Site icon Widi Utami

Jika Masa Renta itu Tiba

Jika Masa Renta itu Tiba 1

Bagaimana jika kita sudah renta nanti?

Tetiba, obrolan di WAG BloggerKAH beberapa hari yang lalu mendadak melow. Mbak Ran mendadak bercerita tentang masa tua, lalu melemparkan pertanyaan, “Apa harapan kita dari anak-anak jika kelak sudah tua?”

Aku mendadak melow. Ya, meskipun masa tua renta belum tentu digapai, tetapi tentu saja menyimpan harapan-harapan yang ingin kudapatkan dari anak-anak. Mbak Arin sudah menuangkan harapannya di blog barunya, tentang Lagu Kasih Ibu, Tak Cocok untuk Mama Sepertiku. Mbak Ran masih menunggu. Hihihih.

***

Dear K,

Abah pernah berkata, “Jadikan pengasuhan anak-anak sebagai ibadah, urusannya sama Allah. Enggak boleh berharap apa-apa kepada anak. Cukup Allah saja. Ndak gelo nek apa sing dikarepke ora sesuai. ”

Ibu lantas istighfar berulang kali. Kami yang memohon keberadaanmu kepada Robbuna dalam doa-doa panjang. Sedang kamu, Nang, tidak pernah memilih akan dilahirkan di dalam rahim Ibu. Ya, Ibu tahu persis soal itu.

Maka, Nang, Ibu berusaha sebaik-baiknya untuk mengasuhmu, sekuat yang Ibu bisa. Tetapi, Nang, Ibu harus bolak-balik menata niat. Labil sekali Ibumu ini. Dulu Ibu yang memohon kepada Robbuna, kini Ibu kerapkali mengeluh jika kamu banyak tingkah. Sungguh, Nang, itu semata karena Ibu lelah, bukan karena Ibu tidak bersyukur atas keberadaanmu.

Dear K,

Meskipun Abah sudah mewanti-wanti untuk tidak berharap apa-apa, tetapi jauh di lubuk hati Ibu, Ibu punya beribu harapan. Bagi Ibu, harapan itu adalah doa. Siapa yang tidak ingin tetap sehati dengan anak jika kelak sudah renta, sih, Nang?

Siapa yang tidak ingin mempunyai anak sholih, yang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya? Nang, anak yang sholih adalah harta termahal yang dimiliki oleh orang tua. Semua orang tua berharap mempunyai anak sholih, tidak terkecuali Ibu.

Jadilah dirimu sendiri, dengan tetap berada di Jalan-Nya, ya Nang.

Dear K,

Kelak jika Ibu sudah tua, mungkin pendengaran Ibu semakin berkurang. Aduh, Nang, Ibu mendadak menangis saat menulis ini. Tetapi, Ibu harus bersiap diri bukan? Mungkin, Ibu harus belajar bahasa isyarat lebih giat lagi agar kelak pendengaran Ibu semakin berkurang, komunikasi dengan anak, cucu dan menantu tetap terjalin dengan baik.

Kamu, Nang, semoga kelak istrimu adalah perempuan penuh welas asih yang bisa memahami kondisi Ibu. Pun kamu, semoga kamu tetap menjaga komunikasi dengan Ibu, sesulit apapun gaya komunikasi Ibu.

Dear K,

Gara-gara menulis ini, Ibu menjadi berandai-andai, kelak jika Ibu sudah tua. Ibu ingin menjadi seorang Ibu yang senantiasa dirindukan anak-anak. Seorang Mertua yang dirindukan menantu. Seorang Nenek yang dirindukan cucu-cucunya.

Terdengar seperti cerpen fiksi, ya, Nang. Ah, tetapi doa Ibu, semoga kelak Ibu seperti itu. 🙂

Dear K,

Ibu berencana kembali berkecimpung di dunia volunteer kelak jika kamu dan adik-adikmu sudah mandiri. Untuk sekarang, Ibu hanya ingin menghabiskan waktu-waktu Ibu bersamamu, juga kelak dengan adik-adikmu. Kamu, Nang, semoga selalu mendukung Ibu, ya. Syukur-syukur, kamu ikut menjadi volunteer, di masa tua, apa sih yang ingin Ibu kumpulkan selain amal untuk bekal kelak di akhirat, Nang?

Dear K,

Ibu ingin kelak ketika Ibu sudah tua, Ibu tetap produktif, tidak menyusahkan orang-orang di sekitar Ibu. Tetapi, Nang, jika Robbuna kelak menakdirkan Ibu harus dirawat oleh anak-cucu, tolong, ya Nang, jadikan ini ladang ibadahmu. Jangan titipkan Ibu ke siapapun, apalagi di panti jompo. Sungguh, jangan. Ibu hanya ingin menghabiskan masa tua bersama Abah dan anak-cucu.

Dear K,

Semoga senantiasa berada dalam Lindungan-Nya. Terimakasih sudah menjadi anak yang selalu menerbitkan senyum dan tawa.

 

With Love and Big Prays

Ibu

Exit mobile version