Me and Hubby, Semua

Jika Sudah Wisuda, Selanjutnya Apa?

Tulisan 2 tahun yang lalu, sebelum wisuda. Aku posting dengan tambahan dan editing seperlunya. 😀

***

Sejujurnya aku mengalami kebosanan dengan pertanyaan, “Kapan wisuda?”

Apalagi di bulan-bulan wisuda seperti ini. Beberapa pertanyaan sangat kentara mempertanyakan, kenapa belum wisuda-wisuda juga? Rasanya mirip saat ditanya kenapa belum punya anak di tahun kedua pernikahan kami. Whahahahah.

Ya, barangkali ini adalah wujud kepedulian. Tetapi, ya… mbok ya nanyanya yang sedikit beradab lah… Masa sekian lama nggak ngobrol, makbedunduk langsung dicecar pertanyaan nan sensitif seperti itu. Basa-basilah dikit jika memang peduli.

Saking stressnya dengan perkara skripsi yang kayak makan mie kuah yang sedap-sedap pedes, aku sampai meminta Abah K untuk liburan ke kampung dua minggu lamanya, just for refresh my mind. Pikiranku sungguh penuh dengan perkara kesehatan si K dan skripsi yang belum terlihat hilalnya.

Tetapi siapa yang peduli?

Kebanyakan orang hanya peduli dengan hasilnya. Sedikit yang membersamai dalam prosesnya. Pastikan kamu tidak termasuk dalam kebanyakan, ya Guys! ?

Ya… sebab rerata yang hestic saat melihat hasilnya, hilang ditelan bumi setelah seremonial simbol kesuksesan itu usai.

Dan bersiaplah dengan pertanyaan selanjutnya yang telah mengantri.

Kerja apa?

Aku sudah punya seabreg gawean, sekretaris pribadinya Abah K, blogger abal-abal, tukang fotokopi, tukang cuci piring, Emak Rumah Tangga dengan seabrek job list. So? Pertanyaan ini dicoret sebelum ditanyakan orang lain.

Kapan nikah?

Aku sudah nikah. Coret lagi.

Kapan punya anak?

Lah, ini

Ah, postingan ini anggaplah curhatan Emak si K yang lagi galau bin ababil.

 

***

Sampai disini draft jaman dulu. Saat galau-galaunya, saat lelah-lelahnya karena orang-orang hanya bisa berkomentar tanpa tahu kalau kala itu aku jungkir balik menyelesaikan semuanya. Aku menyelesaikan skripsi sambil gendong si K. Malam-malam begadang di depan laptop sambil menyusui si K.

Bahkan saat wisuda aku tidak begitu tertarik dengan hingar-bingar perayaan karena… memikirkan si K yang di rumah dengan Abahnya.

***

Setelah wisuda, nyatanya pertanyaan itu terus saja berlanjut.

Kenaa enggak kerja?

Ijazahmu untuk apa?

Cumlaude berakhir jadi ibu rumah tangga?

Aku hanya menanggapi dengan tersenyum, karena… pertanyaan-pertanyaan itu akan selalu datang, hanya kata-katanya saja yang sedikit berbeda.

Bagaimana komentar kalian?