Site icon Widi Utami

Emak-emak Penyandang HOH Mengais Rezeki Lewat Job Review, Why Not?

Emak-emak Penyandang HOH Mengais Rezeki Lewat Job Review, Why Not? 2

Dua kali aku ditolak bekerja hanya karena menyandang HOH, Hard of Hearing, kesulitan mendengar. Memang banyak perusahaan yang berfikir sepuluh kali untuk mempekerjakan karyawan yang mempunyai keterbatasan komunikasi, sekalipun pekerjaan tersebut tidak membutuhkan skill mendengar yang mumpuni. Ngenes, ya?

Sejak saat itu, yang ada di otakku hanyalah bagaimana aku menyelesaikan studi yang sedang kutempuh dengan sebaik-baiknya, segala macam perlombaan, beasiswa, penelitian kuikuti, hanya karena ingin mengenyahkan pikiran menyebalkan mengenai kemana aku akan bekerja setelah ini.

Robbuna Maha Baik, aku dipertemukan dengan abah K saat menginjak semester 6. Kami menikah segera setelah 3 bulan penjajakan. Pikiran mengenai kemana aku akan bekerja setelah lulus hilang karena abah K tidak berkenan istrinya bekerja di luar. Jika ada pertanyaan usil semacam, “Kenapa nggak kerja? Sayang IPK yang cumlaude. ”
Aku akan menjawab dengan kepercayaan diri yang penuh, “Taat kepada suami.”
Masalah selesai?

BELUM!

Meskipun abah K memberiku kepercayaan penuh untuk mengelola semua tabungannya, termasuk akun pay pal, ternyata aku ingin mempunyai penghasilan sendiri untuk sekedar beli buku dan printilan unyu-unyu.

Kan aneh rasanya menghabiskan uang suami hanya untuk membeli printilan unyu-unyu. Istri macam apa? Hahaha.

Tetapi, dari mana aku mendapatkan uang? Jelas tidak mungkin aku bekerja di luar. Abah K sudah membuatkan blog khusus untukku sejak sebelum menikah, tetapi aku malas mengisinya. Hanya menulis sekedarnya jika sedang suntuk.

Berulangkali abah K mengajakku untuk mengisi blog dengan iming-iming penghasilan dari Google Adsense. Dasar emak-emak yang maunya serba instan, aku tetap ogah, lha wong penghasilannya paling poll $10 perbulan, kapan pay out-nya. Belum ancaman di-banned. Tuh, akun Youtube milik abah K di-banned saat penghasilan mencapai $70, nyesek! Wkwkwk

Contents

Awal Mengenal Job Review

Awal November 2016, saat abah K ditugaskan di Pati dan aku tidak bisa mendampingi beliau karena sedag hamil tua, aku bertemu dengan beberapa komunitas blogger di grup facebook hingga grup whatsapp. Saat itulah kata-kata content placement, job review, buzzer mulai kudengar.

Apalagi itu Content Placement, Job Review, Buzzer? Aku berlahan memahami setelah mengikuti perbincangan di grup. Ketiga-tiganya adalah kran rezeki yang hanya bermodal kuota internet, tulisan, gambar dan media sosial.
Content Placement bisa dibayar 50.000 rupiah-250.000 rupiah, Job Review bayarannya bisa mencapai jutaan per job, buzzer tak jauh beda.

Menggiurkan ya? Pekerjaan ini yang cocok untuk Emak-emak semacam aku, nggak usah khawatir bakal ditolak karena menyandang HOH.

TETAPI TERNYATA TIDAK SEINDAH YANG KUBAYANGKAN.

Mhuahaha, sampai capslock jebol. Begitu banyak yang harus kupelajari, dari engagement media sosial, google analytic, bounce rate, belum kemana harus mencai job-job tersebut, lewat apa, follower media sosial berapa banyak, endesbre-endesbre. ANDAI MATERI TI SAAT KULIAH SUDAH BELAJAR KAYAK GINI. Sayang, saat kuliah materinya muter-muter di pengoperasian microsoft windows melulu.

Lalu kemana aku harus belajar? Lha abah K? Beliau ahli di bidang per-coding-an, tetapi blass nggak ngerti perihal job review. Di Internet? Aku bukan orang super cerdas yang bisa angsung memahami materi di internet, aku butuh mentor! Sayang, acara-acara blogger kebanyakan di luar kota, aku yang tinggal di kampung nggak tega meninggalkan si K.

Kelas Seluk-Beluk Job Review

Rezeki tak melulu uang, bisa menuntut ilmu pun merupakan rezeki yang luar biasa. Akhir Ramadhan aku ‘ketiban’ rezeki yang bakal menjadi pijakan awal terjun di dunia job review. Mbak Widyanti Yuliandari, ketua Umum Ibu-ibu Doyan Nulis memberiku kesempatan untuk mengikuti kelas Seluk Beluk Job Review melalui beasiswa Indscript.

Siapa mbak Widyanti Yuliandari?

Mbak Wid, begitu kami menyapa dengan akrab. Sosok perempuan humble lulusan Institut Teknologi Surabaya sudah malang-melintang di dunia blogging sejak tahun 2008. Astagah, 2008 aku masih nge-gosipin guru a-z dengan teman sekelas. 😛
Sudah menerbitkan 4 buah buku solo di sela-sela kesibukannya bekerja di instansi pemerintah, salah satunya adalah Food Combining: Pola Makan Enak, Sehat dan Mudah. Saat ini dipercaya sebagai ketua umum grup Ibu-ibu Doyan Nulis yang beranggotakan hampir 19ribu perempuan di Indonesia. Belum berbagai prestasi blogging yang beliau peroleh. Daebak!

Baca: Profil Lengkap mbak Widyanti Yuliandari

Apa Saja yang Dipelajari di Kelas Seluk-Beluk Job Review?

Di kelas Seluk-Beluk Job Review, aku mempelajari hal-hal terkait Job Review dari yang paling dasar. Dari Mengenal Job Review hingga bagaimana mendapatkan Job Review berbayar. Tak ketinggalan pula berbagai tips mengoptimalkan blog dan media sosial.

Setidaknya ada 6 poin pokok yang dipelajari di kelas:

  1.  Bagaimana Membuat Review yang Berkualitas
  2. Membuat Foto yang Kece
  3. Dimana Mendapatkan Job Review yang Berbayar
  4. Tips dan Trick Membuat Blog yang Disukai
  5. All About Blogging: DA, PA, Google Analytic
  6. Tips dan Trick Mengoptimalkan Media Sosial

dan masih banyak lagi, all about job review, buanyak!
Sayang, aku masih kebingungan di Google Analytic, DA dan PA, sementara mbak Widyanti baru mengulas sekilas, tanda-tanda ada kelas lanjutan, kah? Hihihi.

Salah satu quote favorit di Kelas 🙂

Kenapa Kelas Seluk-Beluk Job Review Cocok untuk Emak Rempong?

Mak-mak rempong, apalagi yang punya anak usia satu tahunan yang hobinya lari kesana kemari sepertiku, adanya kelas Seluk-Beluk Job Review bareng mbak Widyanti Yuliandari ini sangat membantu. Kenapa?

1. Kelas Online Lewat Grup Tertutup Facebook

Iya, kelas Seluk-Beluk Job Review dilaksanakan secara online melalui grup tertutup facebook. Jadi, aku nggak perlu khawatir meninggalkan si K. Lha wong kelasnya online, pokoknya kalau akses internet lancar, its okay.
Kenapa di grup facebook? Biar gampang nyari materi dan tanya-tanyanya. Mhuahahah! Iya, fasilitas komentar pada setiap gambar sangat membantu kami untuk menegaskan poin mana yang kami tanyakan. Selain itu, komentar, pertanyaan dan jawaban terarsipkan dengan baik, sangat memudahkan Emak-emak yang ketinggalan mengikuti kelas pada jam pendampingan aktif.

2. Jam Pendampingan Didiskusikan Bersama

Saat memasuki kelas pertamakali, kami terlebih dahulu mendiskusikan kapan jam pendampingan aktif. Saat itu masih bulan Ramadhan, kami memilih jam pendampingan katif selepas tarawih untuk lima hari pertama.
Bagaimana jika tidak bisa online pada jam yang telah ditentukan?
Santai, kita tetapbisa menyimak obrolan kelas dan materinya, kemudian drop pertanyaan yang akan dijawab oleh mbak Widyanti saat jam pendampingan aktif atau saat beliau senggang.

3. Tugas Diberikan Bertahap dengan Jangka Waktu Bersahabat

Tugas di kelas diberikan secara bertahap. Misalkan, tugas pertama berlatih me-review, tugas kedua berlatih membuat foto yang menarik dst. Tugas diberikan dengan jangka waktu yang bersahabat, saat itu kami diberikan waktu selama 3 hari untuk mengerjakan tugas. Waktu yang lebih dari cukup untukku yang hanya bisa mengerjakan tugas saat si K tidur.
Senangnya lagi, semua tugas dikomentari oleh mbak Widyanti dengan detail, lengkap dengan kritik dan sarannya. Nggak cuma setor tugas, nilai trus lupakan seperti jaman sekolah dulu. Eh.

Belum Bisa Nge-blog? Ikuti Kelas Blogging untuk Pemula

Kalau belum punya blog gimana, Mak? Tenang, selain kelas Seluk-Beluk Job Review, mbak Widyanti juga mengambu kelas Blogging untuk Pemula. Di kelas ini bakal belajar bagaimana membuat blog, nggak sekedar teori, tetapi langsung praktik.

Hayoloh… Ada alasan apalagi, Mak? Susyeh? Pusing dengan segambreng to do list menuju impian? Samaa. Heuheuuu, tetapi kata mbak Widyanti,

Nge-Blog aja terus, hasil tidak akan mengkhianati usaha. So, nulis lagi, belajar lagi, nge-blog lagi.

Pengen ikutan? Cuss chit-chat dengan mbak Widyanti, ya, beliau terbuka untuk bertanya-tanya, kok. Mbak Widyanti juga aktif berbagi di grup Ibu-ibu Doyan Nulis. Mbak Widyanti Yuliandari bisa dihubungi melalui media sosial berikut ini:

Facebook: Widyanti Yuliandari
Instagram: @widyanti_yuliandari
Twitter: @widyanti_y

Blognya mbak Widyanti sudah kumention diatas yak.

 

 

 

 

Exit mobile version