

Kesalahan Mengelola Keuangan Rumah Tangga yang Membuat Hidup tak Nyaman

Kesalahan Mengelola Keuangan Rumah Tangga yang Membuat Hidup tak Nyaman 1

Aku dulu berpikir jika gaji naik, maka semua akan happily ever after. Ternyata aku salah, keuangan rumah tangga bukan perkara uang banyak atau uang sedikit, namun tentang pengelolaan keuangan yang tepat. Kesalahan mengelola keuangan rumah tangga enggak hanya merugikan di segi ekonomi, namun bisa membuat hubungan keluarga berantakan bahkan berujung bubar.

Aku belajar kesalahan-kesalahan pengelolaan keuangan rumah tangga ini dari keluargaku sendiri, juga dari orang-orang sekitar. Iya, 8 tahun menikah, aku mengalami jatuh-bangun mengelola keuangan rumah tangga. Gagalnya tuh enggak cuma sekali, namun berkali-kali meskipun kasusnya berbeda-beda.

Melompat ke Investasi Disaat Pijakan Kebutuhan Lain Belum Kokoh

Sebelum berinvestasi, idealnya ada hal-hal berikut ini yang sudah aman: kebutuhan pokok, asuransi, dana darurat, investasi.

Kebutuhan pokok harus diamankan terlebih dahulu sebelum merambah ke hal yang lain. Jangan sampai mengutamakan investasi dan mengabaikan kebutuhan pokok hingga menumpuk tagihan atau bahkan menciptakan hutang-hutang baru.

Setelah kebutuhan pokok aman, barulah memikirkan asuransi, baik asuransi jiwa maupun asuransi umum. http://lifepal.co.id/media/asuransi-umum/ menjelaskan jika asuransi jiwa merupakan asuransi yang manfaatnya dirasakan oleh ahli waris. Sedangkan asuransi umum merupakan asuransi yang manfaatnya dirasakan oleh pemegang polis yang bersangkutan.

Asuransi apa saja yang perlu dimiliki oleh setiap keluarga berbeda dengan keluarga yang lain. Keberadaan asuransi ini sangat membantu ketika terjadi hal-hal yang tidak terduga sehingga tidak mengacaukan ekonomi keluarga. Kami pribadi menggunakan asuransi kesehatan, asuransi jiwa dan asuransi tenaga kerja.

Kita bisa memilih apakah akan menggunakan asuransi konvensional ataukah asuransi syariah. Penjelasan asuransi konvensional adalah asuransi yang mengedepankan transfer resiko. Sedangkan asuransi syariah adalah asuransi yang mengedepankan konsep tolong menolong.

Hutang dengan Cicilan Diatas 30% Gaji Pokok

Bagaimanapun, cicilan hutang merupakan salah satu hal yang membuat kepikiran. Mbah-mbah sepuh selalu menasihati kami jika hidup tanpa hutang adalah hidup yang tenang. Cicilan membuat tidur tak tenang dan hati tak nyaman.

Rata-rata financial planner menganjurkan jika mengambil hutang, maka pastikan cicilannya tidak lebih dari 30% gaji pokok karena jika lebih dari 30% maka akan mengganggu kebutuhab lainnya. Bank yang berada dalam pengawasan OJK juga akan mereview berapa besar prosentase cicilan dibanding gaji sebelum memutuskan untuk menyetuji pengajuan hutang.

Setidaknya, jika cicilan hutang tidak lebih dari 30% dari gaji pokok, kita masih punya slot untuk menyenangkan diri dan keluarga. Menikmati hidup dengan bahagia. Yha, meskipun uang tidak membuat bahagia tapi untuk bahagia seringkali butuh budget. Hahaha

Hutang dengan cicilan diatas 30% gaji pokok juga sangat beresiko untuk menciptakan hutang baru karena tidak ada dana untuk membayar cicilan. Apalagi jika mengambil lebih dari 30% gaji pokok, resiko gali lubang tutup lubang perlu diwaspadai.

Tidak Punya Kendali Diri dalam Berbagi dan Memberi Piutang

Sedekah itu keren, menabung untuk akhirat sekaligus memupuk kebahagiaan. Memberi piutang juga tak kalah keren, bahkan pahala memberi piutang laiknya memberi sejumlah uang tersebut setiap hari hingga utangnya dilunasi.

Namun, bukan berarti kita mengabaikan kebutuhan dan kecukupan keluarga untuk sedekah dan memberi piutang.

Bahkan sebaik-baiknya sedekah adalah untuk keluarga terdekat, istri dan anak. Memberikan piutang dan sedekah hingga merampas kebutuhan keluarga merupakan tindakan yang dzalim.

Maka, sebaiknya kita mengukur terlebih dahulu apakah akan mengganggu kebutuhan keluarga atau tidak ketika akan memberi piutang dan sedekah.



***

Memang, keuangan rumah tangga enggak sesimpel saat masih single. Ada banyak dinamika yang dihadapi oleh keluarga dalam mengelola keuangan. Semoga dengan mengelola keuangan dengan tepat membuat kita menikmati hidup dengan beribadah semaksimal mungkin.

Exit mobile version